Tantangan 10 Hari: Melatih Kemandirian Anak

Bismillah

Pada materi kedua ini, kami ditantang untuk menuliskan proses latihan kemandirian anak. Seperti dalam uraian materi yang disampaikan, tiga hal yang mutlak diperlukan dalam melatih kemandirian anak adalah konsistensi, motivasi, dan keteladanan. Ini lagi-lagi menjadi pengingat bahwa keteladana adalah poin utama dari setiap proses pendidikan. Jenis kemandirian pun ternyata ada banyak, ada kemandirian dalam keterampilan hidup, kemandirian psikososial, kemandirian belajar dan kemandirian emosional. Melihat keempat kemandirian ini dan merefleksikannya pada diri sendiri, sepertinya Bundanya harus lebih kerja keras untuk bisa melatih dan menumbuhkan keempat kemandirian tersebut supaya lebih sempurna.

Sebetulnya proses melatih Kemandirian ini sudah mulai dilaksanakan beberapa waktu ke belakang, namun saat itu masih tanpa ilmu, tanpa teman, tanpa teladan motivasi konsistensi, tanpa dukungan, tanpa tantangan, dan tanpa-tanpa yang lainnya.  Sehingga beberapa latihan Kemandirian yang mengalami kemunduran, misal, ketika tinggal di Bandung (usia Shidqi sekitar 1 menuju 2 tahun) sudah diajak untuk membuang sampah pada tempatnya, dan cukup mudah karena hanya saya dan suami yang menjadi Role model juga disediakan tempat sampah, tapi setelah pindah dan ikut tinggal bersama orang tua serta sering bergaul dengan tetangga yang belum terbiasa dengan membuang sampah pada tempatnya, kebiasaan itu mulai hilang. Itu salah satu contohnya.

Melihat 4 jenis Kemandirian, Bunda mencoba menggali poin apa saja yang harus ada dalam setiap jenisnya. Kali ini yang akan coba diurai,  ditumbuhkan dan dilatih  adalah beberapa poin tentang kemandirian dalam keterampilan hidup. Di usianya yang tepat 3 tahun pada bulan Maret besok, beberapa kemandirian dalam keterampilan hidup yang harus sudah Shidqi miliki adalah sebagai berikut:

1. Makan sendiri

2. Ambil minum dan minum sendiri

3. Tutup/Rapikan/kembalikan tempat minum di tempat semula

4. Buka dan minum susu sendiri

5. Buang sampah pada tempatnya

6. Buka dan pakai celana sendiri

7. Buka dan pakai baju sendiri

8. Mandi sendiri

9. Sikat gigi

10. Pup n pee sendiri + cebok

11. Rapikan mainan

Dari 11 keterampilan hidup di atas (*yang baru kepikiran), sesuai perintah, cukup 4 tantangan saja yang menjadi target bulan ini. 1 pekan, 1 tantangan.  Dan Kemandirian yang akan mulai ditambahkan sekarang adalah membuang sampah pada tempatnya, buka dan minum susu sendiri, buka dan pakai celana sendiri, serta sikat gigi sendiri.

#day1: 23 Fébruari 2017
Hari pertama, saya coba ajak Shidqi ngobrol tentang tantangan ini. Dan tantangan pertama adalah membuang sampah pada tempatnya. Ketika ada sampah yang harus ia buang ke tempatnya, awalnya ia menolak dan meminta saya yang buang. Setelah dikomunikasikan ternyata masih belum berhasil, akhirnya saya mengajak ya untuk membuang ya sama-sama, dan alhamdulillah ia mau.  Hari ini beberapa kali ia harus melakukan kegiatan ini (membuang sampah), entah itu sampah bekas makanan atau pun bekas main, beberapa di antaranya ada yang berhasil ia buang sendiri bahkan tanpa harus saya ingatkan, ada juga yang masih harus saya temani membuangnya.

#day2 : 24 Februari 2017
Hari kedua, hari ini tantangan membuang sampah berjalan dengan sangat baik. Dia sudah mulai terbiasa dengan membuang sampah pada tempatnya. Ia yang sebelumnya selalu membuang sampah di tempat sampah yang posisinya di luar rumah, hari ini lebih sering saya tunjukkan dan ingatkan untuk membuang sampah pada tempat sampah yang sudah saya sediakan di dalam rumah. Sebelumnya mungkin karena ia tidak tahu kalau si pink kecil di pojok deket tangga itu adalah tepat sampah. Dengan begini ia tak perlu membuang terlalu jauh, dan sepertinya ini menjadi salah satu faktor yang sangat penting, lokasi tempat sampah. itu. 🙂

#day3 : 25 Februari 2017
Sebetulnya dalam tantangan menumbuhkan kemandirian ini tidak saya lakukan dan fokuskan satu per satu, tapi sekaligus. Dari beberapa daftar kemandirian dalam keterampilan hidup yang harus Shidqi miliki, hampir semuanya saya coba ajak untuk memulainya. Hanya yang difokuskan 4 kemandirian yang sudah saya sebutkan, dan itu hamper dilatih setiap hari (tidak satu kemandirian per pekan). Termasuk dari hari kemarin pun saya sudah mencoba untuk menantang Shidqi membuka kemasan susu dan meminumnya sendiri, buka dan pakai celana sendiri dan sikat gigi sendiri, Alhamdulillah kempatnya ternyata bisa berjalan beriringan.
Kenapa membuka kemasan  susu kotak dan meminumnya sendiri dimasukkan ke dalam daftar kemandirian? Karena untuk saat ini, proses membuka kemasan susu kotaknya agak berbeda. lipatan bagian atas dan bawah harus terbuka dan hasinya seperti kemasan susu bantal. Nah bagian membuka lipatan itu biasanya masih meminta saya membukanya, sekarang ia harus mencobanya sendiri. Buka kemasan susu ini biasanya saya lanjutkan dengan kemandirian membuang bekas kemasannya ke tempat sampah. Yang masih terjadi saat ini adalah, plastik bekas sedotan yang sudah dia buka sendiri, sesegera mungkin ia berikan pada saya, dan itu sangat harus saya terima, lalu saya buang. itu aturan dia sekarang. Baiklah saya ikuti aturannya. Untuk bekas kemasannya masih maju mundur, kadang ia langsung membuangnya ke tempat sampah, disimpan dulu di tempat ia beraktivitas lalu nanti ia buang, atau masih ia biarkan begitu saja.

#day4: 26 Februari 2017
Hari ini proses latihan kemandirian hari ini agak terhambat karena tiba-tiba Shidqi muntah-muntah. Mungkin karena perut kosong dan masuk angin, susu yang baru saja ia minum keluar semua. Setelah itu ia jadi agak sedikit manja, dan tidak terlalu banyak aktivitas, hanya tiduran saja di kasur. Keempat kemandirian yangs sedang dilatih hari ini bablas, semua dikerjakan bunda. Tapi ini kami jadikan momen untuk “menyapih” Shidqi dari susu UHT coklat favoritnya. Saat muntah, ia bilang “Kaka gak suka.. kaka gak suka” Kalimat itu ia ulang-ulang, sampai setelah selesai pun tetap diulang. Kami sampaikan, “yang keluar tadi susu yang kaka minum, kan Kaka belum makan apa-apa. Sekarang minum teh manis hangat aja dulu ya, sama makan sedikit-sedikit supaya gak masuk angin” dan dia mau.

 

Advertisements

Aku Bisa Melepas Celana Sendiri

Palasari, 2 April 2016

Yeyeee… yeyeee…
Alhamdulillah… 

Sebuah pencapaian sudah Shidqi lewati hari ini. Hari ini Shidqi berhasil melepas celana sendiri. Beberapa hari terakhir memang dia sudah memperlihatkan ketertarikannya untuk melepas sendiri baju dan celanan yang dipakainya. Bahkan pekan lalu dia sempat beberapa saat tanpa sehelai pakaian pun, saya sih curiganya karena kepanasan. memang akhir-akhir ini Subang kembali panas, setelah intensitas hujan berkurang, kami mulai serasa dioven kembali, hehee 😀
Alhamdulillah kebiasaan itu tidak berlanjut, hanya dua atau tiga kali saja dia ingin seperti itu. Nah sepertinya itu adalah awal mula timbulnya keinginan bisa membuka baju sendiri, karena saya agak ogah-ogahan kalau dia minta buka baju bukan pada saatnya.

Pencapaian ini ada target waktu gak sih? Kalau yang ini, jujur tidak ada target sama sekali. Karena kami sudah mendapat ilmu tentang melatih kemandirian anak harus dimulai sejak dini, maka yang kami lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mulai dari hal terkecil yang ia bisa. Misalnya, minum sendiri, ambil apa yang dia mau, makan, toilet training , membereskan mainan, naik mobil-mobilan, dan apa pun yang kemungkinan sudah bisa dia lakukan, kami coba memberinya kesempatannya. Nah untuk memakai dan melepas pakaian, karena kami cukup tau kemampuannya, yang kami lakukan adalah memberikan motivasi kalau dia sudah besar, harus bisa pakai dan lepas baju sendiri, lalu kami tawarkan untuk mencobanya. Nah di beberapa hari terakhir ini, ternyata dia mau mencoba, kesempatan ini tidak saya lewatkn begitu saja. Walaupun waktu yang dibutuhkan akan lebih lama, tapi jika ada pembelajaran di dalamnya, saya akan menambah stok sabar yang saya punya. Prosesnya memang tidak selalu mulus, pasti akan ada sedikit atau bahkan banyak tantrum yang muncul akibat kegagalan yang ia hadapi. Kembali menjadi tugas ayah dan bunda untuk memberikan keyakinan bahwa ia bisa melewatinya. Jangan lupa, berikan ia pertolongan dalam proses latihan ini jika sudah terlihat sangat kesulitan. Apresiasi setiap pencapaian yang sudah ia lakukan. Ini dilakukan berulang, sampai dia benar-benar berhasil melakukannya. Ketika sudah berhasil, bukan berarti dia sudah mahir. Walaupun dia sudah bisa, tetap kita harua mendampingi nya sampai ia benar-benar mahir melakukannya. Jika tidak diulang hingga mahir, keberhasilan ini akan kembali mentah jika tidak dilatih.

Tentang target, yang jadi bahan renungan kami justru hal-hal yang kami targetkan sama sakali melenceng dari target yang sudah dibuat. Misalnya, bulan Maret lalu, ada dua target pencapaian yang harus Shidqi lewati, WWL dan Pee n Poop di closet. Pertengahan Maret lalu, Shidqi tepat dua tahun dan artinya dia harus segera disapih ASI. Ternyata target disapih saat dua tahun ini gagal, sampai saat ini dengan nyaman dia masih mimi 😱 Satu lagi pee n poop di closet, walaupun selama ini Shidqi sudah mampu melakukan keduanya di kamar mandi, tapi masih di lantai, belum di closet.
Dan ternyata kesalahannya ada pada FOKUS. Kami salah dalam melihat fokus. Ketika kami sudah memasang target, maka yang jadi fokus kami adalah hasil tersebut. Kami jadi kurang menikmati setiap proses yang harus kami lewati. Ini sangat menguras energi, bahkan kami merasa sangat lama dan terkadang menjadi sangat khawatir jika waktunya hanya tinggal sedikit untuk mencapai target tersebut. Buktinya, malah dua target yang sudah dipasang tidak berhasil satu pun.

Jadi mending gak usah ada target waktu kalau gitu ya? Nggak gitu juga, yang jangan dilakukan itu adalah fokus pada target. Itu. Sangat baik jika kita memiliki target waktu, apalagi disertai dengan detail tahapan proses yang harus dilalui. Jadikan itu hanya sebagai acuan serta evaluasi yang nantinya akan digunakan dalam rentang waktu tertentu. Adapun hasilnya sesuai atau tidak dengan target yang sudah ditentukan, bertawakallah! Usahakan kita fokus pada proses, menikmati setiap perjalanannya, mengambil pelajaran pada setiap fasenya, terus berusaha mengapresiasi setiap pencapaiannya, dan senantiasa berdoa memohon pertolongan Allah agar segera memampukannya. Yang terakhir inilah yang tidak kalah penting untuk ditanamkan dalam diri kita selaku orang tua. Setiap pencapaian yang anak raih bukanlah karena kita sebagai orang tuanya yang berhasil menstimulasinya, tapi semua itu adalah kehendak Allah yang menggenggam jiwa raga anak-anak kita. Sekreatif apa pun kita menstimulasi, jika Allah belum berkehendak, pasti tidak akan terjadi. Maka sangat penting di sini untuk bertawakal. Tentu diimbangi dengan ikhtiar ya, bukankah Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri?*
Maka jangan remehkan salah satunya, doa terbaik, ikhtiar maksimal, dan tawakal di setiap prosesnya adalah sebuah kesatuan kunci yang tidak bisa dipisahkan.

Pada akhirnya hanya rasa syukur yang dapat menambah kenikmatan dan keberkahan, serta rasa sabar yang akan terus menyertai ketiga kunci di atas lah yang akan mpertemukan kita pada kebahagiaan.

Senangnya Naik Angkot

Subang, 30 Maret 2016

Ngangkot, ngangkot..
Shidqi suka banget kalau udah diajak naik angkot, kalau mood nya lagi baik, doi pengennya duduk sendiri gak digendong saya.  Kereeeen kan, hehee..  Tapi kalau lagi penuh nggak mau juga sih 😂
Setiap kali ada keperluan ke luar, kalau suami lagi kerja dan gak bisa antar, angkot adalah pilihan terakhir dan satu-satunya. Motor? Saya belum berani bawa motor dengan Shidqi, khawatir. Mobil? Nah ini saya belum bisa nyetir mobil, dan mobilnya juga belum punya, wkwkwk. Masa mau pinjam punyai bapak, kan gak perlu kalau deket doang mah,, hehe..
Mumpung belum bisa nyetir dan belum punya mobil pribadi, waktunya ajarin Shidqi naik kendaraan umum. Sejak bayi, Shidqi sudah belajar naik mobil umum. Jarak terjauh yang pernah Shidqi lewati sejak bayi, dari Bandung-Bogor. Eh ada deng yang paling jauh, Bandung-Lombok, pakai kendaraan umum juga, hihiii, naik pesawat itu mah, wkwkwk..  InsyaAllah nanti diceritakan di lain post tentang pengalaman doi pertama kali naik pesawat 😉

Ibu-ibu yang pernah naik mobil umum membawa bayi pernah merasakan dong gimana dagdigdug nya selama perjalanan? Iyes! Saya juga merasakan hal yang sama.  Pertama kali membawa Shidqi naik bis jarak jauh itu mikirnya cukup lama,  bolak balik mempertimbangkan beberapa yang mungkin bisa diambil. Akhirnya tetep nekat pake mobil umum.  Bismillah.
Ternyata kenyataannya tidak sehoror yang dibayangkan.  Perjalanan pertama cukup anteng, sesekali berdiri liat sekitar, ada anak kecil dan bayi di bangku belakang dia ajakin main. Sesekali liat pemandangan ke luar, saya ceritakan apa yang dia liat, apa yang lewat, dan lainnya. Yang agak repot kalau ingin mimi, ini nih kerjasama harus lebih kompak. Seperti biasa jurus menutup Shidqi pakai kerudung dilakukan, tapi karena doi gak biasa selama mimi seperti itu akhirnya setelah nyantol ingin melihat dunia kembali. Suami sibuk berjaga-jaga, liat kiri kanan depan belakang sama bagian atas khawatir ada laki-laki yang memperhatikan. Walaupun insyaallah aman, tapi berjaga-jaga harus tetap dilakukan bukan?😄
Beberapa kali naik mobil umum saat masih sangat kecil alhamdulillah aman, kami selalu usahakan dalam doi dalam posisi kenyang dan tidak kepanasan, karena biasanya tak lama setelah mobil melaju, matanya tak kuat untuk bertahan terlalu lama, kecuali kondisi tertentu misal saat berangkat baru bangun tidur itu  lain cerita, hehe

Nah sekarang Shidqi sudah besar, sudah dua tahun. Sudah bisa jalan sendiri, sudah bisa menyeimbangkan tubuhnya di tempat yang terguncang (kaya di mobil lagi jalan), sudah punya pilihan sendiri, sudah bisa nawar, meminta dan sudah bisa memberi instruksi. Alhamdulillah 😘

Termasuk ketika naik kendaraan. Kalau lagi naik motor sama ayah, sudah mau duduk sendiri di antara bunda dan ayah dan duduknya tidak seperti biasanya, kadang-kadang maunya duduk ngempong. Tau kan ngempong? Itu lho duduk di motor ala ibu-ibu yang kakinya di sebelah kiri semua. Saya paham sih kenapa inginnya gitu, mungkin kepalanya pegel nengok terus ke satu arah, atau mungkin karena angin terasa lebih kenceng, kan kalau ngempong dia jadi aman terlindungi sama punggung ayahnya. Hihii.. cerdas juga 😀

Nah naik kendaraan umum juga sama, sekarang inginnya duduk sendiri di bangku penumpang, gak lagi digendong bunda. Malah kadang-kadang geser-geser sendiri ke tempat yang dia mau. Pindah sini, pindah sana seenaknya, untung gitunya kalau lagi kosong aja angkotnya, hihiii.. Kemarin saat pulang khalaqah, kami harus pulang dengan menaiki dua angkot. Angkot pertama jurusan Tegal Kalapa – Pujasera, selanjutnya Pujasera-Jalancagak. Setelah beberapa menit menunggu angkot Alhamdulillah  angkot pun datang. Seperti biasa, Shidqi mulai merengek ingin duduk sendiri, baiklah saja turuti. Sampai di lampu merah, kami turun, bahagia sekali karena ternyata setelah turun Shidqi tetap mau jalan sendiri. Alhamdulillah pundak saya bisa istirahat lebih lama. selanjutnya kami naik angkot paling depan di antara angkot yang berjajar menuju Jalancagak itu. Kami adalah penumpang pertama di angkot yang lagi ngetem (lagi nunggu penumpang). Sambil menunggu saya tawarkan baso tahu yang tadi dibeli, dan ternyata Shidqi mau. Setelah saya suapi beberapa kali, dia ambil bungkusan baso tahu yang saya pegang sambil berkata, “Nda, Kaka.. Nda, Kaka” maksudnya Bunda, sini sama kaka aja pegangnya. Agak ragu saya kasih bungkusan itu, saya terbayang akan seperti apa dia makan. Masalahnya saya tidak membawa tisue basah kalau-kalau dia belepotan, tapi demi pembelajarannya, akhirnya saya luluh juga.

Kemauannya cukup kuat, dia berusaha sekuat tenaga untuk bisa memasukan si baso tahu di plastik  ke mulutnya dengan selamat. Yeeaaay Alhamdulillah berhasil. Sampai akhirnya mungkin karena bosan, dia berpindah posisi duduk yang asalanya di samping kanan saya, dia pindah ke samping kiri depan, berbeda bangku dengan saya. Dengan santai dia pindah dan kembali duduk manis, lalu kembali bersibuk ria dengan baso tahunya. Hingga sampai waktu keberangkatan kami, dia pindah lagi ke samping kanan saya, berdoa, lalu cukup tenang menikmati perjalanan. Belum setengah perjalanan, doi minta tidur di kursi penumpang. Karena sedikit memaksa, dan tiadak ada penumpang lain di deretan kursi yang kami duduki,akhirnya saya izinkan. Badannya ia jatuhkan ke kursi dengan kaki masih ke menapak ke lantai angkot. MasyaAllah, ternyata Shidqi sudah muali berani show up di tempat umum tanpa malu-malu lagi. Mungkin karena efek penumpang di angkot juga sedikit sih, jadi dia cukup berani.

Pelajaran tentang kemandirian sudah lebih bervariasi, salah satunya kemandiriannya saat berkendaraan seperti ini. Menghadirkan stimulus-stimulus yang dapat merangsang kemampuannya sosialnya memang tidak mudah dan butuh stok sabar yang sangat banyak. Namun keyakinan terhadap pembelajaran yang membutuhkan proses akan menjadikan kami para orang tua semakin gigih menggali kemampuan dan minat anak, seperti apapun hasilnya, ikhtiar maksimal tentu tidak akan pernah menghasilkan kesia-siaan.

image

Mengenal Konsep Terapung dengan Perahu

image

Bermain sambil belajar benar-benar menyenangkan. Tidak ada beban, tapi tetap bermakna. Pelajaran konsep mengapung pada perahu dimulai akhir tahun lalu, 31 Désémber. Saat itu, Shidqi dan Iyo senang sekali belajar menulis di kertas. Setelah banyak kertas yang dihabiskan, saya ada ide untuk membuat perahu dari kertas.  Di buatlah perahu, lalu saya bawakan air dalam baskom.  Anak-anak yang sangat bersahabat dengan air, makin senang diberi mainan air. Beberapa perahu yang sudah di buat, kami apungkan dalam air di baskom. Saat itu saya beri tahu Shidqi kalau itu namanya perahu. Perahu ada di air. Lalu saya ceritakan bahwa ia pernah naik perahu saat kami menyebrang ke tiga gili dari Pulau Lombok. Saya coba gambarkan bagaimana suara perahu, ombak laut, shidqi  yang ketakutan di atas perahu, hingga saya ceritakan ketika saya hampir mabuk laut. Saya dengan semangat menceritakan pengalaman itu ke pada Shidqi walaupun ia terlihat lebih asik main perahu di dalam air, hmmmm…

Sejak pengalaman pertama membuat perahu tersebut, pada aktivitas selanjutnya jika sedang berhadapan dengan kertas, baik dalam bentuk gambar maupun origami,  perahu menjadi salah satu kendaran shidqi selain pesawat.
Yang paling menarik dari aktivitas bermain perahu kertas ini adalah konsep mengapung. Pada akhirnya, setiap benda yang mengapung Shidqi sebut sebagai perahu. Pernah suatu hari, saat saya memandikannya, di kamar mandi ada tempat sabun yang bentuknya kotak. Ia simpan sabun batang di dalamnya, lalu ia biarkan tempat sabun itu terapung dalam air, lalu ia bilang, “Da ahu, Da” awalnya saya tidak mengerti, tapi ketika ia menunjuk benda yang ia maksud, baru saya paham. Oo..perahu. Kreativitasnya membuat saya semyum-senyum kagum dan bersyukur.
Ini bukan satu dua kali, bahkan setiap kali mandi, pasti ada saja barang yang ia apungkan di atas air, entah itu botol shampo, botol sabun, cairan kumur, bahkan alas cat yang sedang antri untuk saya cuci pun ia jadikan perahu. Luar biasa!

Sekali waktu kami silaturahim ke rumah uyut shidqi di Cianjur. Qadarullah  di depan rumah uyut ada kulah (kolam penampungan air mengalir ) yang biasa digunakan keluarga untuk mencuci piring. Melihat saya yang kadang mencuci di sana, Shidqi tertarik. Pagi-pagi setelan jalan-jalan keliling vila, Shidqi minta turun mendekati kulah, saya izinkan ia turun. Lalu meminta saya mengambilakn mangkuk hijau yang berada tak jauh dari tempat kami berada, saya pun mengikuti keinginannya. Tiba-tiba ia masukan mangkuk itu ke dalam kulah, dan terapung. Dengan riang penuh ekspresi keberhasilan ia memberi tahu saya, “Nda.. Ahu Nda Ahu..”
Saya pun ikut merasakan keberhasilan dan kebahgaiaanya, “Waah Iya, perahu. Shidqi hebat. Koq bisa sih? Perahunya bagus yaa!”
Ia tersenyum, dan meminta saya untuk mengambilkan mangkuk lain yang masih ada di sekitar kami, saya turuti.
ia pun sorak lagi, “Nda.. Ahu ladi Nda Ahu ladi ”
Bunda perahu lagi,Bunda perahu lagi, begitu katanya. Lalu saya tawarkan ia untuk membuat perahu dari kertas, karena kemungkinan ia akan meminta mangkuk lagi untuk menambah perahunya.
“Ka, Bunda bikin perahu ya.. ”
“Iya” jawabnya singkat
Satu perahu selesai. Ia meminta lagi.
Perahu kedua selesai. Masih meminta. Begitu setertusnya.

Beberapa anak-anak yang lewat di depan rumah cukup tertarik melihat permainan Shidqi, sesekali saya mengajak ngobrol anak-anak itu. Sambil bermain, saya sampaikan tentang ombak, contohnya seperti apa, gimana cara agar perahu bisa melaju, hingga akhirnya ada perahu kertas yang tenggelam, saya jelskan pada Shidqi. Ketika semua perahu rusak dan tenggelam saya akhiri aktivitas Shidqi bermain perahu, soalnya baju dan celanany sudah basah kuyup, khawatir masuk angin.

Bermain sambil belajar itu asik bukan? Yuk coba Bunda, pasti ketagihan. ^_^

Sekilas Dua Garis Merah

Bulan Maret adalah bulan yang ditunggu-tunggu setelah garis dua warna merah muda terlihat jelas pada tespack. Masih terasa hangat dalam ingatan, 32 bulan lalu, tepat pada Bulan Ramadhan yang baru menginjak pekan ke dua. Saya yang sudah telat menstruasi tujuh hari, mengikuti saran teman yang baru saja mengabari kalau dirinya positif hamil, untuk tes kehamilan mandiri. Betapa hati ini ingin segera bertemu dengan dini hari (waktu sahur) untuk segera tespack -tespack akan lebih akurat dengan urin pertama pada hari itu-, tapi saat waktunya tiba hampir saja momen itu terlewat saking sibuknya menyiapkan makan sahur. Ketika mulai makan, barulah ingat, dan tak yunggu makan selesai, langsung saya ke kamar mandi dan tespack. Keluar dari kamar mandi, saya senyum-senyum sambil terus memerhatikan perubahan warna pada garis tersebut. Setelah beberapa menit, hasilnyanterlihat garis dua warna merah muda. Sungguh membuncahnya hati ini melihat hasil tespack tersebut, begitu pun dengan suami. Perasaan campur aduk jadi satu kami bawa sampai ke sekolah. Lalu saya kabari teman yang sebelumnya mengabari kalau dirinya hamil, dan beliau merekomendasikan untukntes ulanh dengan tespack yang lebih bagus dan lebih akurat. Alhamdulillah pada tes selanjutnya pun, dua garis merah tersebut hadir melengkapi kebahagiaan kami o (∩ ω ∩) o

Pantas saja kalaunsaya hamil, ternyata tanda-tandanya memang sudah terlihat pada bulan sebelumnya. Akhir bulan juni itu, kami sedang libur semester, setelah ada tawaran menjadi fasilitator pada acara Sanlat Liburan di DT akhirnya selama 3-4 hari kami mendampingi adik-adik SD camping di Hutan Cikole Lembang. Belum ada tanda apa pun di sana. Selesai acara, kami pulang ke Subang, di Subang rasa kantuk pada jam jam pagi sering melanda. Saya pikir efek kelelahan setelah kegiatan sanlat saja, tak mengira apa pun. Beberapa hari kemudian, saya ditawari kembali menjadi fasilitator sanlat di Singaparna. Karena memang tak ada kegiatan sekolah, dan suami pun mengizinkan, akhirnya saya terima tawaran itu walau harus kehilangan momen menyiapkan sahur untuk suami pada hari pertama Shaum Ramadhan pernikahan kami.

Di Singaparna, di SD IT (lupa namanya), saat kami datang, kami dijamu dengan macam-macam makanan. Tapi ad satu jamuan yang membuat saya benar-benar menginginkannya lagi. Tahu pedas. Tahunya biasa aja, rasanya juga tak terlalu mewah, tapi koq perasaan sukanya beda seperti biasanya. Sampai-sampai keesokan harinya saya selalu nagih tahu itu. Teman-teman fasilitator sampai bilang, “Ah Teh Irna mah kayaknya ngidam ya Teh?” Saya balas cukup dengan senyuman. Lagi-lagi tak menyangka saya sedang hamil.
Pada saat yang sama, Sahabat saya sejak Kuliah, yang lahirnya sama-sama bulan juni 1991, jurusan kuliah sama-sama bahasa Indonesia, sampai nikah pun sama-sama bulan april 2013 dengan tanggal yang hanya berbeda satu pekan, menghubungi saya dan mengabarkan kalau beliau positif hamil. Bahagia bercampur rasa iri ingin hamil juga jadi satu.
Selain itu, kantuk luar biasa menyerang setiap aktivitas saya saat sanlat. Sampai-sampai saat satu materi sedang disampaikan Trainer, kami sebagai fasilitator duduk mengawasi peserta sanlat sambil ikut menyimak, eh tiba-tiba kantuk yang begitu hebat itu menjelma menjadi “lenggutan”  kepala serta mata yang tidak tertahankan, qadarullah ada satu dua anak dari kelompok bimbingan saya yang sedang nengok ke belakang, jadilah saya agak sedikit diledek sama adik-adik,  “Kak Irna ngantuuuk yaaaa??” sambil senyum-senyum puas.
Belum lagi saat pulang ke Bandung, jalan yang berliku dan supir yang terlalu kasar mengendarai mobil, membuat hampir semua penumpang merasa sangat mual. Bahkan satu dari kami akhirnya muntah, padahal dia laki-laki,  hehee.. Termasuk saya, sepanjang jalan perut berasa tak nyaman. 

Padahal dari sekian kejadian itu merupakan tanda-tanda kehamilan, hanya saja saya tidak menyadarinya.
Mendapat kabar bahwa telah ada makhluk Allah yang sedang berkembang dalam rahim ini, membuat saya dan suami sangat bersyukur.  Allah pun memberikan jeda dua bulan dari pernikahan kami untuk mengamanahkan anak, pun kami lalui dengan penuh tafakur. Bahwa inilah perasaan mereka yang ingin segera dikaruniai anak, tapi belum juga. Coba bayangkan mereka yang sudah bertahun-tahun dalam penantian ini? Betapa luasnya kesabaran dan keyakinan mereka terhadap takdir Allah. Dan yakin, ini tidak akan diberikan pada setiap manusia di luar kemampuannya. Allah menyimpan hikmah di setiap kejadian, dan kitalah yang harus berusaha menemukannya agar senantiasa bersyukur atas segala ketentuan – Nya.

Dan amanah ini, akan menjadi saksi di akhirat kelak, telah seperti apa kami menjaganya.

Rabbi Habli Mina Shalihin.. 

Kilas balik Ramadhan/Juli 2013

Ikatlah Ilmu dengan Tulisan

image

Ikatlah ilmu dengan tulisan.
Begitulah Sayidina Ali berkata betapa pentingnya menulis. Yang selama ini saya pahami dari keterangan di atas hanya sebatas menuliskan ilmu berupa kajian atau ceramah para pembicara  atau ilmu dari dosen yang tak ada di buku, tapi malam ini saya menemukan hal yang baru tentang ikat-mengikat ini, tak hanya ilmu berupa yang saya sebutkan di atas saja yang perlu diikat, pengalaman hidup perlu diikat, proses kehidupan perlu diikat, bahkan ilustrasi terhadap sebuah gambar atau momen pun perlu diikat. Memang sangat sulit jika harus mengikat segala tektekbengeknya dengan tulisan, tapi jika mau berusaha saya yakin bisa!

Kalau boleh menyesal, hihii, ini menjadi salah satu hal yang saya sesalkan. Terutama proses saya hamil hingga melahirkan sampai Shidqi sebesar ini tak ada catatannya.  Padahal ini akan menjadi ilmu yang sangat berharga bagi saya khususnya. Qadarullah pernah membaca diskusi para ibu tentang jurnal anaknya, serasa jadi ibu yang gak perhatian banget sama anak 😥
Tapi setidaknya saya punya file-file foto yang mudah-mudahan bisa jadi referensi perjalanan tumbuh kembang Shidqi si anak pertama yang memiliki Bunda penuh kekurangan. (Peluuuuk kamu, Nak…)
InsyaAllah mulai hari ini Bunda akan rajin membuat jurnal kamu ya, Nak. Bunda akan coba menuliskan segala aktivitasmu setiap hari, dengan begitu semoga aktivitasmu tiap harinya lebih beragam.

Saya yakin, bukan hanya saya yang bersyukur dan kegirangan melihat kemampuan putra/putrinya bertambah. Bahkan saking bahagianya, pengennya saya loncat-loncat sambil teriak,  “Akhirnya kamu bisa, Nak!! Yeeeee Alhamdulillah”
tapi khawatir anak jadi kaget dan aneh Bundanya kenapa, nggak jadi deh 😆
Melihat mainan yang kita belikan, asalnya didiemin, dilirik doang, dipegang aja, mulai dimainkan tapi belum bisa, mulai tertarik memainkan lagi gak bisa lalu ngamuk kesel karena gak bisa, sampai pada akhirnya bisa sendiri, itu perjalanan yang luar biasa. Buat saya terkagum-kagum betapa Allah begitu indah menciptakan makhluk-Nya dengan berbagai proses yang harus dilaluinya. Coba kalau pas lahir langsung bisa semua, tak akan  ada proses untuk bisa merenungi makna setiap tahapannya. Maka inilah yang harus diikat agar menjadi ilmu.
Wallahu’alam

 

Si Selfie yang Bikin Nambah Peer

Ternyata Shidqi kami mulai suka selfi alias narsis foto sendiri, eh Momselfie deng kayaknya foto bareng emaknya, hihii atau sonselfie gitu ya, emaknya yang ngajak bareng foto sama anak laki-lakinya..  Apalah itu, ternyata banyak juga jenis selfi, tapi gak akan dibahas sekarang ya..  Hehee.. Sekarang mau bahas Shidqi yang udah mau diajak selfi, yeeeaaayyy!! 🙆
Dulu semenjak ngerti HP bisa buat ambil gambar, boro-boro mau selfi, mau kami ambil fotonya aja susahnya minta ampun karena maunya pegang sendiri sambil berpose orang mau moto. Nah nah, sekarang mulai anteng dia kalau diajak selfi. 
Saya juga emang termasuk orang yang gak terlalu tertarik buat foti-fotoan, apalagi motret diri sendiri sambil senyum manis, meremin mata, apalagi monyong-monyongin bibir, hihiii.. Mungkin karena faktor kualitas camera yang kurang canggih kali ya, jadinya gak tertarik buat motret. Apalagi kalau selfi pake kamera tablet yang segede buku itu, pan repot. Pokoknya ribet aja mikirnya. 😤

Nah nah oktober lalu, ceritanya doi beliin hp baru nih. Ukurannya pas, kualitasnya lebih oke daripada tablet yang udah ada, termasuk kualitas kameranya. Nah darisanalah hasrat untuk selfi tumbuh, apalagi beberapa hari kemudian kami pergi ke Lombok yang pantainya sudah sangat terkenal indah itu, pas banget kan. Dan dari sini pula lah Shidqi sudah mulai saya ajak selfi, Hihii.. 

image

Shidqi kegerahan di Gazebo Villa Mataano, Lombok

Ada lagi,

image

Istirahat di mesjid waktu jalan-jalan berdua

Ini juga

image

Nunggu Ayah di Kamar

Masih banyak lagi foto sejenis yang berhasil diambil saat kami hanya berdua, sedangkan suami lagi ngasih pelatihan. Eh eh gak lama, masih di serangkaian kerja sambil liburan di Lombok itu HP saya kecemplung kolam renang yang ada di villa. Innalillahi..  Karena ketidaktahuan dan ketidaksabaran saya, akhirnya HP yang umurnya baru semingguan itu harus saya ikhlaskan harus isi baterai tanpa kabel, alias baterainya dicopot lalu dipasang ke alat pengisian baterai yang nantinya dihubungkan ke listrik. Mungkin gara-gara kebanyakan selfi, bisik saya dalam hati. Mulai dari sana, aktivitas selfi di lombok dikurangi, hehee.. 
Etapinya, Shidqi ternyata tidak melupakan aktivitas itu, memorinya sudah lebih otomatis merespon jika saya mengarahkan camera pada kami berdua, hihii..
Saya ngaku sih, suka ngasih instruksi ekspresi wajahnya saat mau selfi. Dengan saya memperlihatkan ekspresi tertentu sambil bilang “Kak, gini Kak!” kadang dia ngerti dan ngikutin. Yess!
Tapi, dari sekian banyak ekspresi yang saya cobtohkan, kenapa ekspresi melet yang paling nempel di memorinya. Bahkan sampai sekarang, tiap mau selfi atau groufi, melet selalu jadi pose andalannya dan masih sulit untuk mengubahnya. Jadi agak nyesel, ekspresi spontan saya yang tidak baik yang malah  nempel di memorinya. 😥
Coba lihat ini,  awalnya ini nih

image

Terus ini,

image

Lagi,

image

Saat kami nyengir, Shidqi tetap melet

Ini, 

image

Karena gayanya melet terus, kami jadi ikut2an dia

Ada lagi

image

Taman Bunga Nusantara, Cianjur

Lagi, 

image

Ayah malah ikutan melet

Dan terakhir ini,

image

Groufie sama Bunda dan Mamah

Hmmm…  Peer sekali bukan?
Emang gak semua foto posenya gitu sih, tapi pose ini sangat mengganggu. Ini murni kesalahan saya, dan salah menjadi salah satu peer besar buat saya untuk memberikan pengertian kepadanya. Ini serius, sangat serius. Saya sangat kaget sekaget kagetnya ketika melihat postingan tentang ekspresi atau gaya menjulurkan lidah (atau melet,  begitu saya menyebutnya) itu ekspresi siapa. Penasaran? Silakan digugling aja, saya gak berani bilangnya. 😑

Dari sini saya teringat kembali bahwa anak (apalagi seusia Shidqi)  adalah masanya menjadi peniru ulung. Jika tak berhati-hati dalam mengucapkan dan melakukan setiap tindakan, karena anak sedang proses menyimpan memori. Ia belum tahu dan paham baik atau buruk, sehingga setiap yang ia lihat, dengar dan rasakan akan disimpannya, kemudian dikeluarkan jika dalam bentuk respon jika ada yang menstimulasinya. Maka kita sebagai orangtualah yang bertugas agar memorinya dipenuhi dengan sikap, perkataan dan perasaan yang baik agar ia tumbuh menjadi pribadi yang berakhlakul karimah.

Subang, 040216