Aku Bisa Melepas Celana Sendiri

Palasari, 2 April 2016

Yeyeee… yeyeee…
Alhamdulillah… 

Sebuah pencapaian sudah Shidqi lewati hari ini. Hari ini Shidqi berhasil melepas celana sendiri. Beberapa hari terakhir memang dia sudah memperlihatkan ketertarikannya untuk melepas sendiri baju dan celanan yang dipakainya. Bahkan pekan lalu dia sempat beberapa saat tanpa sehelai pakaian pun, saya sih curiganya karena kepanasan. memang akhir-akhir ini Subang kembali panas, setelah intensitas hujan berkurang, kami mulai serasa dioven kembali, hehee 😀
Alhamdulillah kebiasaan itu tidak berlanjut, hanya dua atau tiga kali saja dia ingin seperti itu. Nah sepertinya itu adalah awal mula timbulnya keinginan bisa membuka baju sendiri, karena saya agak ogah-ogahan kalau dia minta buka baju bukan pada saatnya.

Pencapaian ini ada target waktu gak sih? Kalau yang ini, jujur tidak ada target sama sekali. Karena kami sudah mendapat ilmu tentang melatih kemandirian anak harus dimulai sejak dini, maka yang kami lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mulai dari hal terkecil yang ia bisa. Misalnya, minum sendiri, ambil apa yang dia mau, makan, toilet training , membereskan mainan, naik mobil-mobilan, dan apa pun yang kemungkinan sudah bisa dia lakukan, kami coba memberinya kesempatannya. Nah untuk memakai dan melepas pakaian, karena kami cukup tau kemampuannya, yang kami lakukan adalah memberikan motivasi kalau dia sudah besar, harus bisa pakai dan lepas baju sendiri, lalu kami tawarkan untuk mencobanya. Nah di beberapa hari terakhir ini, ternyata dia mau mencoba, kesempatan ini tidak saya lewatkn begitu saja. Walaupun waktu yang dibutuhkan akan lebih lama, tapi jika ada pembelajaran di dalamnya, saya akan menambah stok sabar yang saya punya. Prosesnya memang tidak selalu mulus, pasti akan ada sedikit atau bahkan banyak tantrum yang muncul akibat kegagalan yang ia hadapi. Kembali menjadi tugas ayah dan bunda untuk memberikan keyakinan bahwa ia bisa melewatinya. Jangan lupa, berikan ia pertolongan dalam proses latihan ini jika sudah terlihat sangat kesulitan. Apresiasi setiap pencapaian yang sudah ia lakukan. Ini dilakukan berulang, sampai dia benar-benar berhasil melakukannya. Ketika sudah berhasil, bukan berarti dia sudah mahir. Walaupun dia sudah bisa, tetap kita harua mendampingi nya sampai ia benar-benar mahir melakukannya. Jika tidak diulang hingga mahir, keberhasilan ini akan kembali mentah jika tidak dilatih.

Tentang target, yang jadi bahan renungan kami justru hal-hal yang kami targetkan sama sakali melenceng dari target yang sudah dibuat. Misalnya, bulan Maret lalu, ada dua target pencapaian yang harus Shidqi lewati, WWL dan Pee n Poop di closet. Pertengahan Maret lalu, Shidqi tepat dua tahun dan artinya dia harus segera disapih ASI. Ternyata target disapih saat dua tahun ini gagal, sampai saat ini dengan nyaman dia masih mimi 😱 Satu lagi pee n poop di closet, walaupun selama ini Shidqi sudah mampu melakukan keduanya di kamar mandi, tapi masih di lantai, belum di closet.
Dan ternyata kesalahannya ada pada FOKUS. Kami salah dalam melihat fokus. Ketika kami sudah memasang target, maka yang jadi fokus kami adalah hasil tersebut. Kami jadi kurang menikmati setiap proses yang harus kami lewati. Ini sangat menguras energi, bahkan kami merasa sangat lama dan terkadang menjadi sangat khawatir jika waktunya hanya tinggal sedikit untuk mencapai target tersebut. Buktinya, malah dua target yang sudah dipasang tidak berhasil satu pun.

Jadi mending gak usah ada target waktu kalau gitu ya? Nggak gitu juga, yang jangan dilakukan itu adalah fokus pada target. Itu. Sangat baik jika kita memiliki target waktu, apalagi disertai dengan detail tahapan proses yang harus dilalui. Jadikan itu hanya sebagai acuan serta evaluasi yang nantinya akan digunakan dalam rentang waktu tertentu. Adapun hasilnya sesuai atau tidak dengan target yang sudah ditentukan, bertawakallah! Usahakan kita fokus pada proses, menikmati setiap perjalanannya, mengambil pelajaran pada setiap fasenya, terus berusaha mengapresiasi setiap pencapaiannya, dan senantiasa berdoa memohon pertolongan Allah agar segera memampukannya. Yang terakhir inilah yang tidak kalah penting untuk ditanamkan dalam diri kita selaku orang tua. Setiap pencapaian yang anak raih bukanlah karena kita sebagai orang tuanya yang berhasil menstimulasinya, tapi semua itu adalah kehendak Allah yang menggenggam jiwa raga anak-anak kita. Sekreatif apa pun kita menstimulasi, jika Allah belum berkehendak, pasti tidak akan terjadi. Maka sangat penting di sini untuk bertawakal. Tentu diimbangi dengan ikhtiar ya, bukankah Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri?*
Maka jangan remehkan salah satunya, doa terbaik, ikhtiar maksimal, dan tawakal di setiap prosesnya adalah sebuah kesatuan kunci yang tidak bisa dipisahkan.

Pada akhirnya hanya rasa syukur yang dapat menambah kenikmatan dan keberkahan, serta rasa sabar yang akan terus menyertai ketiga kunci di atas lah yang akan mpertemukan kita pada kebahagiaan.

Advertisements

Senangnya Naik Angkot

Subang, 30 Maret 2016

Ngangkot, ngangkot..
Shidqi suka banget kalau udah diajak naik angkot, kalau mood nya lagi baik, doi pengennya duduk sendiri gak digendong saya.  Kereeeen kan, hehee..  Tapi kalau lagi penuh nggak mau juga sih 😂
Setiap kali ada keperluan ke luar, kalau suami lagi kerja dan gak bisa antar, angkot adalah pilihan terakhir dan satu-satunya. Motor? Saya belum berani bawa motor dengan Shidqi, khawatir. Mobil? Nah ini saya belum bisa nyetir mobil, dan mobilnya juga belum punya, wkwkwk. Masa mau pinjam punyai bapak, kan gak perlu kalau deket doang mah,, hehe..
Mumpung belum bisa nyetir dan belum punya mobil pribadi, waktunya ajarin Shidqi naik kendaraan umum. Sejak bayi, Shidqi sudah belajar naik mobil umum. Jarak terjauh yang pernah Shidqi lewati sejak bayi, dari Bandung-Bogor. Eh ada deng yang paling jauh, Bandung-Lombok, pakai kendaraan umum juga, hihiii, naik pesawat itu mah, wkwkwk..  InsyaAllah nanti diceritakan di lain post tentang pengalaman doi pertama kali naik pesawat 😉

Ibu-ibu yang pernah naik mobil umum membawa bayi pernah merasakan dong gimana dagdigdug nya selama perjalanan? Iyes! Saya juga merasakan hal yang sama.  Pertama kali membawa Shidqi naik bis jarak jauh itu mikirnya cukup lama,  bolak balik mempertimbangkan beberapa yang mungkin bisa diambil. Akhirnya tetep nekat pake mobil umum.  Bismillah.
Ternyata kenyataannya tidak sehoror yang dibayangkan.  Perjalanan pertama cukup anteng, sesekali berdiri liat sekitar, ada anak kecil dan bayi di bangku belakang dia ajakin main. Sesekali liat pemandangan ke luar, saya ceritakan apa yang dia liat, apa yang lewat, dan lainnya. Yang agak repot kalau ingin mimi, ini nih kerjasama harus lebih kompak. Seperti biasa jurus menutup Shidqi pakai kerudung dilakukan, tapi karena doi gak biasa selama mimi seperti itu akhirnya setelah nyantol ingin melihat dunia kembali. Suami sibuk berjaga-jaga, liat kiri kanan depan belakang sama bagian atas khawatir ada laki-laki yang memperhatikan. Walaupun insyaallah aman, tapi berjaga-jaga harus tetap dilakukan bukan?😄
Beberapa kali naik mobil umum saat masih sangat kecil alhamdulillah aman, kami selalu usahakan dalam doi dalam posisi kenyang dan tidak kepanasan, karena biasanya tak lama setelah mobil melaju, matanya tak kuat untuk bertahan terlalu lama, kecuali kondisi tertentu misal saat berangkat baru bangun tidur itu  lain cerita, hehe

Nah sekarang Shidqi sudah besar, sudah dua tahun. Sudah bisa jalan sendiri, sudah bisa menyeimbangkan tubuhnya di tempat yang terguncang (kaya di mobil lagi jalan), sudah punya pilihan sendiri, sudah bisa nawar, meminta dan sudah bisa memberi instruksi. Alhamdulillah 😘

Termasuk ketika naik kendaraan. Kalau lagi naik motor sama ayah, sudah mau duduk sendiri di antara bunda dan ayah dan duduknya tidak seperti biasanya, kadang-kadang maunya duduk ngempong. Tau kan ngempong? Itu lho duduk di motor ala ibu-ibu yang kakinya di sebelah kiri semua. Saya paham sih kenapa inginnya gitu, mungkin kepalanya pegel nengok terus ke satu arah, atau mungkin karena angin terasa lebih kenceng, kan kalau ngempong dia jadi aman terlindungi sama punggung ayahnya. Hihii.. cerdas juga 😀

Nah naik kendaraan umum juga sama, sekarang inginnya duduk sendiri di bangku penumpang, gak lagi digendong bunda. Malah kadang-kadang geser-geser sendiri ke tempat yang dia mau. Pindah sini, pindah sana seenaknya, untung gitunya kalau lagi kosong aja angkotnya, hihiii.. Kemarin saat pulang khalaqah, kami harus pulang dengan menaiki dua angkot. Angkot pertama jurusan Tegal Kalapa – Pujasera, selanjutnya Pujasera-Jalancagak. Setelah beberapa menit menunggu angkot Alhamdulillah  angkot pun datang. Seperti biasa, Shidqi mulai merengek ingin duduk sendiri, baiklah saja turuti. Sampai di lampu merah, kami turun, bahagia sekali karena ternyata setelah turun Shidqi tetap mau jalan sendiri. Alhamdulillah pundak saya bisa istirahat lebih lama. selanjutnya kami naik angkot paling depan di antara angkot yang berjajar menuju Jalancagak itu. Kami adalah penumpang pertama di angkot yang lagi ngetem (lagi nunggu penumpang). Sambil menunggu saya tawarkan baso tahu yang tadi dibeli, dan ternyata Shidqi mau. Setelah saya suapi beberapa kali, dia ambil bungkusan baso tahu yang saya pegang sambil berkata, “Nda, Kaka.. Nda, Kaka” maksudnya Bunda, sini sama kaka aja pegangnya. Agak ragu saya kasih bungkusan itu, saya terbayang akan seperti apa dia makan. Masalahnya saya tidak membawa tisue basah kalau-kalau dia belepotan, tapi demi pembelajarannya, akhirnya saya luluh juga.

Kemauannya cukup kuat, dia berusaha sekuat tenaga untuk bisa memasukan si baso tahu di plastik  ke mulutnya dengan selamat. Yeeaaay Alhamdulillah berhasil. Sampai akhirnya mungkin karena bosan, dia berpindah posisi duduk yang asalanya di samping kanan saya, dia pindah ke samping kiri depan, berbeda bangku dengan saya. Dengan santai dia pindah dan kembali duduk manis, lalu kembali bersibuk ria dengan baso tahunya. Hingga sampai waktu keberangkatan kami, dia pindah lagi ke samping kanan saya, berdoa, lalu cukup tenang menikmati perjalanan. Belum setengah perjalanan, doi minta tidur di kursi penumpang. Karena sedikit memaksa, dan tiadak ada penumpang lain di deretan kursi yang kami duduki,akhirnya saya izinkan. Badannya ia jatuhkan ke kursi dengan kaki masih ke menapak ke lantai angkot. MasyaAllah, ternyata Shidqi sudah muali berani show up di tempat umum tanpa malu-malu lagi. Mungkin karena efek penumpang di angkot juga sedikit sih, jadi dia cukup berani.

Pelajaran tentang kemandirian sudah lebih bervariasi, salah satunya kemandiriannya saat berkendaraan seperti ini. Menghadirkan stimulus-stimulus yang dapat merangsang kemampuannya sosialnya memang tidak mudah dan butuh stok sabar yang sangat banyak. Namun keyakinan terhadap pembelajaran yang membutuhkan proses akan menjadikan kami para orang tua semakin gigih menggali kemampuan dan minat anak, seperti apapun hasilnya, ikhtiar maksimal tentu tidak akan pernah menghasilkan kesia-siaan.

image

Benar, Anak adalah Ujian

Hari ini adalah salah satu hari bernoda yang sudah saya lewati. Saya yakin bekas paku yang telah terlanjur dihujamkan akan tetap berbekas, walaupun sudah sakitnya sudah mereda bahkan sembuh.
Adalah saya, yang hari ini telah kalah oleh rayuan syaitan yang sejak berhari-hari lalu membisiki. Perasaan ini ternyata salah saya tanggapi. Khawatir tentang keberadaan saya yang akan mengganggu kenyamanan orang lain ternyata salah, kekhawatiran saya tentang iru telah membuat syaitan masuk ke dalam pikiran saya. Membisiki, berkata bahwa saya adalah beban dan penyebab kekacauan, lalu berusaha merangkainan kalimat yang membuat saya terlihat mengalah dan bersalah. Ternyata semua itu adalah tipuan!

Tidak hanya saya yang digoda. Orang tua itu pun begitu, anak-anak kami pun begitu. Selalu saja ada hal menggemaskan yang harus diperebutkan oleh kedua anak ini. Selalu saja ada kejahilan yang dilakukan oleh anak yang lebih besar itu! Dan selalu saja ada barang yang diinginkan dari anak kecil ini! Lalu, entah apa yang menyebabkan si orang tua ini tiba-tiba bersikap aneh, menghindari setiap keberadaan kami, menjauhkan kedua anak ini bahkan anak seolah memenjara anak yang lebih besar itu dalam ruangan bernama rumah, bersamanya.
Syaitan memang selalu bersekongkol, ia bersinergi untuk menjatuhkan kami. menggoda kami dari berbagai arah, demi kemenangannya!

Saat puncak pun tiba, saat kondisi saya sangat lemah, dan godaan semakin berat dari kedua anak ini, maka rangkaian kata yang syaitan buatkan kahirnya saya ucapkan,
“Sabar ya, sebentar lagi Shidqi balik lagi ke Bandung koq!” Denga nada yang saya yakin tidak cukup menyamankan orang yang mendengar. Rasa puas saya rasakan, itu tandanya syaitan sedang merayakan kemenangan! Astagfirullah

Penyesalan pun datang saat mengetahui si orang tua menangis sejadi-jadinya, merasa bersalah atas sikapnya. Meminta maaf dan menjelaskan apa yang dirasakannya. Begitu pun saya, rasa bersalah telah mengeluarkan kalimat tadi meliputi saya. Saya jelaskan maksud Dari perkataan saya, bukan karena keberadaanya melainkan karena kekhawatiran yang saya rasakan serta harapan yang sedang kami ikhtiarkan untuk kembali lagi ke perantauan. Akhirnya kami saling merangkul dan saling bermaafan. Tak saya lewatkan pula untuk sedikt menasihati si anak yang lebih besar untuk bersikap lebih baik agar tak merepotkan (orangtua) yang mengasuhnya.

Mengasuh anak bukan hanya tentang menemaninya secara fisik, yang akan mengakibatkan lelah. Tapi seluruh komponen seorang manusia harus dihadirkan dalam mengasuhnya anak. Fisik, jiwa, akal dan hati harus bekerja sama untuk menciptakan suasana yabg nyamana bagi anak, juga kami, pengasuhnya. Jika salah satu komponennya tidak siap,apalagi hati, maka kelelahan hati tidak akan hilang hanya dengan memejamkan mata.

Mengasuh dan mendidik anak adalah proses panjang yang membutuhkan banyak ilmu dan pengalaman. Karena benar, anak adalah salah satu ujian. Maka ilmu untuk lulus dari ujian ini harus segera kita cari sebelum terlambat, agar setiap proses yang kita lalui dalam setiap episodenya bisa kita rasakan dengan nikmat dan penuh kesyukuran serta kesabaran.

Palasari, 30 Maret 2016

Ibu yang masih belajar

 

 

Mengenal Konsep Terapung dengan Perahu

image

Bermain sambil belajar benar-benar menyenangkan. Tidak ada beban, tapi tetap bermakna. Pelajaran konsep mengapung pada perahu dimulai akhir tahun lalu, 31 Désémber. Saat itu, Shidqi dan Iyo senang sekali belajar menulis di kertas. Setelah banyak kertas yang dihabiskan, saya ada ide untuk membuat perahu dari kertas.  Di buatlah perahu, lalu saya bawakan air dalam baskom.  Anak-anak yang sangat bersahabat dengan air, makin senang diberi mainan air. Beberapa perahu yang sudah di buat, kami apungkan dalam air di baskom. Saat itu saya beri tahu Shidqi kalau itu namanya perahu. Perahu ada di air. Lalu saya ceritakan bahwa ia pernah naik perahu saat kami menyebrang ke tiga gili dari Pulau Lombok. Saya coba gambarkan bagaimana suara perahu, ombak laut, shidqi  yang ketakutan di atas perahu, hingga saya ceritakan ketika saya hampir mabuk laut. Saya dengan semangat menceritakan pengalaman itu ke pada Shidqi walaupun ia terlihat lebih asik main perahu di dalam air, hmmmm…

Sejak pengalaman pertama membuat perahu tersebut, pada aktivitas selanjutnya jika sedang berhadapan dengan kertas, baik dalam bentuk gambar maupun origami,  perahu menjadi salah satu kendaran shidqi selain pesawat.
Yang paling menarik dari aktivitas bermain perahu kertas ini adalah konsep mengapung. Pada akhirnya, setiap benda yang mengapung Shidqi sebut sebagai perahu. Pernah suatu hari, saat saya memandikannya, di kamar mandi ada tempat sabun yang bentuknya kotak. Ia simpan sabun batang di dalamnya, lalu ia biarkan tempat sabun itu terapung dalam air, lalu ia bilang, “Da ahu, Da” awalnya saya tidak mengerti, tapi ketika ia menunjuk benda yang ia maksud, baru saya paham. Oo..perahu. Kreativitasnya membuat saya semyum-senyum kagum dan bersyukur.
Ini bukan satu dua kali, bahkan setiap kali mandi, pasti ada saja barang yang ia apungkan di atas air, entah itu botol shampo, botol sabun, cairan kumur, bahkan alas cat yang sedang antri untuk saya cuci pun ia jadikan perahu. Luar biasa!

Sekali waktu kami silaturahim ke rumah uyut shidqi di Cianjur. Qadarullah  di depan rumah uyut ada kulah (kolam penampungan air mengalir ) yang biasa digunakan keluarga untuk mencuci piring. Melihat saya yang kadang mencuci di sana, Shidqi tertarik. Pagi-pagi setelan jalan-jalan keliling vila, Shidqi minta turun mendekati kulah, saya izinkan ia turun. Lalu meminta saya mengambilakn mangkuk hijau yang berada tak jauh dari tempat kami berada, saya pun mengikuti keinginannya. Tiba-tiba ia masukan mangkuk itu ke dalam kulah, dan terapung. Dengan riang penuh ekspresi keberhasilan ia memberi tahu saya, “Nda.. Ahu Nda Ahu..”
Saya pun ikut merasakan keberhasilan dan kebahgaiaanya, “Waah Iya, perahu. Shidqi hebat. Koq bisa sih? Perahunya bagus yaa!”
Ia tersenyum, dan meminta saya untuk mengambilkan mangkuk lain yang masih ada di sekitar kami, saya turuti.
ia pun sorak lagi, “Nda.. Ahu ladi Nda Ahu ladi ”
Bunda perahu lagi,Bunda perahu lagi, begitu katanya. Lalu saya tawarkan ia untuk membuat perahu dari kertas, karena kemungkinan ia akan meminta mangkuk lagi untuk menambah perahunya.
“Ka, Bunda bikin perahu ya.. ”
“Iya” jawabnya singkat
Satu perahu selesai. Ia meminta lagi.
Perahu kedua selesai. Masih meminta. Begitu setertusnya.

Beberapa anak-anak yang lewat di depan rumah cukup tertarik melihat permainan Shidqi, sesekali saya mengajak ngobrol anak-anak itu. Sambil bermain, saya sampaikan tentang ombak, contohnya seperti apa, gimana cara agar perahu bisa melaju, hingga akhirnya ada perahu kertas yang tenggelam, saya jelskan pada Shidqi. Ketika semua perahu rusak dan tenggelam saya akhiri aktivitas Shidqi bermain perahu, soalnya baju dan celanany sudah basah kuyup, khawatir masuk angin.

Bermain sambil belajar itu asik bukan? Yuk coba Bunda, pasti ketagihan. ^_^

Ikatlah Ilmu dengan Tulisan

image

Ikatlah ilmu dengan tulisan.
Begitulah Sayidina Ali berkata betapa pentingnya menulis. Yang selama ini saya pahami dari keterangan di atas hanya sebatas menuliskan ilmu berupa kajian atau ceramah para pembicara  atau ilmu dari dosen yang tak ada di buku, tapi malam ini saya menemukan hal yang baru tentang ikat-mengikat ini, tak hanya ilmu berupa yang saya sebutkan di atas saja yang perlu diikat, pengalaman hidup perlu diikat, proses kehidupan perlu diikat, bahkan ilustrasi terhadap sebuah gambar atau momen pun perlu diikat. Memang sangat sulit jika harus mengikat segala tektekbengeknya dengan tulisan, tapi jika mau berusaha saya yakin bisa!

Kalau boleh menyesal, hihii, ini menjadi salah satu hal yang saya sesalkan. Terutama proses saya hamil hingga melahirkan sampai Shidqi sebesar ini tak ada catatannya.  Padahal ini akan menjadi ilmu yang sangat berharga bagi saya khususnya. Qadarullah pernah membaca diskusi para ibu tentang jurnal anaknya, serasa jadi ibu yang gak perhatian banget sama anak 😥
Tapi setidaknya saya punya file-file foto yang mudah-mudahan bisa jadi referensi perjalanan tumbuh kembang Shidqi si anak pertama yang memiliki Bunda penuh kekurangan. (Peluuuuk kamu, Nak…)
InsyaAllah mulai hari ini Bunda akan rajin membuat jurnal kamu ya, Nak. Bunda akan coba menuliskan segala aktivitasmu setiap hari, dengan begitu semoga aktivitasmu tiap harinya lebih beragam.

Saya yakin, bukan hanya saya yang bersyukur dan kegirangan melihat kemampuan putra/putrinya bertambah. Bahkan saking bahagianya, pengennya saya loncat-loncat sambil teriak,  “Akhirnya kamu bisa, Nak!! Yeeeee Alhamdulillah”
tapi khawatir anak jadi kaget dan aneh Bundanya kenapa, nggak jadi deh 😆
Melihat mainan yang kita belikan, asalnya didiemin, dilirik doang, dipegang aja, mulai dimainkan tapi belum bisa, mulai tertarik memainkan lagi gak bisa lalu ngamuk kesel karena gak bisa, sampai pada akhirnya bisa sendiri, itu perjalanan yang luar biasa. Buat saya terkagum-kagum betapa Allah begitu indah menciptakan makhluk-Nya dengan berbagai proses yang harus dilaluinya. Coba kalau pas lahir langsung bisa semua, tak akan  ada proses untuk bisa merenungi makna setiap tahapannya. Maka inilah yang harus diikat agar menjadi ilmu.
Wallahu’alam

 

Si Selfie yang Bikin Nambah Peer

Ternyata Shidqi kami mulai suka selfi alias narsis foto sendiri, eh Momselfie deng kayaknya foto bareng emaknya, hihii atau sonselfie gitu ya, emaknya yang ngajak bareng foto sama anak laki-lakinya..  Apalah itu, ternyata banyak juga jenis selfi, tapi gak akan dibahas sekarang ya..  Hehee.. Sekarang mau bahas Shidqi yang udah mau diajak selfi, yeeeaaayyy!! 🙆
Dulu semenjak ngerti HP bisa buat ambil gambar, boro-boro mau selfi, mau kami ambil fotonya aja susahnya minta ampun karena maunya pegang sendiri sambil berpose orang mau moto. Nah nah, sekarang mulai anteng dia kalau diajak selfi. 
Saya juga emang termasuk orang yang gak terlalu tertarik buat foti-fotoan, apalagi motret diri sendiri sambil senyum manis, meremin mata, apalagi monyong-monyongin bibir, hihiii.. Mungkin karena faktor kualitas camera yang kurang canggih kali ya, jadinya gak tertarik buat motret. Apalagi kalau selfi pake kamera tablet yang segede buku itu, pan repot. Pokoknya ribet aja mikirnya. 😤

Nah nah oktober lalu, ceritanya doi beliin hp baru nih. Ukurannya pas, kualitasnya lebih oke daripada tablet yang udah ada, termasuk kualitas kameranya. Nah darisanalah hasrat untuk selfi tumbuh, apalagi beberapa hari kemudian kami pergi ke Lombok yang pantainya sudah sangat terkenal indah itu, pas banget kan. Dan dari sini pula lah Shidqi sudah mulai saya ajak selfi, Hihii.. 

image

Shidqi kegerahan di Gazebo Villa Mataano, Lombok

Ada lagi,

image

Istirahat di mesjid waktu jalan-jalan berdua

Ini juga

image

Nunggu Ayah di Kamar

Masih banyak lagi foto sejenis yang berhasil diambil saat kami hanya berdua, sedangkan suami lagi ngasih pelatihan. Eh eh gak lama, masih di serangkaian kerja sambil liburan di Lombok itu HP saya kecemplung kolam renang yang ada di villa. Innalillahi..  Karena ketidaktahuan dan ketidaksabaran saya, akhirnya HP yang umurnya baru semingguan itu harus saya ikhlaskan harus isi baterai tanpa kabel, alias baterainya dicopot lalu dipasang ke alat pengisian baterai yang nantinya dihubungkan ke listrik. Mungkin gara-gara kebanyakan selfi, bisik saya dalam hati. Mulai dari sana, aktivitas selfi di lombok dikurangi, hehee.. 
Etapinya, Shidqi ternyata tidak melupakan aktivitas itu, memorinya sudah lebih otomatis merespon jika saya mengarahkan camera pada kami berdua, hihii..
Saya ngaku sih, suka ngasih instruksi ekspresi wajahnya saat mau selfi. Dengan saya memperlihatkan ekspresi tertentu sambil bilang “Kak, gini Kak!” kadang dia ngerti dan ngikutin. Yess!
Tapi, dari sekian banyak ekspresi yang saya cobtohkan, kenapa ekspresi melet yang paling nempel di memorinya. Bahkan sampai sekarang, tiap mau selfi atau groufi, melet selalu jadi pose andalannya dan masih sulit untuk mengubahnya. Jadi agak nyesel, ekspresi spontan saya yang tidak baik yang malah  nempel di memorinya. 😥
Coba lihat ini,  awalnya ini nih

image

Terus ini,

image

Lagi,

image

Saat kami nyengir, Shidqi tetap melet

Ini, 

image

Karena gayanya melet terus, kami jadi ikut2an dia

Ada lagi

image

Taman Bunga Nusantara, Cianjur

Lagi, 

image

Ayah malah ikutan melet

Dan terakhir ini,

image

Groufie sama Bunda dan Mamah

Hmmm…  Peer sekali bukan?
Emang gak semua foto posenya gitu sih, tapi pose ini sangat mengganggu. Ini murni kesalahan saya, dan salah menjadi salah satu peer besar buat saya untuk memberikan pengertian kepadanya. Ini serius, sangat serius. Saya sangat kaget sekaget kagetnya ketika melihat postingan tentang ekspresi atau gaya menjulurkan lidah (atau melet,  begitu saya menyebutnya) itu ekspresi siapa. Penasaran? Silakan digugling aja, saya gak berani bilangnya. 😑

Dari sini saya teringat kembali bahwa anak (apalagi seusia Shidqi)  adalah masanya menjadi peniru ulung. Jika tak berhati-hati dalam mengucapkan dan melakukan setiap tindakan, karena anak sedang proses menyimpan memori. Ia belum tahu dan paham baik atau buruk, sehingga setiap yang ia lihat, dengar dan rasakan akan disimpannya, kemudian dikeluarkan jika dalam bentuk respon jika ada yang menstimulasinya. Maka kita sebagai orangtualah yang bertugas agar memorinya dipenuhi dengan sikap, perkataan dan perasaan yang baik agar ia tumbuh menjadi pribadi yang berakhlakul karimah.

Subang, 040216