Aku Bisa Melepas Celana Sendiri

Palasari, 2 April 2016

Yeyeee… yeyeee…
Alhamdulillah… 

Sebuah pencapaian sudah Shidqi lewati hari ini. Hari ini Shidqi berhasil melepas celana sendiri. Beberapa hari terakhir memang dia sudah memperlihatkan ketertarikannya untuk melepas sendiri baju dan celanan yang dipakainya. Bahkan pekan lalu dia sempat beberapa saat tanpa sehelai pakaian pun, saya sih curiganya karena kepanasan. memang akhir-akhir ini Subang kembali panas, setelah intensitas hujan berkurang, kami mulai serasa dioven kembali, hehee 😀
Alhamdulillah kebiasaan itu tidak berlanjut, hanya dua atau tiga kali saja dia ingin seperti itu. Nah sepertinya itu adalah awal mula timbulnya keinginan bisa membuka baju sendiri, karena saya agak ogah-ogahan kalau dia minta buka baju bukan pada saatnya.

Pencapaian ini ada target waktu gak sih? Kalau yang ini, jujur tidak ada target sama sekali. Karena kami sudah mendapat ilmu tentang melatih kemandirian anak harus dimulai sejak dini, maka yang kami lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mulai dari hal terkecil yang ia bisa. Misalnya, minum sendiri, ambil apa yang dia mau, makan, toilet training , membereskan mainan, naik mobil-mobilan, dan apa pun yang kemungkinan sudah bisa dia lakukan, kami coba memberinya kesempatannya. Nah untuk memakai dan melepas pakaian, karena kami cukup tau kemampuannya, yang kami lakukan adalah memberikan motivasi kalau dia sudah besar, harus bisa pakai dan lepas baju sendiri, lalu kami tawarkan untuk mencobanya. Nah di beberapa hari terakhir ini, ternyata dia mau mencoba, kesempatan ini tidak saya lewatkn begitu saja. Walaupun waktu yang dibutuhkan akan lebih lama, tapi jika ada pembelajaran di dalamnya, saya akan menambah stok sabar yang saya punya. Prosesnya memang tidak selalu mulus, pasti akan ada sedikit atau bahkan banyak tantrum yang muncul akibat kegagalan yang ia hadapi. Kembali menjadi tugas ayah dan bunda untuk memberikan keyakinan bahwa ia bisa melewatinya. Jangan lupa, berikan ia pertolongan dalam proses latihan ini jika sudah terlihat sangat kesulitan. Apresiasi setiap pencapaian yang sudah ia lakukan. Ini dilakukan berulang, sampai dia benar-benar berhasil melakukannya. Ketika sudah berhasil, bukan berarti dia sudah mahir. Walaupun dia sudah bisa, tetap kita harua mendampingi nya sampai ia benar-benar mahir melakukannya. Jika tidak diulang hingga mahir, keberhasilan ini akan kembali mentah jika tidak dilatih.

Tentang target, yang jadi bahan renungan kami justru hal-hal yang kami targetkan sama sakali melenceng dari target yang sudah dibuat. Misalnya, bulan Maret lalu, ada dua target pencapaian yang harus Shidqi lewati, WWL dan Pee n Poop di closet. Pertengahan Maret lalu, Shidqi tepat dua tahun dan artinya dia harus segera disapih ASI. Ternyata target disapih saat dua tahun ini gagal, sampai saat ini dengan nyaman dia masih mimi 😱 Satu lagi pee n poop di closet, walaupun selama ini Shidqi sudah mampu melakukan keduanya di kamar mandi, tapi masih di lantai, belum di closet.
Dan ternyata kesalahannya ada pada FOKUS. Kami salah dalam melihat fokus. Ketika kami sudah memasang target, maka yang jadi fokus kami adalah hasil tersebut. Kami jadi kurang menikmati setiap proses yang harus kami lewati. Ini sangat menguras energi, bahkan kami merasa sangat lama dan terkadang menjadi sangat khawatir jika waktunya hanya tinggal sedikit untuk mencapai target tersebut. Buktinya, malah dua target yang sudah dipasang tidak berhasil satu pun.

Jadi mending gak usah ada target waktu kalau gitu ya? Nggak gitu juga, yang jangan dilakukan itu adalah fokus pada target. Itu. Sangat baik jika kita memiliki target waktu, apalagi disertai dengan detail tahapan proses yang harus dilalui. Jadikan itu hanya sebagai acuan serta evaluasi yang nantinya akan digunakan dalam rentang waktu tertentu. Adapun hasilnya sesuai atau tidak dengan target yang sudah ditentukan, bertawakallah! Usahakan kita fokus pada proses, menikmati setiap perjalanannya, mengambil pelajaran pada setiap fasenya, terus berusaha mengapresiasi setiap pencapaiannya, dan senantiasa berdoa memohon pertolongan Allah agar segera memampukannya. Yang terakhir inilah yang tidak kalah penting untuk ditanamkan dalam diri kita selaku orang tua. Setiap pencapaian yang anak raih bukanlah karena kita sebagai orang tuanya yang berhasil menstimulasinya, tapi semua itu adalah kehendak Allah yang menggenggam jiwa raga anak-anak kita. Sekreatif apa pun kita menstimulasi, jika Allah belum berkehendak, pasti tidak akan terjadi. Maka sangat penting di sini untuk bertawakal. Tentu diimbangi dengan ikhtiar ya, bukankah Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri?*
Maka jangan remehkan salah satunya, doa terbaik, ikhtiar maksimal, dan tawakal di setiap prosesnya adalah sebuah kesatuan kunci yang tidak bisa dipisahkan.

Pada akhirnya hanya rasa syukur yang dapat menambah kenikmatan dan keberkahan, serta rasa sabar yang akan terus menyertai ketiga kunci di atas lah yang akan mpertemukan kita pada kebahagiaan.

Penting Banget untuk Kami, Si Kontraktor

Penganten baru, cie..cie..
Asik dong ya jadi pengantin baru, dunia serasa milikberdua, yang lain ngontrak aja, hihiii..
Udah nikah pengen punya rumah sendiri dong? Iya lah, iya dong 😀
Tapi boro-boro punya uang buat beli rumah, kuliah aja baru beres, eh malah saya nya belum beres :D. Takdirnya menikah dengan pasangan yang belum mapan finansial, yang masih kerja keras cari kerja yang sesuai. It’s Ok!
“Saya siap koq nemenin Kakang menuju kesuksesan itu!”
Cie..cie..
Itu! Saya menikah dengan seorang laki-laki yang berusaha menjaga diri dan agamanya serta siap menggantikan bapak saya untuk bertanggung jawab atas saya sepenuhnya, walaupun ia belum mapan. :’)
Termasuk tempat tinggal, salah kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Saat menikah, posisi saya dan beliau ada di kota rantau dengan status anak kos. Setelah menikah, suami ikut tinggal di tempat kos saya yang alhamdulillah boleh membawa suami. Waktu itu tempat kos saya memang rumah yang hanya saya aja kos di sana, yang punya kos sudah kenal baik dengan saya jadi alhamdlillah beliau mengizinkan suami tinggal bersama saya, yang saat itu masih berstatus mahasiswa PPL.
Takdirnya masih jadi mahasiswa, alhamdulillah kami jadi tidak dihadapkan dengan pilihan tinggal di pondok mertua indah 😀
Waktu berjalan, kami ingin memiliki ruangan yang lebih luas dan lebih privat lagi, Akhirnya kami beranikan diri untuk mencari rumah kontrakan. Ada beberapa prinsip yang jadi acuan kami dalam mencari rumah. Pertama, lingkungan. Ini yang sangat mahal, baik buruknya lingkungan akan berpengaruh kepada kita, apalagi jika sudah memiliki anak. Lingkungan menjadi faktor utama yang kami jadikan prinsip.  Gegerkalong adalah tempat yang sangat ideal yang pernah kami temui. Lingkungan yang kondusif karena ada DT yang tiap harinya ada kajian, pasar dekat, warung nasi banyak dan cukup murah untuk kantong pengantin baru yang masih mahasiswa, hehe.. Sebagai orang yang pernah merasakan iklim di DT, bahkan sampai saat itu pun kami masih berstatus sebagai santri karya alias bekrja di DT, sangat sulit bagi kami untuk move on dari Gegerkalong. Tapi ada alasan lain yang membuat kami tidak memilih Gegerkalong.
Kedua, iklim. Suhu, kelembapan, awan, hujan dan sinar matahari pada suatu daerah di jangka wangtu yang lama (menurut KBBI banget ini :p) menjadi prinsip kami selanjutnya. Selain lingkungan yang akan mempengaruhi kita, iklim pun sangat berpengaruh khususnya bagi kesehatan. Gegerkalong masih memiliki iklim yang cukup baik bagi kami, tapi sayangnya daerah Gegerkalong sudah sangat padat penduduk, sehingga membuat kami berat untuk tetap di sini. Berdasarkan alasan ini, kami mencari di daerah Bandung Utara. Untuk memenuhi prinsip pertama dan kedua ini, akhirnya kami memilih daerah Cigugur Girang Kecamatan Parongpong. Selain udara yang sejuk, masih ada kebun sayuran, di daerah itu juga ada saudaranya Pondok Pesantren DT, yaitu Eco Pesantren. Yess, ada jalan!
Lanjut yang ketiga, yaitu harga. Ada kualitas tentu ada harga dong ya, tapi kalau ada kualitas dan harga bisa lebih hemat lebih baik pastinya. Masih berbicara Gegerkalong yang tetap menjadi pembanding (karena lingkungan yang sudah sangat baik), Karena gegerkalong memang area penyewaan rumah (karena dekat dengan kampus ) maka harga pun cukup bervariatif, tergantung fasilitas. Nah untuk yang sudah berumah tangga tentunya ada hal lain yang harus dipertimbangan. Dan harga kontrakan satu rumah di sini cukup mahal. Harga kamar kos saya sebelumnya saja Rp 600.000 per bulan, belum listrik dan air, keamanan, dll. Mungkin ada juga yang harganya lebih murah, tapi kami harus ekstra dalam mencarinya. Harga satu kamar di sini hampir sama dengan harga satu rumah di tempat lain. Kebayang dong perbedaan satu kamar dan satu rumah? Dan akhirnya ada alasan penguat untuk hijrah dari Gegerkalong T_T
Keempat, dekat dengan Mesjid. Jika lingkungan pesantren seperti di Gegerkalong sulit di dapat, maka minimal rumah yang kita cari adalah rumah yang akses ke mesjid mudah. Dengan begitu, harapannya kita dekat dengan pusat keagamaan di suatu daerah.

Nah, empat hal di atas adalah prinsip utama kami dalam mencari tempat tinggal terutama jika kami sudah mendapatkan rizki untuk membeli rumah. Bagaimana pun tempat tinggal yang baik, akan menjadi salah satu keberkahan dalam berkeluarga. Bukankah salah satu kebahagiaan yang rasul sampaikan adalah rumah yang luas? Nah sebelum memiliki rumah luas (dalam arti sebenarnya), minimal kita memiliki rumah yang nyaman dari segi lingkungan, iklim, dan juga kantong. Semoga dengn begitu, hati kita akan lebih lapang dengan segala episode yang harus kita jalani saat ini.

“Ada empat diantara kebahagiaan: istri yang sholihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih (baik), dan kendaraan yang nyaman. Ada empat kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk.”(HR. Ibnu Hibban)

Palasari, 2 April 2016