Sahabat Kecil Shidqi (1)

image

Aaaaa liat foto ini jadi kangen Bandung, Kabupaten Bandung Barat tepatnya, hehee..  Kangen Aa Risman, Aa Ian,  sama  Aa Ivan.  Mereka bertiga ini adalah jagoannya Umi Rina dan Abi Usman. Alhamdulillah selama kami tinggal di Cigugur, ada mereka bertiga yang selalu ngajak main Shidqi dan bikin rumah jadi makin rame. Ketiga nya cuma terpaut kurang lebih 2,5 tahun.  Belum kebayang saya punya tiga jagoan yang jarak usianya dekat. 
Aa Risman sekarang sudah kelas 1 SD, sekolah di SD Unggulan Nasywa. Bakat dan minat bisnisnya yang diturunkan dari abi nya sudah terlihat dari sekarang, ia pernah dapat juara pertama saat Market Day di sekolah.  Padahal masih kelas 1, tapi kemampuan marketingnya sudah bagus sampai-sampai dari sekian banyak peserta, Aa Risman yang paling banyak mendapatkan hasil penjualan. Anak kedua yang jadi anak sulung ini (Sebelum Aa Risman ada anak perempuan yang qadarullah dipanggil saat usia 3 bulan), cukup mampu menjadi kakak yang baik.  Bisa menemani adik adiknya bermain, lebih mengutamakan adiknya dengan sering mengalah, dan lebih sabar menghadapi adik adiknya, serta lebih dekat dan paham terhadap umi nya. Aa Risman  paling seneng kalau sudah diajak abi pergi, kadang ambil batang jualan, antar pesanan, survey ini itu, dan lainnya. Sifatnya yang penyayang bikin saya kangen nemenin dia main sama Shidqi.

Putra yang ke 2 yaitu Raihan, biasa dipanggil  Ian. Nah kalau Aa ian, sangat komunikatif. Paling seneng ngajak saya atau pun Shidqi ngobrol. Aa Ian termasuk yang betah banget berlama-lama di rumah saya, alhamdulillah Shidqi jadi ada temennya. Hehee.. 
Aa Ian, sekarang masih sekolah di TK B, sebentar lagi masuk SD.  Saat terakhir sekolah di TK A, Aa Ian sudah mulai tidak tertarik pergi ke sekolah. Padahal sekolahnya tepat di samping rumah, hanya terhalang dinding tinggi jadi harus muter jalannya. Nah setelah komunikasi, ternyata Aa Ian gak mau sekolah di sana lagi, mungkin bosan ya,  akhirnya umi abi nya sepakat memindahkan Aa Ian ke sekolah lain. Alhamdulillah semangat sekolahnya rajin lagi. Aa Ian ini termasuk yang memiliki keinginan yang kuat dan cukup mampu memengaruhi teman-temannya yang lain. Ingat Aa Ian jadi kangen cara bicaranya yang khas.

Yang ke 3, yang paling bule dan mirip umi banget adalah Aa Rivan, biasa dipanggil Ivan. Aa Ivan tahun kemarin sudah mulai masuk PG.  Sebelum masuk PG, tiap pagi saat kakak kakaknya bersiap ke sekolah, Aa Ivan ini dengan malu-malu intip ke depan rumah kami.  Karena rumah kami tepat bersebelahan, kadang Aa Ivan ngintip dari balik pagarnya.  Aa Ivan paling seneng ngajak main hotwheels sama Shidqi. Mungkin karena Shidqi lebih kecil darinya, walaupun ia anak bungsu, tetep aja berhadapan dengan yang lebih kecil mah ia juga jadi suka mengalah, hihiii..  Karena Ivan yang paling sering berinteraksi dengan Shidqi, sampai sekarang pun setelah hampir berpisah 6 bulan, Ivan masih melekat di pikiran Shidqi apalagi dengan baju-baju yang ia berikan.  Kalau sudah ganti baju, bujuk dengan baju Ivan aja, alhamdulillah manjur 😁
Aa Ivan sekolahnya di Kober Eco Pesantren. Kadang-kadang Shidqi juga ikut main ke sana, bahkan tanpa saya saking Ivan maksa Shidqi harus ikut. Saya kangen teriakan girang dia yang kadang gak jelas, hahaa..  Akur banget Shidqi sama Ivan.

Alhamdulillah selama di Bandung, saya punya tetangga yang baik-baik.  Salah satu kebahagiaan dunia itu tetangga yang baik, bukan? Dan ini sangat mahal. Panggilan Bunda, pertama saya dapat dari mereka (tentunya setelah saya minta)  supaya Shidqi juga ikutan panggil saya Bunda, alhamdulillah walaupun belum sempurna memanggil “Bunda” tapi ia sudah bisa panggil saya “Nda”  seperti yang ayahnya bilang.

Advertisements

Mengenal Konsep Terapung dengan Perahu

image

Bermain sambil belajar benar-benar menyenangkan. Tidak ada beban, tapi tetap bermakna. Pelajaran konsep mengapung pada perahu dimulai akhir tahun lalu, 31 Désémber. Saat itu, Shidqi dan Iyo senang sekali belajar menulis di kertas. Setelah banyak kertas yang dihabiskan, saya ada ide untuk membuat perahu dari kertas.  Di buatlah perahu, lalu saya bawakan air dalam baskom.  Anak-anak yang sangat bersahabat dengan air, makin senang diberi mainan air. Beberapa perahu yang sudah di buat, kami apungkan dalam air di baskom. Saat itu saya beri tahu Shidqi kalau itu namanya perahu. Perahu ada di air. Lalu saya ceritakan bahwa ia pernah naik perahu saat kami menyebrang ke tiga gili dari Pulau Lombok. Saya coba gambarkan bagaimana suara perahu, ombak laut, shidqi  yang ketakutan di atas perahu, hingga saya ceritakan ketika saya hampir mabuk laut. Saya dengan semangat menceritakan pengalaman itu ke pada Shidqi walaupun ia terlihat lebih asik main perahu di dalam air, hmmmm…

Sejak pengalaman pertama membuat perahu tersebut, pada aktivitas selanjutnya jika sedang berhadapan dengan kertas, baik dalam bentuk gambar maupun origami,  perahu menjadi salah satu kendaran shidqi selain pesawat.
Yang paling menarik dari aktivitas bermain perahu kertas ini adalah konsep mengapung. Pada akhirnya, setiap benda yang mengapung Shidqi sebut sebagai perahu. Pernah suatu hari, saat saya memandikannya, di kamar mandi ada tempat sabun yang bentuknya kotak. Ia simpan sabun batang di dalamnya, lalu ia biarkan tempat sabun itu terapung dalam air, lalu ia bilang, “Da ahu, Da” awalnya saya tidak mengerti, tapi ketika ia menunjuk benda yang ia maksud, baru saya paham. Oo..perahu. Kreativitasnya membuat saya semyum-senyum kagum dan bersyukur.
Ini bukan satu dua kali, bahkan setiap kali mandi, pasti ada saja barang yang ia apungkan di atas air, entah itu botol shampo, botol sabun, cairan kumur, bahkan alas cat yang sedang antri untuk saya cuci pun ia jadikan perahu. Luar biasa!

Sekali waktu kami silaturahim ke rumah uyut shidqi di Cianjur. Qadarullah  di depan rumah uyut ada kulah (kolam penampungan air mengalir ) yang biasa digunakan keluarga untuk mencuci piring. Melihat saya yang kadang mencuci di sana, Shidqi tertarik. Pagi-pagi setelan jalan-jalan keliling vila, Shidqi minta turun mendekati kulah, saya izinkan ia turun. Lalu meminta saya mengambilakn mangkuk hijau yang berada tak jauh dari tempat kami berada, saya pun mengikuti keinginannya. Tiba-tiba ia masukan mangkuk itu ke dalam kulah, dan terapung. Dengan riang penuh ekspresi keberhasilan ia memberi tahu saya, “Nda.. Ahu Nda Ahu..”
Saya pun ikut merasakan keberhasilan dan kebahgaiaanya, “Waah Iya, perahu. Shidqi hebat. Koq bisa sih? Perahunya bagus yaa!”
Ia tersenyum, dan meminta saya untuk mengambilkan mangkuk lain yang masih ada di sekitar kami, saya turuti.
ia pun sorak lagi, “Nda.. Ahu ladi Nda Ahu ladi ”
Bunda perahu lagi,Bunda perahu lagi, begitu katanya. Lalu saya tawarkan ia untuk membuat perahu dari kertas, karena kemungkinan ia akan meminta mangkuk lagi untuk menambah perahunya.
“Ka, Bunda bikin perahu ya.. ”
“Iya” jawabnya singkat
Satu perahu selesai. Ia meminta lagi.
Perahu kedua selesai. Masih meminta. Begitu setertusnya.

Beberapa anak-anak yang lewat di depan rumah cukup tertarik melihat permainan Shidqi, sesekali saya mengajak ngobrol anak-anak itu. Sambil bermain, saya sampaikan tentang ombak, contohnya seperti apa, gimana cara agar perahu bisa melaju, hingga akhirnya ada perahu kertas yang tenggelam, saya jelskan pada Shidqi. Ketika semua perahu rusak dan tenggelam saya akhiri aktivitas Shidqi bermain perahu, soalnya baju dan celanany sudah basah kuyup, khawatir masuk angin.

Bermain sambil belajar itu asik bukan? Yuk coba Bunda, pasti ketagihan. ^_^

Sekilas Dua Garis Merah

Bulan Maret adalah bulan yang ditunggu-tunggu setelah garis dua warna merah muda terlihat jelas pada tespack. Masih terasa hangat dalam ingatan, 32 bulan lalu, tepat pada Bulan Ramadhan yang baru menginjak pekan ke dua. Saya yang sudah telat menstruasi tujuh hari, mengikuti saran teman yang baru saja mengabari kalau dirinya positif hamil, untuk tes kehamilan mandiri. Betapa hati ini ingin segera bertemu dengan dini hari (waktu sahur) untuk segera tespack -tespack akan lebih akurat dengan urin pertama pada hari itu-, tapi saat waktunya tiba hampir saja momen itu terlewat saking sibuknya menyiapkan makan sahur. Ketika mulai makan, barulah ingat, dan tak yunggu makan selesai, langsung saya ke kamar mandi dan tespack. Keluar dari kamar mandi, saya senyum-senyum sambil terus memerhatikan perubahan warna pada garis tersebut. Setelah beberapa menit, hasilnyanterlihat garis dua warna merah muda. Sungguh membuncahnya hati ini melihat hasil tespack tersebut, begitu pun dengan suami. Perasaan campur aduk jadi satu kami bawa sampai ke sekolah. Lalu saya kabari teman yang sebelumnya mengabari kalau dirinya hamil, dan beliau merekomendasikan untukntes ulanh dengan tespack yang lebih bagus dan lebih akurat. Alhamdulillah pada tes selanjutnya pun, dua garis merah tersebut hadir melengkapi kebahagiaan kami o (∩ ω ∩) o

Pantas saja kalaunsaya hamil, ternyata tanda-tandanya memang sudah terlihat pada bulan sebelumnya. Akhir bulan juni itu, kami sedang libur semester, setelah ada tawaran menjadi fasilitator pada acara Sanlat Liburan di DT akhirnya selama 3-4 hari kami mendampingi adik-adik SD camping di Hutan Cikole Lembang. Belum ada tanda apa pun di sana. Selesai acara, kami pulang ke Subang, di Subang rasa kantuk pada jam jam pagi sering melanda. Saya pikir efek kelelahan setelah kegiatan sanlat saja, tak mengira apa pun. Beberapa hari kemudian, saya ditawari kembali menjadi fasilitator sanlat di Singaparna. Karena memang tak ada kegiatan sekolah, dan suami pun mengizinkan, akhirnya saya terima tawaran itu walau harus kehilangan momen menyiapkan sahur untuk suami pada hari pertama Shaum Ramadhan pernikahan kami.

Di Singaparna, di SD IT (lupa namanya), saat kami datang, kami dijamu dengan macam-macam makanan. Tapi ad satu jamuan yang membuat saya benar-benar menginginkannya lagi. Tahu pedas. Tahunya biasa aja, rasanya juga tak terlalu mewah, tapi koq perasaan sukanya beda seperti biasanya. Sampai-sampai keesokan harinya saya selalu nagih tahu itu. Teman-teman fasilitator sampai bilang, “Ah Teh Irna mah kayaknya ngidam ya Teh?” Saya balas cukup dengan senyuman. Lagi-lagi tak menyangka saya sedang hamil.
Pada saat yang sama, Sahabat saya sejak Kuliah, yang lahirnya sama-sama bulan juni 1991, jurusan kuliah sama-sama bahasa Indonesia, sampai nikah pun sama-sama bulan april 2013 dengan tanggal yang hanya berbeda satu pekan, menghubungi saya dan mengabarkan kalau beliau positif hamil. Bahagia bercampur rasa iri ingin hamil juga jadi satu.
Selain itu, kantuk luar biasa menyerang setiap aktivitas saya saat sanlat. Sampai-sampai saat satu materi sedang disampaikan Trainer, kami sebagai fasilitator duduk mengawasi peserta sanlat sambil ikut menyimak, eh tiba-tiba kantuk yang begitu hebat itu menjelma menjadi “lenggutan”  kepala serta mata yang tidak tertahankan, qadarullah ada satu dua anak dari kelompok bimbingan saya yang sedang nengok ke belakang, jadilah saya agak sedikit diledek sama adik-adik,  “Kak Irna ngantuuuk yaaaa??” sambil senyum-senyum puas.
Belum lagi saat pulang ke Bandung, jalan yang berliku dan supir yang terlalu kasar mengendarai mobil, membuat hampir semua penumpang merasa sangat mual. Bahkan satu dari kami akhirnya muntah, padahal dia laki-laki,  hehee.. Termasuk saya, sepanjang jalan perut berasa tak nyaman. 

Padahal dari sekian kejadian itu merupakan tanda-tanda kehamilan, hanya saja saya tidak menyadarinya.
Mendapat kabar bahwa telah ada makhluk Allah yang sedang berkembang dalam rahim ini, membuat saya dan suami sangat bersyukur.  Allah pun memberikan jeda dua bulan dari pernikahan kami untuk mengamanahkan anak, pun kami lalui dengan penuh tafakur. Bahwa inilah perasaan mereka yang ingin segera dikaruniai anak, tapi belum juga. Coba bayangkan mereka yang sudah bertahun-tahun dalam penantian ini? Betapa luasnya kesabaran dan keyakinan mereka terhadap takdir Allah. Dan yakin, ini tidak akan diberikan pada setiap manusia di luar kemampuannya. Allah menyimpan hikmah di setiap kejadian, dan kitalah yang harus berusaha menemukannya agar senantiasa bersyukur atas segala ketentuan – Nya.

Dan amanah ini, akan menjadi saksi di akhirat kelak, telah seperti apa kami menjaganya.

Rabbi Habli Mina Shalihin.. 

Kilas balik Ramadhan/Juli 2013

Ikatlah Ilmu dengan Tulisan

image

Ikatlah ilmu dengan tulisan.
Begitulah Sayidina Ali berkata betapa pentingnya menulis. Yang selama ini saya pahami dari keterangan di atas hanya sebatas menuliskan ilmu berupa kajian atau ceramah para pembicara  atau ilmu dari dosen yang tak ada di buku, tapi malam ini saya menemukan hal yang baru tentang ikat-mengikat ini, tak hanya ilmu berupa yang saya sebutkan di atas saja yang perlu diikat, pengalaman hidup perlu diikat, proses kehidupan perlu diikat, bahkan ilustrasi terhadap sebuah gambar atau momen pun perlu diikat. Memang sangat sulit jika harus mengikat segala tektekbengeknya dengan tulisan, tapi jika mau berusaha saya yakin bisa!

Kalau boleh menyesal, hihii, ini menjadi salah satu hal yang saya sesalkan. Terutama proses saya hamil hingga melahirkan sampai Shidqi sebesar ini tak ada catatannya.  Padahal ini akan menjadi ilmu yang sangat berharga bagi saya khususnya. Qadarullah pernah membaca diskusi para ibu tentang jurnal anaknya, serasa jadi ibu yang gak perhatian banget sama anak 😥
Tapi setidaknya saya punya file-file foto yang mudah-mudahan bisa jadi referensi perjalanan tumbuh kembang Shidqi si anak pertama yang memiliki Bunda penuh kekurangan. (Peluuuuk kamu, Nak…)
InsyaAllah mulai hari ini Bunda akan rajin membuat jurnal kamu ya, Nak. Bunda akan coba menuliskan segala aktivitasmu setiap hari, dengan begitu semoga aktivitasmu tiap harinya lebih beragam.

Saya yakin, bukan hanya saya yang bersyukur dan kegirangan melihat kemampuan putra/putrinya bertambah. Bahkan saking bahagianya, pengennya saya loncat-loncat sambil teriak,  “Akhirnya kamu bisa, Nak!! Yeeeee Alhamdulillah”
tapi khawatir anak jadi kaget dan aneh Bundanya kenapa, nggak jadi deh 😆
Melihat mainan yang kita belikan, asalnya didiemin, dilirik doang, dipegang aja, mulai dimainkan tapi belum bisa, mulai tertarik memainkan lagi gak bisa lalu ngamuk kesel karena gak bisa, sampai pada akhirnya bisa sendiri, itu perjalanan yang luar biasa. Buat saya terkagum-kagum betapa Allah begitu indah menciptakan makhluk-Nya dengan berbagai proses yang harus dilaluinya. Coba kalau pas lahir langsung bisa semua, tak akan  ada proses untuk bisa merenungi makna setiap tahapannya. Maka inilah yang harus diikat agar menjadi ilmu.
Wallahu’alam