Komunikasi Produktif #day3 : Cemburu membawa Pilu

Ahad, 12 Februari 2017

Wacana tentang agenda Bapak hari ini untuk reuni eman-teman SPG sudah ada mungkin sejak satu bulan yang lalu, dan sejak wacana ini ada, masa lalu mulai terusik kembali. Jreng..jreng..jreng…
*rada panas suasananya*

Mamah punya tingkat kekhawatiran tinggi, entah itu pada suaminya, anak-anaknya, keluarga besarnya, bahkan pada tetangganya.Khusus untuk suami, tingkat kekhawatirannya berbanding lurus dengan kecemburuannya, hehee.
Ceritanya gak usah dibahas dimari ya, cukup konsumsi pribadi saja 😀
Yang pasti momen kemarin membuat kami spontan membuat semacam forum keluarga, walaupun tanpa Bapak (karena lagi reuni tea).  Polanya, Mamah cerita ke saya, saya cerita ke suami, dan suami cerita ke mamah, hihii, hingga akhirnya kami dipertemukan dengan sebuah forum.
Ini yang saya suka dari suami, mencoba untuk menyelesaikan masalah dengan komunikasi. Mencoba mempertemukan saya yang sejak pagi berderai air mata karena mendengarkan cerita mamah yang penuh dengan aura negatif. Suami sudah mulai satu frekuansi dengan saya, pasti merasakan ketidaknyamanan saya dengan pikiran-pikiran negatif yang diucapkan. Dan saya tak bisa berkata apa-apa menganggapi cerita dan perkataan mamah, selain khawatir salah berucap yang menimbulkan persepsi berbeda, saya menjaga diri agar tidak ikut-ikutan mengeluarkan aura negatif. Saya memilih menangis untuk mengekspresikan kegundahan hati saya, walaupun saat itu Shidqi jadi ikut sedih  liat saya nangis.

Di forum itu saya berhasil menyampaikan isi hati saya, walaupun saya tidak optimis mamah sepenuhnya menerima apa yang saya sampaikan. Suami juga bisa sedikit-sedikit memberikan masukan ke mamah tentang apa yang mamah rasakan, bisanya kan kalau laki-laki mah lebih tegar dan logikanya kuat. Mamah juga berhasil menumpahkan isi hatinya, walaupun saya tidak yakin masih ada segelintir perasaan yang masih tersimpan. Yang  belum berhasil adalah membujuk mamah untuk membuat foru keluarga lagi dengan menghadirkan Bapak, agar semua sama-sama mengetahui isi hati, pandangan, dan harapannya ke depan. Ini yang masih jadi PR saya. Karena jika ada satu anggota keluarga yang tidak hadir, apalagi itu pemeran utamanya, informasi tidak akan merata, solusi pun tidak akan bisa didapat apalagi dijalankan.

Oia, salah satu yang terpenting dari sebuah komunikasi adalah bersabar. Bersabar untuk mendengarkan lawan bicara hingga ia menyelesaikan semua yang ingin disampaikannya, bahkan jika perlu tanya lagi dengan pertanyaan, “ada lagi?” atau “sudah selesai?”.
Kedua, bersabar menahan diri untuk berbicara hingga lawan bicara selesai bicara. Jika jeda bicaranya sudah mulai agak lama dan tidak ada tanda-tanda beliau akan berbicara lagi, bisa kita tanyakan, “boleh saya bicara?”. Ini mulai saya praktikan dengan suami, dan cukup efektif. Suami dan saya jadi lebih leluasa dan tuntas dalam menyampaikan isi hati.

Komunikasi Produktif #day2 : Istri Saya Lebay! 

4-5 Fébruari 2017

Sekitar jam 17.00 saat saya sedang mampir sebentar di meja makan tiba-tiba suami menghampiri, lalu duduk di hadapan saya dengan wajah yang serius. Dengan tarikan nafas yang tidak terlalu dalam ia pu  memulai pembicaraan,
“Jadi yaa Bunda, kalau ayah kerja 40 jam seminggu, berarti tiap hari ayah harus kerja dari jam sekian sampai jam sekian, artinya Ayah gak punya waktu main banyak sama kakak-adik.”
“Yaa jangan  ngorbanin waktu main Ayah sama anak-anak dong, mereka butuh Ayah.  Etapi malam mah nggak kerja kan? ” Jawab saya sambil tetap mengunyah.
” Nggak” Jawabnya singkat, lalu Kelihatannya agak berpikir sebentar “Nah kalau 40 jam perminggu Penghasilan yang didapat sebulan bisa sekian, kurangi pengeluaran sekian, lumayan yaa Bunda.”
“Nggak segitu kayaknya pengeluaran tuh, gede banget!” Saya yang sok tahu masalah keuangan
“Itu kan sama transfer, sok hitung, Ke A sekian , ke B sekian, ke C sekian , ke D sekian” jawabnya.
“Oia, Bunda gak ada di daftar transferan yaa Yah ” canda saya
“Eh, padahal udah transfer sendiri yaa”
“Yee ini mah bukan buat Bunda, kan kita masih banyak kebutuhan, ada cita-cita beli ini dan itu.  nitip aja di rekening Bunda.” Tegas saya.
“Eh Yah, gimana kalau transfer ke B agak dikurangi? Trus jatah transfer ke si C, kita ambil dari alokasi dana yang ini aja”, saya coba mengajukan pendapat, maksud hati ingin menghemat, huhuuu
Dan ternyata ajuan pendapat saya inilah yang memicu saya benar-benar terlihat lebay di mata suami!

***

Keesokan harinya, setelah aktivitas pagi semua anak-anak selesai, yang sulung ikut neneknya dan yang bayi udah tidur lagi, suami tiba-tiba menghampiri dan mulai melanjutkan obrolan semalam.
“Yang mahal itu bukan beli rumah, bukan kesehatan, bukan kendaraan, bukan! Yang mahal itu keyakinan kita bahwa Allah akan mencukupi kita. Itu yang sedang ayah beli! Nah sekarang, Ayah ngasih ke keluarga, sedekah, itu ikhtiar Ayah untuk membeli keyakinan itu. Ayah mah yakin, dengan kita sedekah tuh Allah gak akan buat kita miskin!”
Tanpa terasa mata saya mulai berkca-kaca dan perlahan menetes ke pipi. 
Sebetulnya saya gak pernah melarang ini itu tentang keuangan, toh beliau yang kerja. Tapi kadang-kadang nominalnya itu yang buat saya agak tercengang, hahaa! *dasar pelit*. Maksud hati ingin “ngajeujeuhkeun” penghasilan suami, mengingatkan kembali untuk mulai menabung dan berinvestasi untuk anak-anak dan kebutuhan lainnya. Ya mungkin kalau nominal ‘transfer’ bisa agak ditekan, pos uang tabungan kan akan lebih besar. Itu logika sederhana saya. Daaaan ternyata dari pernyataan beliau, logika saya jauuuuh sekali dengan keyakinan yang mulai beliau pupuk. *jadi malu*
Sambil mencoba memaknai dan memahami perkataan beliau, saya coba menyampaikan isi hati saya yang kadang “jealous” dengan apa yang beliau lakukan. Saya mencoba menyampaikan maksud hati tentang bagaimana harapan saya. Ini yang bikin saya makin baper,  bentuk air mata ini bukan tetesan lagi, tapi sudah semacam banjir bandang yang tak kunjung berhenti 😀
Dengan sabar beliau mendengarkan, lalu mulai memeluk saya sambil tetap mendengarkan cerocosan saya yang mungkin gak jelas karena ada banjir bandang, wkwkwk. Sesekali saya melihat beliau tersenyum sambil menatap saya dalam. Tenang. Tapi di tengah pelukannya, saya mendngar beliau yang sedikit tertawa, “oh mungkin adik sedang berwajah lucu” pikir saya. (si bayi tidur di dekat kami yang sedang ngobrol).
“Ikhtiar kita memang masih berbeda Bunda, gak apa-apa, gak salah. Kita saling melengkapi. sok atuh mulai sekarang mah siapin lagi, atur lagi keuangannya ya! Pos-posnya sok dibagi-bagi. ” katanya, seakan *ngabebenjokeun* saya.
“Ayah mah lucu liat Bunda teh, seakan-akan Ayah tuh gak nafkahin keluarga, cuma nyisain sedikit buat keluarga, yang besarnya Ayah kasih-kasihin. dan padahal saat ini di rekening kita ada uang, hahaa. Lucu we Ayah mah, dari tadi pengen ketawa. Bunda mah lebay!”
Serasa ditamar teplon! Ternyata suara tawa tadi tuh bukan ngetawain adik, ternyata ngetawain saya! Aduuuuuh malunya! Tapi ah da udah, tahan aja malunya, hihiii.

Nah  dari komunikasi saya hari itu, lagi-lagi saya belum bisa mengatur emosi sehingga perasaan saya jauh lebih dominan sehingga sulit berpikir jernih, dan bikin baper tingkat tinggi. Ini masih jadi penyakit yang sampai saat ini masih coba saya obati, menangis ketika membicarakan perasaan. Sulit sekali menghilangkannya, tapi sedikit demi sedikit saya coba hilangkan. Kedua, suaami tipe orang yang tidak bisa merencanakan dan diberikan rencana untuk membincangkan suatu yang serius, kadang di waktu saya sibuk urusan rumah tangga atau anak, beliau ajak saya ngobrol. Dan penyakitnya, jika tidak didengarkan dan ditanggapi saat itu juga, atau saya minta ditahan dulu ngobrolnya sampai suasana memungkinkan, nanti malah gak jadi ngobrol sama sekali, dan saya sok kekeuh ingin tahu apa yang ingin beliau sampaikan, atuuuuuh suasana kadang jadi menegang da pakekeuh-kekeuh. Jadi solusi saat ini, lebih baik saya meninggalkan dulu pekerjaan daripada meninggalkan momen penting dengan beliau. Emang harusnya gitu ya? *mikir*
Mudah-mudahan ke depannya kami bisa benar-benar merealisasikan jadwal forum keluarga dengan baik dan bijak.