Mengenal Konsep Terapung dengan Perahu

image

Bermain sambil belajar benar-benar menyenangkan. Tidak ada beban, tapi tetap bermakna. Pelajaran konsep mengapung pada perahu dimulai akhir tahun lalu, 31 Désémber. Saat itu, Shidqi dan Iyo senang sekali belajar menulis di kertas. Setelah banyak kertas yang dihabiskan, saya ada ide untuk membuat perahu dari kertas.  Di buatlah perahu, lalu saya bawakan air dalam baskom.  Anak-anak yang sangat bersahabat dengan air, makin senang diberi mainan air. Beberapa perahu yang sudah di buat, kami apungkan dalam air di baskom. Saat itu saya beri tahu Shidqi kalau itu namanya perahu. Perahu ada di air. Lalu saya ceritakan bahwa ia pernah naik perahu saat kami menyebrang ke tiga gili dari Pulau Lombok. Saya coba gambarkan bagaimana suara perahu, ombak laut, shidqi  yang ketakutan di atas perahu, hingga saya ceritakan ketika saya hampir mabuk laut. Saya dengan semangat menceritakan pengalaman itu ke pada Shidqi walaupun ia terlihat lebih asik main perahu di dalam air, hmmmm…

Sejak pengalaman pertama membuat perahu tersebut, pada aktivitas selanjutnya jika sedang berhadapan dengan kertas, baik dalam bentuk gambar maupun origami,  perahu menjadi salah satu kendaran shidqi selain pesawat.
Yang paling menarik dari aktivitas bermain perahu kertas ini adalah konsep mengapung. Pada akhirnya, setiap benda yang mengapung Shidqi sebut sebagai perahu. Pernah suatu hari, saat saya memandikannya, di kamar mandi ada tempat sabun yang bentuknya kotak. Ia simpan sabun batang di dalamnya, lalu ia biarkan tempat sabun itu terapung dalam air, lalu ia bilang, “Da ahu, Da” awalnya saya tidak mengerti, tapi ketika ia menunjuk benda yang ia maksud, baru saya paham. Oo..perahu. Kreativitasnya membuat saya semyum-senyum kagum dan bersyukur.
Ini bukan satu dua kali, bahkan setiap kali mandi, pasti ada saja barang yang ia apungkan di atas air, entah itu botol shampo, botol sabun, cairan kumur, bahkan alas cat yang sedang antri untuk saya cuci pun ia jadikan perahu. Luar biasa!

Sekali waktu kami silaturahim ke rumah uyut shidqi di Cianjur. Qadarullah  di depan rumah uyut ada kulah (kolam penampungan air mengalir ) yang biasa digunakan keluarga untuk mencuci piring. Melihat saya yang kadang mencuci di sana, Shidqi tertarik. Pagi-pagi setelan jalan-jalan keliling vila, Shidqi minta turun mendekati kulah, saya izinkan ia turun. Lalu meminta saya mengambilakn mangkuk hijau yang berada tak jauh dari tempat kami berada, saya pun mengikuti keinginannya. Tiba-tiba ia masukan mangkuk itu ke dalam kulah, dan terapung. Dengan riang penuh ekspresi keberhasilan ia memberi tahu saya, “Nda.. Ahu Nda Ahu..”
Saya pun ikut merasakan keberhasilan dan kebahgaiaanya, “Waah Iya, perahu. Shidqi hebat. Koq bisa sih? Perahunya bagus yaa!”
Ia tersenyum, dan meminta saya untuk mengambilkan mangkuk lain yang masih ada di sekitar kami, saya turuti.
ia pun sorak lagi, “Nda.. Ahu ladi Nda Ahu ladi ”
Bunda perahu lagi,Bunda perahu lagi, begitu katanya. Lalu saya tawarkan ia untuk membuat perahu dari kertas, karena kemungkinan ia akan meminta mangkuk lagi untuk menambah perahunya.
“Ka, Bunda bikin perahu ya.. ”
“Iya” jawabnya singkat
Satu perahu selesai. Ia meminta lagi.
Perahu kedua selesai. Masih meminta. Begitu setertusnya.

Beberapa anak-anak yang lewat di depan rumah cukup tertarik melihat permainan Shidqi, sesekali saya mengajak ngobrol anak-anak itu. Sambil bermain, saya sampaikan tentang ombak, contohnya seperti apa, gimana cara agar perahu bisa melaju, hingga akhirnya ada perahu kertas yang tenggelam, saya jelskan pada Shidqi. Ketika semua perahu rusak dan tenggelam saya akhiri aktivitas Shidqi bermain perahu, soalnya baju dan celanany sudah basah kuyup, khawatir masuk angin.

Bermain sambil belajar itu asik bukan? Yuk coba Bunda, pasti ketagihan. ^_^

Advertisements

Hari #1 Siapa Aku dan Alasan Membuat Blog: Sebuah Perjalanan Kembali Menulis

Yeaaaay! tanggal 4 akhirnya tiba juga. tamu yang ditunggu-tunggukini ada di depan mata,bahkan sudah masuk pada ruangan kita. Ya, waktunya setor tulisan pertama di grup menantang ini. Saya sangat yakin, akan menemukan bahkan mendapatkan banyak hal di komunitas ini. Bahkan sangat mungkin akan sedikit banyak mengubah kebiasaan saya. Pasti tak hanya saya yang memiliki motivasi ingin kembali aktif menulis setelah sekian lama terlena dengan berbagai kesibukan. Semoga ketika berkumpul dengan orang-orang yang satu tujuan, puzzle motivasi ini terangakai sempurna menjadi susunan indah dalam sebuah kebiasaan.

Melalui serangkaian proses berpikir dan bermusyawarah, alhamdulillah akhirnya saya memutuskan untuk lanjut mengikuti tantangan One Day One Post #99days ini. Sempat runtuh ketika suami tidak mengizinkan, namun alhamdulillah semua itu dapat saya lalui tanpa tangisan. hihii…
Kenapa tangisan? Saya termasuk orang yang mudah menangis ketika sesuatu menyentuh hati saya, tak hanya kesedihan, kepiluan dan teman-temannya, bahkan lihat orang yang sedang menangis pun saya ikut menangis >_< yang pada akhirnya saya tak mampu menyampaikan apa yang sedang saya pikirkan dan saya rasakan. Nah ini adalah salah satu kelemahan saya.

**************************************************************************

Tulisan di atas merupakan tulisan dua bulan lalu  yang belum rampung sampai saat ini. Rencanana ytulisan itu akan dijadikan setoran perdana di tantangan One Day One Post for 99 Days, yang isinya tentang perjalanan dan perjuangan menn. dapatkan izin suami untuk ikut tantangan ini. Tapi karena isinya kemana-mana malah hampir keluar dan topik yang dan pesan yang ingin disampaikan, jadilah saya hentikan tulisan ini dan mulai dengan topik baru yang konsepnya sudah benar-benar matang.
Hari ini, setelah sekian lama tidak blogging pakai laptop, saya menemukan draft tulisan yang belum selesai ini setelah sebelumnya embaca tulisan Mba Rinda Sukma tentang ilmu yang didapatnya saat mengikuti Kursus Online Blogging 101, lengkapnya bisa dilihat di sini.

Nah, dalam rangka melanjutkan tulisan basi ini. Saya akan coba menuliskan tugas hari#1 yaitu Tulis satu pos tentang siapa kita, lalu hubungkan dengan mengapa kita membuat blog.
Yap, mari kita mulai tugas pertama!
Saya Irna Rahayu, seorang istri dari Rahmat awaludin dan ibu dari Shidqi Abdullah Mubarak. Aktivitas saya sekarang adalah seorang ibu rumah tangga dengan berbagai tugasnya yang beragam. Sebelumnya saya adalah seorang guru Bahasa Indonesia yang mengajar di salah satu SMK di Bandung. Sebagai seorang ibu rumah tangga, saya merasa perlu banyak belajar terutama tentang bagaimana menjadi orang tua (ibu) yang baik.
Saya baru sadar sekarang, ternyata saya jauh tertinggal dari perkembangan zaman. Walaupun saya sekolah di sekolah favorit di kota saya, tetapi dalam hal teknologi ternyata saya cukup tertinggal. Waktu SMP, SMA bahkan kuliah, saya hanya menggunakan internet untuk mencari informasi yang standar saja, cari referensi untuk tugas dan media sosial hanya untuk rekreasi di dunia maya. Sudah selesai.
Setelah menikah, saya baru tahu arah mana yang harus saya tuju, komunitas mana yang harus saya ikuti, dan ilmu mana yang harus saya pelajari. Hingga pada akhirnya saya bertemu dengan komunitas menulis yang begitu mengena di hati, One Day One Post for 99 Days, berawal dari silaturahim dengan komunitas Ibu Profesional.

Tentang Menulis
Saya lupa kapan tepatnya saya berminat dengan dunia menulis, mungkin ketika SMA. Saat kelas dua SMA, ada pengalaman yang paling berkesan dari seorang guru Bahasa Indonesia yang tugasnya antimainstream yaitu membuat novel sebagai tugas satu tahun. Tugas yang cukup menantang bagi saya dan teman-teman yang lain. Setelah materi tentang menulis dan karya sastra kami dapatkan, saya mulai mengumpulkan ide untuk novel yang akan saya buat. berbagai ide bermunculan, satu persatu dicoret, sampai akhirnya pada satu ide yang menurut saya paling oke. Dan ternyata tantangan mulai muncul, terutama faktor M, Muaaaales yang ketika datang tak mengenal waktu. Sampai pada akhirnya, waktu kurang lebih sebulan terakhirlah yang paling efektif menyelesaikan tugas novel tersebut. Inilah saya, masih menggunakan the power of kefefet ketika mengerjakan tugas. Selain tugas novel tersebut, di satu komunitas yang saya ikuti yaitu Muslim Friends Subang, ada buletin yang terbit setiap bulan. Penulis buletin yang juga pembina komunitas ini, selalu memotivasi kami untuk belajar menulis dan menghasilkan sebuah tulisan. Beliau sudah merasakan sendiri hasil dari menulis, ketika tulisannya di muat di media, ada sejumlah uang yang akan beliau dapatkan.

Berlanjut ke bangku kuliah, Qadarullah saya masuk di jurusan yang tidak saya sukai, yaitu Pendidikan Bahasa Indonesia. Entah kenapa sejak SMP saya tidak tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia, mungkin efek dari sistem pembelajarannya yang kurang menyenangkan. Bahkan nilai UN Bahasa Indonesia saya pun kecil. Sekarang saya harus mempelajari seluk beluk bahasa Indonesia selama kuliah. Wow, tantangan yang luar biasa! Tapi dari sini saya banyak wawasan tentang kepenulisan, walaupun selama mata kuliah menulis belum ernah saya mendapatkan nilai A 😥
Dosen saya banyak yang jadi penulis, penulis buku maupun penulis lepas. Teman-teman saya pun banyak yang jago menulis, bahkan ada beberapa teman yang tulisannya berkali-kali masuk media cetak. Lalu bagaimana dengan saya? Hehee. Saat itu, baru sekedar niat dan keinginan saja untuk bisa menghasilkan tulisan, tapi belum diiringi dengan ikhtiar nyata dalam merealisaikannya. Saya lebih nyaman di dunia lain saat itu, sehingga kesempatan saya mendapatkan ilmu lebih banyak tentang kepenulisan lewat begitu saja. Sekarang baru menyesal. Walaupun belum ada kesungguhan dari saya untuk mendalami dunia kepenulisan, tapi keinginan jadi penulis ada lho, tertulis di daftar mimpi no 26, 27, 28 yang saya buat di hari ulang tahun saya ke 20. Aneh ya, mau jadi penulis koq gak nulis? Ckckckck…
Sampai pada akhirnya mimpi itu pun belum terwujud hingga sekarang. Wkwkwk

Lalu, kapan mulai kembali tertarik dengan menulis?
Saya kembali tertarik untuk menulis beberapa bulan lalu saat bergabung dengan komunitas Ibu Profesional yang dirintis Ibu Septi Peni Wulandari dengan suaminya. Saat itu saya bergabung dengan IIP Bandung, karena memang sedang berdomisili di sana. HIngga pada akhirnya IIP Bandung yang dimotori teh Shanty membuat grup One Day One Post for 99 Days. Merasa butuh dengan kebiasaan menulis ini, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti tantangan ini. Saya daftar.
Saya lupa, saya daftar tapi saya belum minta izin kepada suami. Bagaimana pun setiap aktivitas yang saya kerjakan harus sepengetahuan dan izin suami walaupun itu kebaikan. Saya yakin suami akan mengizinkan karena itu hal yang positif, tapi ternyata dugaan saya salah. Suami tidak mengizinkan dengan alasan yang cukup logis. Baiklah, saya terima keputusannya tanpa sanggahan. Hati saya kecewa dan sedikit kesal bin marah dengan keputusan beliau karena saya pastikan pikiran saya sedang tidak jernih dan kata-kata yang saya keluarkan pasti tidak akan mengubah keputusannya, justru menambah keruh suasana.
Keputusan saya sudah bulat untuk mengikuti tentngan ini. Saya berpikir dengan tenang dan mencari cara untuk meyakinkan beliau bahwa aktivitas ini tidak akan mengganggu kewajiban saya sebagai ibu rumah tangga.

Alasan beliau tidak mengizinkan saya ikut tantangan ini adalah terganggunya konsentrasi saya di rumah, khususnya saat mengasuh anak. Dengan saya mengikuti tantangan ini, suami sudah membayangkan apa yang akan saya lakukan dengan bertambahnya kewajiban saya untuk setor tulisan setiap hari. Suami khawatir saya semakin lelah dengan menambah daftar aktivitas sehari-hari, yang akhirnya ketika tiba malam hari, rasa kantuk dan lelah tersebut berwujud kekesalan pada anak dan suami. Ini masalahnya, saya  belum pandai mengatur emosi apalagi ketika rasa kantuk menyerang. Saya menyadari kekhawatiran suami, demi meminimalisir mudharat yang mungkin terjadi. Dari sana saya mulai berazam untuk kembali menata emosi saat kantuk dan lelah menyerang. Saya kuatkan tekad untuk bisa mengikuti kelas ODOP for 99 Days tanpa meninggalkan kewajiban urusan rumahtangga, suami dan anak. Akhirnya saya kembali menyampaikan kepada suami dengan sungguh-sungguh tentang ODOP ini dan berjanji akan berusaha mengendalikan emosi saat lelah dan ngantuk. Kalau tiba-tiba di tengah jalan suami menemukan saya melanggar, saya siap untuk ditegur dan berhenti tantangan ODOP tersebut. Alhamdulillah dengan kejernihan hati, kata-kata yang tulus dan kesiapan hati  (saat tetap tidak diizinkan) yang penuh tawakal, suami mengizinkan. Sejak saat itu saya kembali bergairah unuk menulis.

Mengapa Harus Blog?
Blog ini adalah blog ketiga yang sudah saya buat, yang pertama dan kedua sama sekali jarang saya sentuh bahkan saya lupa nama blog, username, dan password yang saaya gunakan. Blog saat ini saya buat satu bulan setelah Shidqi lahir, tujuannya untuk kembali melatih aktivitas saya menulis. Saat itu saya bertekad untuk menulis apa pun, tanpa harus memikirkan hal yang sulit. Menulis seadanya dan semampunya. Tapi sejak blog ini dibuat, tanggal 27 Apil 2015 hanya beberapa tulisan saja yang berhasil saya published. Sampai pada akhirnya bertemu tantangan ODOP for 99 Days, Alhamdulillah blog ini cukup sering saya isi.
Mungkin banyak media yang bisa saya gunakan untuk belajar menulis, tapi saya memilih blog karena koneksi yang mudah dijangkau dari mana pun, selama ada koneksi internet pastinya :D. Selain karena alasan itu, dengan menulis di blog kesempatan kita untuk menyampaikana kebaikan lebih luas dan orang yang mendapatkan kebaikan dan kebermanfaatan dari tulisan kita lebih banyak. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang memiliki keterbatasan ruang gerak, biarlah rumah menjadi tempat ternyaman kami untuk sedikit berbagi kebaikan, InsyaAllah.

Perjalanan menuju kebiasan menulis ini tidak mudah, banyak rintangan yang pasti datang. Namun yakinlah, Allah akan meolong bagi siapa yang bersungguh-sungguh.

Selesai
Subang, 18 Maret – 20 Maret 2016

 

Sekilas Dua Garis Merah

Bulan Maret adalah bulan yang ditunggu-tunggu setelah garis dua warna merah muda terlihat jelas pada tespack. Masih terasa hangat dalam ingatan, 32 bulan lalu, tepat pada Bulan Ramadhan yang baru menginjak pekan ke dua. Saya yang sudah telat menstruasi tujuh hari, mengikuti saran teman yang baru saja mengabari kalau dirinya positif hamil, untuk tes kehamilan mandiri. Betapa hati ini ingin segera bertemu dengan dini hari (waktu sahur) untuk segera tespack -tespack akan lebih akurat dengan urin pertama pada hari itu-, tapi saat waktunya tiba hampir saja momen itu terlewat saking sibuknya menyiapkan makan sahur. Ketika mulai makan, barulah ingat, dan tak yunggu makan selesai, langsung saya ke kamar mandi dan tespack. Keluar dari kamar mandi, saya senyum-senyum sambil terus memerhatikan perubahan warna pada garis tersebut. Setelah beberapa menit, hasilnyanterlihat garis dua warna merah muda. Sungguh membuncahnya hati ini melihat hasil tespack tersebut, begitu pun dengan suami. Perasaan campur aduk jadi satu kami bawa sampai ke sekolah. Lalu saya kabari teman yang sebelumnya mengabari kalau dirinya hamil, dan beliau merekomendasikan untukntes ulanh dengan tespack yang lebih bagus dan lebih akurat. Alhamdulillah pada tes selanjutnya pun, dua garis merah tersebut hadir melengkapi kebahagiaan kami o (∩ ω ∩) o

Pantas saja kalaunsaya hamil, ternyata tanda-tandanya memang sudah terlihat pada bulan sebelumnya. Akhir bulan juni itu, kami sedang libur semester, setelah ada tawaran menjadi fasilitator pada acara Sanlat Liburan di DT akhirnya selama 3-4 hari kami mendampingi adik-adik SD camping di Hutan Cikole Lembang. Belum ada tanda apa pun di sana. Selesai acara, kami pulang ke Subang, di Subang rasa kantuk pada jam jam pagi sering melanda. Saya pikir efek kelelahan setelah kegiatan sanlat saja, tak mengira apa pun. Beberapa hari kemudian, saya ditawari kembali menjadi fasilitator sanlat di Singaparna. Karena memang tak ada kegiatan sekolah, dan suami pun mengizinkan, akhirnya saya terima tawaran itu walau harus kehilangan momen menyiapkan sahur untuk suami pada hari pertama Shaum Ramadhan pernikahan kami.

Di Singaparna, di SD IT (lupa namanya), saat kami datang, kami dijamu dengan macam-macam makanan. Tapi ad satu jamuan yang membuat saya benar-benar menginginkannya lagi. Tahu pedas. Tahunya biasa aja, rasanya juga tak terlalu mewah, tapi koq perasaan sukanya beda seperti biasanya. Sampai-sampai keesokan harinya saya selalu nagih tahu itu. Teman-teman fasilitator sampai bilang, “Ah Teh Irna mah kayaknya ngidam ya Teh?” Saya balas cukup dengan senyuman. Lagi-lagi tak menyangka saya sedang hamil.
Pada saat yang sama, Sahabat saya sejak Kuliah, yang lahirnya sama-sama bulan juni 1991, jurusan kuliah sama-sama bahasa Indonesia, sampai nikah pun sama-sama bulan april 2013 dengan tanggal yang hanya berbeda satu pekan, menghubungi saya dan mengabarkan kalau beliau positif hamil. Bahagia bercampur rasa iri ingin hamil juga jadi satu.
Selain itu, kantuk luar biasa menyerang setiap aktivitas saya saat sanlat. Sampai-sampai saat satu materi sedang disampaikan Trainer, kami sebagai fasilitator duduk mengawasi peserta sanlat sambil ikut menyimak, eh tiba-tiba kantuk yang begitu hebat itu menjelma menjadi “lenggutan”  kepala serta mata yang tidak tertahankan, qadarullah ada satu dua anak dari kelompok bimbingan saya yang sedang nengok ke belakang, jadilah saya agak sedikit diledek sama adik-adik,  “Kak Irna ngantuuuk yaaaa??” sambil senyum-senyum puas.
Belum lagi saat pulang ke Bandung, jalan yang berliku dan supir yang terlalu kasar mengendarai mobil, membuat hampir semua penumpang merasa sangat mual. Bahkan satu dari kami akhirnya muntah, padahal dia laki-laki,  hehee.. Termasuk saya, sepanjang jalan perut berasa tak nyaman. 

Padahal dari sekian kejadian itu merupakan tanda-tanda kehamilan, hanya saja saya tidak menyadarinya.
Mendapat kabar bahwa telah ada makhluk Allah yang sedang berkembang dalam rahim ini, membuat saya dan suami sangat bersyukur.  Allah pun memberikan jeda dua bulan dari pernikahan kami untuk mengamanahkan anak, pun kami lalui dengan penuh tafakur. Bahwa inilah perasaan mereka yang ingin segera dikaruniai anak, tapi belum juga. Coba bayangkan mereka yang sudah bertahun-tahun dalam penantian ini? Betapa luasnya kesabaran dan keyakinan mereka terhadap takdir Allah. Dan yakin, ini tidak akan diberikan pada setiap manusia di luar kemampuannya. Allah menyimpan hikmah di setiap kejadian, dan kitalah yang harus berusaha menemukannya agar senantiasa bersyukur atas segala ketentuan – Nya.

Dan amanah ini, akan menjadi saksi di akhirat kelak, telah seperti apa kami menjaganya.

Rabbi Habli Mina Shalihin.. 

Kilas balik Ramadhan/Juli 2013

Ikatlah Ilmu dengan Tulisan

image

Ikatlah ilmu dengan tulisan.
Begitulah Sayidina Ali berkata betapa pentingnya menulis. Yang selama ini saya pahami dari keterangan di atas hanya sebatas menuliskan ilmu berupa kajian atau ceramah para pembicara  atau ilmu dari dosen yang tak ada di buku, tapi malam ini saya menemukan hal yang baru tentang ikat-mengikat ini, tak hanya ilmu berupa yang saya sebutkan di atas saja yang perlu diikat, pengalaman hidup perlu diikat, proses kehidupan perlu diikat, bahkan ilustrasi terhadap sebuah gambar atau momen pun perlu diikat. Memang sangat sulit jika harus mengikat segala tektekbengeknya dengan tulisan, tapi jika mau berusaha saya yakin bisa!

Kalau boleh menyesal, hihii, ini menjadi salah satu hal yang saya sesalkan. Terutama proses saya hamil hingga melahirkan sampai Shidqi sebesar ini tak ada catatannya.  Padahal ini akan menjadi ilmu yang sangat berharga bagi saya khususnya. Qadarullah pernah membaca diskusi para ibu tentang jurnal anaknya, serasa jadi ibu yang gak perhatian banget sama anak 😥
Tapi setidaknya saya punya file-file foto yang mudah-mudahan bisa jadi referensi perjalanan tumbuh kembang Shidqi si anak pertama yang memiliki Bunda penuh kekurangan. (Peluuuuk kamu, Nak…)
InsyaAllah mulai hari ini Bunda akan rajin membuat jurnal kamu ya, Nak. Bunda akan coba menuliskan segala aktivitasmu setiap hari, dengan begitu semoga aktivitasmu tiap harinya lebih beragam.

Saya yakin, bukan hanya saya yang bersyukur dan kegirangan melihat kemampuan putra/putrinya bertambah. Bahkan saking bahagianya, pengennya saya loncat-loncat sambil teriak,  “Akhirnya kamu bisa, Nak!! Yeeeee Alhamdulillah”
tapi khawatir anak jadi kaget dan aneh Bundanya kenapa, nggak jadi deh 😆
Melihat mainan yang kita belikan, asalnya didiemin, dilirik doang, dipegang aja, mulai dimainkan tapi belum bisa, mulai tertarik memainkan lagi gak bisa lalu ngamuk kesel karena gak bisa, sampai pada akhirnya bisa sendiri, itu perjalanan yang luar biasa. Buat saya terkagum-kagum betapa Allah begitu indah menciptakan makhluk-Nya dengan berbagai proses yang harus dilaluinya. Coba kalau pas lahir langsung bisa semua, tak akan  ada proses untuk bisa merenungi makna setiap tahapannya. Maka inilah yang harus diikat agar menjadi ilmu.
Wallahu’alam

 

Si Selfie yang Bikin Nambah Peer

Ternyata Shidqi kami mulai suka selfi alias narsis foto sendiri, eh Momselfie deng kayaknya foto bareng emaknya, hihii atau sonselfie gitu ya, emaknya yang ngajak bareng foto sama anak laki-lakinya..  Apalah itu, ternyata banyak juga jenis selfi, tapi gak akan dibahas sekarang ya..  Hehee.. Sekarang mau bahas Shidqi yang udah mau diajak selfi, yeeeaaayyy!! 🙆
Dulu semenjak ngerti HP bisa buat ambil gambar, boro-boro mau selfi, mau kami ambil fotonya aja susahnya minta ampun karena maunya pegang sendiri sambil berpose orang mau moto. Nah nah, sekarang mulai anteng dia kalau diajak selfi. 
Saya juga emang termasuk orang yang gak terlalu tertarik buat foti-fotoan, apalagi motret diri sendiri sambil senyum manis, meremin mata, apalagi monyong-monyongin bibir, hihiii.. Mungkin karena faktor kualitas camera yang kurang canggih kali ya, jadinya gak tertarik buat motret. Apalagi kalau selfi pake kamera tablet yang segede buku itu, pan repot. Pokoknya ribet aja mikirnya. 😤

Nah nah oktober lalu, ceritanya doi beliin hp baru nih. Ukurannya pas, kualitasnya lebih oke daripada tablet yang udah ada, termasuk kualitas kameranya. Nah darisanalah hasrat untuk selfi tumbuh, apalagi beberapa hari kemudian kami pergi ke Lombok yang pantainya sudah sangat terkenal indah itu, pas banget kan. Dan dari sini pula lah Shidqi sudah mulai saya ajak selfi, Hihii.. 

image

Shidqi kegerahan di Gazebo Villa Mataano, Lombok

Ada lagi,

image

Istirahat di mesjid waktu jalan-jalan berdua

Ini juga

image

Nunggu Ayah di Kamar

Masih banyak lagi foto sejenis yang berhasil diambil saat kami hanya berdua, sedangkan suami lagi ngasih pelatihan. Eh eh gak lama, masih di serangkaian kerja sambil liburan di Lombok itu HP saya kecemplung kolam renang yang ada di villa. Innalillahi..  Karena ketidaktahuan dan ketidaksabaran saya, akhirnya HP yang umurnya baru semingguan itu harus saya ikhlaskan harus isi baterai tanpa kabel, alias baterainya dicopot lalu dipasang ke alat pengisian baterai yang nantinya dihubungkan ke listrik. Mungkin gara-gara kebanyakan selfi, bisik saya dalam hati. Mulai dari sana, aktivitas selfi di lombok dikurangi, hehee.. 
Etapinya, Shidqi ternyata tidak melupakan aktivitas itu, memorinya sudah lebih otomatis merespon jika saya mengarahkan camera pada kami berdua, hihii..
Saya ngaku sih, suka ngasih instruksi ekspresi wajahnya saat mau selfi. Dengan saya memperlihatkan ekspresi tertentu sambil bilang “Kak, gini Kak!” kadang dia ngerti dan ngikutin. Yess!
Tapi, dari sekian banyak ekspresi yang saya cobtohkan, kenapa ekspresi melet yang paling nempel di memorinya. Bahkan sampai sekarang, tiap mau selfi atau groufi, melet selalu jadi pose andalannya dan masih sulit untuk mengubahnya. Jadi agak nyesel, ekspresi spontan saya yang tidak baik yang malah  nempel di memorinya. 😥
Coba lihat ini,  awalnya ini nih

image

Terus ini,

image

Lagi,

image

Saat kami nyengir, Shidqi tetap melet

Ini, 

image

Karena gayanya melet terus, kami jadi ikut2an dia

Ada lagi

image

Taman Bunga Nusantara, Cianjur

Lagi, 

image

Ayah malah ikutan melet

Dan terakhir ini,

image

Groufie sama Bunda dan Mamah

Hmmm…  Peer sekali bukan?
Emang gak semua foto posenya gitu sih, tapi pose ini sangat mengganggu. Ini murni kesalahan saya, dan salah menjadi salah satu peer besar buat saya untuk memberikan pengertian kepadanya. Ini serius, sangat serius. Saya sangat kaget sekaget kagetnya ketika melihat postingan tentang ekspresi atau gaya menjulurkan lidah (atau melet,  begitu saya menyebutnya) itu ekspresi siapa. Penasaran? Silakan digugling aja, saya gak berani bilangnya. 😑

Dari sini saya teringat kembali bahwa anak (apalagi seusia Shidqi)  adalah masanya menjadi peniru ulung. Jika tak berhati-hati dalam mengucapkan dan melakukan setiap tindakan, karena anak sedang proses menyimpan memori. Ia belum tahu dan paham baik atau buruk, sehingga setiap yang ia lihat, dengar dan rasakan akan disimpannya, kemudian dikeluarkan jika dalam bentuk respon jika ada yang menstimulasinya. Maka kita sebagai orangtualah yang bertugas agar memorinya dipenuhi dengan sikap, perkataan dan perasaan yang baik agar ia tumbuh menjadi pribadi yang berakhlakul karimah.

Subang, 040216