Aku Bisa Melepas Celana Sendiri

Palasari, 2 April 2016

Yeyeee… yeyeee…
Alhamdulillah… 

Sebuah pencapaian sudah Shidqi lewati hari ini. Hari ini Shidqi berhasil melepas celana sendiri. Beberapa hari terakhir memang dia sudah memperlihatkan ketertarikannya untuk melepas sendiri baju dan celanan yang dipakainya. Bahkan pekan lalu dia sempat beberapa saat tanpa sehelai pakaian pun, saya sih curiganya karena kepanasan. memang akhir-akhir ini Subang kembali panas, setelah intensitas hujan berkurang, kami mulai serasa dioven kembali, hehee 😀
Alhamdulillah kebiasaan itu tidak berlanjut, hanya dua atau tiga kali saja dia ingin seperti itu. Nah sepertinya itu adalah awal mula timbulnya keinginan bisa membuka baju sendiri, karena saya agak ogah-ogahan kalau dia minta buka baju bukan pada saatnya.

Pencapaian ini ada target waktu gak sih? Kalau yang ini, jujur tidak ada target sama sekali. Karena kami sudah mendapat ilmu tentang melatih kemandirian anak harus dimulai sejak dini, maka yang kami lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mulai dari hal terkecil yang ia bisa. Misalnya, minum sendiri, ambil apa yang dia mau, makan, toilet training , membereskan mainan, naik mobil-mobilan, dan apa pun yang kemungkinan sudah bisa dia lakukan, kami coba memberinya kesempatannya. Nah untuk memakai dan melepas pakaian, karena kami cukup tau kemampuannya, yang kami lakukan adalah memberikan motivasi kalau dia sudah besar, harus bisa pakai dan lepas baju sendiri, lalu kami tawarkan untuk mencobanya. Nah di beberapa hari terakhir ini, ternyata dia mau mencoba, kesempatan ini tidak saya lewatkn begitu saja. Walaupun waktu yang dibutuhkan akan lebih lama, tapi jika ada pembelajaran di dalamnya, saya akan menambah stok sabar yang saya punya. Prosesnya memang tidak selalu mulus, pasti akan ada sedikit atau bahkan banyak tantrum yang muncul akibat kegagalan yang ia hadapi. Kembali menjadi tugas ayah dan bunda untuk memberikan keyakinan bahwa ia bisa melewatinya. Jangan lupa, berikan ia pertolongan dalam proses latihan ini jika sudah terlihat sangat kesulitan. Apresiasi setiap pencapaian yang sudah ia lakukan. Ini dilakukan berulang, sampai dia benar-benar berhasil melakukannya. Ketika sudah berhasil, bukan berarti dia sudah mahir. Walaupun dia sudah bisa, tetap kita harua mendampingi nya sampai ia benar-benar mahir melakukannya. Jika tidak diulang hingga mahir, keberhasilan ini akan kembali mentah jika tidak dilatih.

Tentang target, yang jadi bahan renungan kami justru hal-hal yang kami targetkan sama sakali melenceng dari target yang sudah dibuat. Misalnya, bulan Maret lalu, ada dua target pencapaian yang harus Shidqi lewati, WWL dan Pee n Poop di closet. Pertengahan Maret lalu, Shidqi tepat dua tahun dan artinya dia harus segera disapih ASI. Ternyata target disapih saat dua tahun ini gagal, sampai saat ini dengan nyaman dia masih mimi 😱 Satu lagi pee n poop di closet, walaupun selama ini Shidqi sudah mampu melakukan keduanya di kamar mandi, tapi masih di lantai, belum di closet.
Dan ternyata kesalahannya ada pada FOKUS. Kami salah dalam melihat fokus. Ketika kami sudah memasang target, maka yang jadi fokus kami adalah hasil tersebut. Kami jadi kurang menikmati setiap proses yang harus kami lewati. Ini sangat menguras energi, bahkan kami merasa sangat lama dan terkadang menjadi sangat khawatir jika waktunya hanya tinggal sedikit untuk mencapai target tersebut. Buktinya, malah dua target yang sudah dipasang tidak berhasil satu pun.

Jadi mending gak usah ada target waktu kalau gitu ya? Nggak gitu juga, yang jangan dilakukan itu adalah fokus pada target. Itu. Sangat baik jika kita memiliki target waktu, apalagi disertai dengan detail tahapan proses yang harus dilalui. Jadikan itu hanya sebagai acuan serta evaluasi yang nantinya akan digunakan dalam rentang waktu tertentu. Adapun hasilnya sesuai atau tidak dengan target yang sudah ditentukan, bertawakallah! Usahakan kita fokus pada proses, menikmati setiap perjalanannya, mengambil pelajaran pada setiap fasenya, terus berusaha mengapresiasi setiap pencapaiannya, dan senantiasa berdoa memohon pertolongan Allah agar segera memampukannya. Yang terakhir inilah yang tidak kalah penting untuk ditanamkan dalam diri kita selaku orang tua. Setiap pencapaian yang anak raih bukanlah karena kita sebagai orang tuanya yang berhasil menstimulasinya, tapi semua itu adalah kehendak Allah yang menggenggam jiwa raga anak-anak kita. Sekreatif apa pun kita menstimulasi, jika Allah belum berkehendak, pasti tidak akan terjadi. Maka sangat penting di sini untuk bertawakal. Tentu diimbangi dengan ikhtiar ya, bukankah Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri?*
Maka jangan remehkan salah satunya, doa terbaik, ikhtiar maksimal, dan tawakal di setiap prosesnya adalah sebuah kesatuan kunci yang tidak bisa dipisahkan.

Pada akhirnya hanya rasa syukur yang dapat menambah kenikmatan dan keberkahan, serta rasa sabar yang akan terus menyertai ketiga kunci di atas lah yang akan mpertemukan kita pada kebahagiaan.

Advertisements

Senangnya Naik Angkot

Subang, 30 Maret 2016

Ngangkot, ngangkot..
Shidqi suka banget kalau udah diajak naik angkot, kalau mood nya lagi baik, doi pengennya duduk sendiri gak digendong saya.  Kereeeen kan, hehee..  Tapi kalau lagi penuh nggak mau juga sih 😂
Setiap kali ada keperluan ke luar, kalau suami lagi kerja dan gak bisa antar, angkot adalah pilihan terakhir dan satu-satunya. Motor? Saya belum berani bawa motor dengan Shidqi, khawatir. Mobil? Nah ini saya belum bisa nyetir mobil, dan mobilnya juga belum punya, wkwkwk. Masa mau pinjam punyai bapak, kan gak perlu kalau deket doang mah,, hehe..
Mumpung belum bisa nyetir dan belum punya mobil pribadi, waktunya ajarin Shidqi naik kendaraan umum. Sejak bayi, Shidqi sudah belajar naik mobil umum. Jarak terjauh yang pernah Shidqi lewati sejak bayi, dari Bandung-Bogor. Eh ada deng yang paling jauh, Bandung-Lombok, pakai kendaraan umum juga, hihiii, naik pesawat itu mah, wkwkwk..  InsyaAllah nanti diceritakan di lain post tentang pengalaman doi pertama kali naik pesawat 😉

Ibu-ibu yang pernah naik mobil umum membawa bayi pernah merasakan dong gimana dagdigdug nya selama perjalanan? Iyes! Saya juga merasakan hal yang sama.  Pertama kali membawa Shidqi naik bis jarak jauh itu mikirnya cukup lama,  bolak balik mempertimbangkan beberapa yang mungkin bisa diambil. Akhirnya tetep nekat pake mobil umum.  Bismillah.
Ternyata kenyataannya tidak sehoror yang dibayangkan.  Perjalanan pertama cukup anteng, sesekali berdiri liat sekitar, ada anak kecil dan bayi di bangku belakang dia ajakin main. Sesekali liat pemandangan ke luar, saya ceritakan apa yang dia liat, apa yang lewat, dan lainnya. Yang agak repot kalau ingin mimi, ini nih kerjasama harus lebih kompak. Seperti biasa jurus menutup Shidqi pakai kerudung dilakukan, tapi karena doi gak biasa selama mimi seperti itu akhirnya setelah nyantol ingin melihat dunia kembali. Suami sibuk berjaga-jaga, liat kiri kanan depan belakang sama bagian atas khawatir ada laki-laki yang memperhatikan. Walaupun insyaallah aman, tapi berjaga-jaga harus tetap dilakukan bukan?😄
Beberapa kali naik mobil umum saat masih sangat kecil alhamdulillah aman, kami selalu usahakan dalam doi dalam posisi kenyang dan tidak kepanasan, karena biasanya tak lama setelah mobil melaju, matanya tak kuat untuk bertahan terlalu lama, kecuali kondisi tertentu misal saat berangkat baru bangun tidur itu  lain cerita, hehe

Nah sekarang Shidqi sudah besar, sudah dua tahun. Sudah bisa jalan sendiri, sudah bisa menyeimbangkan tubuhnya di tempat yang terguncang (kaya di mobil lagi jalan), sudah punya pilihan sendiri, sudah bisa nawar, meminta dan sudah bisa memberi instruksi. Alhamdulillah 😘

Termasuk ketika naik kendaraan. Kalau lagi naik motor sama ayah, sudah mau duduk sendiri di antara bunda dan ayah dan duduknya tidak seperti biasanya, kadang-kadang maunya duduk ngempong. Tau kan ngempong? Itu lho duduk di motor ala ibu-ibu yang kakinya di sebelah kiri semua. Saya paham sih kenapa inginnya gitu, mungkin kepalanya pegel nengok terus ke satu arah, atau mungkin karena angin terasa lebih kenceng, kan kalau ngempong dia jadi aman terlindungi sama punggung ayahnya. Hihii.. cerdas juga 😀

Nah naik kendaraan umum juga sama, sekarang inginnya duduk sendiri di bangku penumpang, gak lagi digendong bunda. Malah kadang-kadang geser-geser sendiri ke tempat yang dia mau. Pindah sini, pindah sana seenaknya, untung gitunya kalau lagi kosong aja angkotnya, hihiii.. Kemarin saat pulang khalaqah, kami harus pulang dengan menaiki dua angkot. Angkot pertama jurusan Tegal Kalapa – Pujasera, selanjutnya Pujasera-Jalancagak. Setelah beberapa menit menunggu angkot Alhamdulillah  angkot pun datang. Seperti biasa, Shidqi mulai merengek ingin duduk sendiri, baiklah saja turuti. Sampai di lampu merah, kami turun, bahagia sekali karena ternyata setelah turun Shidqi tetap mau jalan sendiri. Alhamdulillah pundak saya bisa istirahat lebih lama. selanjutnya kami naik angkot paling depan di antara angkot yang berjajar menuju Jalancagak itu. Kami adalah penumpang pertama di angkot yang lagi ngetem (lagi nunggu penumpang). Sambil menunggu saya tawarkan baso tahu yang tadi dibeli, dan ternyata Shidqi mau. Setelah saya suapi beberapa kali, dia ambil bungkusan baso tahu yang saya pegang sambil berkata, “Nda, Kaka.. Nda, Kaka” maksudnya Bunda, sini sama kaka aja pegangnya. Agak ragu saya kasih bungkusan itu, saya terbayang akan seperti apa dia makan. Masalahnya saya tidak membawa tisue basah kalau-kalau dia belepotan, tapi demi pembelajarannya, akhirnya saya luluh juga.

Kemauannya cukup kuat, dia berusaha sekuat tenaga untuk bisa memasukan si baso tahu di plastik  ke mulutnya dengan selamat. Yeeaaay Alhamdulillah berhasil. Sampai akhirnya mungkin karena bosan, dia berpindah posisi duduk yang asalanya di samping kanan saya, dia pindah ke samping kiri depan, berbeda bangku dengan saya. Dengan santai dia pindah dan kembali duduk manis, lalu kembali bersibuk ria dengan baso tahunya. Hingga sampai waktu keberangkatan kami, dia pindah lagi ke samping kanan saya, berdoa, lalu cukup tenang menikmati perjalanan. Belum setengah perjalanan, doi minta tidur di kursi penumpang. Karena sedikit memaksa, dan tiadak ada penumpang lain di deretan kursi yang kami duduki,akhirnya saya izinkan. Badannya ia jatuhkan ke kursi dengan kaki masih ke menapak ke lantai angkot. MasyaAllah, ternyata Shidqi sudah muali berani show up di tempat umum tanpa malu-malu lagi. Mungkin karena efek penumpang di angkot juga sedikit sih, jadi dia cukup berani.

Pelajaran tentang kemandirian sudah lebih bervariasi, salah satunya kemandiriannya saat berkendaraan seperti ini. Menghadirkan stimulus-stimulus yang dapat merangsang kemampuannya sosialnya memang tidak mudah dan butuh stok sabar yang sangat banyak. Namun keyakinan terhadap pembelajaran yang membutuhkan proses akan menjadikan kami para orang tua semakin gigih menggali kemampuan dan minat anak, seperti apapun hasilnya, ikhtiar maksimal tentu tidak akan pernah menghasilkan kesia-siaan.

image

Benar, Anak adalah Ujian

Hari ini adalah salah satu hari bernoda yang sudah saya lewati. Saya yakin bekas paku yang telah terlanjur dihujamkan akan tetap berbekas, walaupun sudah sakitnya sudah mereda bahkan sembuh.
Adalah saya, yang hari ini telah kalah oleh rayuan syaitan yang sejak berhari-hari lalu membisiki. Perasaan ini ternyata salah saya tanggapi. Khawatir tentang keberadaan saya yang akan mengganggu kenyamanan orang lain ternyata salah, kekhawatiran saya tentang iru telah membuat syaitan masuk ke dalam pikiran saya. Membisiki, berkata bahwa saya adalah beban dan penyebab kekacauan, lalu berusaha merangkainan kalimat yang membuat saya terlihat mengalah dan bersalah. Ternyata semua itu adalah tipuan!

Tidak hanya saya yang digoda. Orang tua itu pun begitu, anak-anak kami pun begitu. Selalu saja ada hal menggemaskan yang harus diperebutkan oleh kedua anak ini. Selalu saja ada kejahilan yang dilakukan oleh anak yang lebih besar itu! Dan selalu saja ada barang yang diinginkan dari anak kecil ini! Lalu, entah apa yang menyebabkan si orang tua ini tiba-tiba bersikap aneh, menghindari setiap keberadaan kami, menjauhkan kedua anak ini bahkan anak seolah memenjara anak yang lebih besar itu dalam ruangan bernama rumah, bersamanya.
Syaitan memang selalu bersekongkol, ia bersinergi untuk menjatuhkan kami. menggoda kami dari berbagai arah, demi kemenangannya!

Saat puncak pun tiba, saat kondisi saya sangat lemah, dan godaan semakin berat dari kedua anak ini, maka rangkaian kata yang syaitan buatkan kahirnya saya ucapkan,
“Sabar ya, sebentar lagi Shidqi balik lagi ke Bandung koq!” Denga nada yang saya yakin tidak cukup menyamankan orang yang mendengar. Rasa puas saya rasakan, itu tandanya syaitan sedang merayakan kemenangan! Astagfirullah

Penyesalan pun datang saat mengetahui si orang tua menangis sejadi-jadinya, merasa bersalah atas sikapnya. Meminta maaf dan menjelaskan apa yang dirasakannya. Begitu pun saya, rasa bersalah telah mengeluarkan kalimat tadi meliputi saya. Saya jelaskan maksud Dari perkataan saya, bukan karena keberadaanya melainkan karena kekhawatiran yang saya rasakan serta harapan yang sedang kami ikhtiarkan untuk kembali lagi ke perantauan. Akhirnya kami saling merangkul dan saling bermaafan. Tak saya lewatkan pula untuk sedikt menasihati si anak yang lebih besar untuk bersikap lebih baik agar tak merepotkan (orangtua) yang mengasuhnya.

Mengasuh anak bukan hanya tentang menemaninya secara fisik, yang akan mengakibatkan lelah. Tapi seluruh komponen seorang manusia harus dihadirkan dalam mengasuhnya anak. Fisik, jiwa, akal dan hati harus bekerja sama untuk menciptakan suasana yabg nyamana bagi anak, juga kami, pengasuhnya. Jika salah satu komponennya tidak siap,apalagi hati, maka kelelahan hati tidak akan hilang hanya dengan memejamkan mata.

Mengasuh dan mendidik anak adalah proses panjang yang membutuhkan banyak ilmu dan pengalaman. Karena benar, anak adalah salah satu ujian. Maka ilmu untuk lulus dari ujian ini harus segera kita cari sebelum terlambat, agar setiap proses yang kita lalui dalam setiap episodenya bisa kita rasakan dengan nikmat dan penuh kesyukuran serta kesabaran.

Palasari, 30 Maret 2016

Ibu yang masih belajar

 

 

Penting Banget untuk Kami, Si Kontraktor

Penganten baru, cie..cie..
Asik dong ya jadi pengantin baru, dunia serasa milikberdua, yang lain ngontrak aja, hihiii..
Udah nikah pengen punya rumah sendiri dong? Iya lah, iya dong 😀
Tapi boro-boro punya uang buat beli rumah, kuliah aja baru beres, eh malah saya nya belum beres :D. Takdirnya menikah dengan pasangan yang belum mapan finansial, yang masih kerja keras cari kerja yang sesuai. It’s Ok!
“Saya siap koq nemenin Kakang menuju kesuksesan itu!”
Cie..cie..
Itu! Saya menikah dengan seorang laki-laki yang berusaha menjaga diri dan agamanya serta siap menggantikan bapak saya untuk bertanggung jawab atas saya sepenuhnya, walaupun ia belum mapan. :’)
Termasuk tempat tinggal, salah kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Saat menikah, posisi saya dan beliau ada di kota rantau dengan status anak kos. Setelah menikah, suami ikut tinggal di tempat kos saya yang alhamdulillah boleh membawa suami. Waktu itu tempat kos saya memang rumah yang hanya saya aja kos di sana, yang punya kos sudah kenal baik dengan saya jadi alhamdlillah beliau mengizinkan suami tinggal bersama saya, yang saat itu masih berstatus mahasiswa PPL.
Takdirnya masih jadi mahasiswa, alhamdulillah kami jadi tidak dihadapkan dengan pilihan tinggal di pondok mertua indah 😀
Waktu berjalan, kami ingin memiliki ruangan yang lebih luas dan lebih privat lagi, Akhirnya kami beranikan diri untuk mencari rumah kontrakan. Ada beberapa prinsip yang jadi acuan kami dalam mencari rumah. Pertama, lingkungan. Ini yang sangat mahal, baik buruknya lingkungan akan berpengaruh kepada kita, apalagi jika sudah memiliki anak. Lingkungan menjadi faktor utama yang kami jadikan prinsip.  Gegerkalong adalah tempat yang sangat ideal yang pernah kami temui. Lingkungan yang kondusif karena ada DT yang tiap harinya ada kajian, pasar dekat, warung nasi banyak dan cukup murah untuk kantong pengantin baru yang masih mahasiswa, hehe.. Sebagai orang yang pernah merasakan iklim di DT, bahkan sampai saat itu pun kami masih berstatus sebagai santri karya alias bekrja di DT, sangat sulit bagi kami untuk move on dari Gegerkalong. Tapi ada alasan lain yang membuat kami tidak memilih Gegerkalong.
Kedua, iklim. Suhu, kelembapan, awan, hujan dan sinar matahari pada suatu daerah di jangka wangtu yang lama (menurut KBBI banget ini :p) menjadi prinsip kami selanjutnya. Selain lingkungan yang akan mempengaruhi kita, iklim pun sangat berpengaruh khususnya bagi kesehatan. Gegerkalong masih memiliki iklim yang cukup baik bagi kami, tapi sayangnya daerah Gegerkalong sudah sangat padat penduduk, sehingga membuat kami berat untuk tetap di sini. Berdasarkan alasan ini, kami mencari di daerah Bandung Utara. Untuk memenuhi prinsip pertama dan kedua ini, akhirnya kami memilih daerah Cigugur Girang Kecamatan Parongpong. Selain udara yang sejuk, masih ada kebun sayuran, di daerah itu juga ada saudaranya Pondok Pesantren DT, yaitu Eco Pesantren. Yess, ada jalan!
Lanjut yang ketiga, yaitu harga. Ada kualitas tentu ada harga dong ya, tapi kalau ada kualitas dan harga bisa lebih hemat lebih baik pastinya. Masih berbicara Gegerkalong yang tetap menjadi pembanding (karena lingkungan yang sudah sangat baik), Karena gegerkalong memang area penyewaan rumah (karena dekat dengan kampus ) maka harga pun cukup bervariatif, tergantung fasilitas. Nah untuk yang sudah berumah tangga tentunya ada hal lain yang harus dipertimbangan. Dan harga kontrakan satu rumah di sini cukup mahal. Harga kamar kos saya sebelumnya saja Rp 600.000 per bulan, belum listrik dan air, keamanan, dll. Mungkin ada juga yang harganya lebih murah, tapi kami harus ekstra dalam mencarinya. Harga satu kamar di sini hampir sama dengan harga satu rumah di tempat lain. Kebayang dong perbedaan satu kamar dan satu rumah? Dan akhirnya ada alasan penguat untuk hijrah dari Gegerkalong T_T
Keempat, dekat dengan Mesjid. Jika lingkungan pesantren seperti di Gegerkalong sulit di dapat, maka minimal rumah yang kita cari adalah rumah yang akses ke mesjid mudah. Dengan begitu, harapannya kita dekat dengan pusat keagamaan di suatu daerah.

Nah, empat hal di atas adalah prinsip utama kami dalam mencari tempat tinggal terutama jika kami sudah mendapatkan rizki untuk membeli rumah. Bagaimana pun tempat tinggal yang baik, akan menjadi salah satu keberkahan dalam berkeluarga. Bukankah salah satu kebahagiaan yang rasul sampaikan adalah rumah yang luas? Nah sebelum memiliki rumah luas (dalam arti sebenarnya), minimal kita memiliki rumah yang nyaman dari segi lingkungan, iklim, dan juga kantong. Semoga dengn begitu, hati kita akan lebih lapang dengan segala episode yang harus kita jalani saat ini.

“Ada empat diantara kebahagiaan: istri yang sholihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih (baik), dan kendaraan yang nyaman. Ada empat kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk.”(HR. Ibnu Hibban)

Palasari, 2 April 2016

 

Sahabat Kecil Shidqi (1)

image

Aaaaa liat foto ini jadi kangen Bandung, Kabupaten Bandung Barat tepatnya, hehee..  Kangen Aa Risman, Aa Ian,  sama  Aa Ivan.  Mereka bertiga ini adalah jagoannya Umi Rina dan Abi Usman. Alhamdulillah selama kami tinggal di Cigugur, ada mereka bertiga yang selalu ngajak main Shidqi dan bikin rumah jadi makin rame. Ketiga nya cuma terpaut kurang lebih 2,5 tahun.  Belum kebayang saya punya tiga jagoan yang jarak usianya dekat. 
Aa Risman sekarang sudah kelas 1 SD, sekolah di SD Unggulan Nasywa. Bakat dan minat bisnisnya yang diturunkan dari abi nya sudah terlihat dari sekarang, ia pernah dapat juara pertama saat Market Day di sekolah.  Padahal masih kelas 1, tapi kemampuan marketingnya sudah bagus sampai-sampai dari sekian banyak peserta, Aa Risman yang paling banyak mendapatkan hasil penjualan. Anak kedua yang jadi anak sulung ini (Sebelum Aa Risman ada anak perempuan yang qadarullah dipanggil saat usia 3 bulan), cukup mampu menjadi kakak yang baik.  Bisa menemani adik adiknya bermain, lebih mengutamakan adiknya dengan sering mengalah, dan lebih sabar menghadapi adik adiknya, serta lebih dekat dan paham terhadap umi nya. Aa Risman  paling seneng kalau sudah diajak abi pergi, kadang ambil batang jualan, antar pesanan, survey ini itu, dan lainnya. Sifatnya yang penyayang bikin saya kangen nemenin dia main sama Shidqi.

Putra yang ke 2 yaitu Raihan, biasa dipanggil  Ian. Nah kalau Aa ian, sangat komunikatif. Paling seneng ngajak saya atau pun Shidqi ngobrol. Aa Ian termasuk yang betah banget berlama-lama di rumah saya, alhamdulillah Shidqi jadi ada temennya. Hehee.. 
Aa Ian, sekarang masih sekolah di TK B, sebentar lagi masuk SD.  Saat terakhir sekolah di TK A, Aa Ian sudah mulai tidak tertarik pergi ke sekolah. Padahal sekolahnya tepat di samping rumah, hanya terhalang dinding tinggi jadi harus muter jalannya. Nah setelah komunikasi, ternyata Aa Ian gak mau sekolah di sana lagi, mungkin bosan ya,  akhirnya umi abi nya sepakat memindahkan Aa Ian ke sekolah lain. Alhamdulillah semangat sekolahnya rajin lagi. Aa Ian ini termasuk yang memiliki keinginan yang kuat dan cukup mampu memengaruhi teman-temannya yang lain. Ingat Aa Ian jadi kangen cara bicaranya yang khas.

Yang ke 3, yang paling bule dan mirip umi banget adalah Aa Rivan, biasa dipanggil Ivan. Aa Ivan tahun kemarin sudah mulai masuk PG.  Sebelum masuk PG, tiap pagi saat kakak kakaknya bersiap ke sekolah, Aa Ivan ini dengan malu-malu intip ke depan rumah kami.  Karena rumah kami tepat bersebelahan, kadang Aa Ivan ngintip dari balik pagarnya.  Aa Ivan paling seneng ngajak main hotwheels sama Shidqi. Mungkin karena Shidqi lebih kecil darinya, walaupun ia anak bungsu, tetep aja berhadapan dengan yang lebih kecil mah ia juga jadi suka mengalah, hihiii..  Karena Ivan yang paling sering berinteraksi dengan Shidqi, sampai sekarang pun setelah hampir berpisah 6 bulan, Ivan masih melekat di pikiran Shidqi apalagi dengan baju-baju yang ia berikan.  Kalau sudah ganti baju, bujuk dengan baju Ivan aja, alhamdulillah manjur 😁
Aa Ivan sekolahnya di Kober Eco Pesantren. Kadang-kadang Shidqi juga ikut main ke sana, bahkan tanpa saya saking Ivan maksa Shidqi harus ikut. Saya kangen teriakan girang dia yang kadang gak jelas, hahaa..  Akur banget Shidqi sama Ivan.

Alhamdulillah selama di Bandung, saya punya tetangga yang baik-baik.  Salah satu kebahagiaan dunia itu tetangga yang baik, bukan? Dan ini sangat mahal. Panggilan Bunda, pertama saya dapat dari mereka (tentunya setelah saya minta)  supaya Shidqi juga ikutan panggil saya Bunda, alhamdulillah walaupun belum sempurna memanggil “Bunda” tapi ia sudah bisa panggil saya “Nda”  seperti yang ayahnya bilang.

8 Hari Menuju Kematian: Hal Penting yang Harus Dilakukan

image

Beberapa hari ini Allah memberikan banyak peringatan pada saya, tentang kematian. Pekan lalu tetangga meninggal, padahal sebelumnya terlihat sehat bahkan masih bisa beraktivitas. Kemarin lusa teman satu grup pun meninggal, hanya terpaut beberapa tahun dengan saya. MasyaAllah, kematian itu benar-benar sebuah kepastian yang akan dilalui setiap orang. Rahasia kematian yang hanya tiga itu -waktu, tempat dan cara- tiada seorang yang mengetahui, bahkan kekasih-Nya sekali pun. Pernah beberapa waktu ke belakang saya merasakan ketakutan yang luar biasa untuk menghadapi kematian. Pertama, saat saya masih kuliah. Malam itu, setelah saya sholat tiba-tiba saya merasakan ketakutan yang luar biasa. Saya merasa ada malaikat maut di sekeliling saya yang sedang mengunggu saya untuk pergi. Hanya doa dalam tangisan yang saya lantunkan, sambil sesekali melihat ke sekitar untuk memastikan bahwa tak ada apa-apa. Sungguh, ketakutan itu melebihi ketakutan saya terhadap apa pun. Untuk keduakalinya perasaan takut menghadapi kematian itu datang setelah saya menikah. rasa takut itu persis dengan perasaan yang saya rasakan sebelumnya, saya takut jika saat itu adalah waktu saya harus berpulang. Saat itu yang terpikir adalah dosa yang belum saya taubati dan amal saya yang masih sedikit. Bagaimana ini? Dalam doa, saya sedikit merayu Allah agar memundurkan waktu berpulang saya, saya masih ingin memantaskan diri untuk mendapatkan Rahmat Allah. Kabar dari berbagai ceramah yang saya dapat, bukan amal yang akan memasukan kita ke surga, tapi Rahmat Allah. Dan saya sangat mengharapkan itu. Di kejadian yang kedua kalinya ini saya lebih bersyukur, ada suami yang  menenangkan saya dalam pelukannya. Dengan sabar beliau menasihati dan mengingatkan saya tentang perasaan yang menimpa saya. Alhamdulillah.

Sekali lagi, tak ada seorangpun yang mengetahui kapan ia akan mati. Tapi itu adalah satu-satunya kepastian yang akan datang. Bahkan satu detik ke depan yang masih kita yakini akan kita lalui, belum tentu kita temui. Saya yakin jika kita mengetahui kapan kita akan berpulang, maka tak ada satu pun manusia yang pada saatnya tiba ada dalam kelalaian. Jika saatnya sudah dekat persiapan pun dimulai, ibadah dan amal kebaikan semakin ditingkatkan. Pernah melihat seorang yang sudah memiliki ‘bonus usia’ lebih rajin ibadah dibanding kita yang masih muda? Mereka berpikir, akan mereka dulu yang akan dipanggil. Padahal salah, mungkin saja kita yang jauh lebih muda yang akan lebih dulu berpulang. Sekali lagi, tak ada seorang pun yang mengetahui kapan ia mati.

Jika hanya ada delapan hari yang tersisa untuk mempersiapkan kematian yang panjang ini, apa yang akan saya lakukan?

  1. Taubat
    Tak terhitung berapa banyak bosa yang saya lakukan setelah baligh. Ibadah belum sempurna, maksiat terasa nikmat, penyakit hati yang tak terlihat, dosa kepada suami, orang tua, anak, mertua, keluarga, dan teman-teman. Belum lagi kesyirikan yang tak terasa, pada suami, pada dunia, atau hal apa saja yang membuat kita melupakan Sang Pencipta. Maka satu-satunya jalan adalah bertaubat, saya akan meminta ampun sebenar-benarnya di delapan hari terakhir ini. Semoga taubat saya yang delapan hari akan mengurangi timbangan dosa saya.
  2. Hutang
    Saya akan menulis daftar hutang yang saya punya. Jika tidak sampai waktu untuk saya melunasinya, saya akan meminta pada keluarga untuk menyelelesaikannya. Saya masih memiliki banyak hutang buku yang harus dikembalikan. Saya akan sesegera mungkin mengepak, menghubungi pemilik buku, dan mengirimkannya seraya meminta maaf atas kelalaian saya meminjam bukunya terlalu lama. Pengumuman tentang hutang ini akan saya tulis di akun media sosial untuk segera menghubungi saya, khawatir masih ada hutang kepada seseorang yang terlewat.  Jika pun ada orang yang berhutang pada saya, saya ikhlaskan. Semoga menambah pahala bagi saya.
  3. Ibadah
    Sangat saya akui ibadah saya masih kurang. Bahkan saya tak memiliki amalan unggulan apa pun untuk menolong saya. Astagfirullah 😥
    Di delapan hari terakhir ini saya akan beribadah sebaik-baiknya sambil mempersiapkan kepulangan saya menuju Alam Barzah.
  4. Waris dan Sedekah Jariyah.
    Karena saya tidak bekerja, saya akan meminta kejelasan kepada suami tentang harta yang saya punya, atas nama saya. Agar ketika saya meninggal nanti, sudah jelas harta yang mana yang akan diwariskan. Selain itu dengan mengetahui harta milik saya, saya akan lebih leluasa beramal khususnya beramal jariyah dengan harta yang saya punya tersebut, bukankah amal jariyah menjadi amal yang pahalanya tak akan terputus walaupun kita sudah meninggal? Beberapa barang dan baju yang saya punya pun akan segera saya sedekahkan,untuk mengurangi hisab kelak.
  5. Silaturahim dan Meminta Maaf
    Kesalahan pada manusia tidak cukup dengan memohon ampun pada Sang Pengampun, maka saya akan berkeliling untuk meminta maaf. Tentu yang pertama kali saya mintai maaf adalah suami, karena ridho suami adalah Ridho Allah. Kemudian orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan saya, tak lupa mertua yang telah merelakan anak laki-lakinya, dan saudara dekat serta tetangga yang mungkin saja pernah saya lukai. Saya juga akan menyiapkan status permintaan maaf saya kepada teman-teman yang nun jauh di sana dan yang ada di media sosial, yang mungkin saja pernah merasa sakit hati oleh tulisan maupun perkataan saya.
  6. Menyiapkan Wasiat
    Akan saya tuliskan tentang apa-apa saja tentang yang ingin saya sampaikan kepada suami, anak, orang tua, dan keluarga terdekat. Tentang suami yang mungkin harus menikah lagi ketika saya sudah meninggal, tentang pendidikan anak serta tektekbengek perlengkapan sehari-hari, makanan, kebiasaan, dan lainnya. Kepada orang tua tentang harta yang dimilikinya agar digunakan sebenar-benarnya, juga tentang interaksi mereka dengan Al-Quran dan ibadah lainnya. Kepada keluarga besar yang saya tahu bahwa ada di antara mereka yang sholatnya masih bolong, sungguh saya ingin mengingatkannya. Semoga saya bisa melakukannya sebelum meninggal, minimal memberikan pesan lewat wasiat ini. Hal-hal lain tentang harta yang saya miliki, saya percayakan semua kepada suami yang lebih paham. Selain itu saya akan menyampaikan kepada suami untuk melanjutkan memelihara blog ini, semoga ada yang bisa mengambil manfaat dan menjadi amal jariyah bagi saya.

Itulah hal-hal penting yang akan akan saya lakukan di delapan hari terakhir perjalanan hidup saya. Sesungguhnya delapan hari ini adalah pengandaian, karena sampai kapan pun kita tak akan pernah tau kapan waktunya kita akan mati hingga kematian itu sendiri akan kita temui. Persiapan delapan terakhir ini tak boleh saya tunda, detik ini pun harus segera saya lakukan apa yang bisa saya lakukan. Semoga menjadi pengingat di saat kita terlena kehidupan dunia yang fana ini.

Sampai jumpa di Surga-Nya kelak, InsyaAllah.

Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway

 

 

Perjalanan Pertama Subang-Bogor

Subang, 14 Januari 2016

Beberapa hari yang lalu sudah ada obrolan bahwa suami akan pergi ke Bogor. Seperti biasa perlu diskusi cukup alot supaya saya dan Shidqi bisa ikut, mengingat Shidqi sedang masa pengobatan.
Pagi itu tiba-tiba Suami menelpon Umi di Bogor, karena satu dan lain hal akhirnya saat itu juga suami mengajak kami untuk pergi ke Bogor pagi itu juga. Menunggu saya mempersiapkan perbekalan, suami ternyata mencari alternatif jalan yang dapat kami gunakan untuk pergi ke sana, selain via Bandung.
Setelah semua siap, kami pamit pada keluarga di Subang. Suami memutuskan untuk pergi melalu jalur Purwakarta. Saya percayakan sepenuhnya pada suami, Bismillah, kami berangkat melalu jalan yang belum pernah kami lewati sebelumnya.

Dari Subang, kami melewati Sagalaherang yang masih termasuk Kabupaten Subang menuju Purwakarta, yang merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Subang. Setelah masuk Purwakarta, GPS yang kami pantau dari HP selalu siaga. Saya bertugas untuk mengecek jika sewaktu-waktu harus belok kanan atau kiri. Namun berkali-kali saya salah mengira, karena saya tidak cukup hapal skala yang digunakan GPS dengan jarak asli, akhirnya setelah beberapa meter baru terlihat bahwa kami salah belok.
Setelah melewati kendaraan yang cukup padat merayap di Kota Purwakarta, kami sampai di gerbang Waduk Jatiluhur yang terkenal itu. Ada keinginan untuk mampir sebentar menikmati kekuasaan Allah dalam bentuk waduk alias bendungan raksasa ini, tapi barang bawaan kami cukup menguatkan alasan untuk tetap pada tujuan utama, Bogor.

Kami masuk ke area Waduk Jatiluhur, karena kami hanya akan melewati jalannya saja, Alhamdulillah kami tidak dikenakan biaya masuk. Jalanan yang cukup sejuk karen kiri kanan jalan masih rimbun pepohonan. Kami melewati jalan yang sebelumnya diberitahu bapak penjaga pos, lalu kami cocokan dengan GPS, Alhamdulillah cocok. Kami melewati beberapa bangunan yang sepertinya pabrik, di jalan ini, benteng pertahan alias benteng yang menahan air waduk yang luas itu terbentang sangat tinggi dan panjang di hadapan kami. Rasa haru, takut, dan bahagia bercampur menjadi satu saat melihat bentangan itu. Sampai pada akhirnya kami keluar dari kompleks Waduk Jatiluhur menuju jalan selanjutnya. Jalanan beton yang cukup panjang membentang di hadapan kami, sebelah kiri kami terlihat hamparan air Waduk Jatiluhur yang terbentang luas. Ungkapan syukur tiada hentinya kami ucapkan, rasa terimakasih juga tak lupa saya sampaikan pada suami yang telah mengambil keputusan untuk melewati jalan ini. Kami. Berhenti sejenak untuk melepas lelah, sambil menikmati sejuknya angin danau buatan ini. Shidqi yang sebelumnya tertidur pun terbangun ketika kami berhenti di sini.
Hamparan air danau yang ditemani beberapa gugusan gunung ini membuat kelelahan perjalanan kami menjadi hilang. Sungguh, di sini indah sekali. Menyejukan mata dan hati. Di sebelah kanan jalan yang sedang kami lalui, berdiri kokoh gugusan pegunungan, entah gunung apa namanya. sepertinya kami pun akan melewati dalamnya salahs atu gunung tersebut. ternyata benar, kami melewati hutan bambu yang begitu rimbun, cukup panjang hutan yang harus kami lalui ini. Karena merasa cukup takut, tak banyak suara yang kami ucapkan, tiada henti saya berdzikir. Hingga kami sampai di perkampungan warga.
Jalanan yang bebatuan membuat suami lebih pelan mengendarai motor. Walaupun cukup membuat badan pegal, tapi kami tetap harus menikmatinya.

Entah berapa kali saya bertanya kapan sampai-kapan sampai, padahal saya sendiri yang memegang GPS, tapi kok ini GPS sepertinya tetap saja di titik itu. Udara yang kami lewati sudah berubah, hawa panas yang kini kami rasakan. Setelah melihat plang yang berdiri di jalan, ternyata kami sudah memasuki Karawang. Namun entah kawarang bagian mana, kami tetap berjalan sesuai petunjuk GPS. Walaupun dalam GPS sudah jelas tergambar, tapi tetap saja bertanya adalah pilihan yang sangat tepat. Setelah bertanya untuk sekedar meyakinkan bahwa jalan yang kami tempuh benar, kami semakin percaya diri. Hamparan persawahan yang hijau menyambut kami dengan hembusan anginnya yang sejuk. Beberapa ratus meter dari sana, suami setengah berteriak,
“Bunda, Ayah hafal tempat ini!” Nadanya semangat
“Beneran Yah? Sebentar lagi dong?” Saya tak kalah semangat, saking sudah pegalnya ini berjam-jam di motor.
“Iya, sebentar lagi”
Ternyata benar, tak lama kemudian saya pun mengenal jalan yang kami lalui.
“Yah, Bunda juga hafal tempat ini, Alhamdulillah sampai juga kita Nak!”
Saya kegirangan sambil memberi tahu Shidqi yang terlihat mulai bosan dibalik selimut ^_^

Alhamdulillah, walaupun ini bukan pertama kalinya kami ke Bogor, tapi ada sensasi yang berbeda ketika mengunjunginya melewati jalan lain.

Cariu- Bogor, kami sampai… 😀