Tantangan 10 Hari: Melatih Kemandirian Anak

Bismillah

Pada materi kedua ini, kami ditantang untuk menuliskan proses latihan kemandirian anak. Seperti dalam uraian materi yang disampaikan, tiga hal yang mutlak diperlukan dalam melatih kemandirian anak adalah konsistensi, motivasi, dan keteladanan. Ini lagi-lagi menjadi pengingat bahwa keteladana adalah poin utama dari setiap proses pendidikan. Jenis kemandirian pun ternyata ada banyak, ada kemandirian dalam keterampilan hidup, kemandirian psikososial, kemandirian belajar dan kemandirian emosional. Melihat keempat kemandirian ini dan merefleksikannya pada diri sendiri, sepertinya Bundanya harus lebih kerja keras untuk bisa melatih dan menumbuhkan keempat kemandirian tersebut supaya lebih sempurna.

Sebetulnya proses melatih Kemandirian ini sudah mulai dilaksanakan beberapa waktu ke belakang, namun saat itu masih tanpa ilmu, tanpa teman, tanpa teladan motivasi konsistensi, tanpa dukungan, tanpa tantangan, dan tanpa-tanpa yang lainnya.  Sehingga beberapa latihan Kemandirian yang mengalami kemunduran, misal, ketika tinggal di Bandung (usia Shidqi sekitar 1 menuju 2 tahun) sudah diajak untuk membuang sampah pada tempatnya, dan cukup mudah karena hanya saya dan suami yang menjadi Role model juga disediakan tempat sampah, tapi setelah pindah dan ikut tinggal bersama orang tua serta sering bergaul dengan tetangga yang belum terbiasa dengan membuang sampah pada tempatnya, kebiasaan itu mulai hilang. Itu salah satu contohnya.

Melihat 4 jenis Kemandirian, Bunda mencoba menggali poin apa saja yang harus ada dalam setiap jenisnya. Kali ini yang akan coba diurai,  ditumbuhkan dan dilatih  adalah beberapa poin tentang kemandirian dalam keterampilan hidup. Di usianya yang tepat 3 tahun pada bulan Maret besok, beberapa kemandirian dalam keterampilan hidup yang harus sudah Shidqi miliki adalah sebagai berikut:

1. Makan sendiri

2. Ambil minum dan minum sendiri

3. Tutup/Rapikan/kembalikan tempat minum di tempat semula

4. Buka dan minum susu sendiri

5. Buang sampah pada tempatnya

6. Buka dan pakai celana sendiri

7. Buka dan pakai baju sendiri

8. Mandi sendiri

9. Sikat gigi

10. Pup n pee sendiri + cebok

11. Rapikan mainan

Dari 11 keterampilan hidup di atas (*yang baru kepikiran), sesuai perintah, cukup 4 tantangan saja yang menjadi target bulan ini. 1 pekan, 1 tantangan.  Dan Kemandirian yang akan mulai ditambahkan sekarang adalah membuang sampah pada tempatnya, buka dan minum susu sendiri, buka dan pakai celana sendiri, serta sikat gigi sendiri.

#day1: 23 Fébruari 2017
Hari pertama, saya coba ajak Shidqi ngobrol tentang tantangan ini. Dan tantangan pertama adalah membuang sampah pada tempatnya. Ketika ada sampah yang harus ia buang ke tempatnya, awalnya ia menolak dan meminta saya yang buang. Setelah dikomunikasikan ternyata masih belum berhasil, akhirnya saya mengajak ya untuk membuang ya sama-sama, dan alhamdulillah ia mau.  Hari ini beberapa kali ia harus melakukan kegiatan ini (membuang sampah), entah itu sampah bekas makanan atau pun bekas main, beberapa di antaranya ada yang berhasil ia buang sendiri bahkan tanpa harus saya ingatkan, ada juga yang masih harus saya temani membuangnya.

#day2 : 24 Februari 2017
Hari kedua, hari ini tantangan membuang sampah berjalan dengan sangat baik. Dia sudah mulai terbiasa dengan membuang sampah pada tempatnya. Ia yang sebelumnya selalu membuang sampah di tempat sampah yang posisinya di luar rumah, hari ini lebih sering saya tunjukkan dan ingatkan untuk membuang sampah pada tempat sampah yang sudah saya sediakan di dalam rumah. Sebelumnya mungkin karena ia tidak tahu kalau si pink kecil di pojok deket tangga itu adalah tepat sampah. Dengan begini ia tak perlu membuang terlalu jauh, dan sepertinya ini menjadi salah satu faktor yang sangat penting, lokasi tempat sampah. itu. 🙂

#day3 : 25 Februari 2017
Sebetulnya dalam tantangan menumbuhkan kemandirian ini tidak saya lakukan dan fokuskan satu per satu, tapi sekaligus. Dari beberapa daftar kemandirian dalam keterampilan hidup yang harus Shidqi miliki, hampir semuanya saya coba ajak untuk memulainya. Hanya yang difokuskan 4 kemandirian yang sudah saya sebutkan, dan itu hamper dilatih setiap hari (tidak satu kemandirian per pekan). Termasuk dari hari kemarin pun saya sudah mencoba untuk menantang Shidqi membuka kemasan susu dan meminumnya sendiri, buka dan pakai celana sendiri dan sikat gigi sendiri, Alhamdulillah kempatnya ternyata bisa berjalan beriringan.
Kenapa membuka kemasan  susu kotak dan meminumnya sendiri dimasukkan ke dalam daftar kemandirian? Karena untuk saat ini, proses membuka kemasan susu kotaknya agak berbeda. lipatan bagian atas dan bawah harus terbuka dan hasinya seperti kemasan susu bantal. Nah bagian membuka lipatan itu biasanya masih meminta saya membukanya, sekarang ia harus mencobanya sendiri. Buka kemasan susu ini biasanya saya lanjutkan dengan kemandirian membuang bekas kemasannya ke tempat sampah. Yang masih terjadi saat ini adalah, plastik bekas sedotan yang sudah dia buka sendiri, sesegera mungkin ia berikan pada saya, dan itu sangat harus saya terima, lalu saya buang. itu aturan dia sekarang. Baiklah saya ikuti aturannya. Untuk bekas kemasannya masih maju mundur, kadang ia langsung membuangnya ke tempat sampah, disimpan dulu di tempat ia beraktivitas lalu nanti ia buang, atau masih ia biarkan begitu saja.

#day4: 26 Februari 2017
Hari ini proses latihan kemandirian hari ini agak terhambat karena tiba-tiba Shidqi muntah-muntah. Mungkin karena perut kosong dan masuk angin, susu yang baru saja ia minum keluar semua. Setelah itu ia jadi agak sedikit manja, dan tidak terlalu banyak aktivitas, hanya tiduran saja di kasur. Keempat kemandirian yangs sedang dilatih hari ini bablas, semua dikerjakan bunda. Tapi ini kami jadikan momen untuk “menyapih” Shidqi dari susu UHT coklat favoritnya. Saat muntah, ia bilang “Kaka gak suka.. kaka gak suka” Kalimat itu ia ulang-ulang, sampai setelah selesai pun tetap diulang. Kami sampaikan, “yang keluar tadi susu yang kaka minum, kan Kaka belum makan apa-apa. Sekarang minum teh manis hangat aja dulu ya, sama makan sedikit-sedikit supaya gak masuk angin” dan dia mau.

 

Advertisements

Komunikasi Produktif #day3 : Cemburu membawa Pilu

Ahad, 12 Februari 2017

Wacana tentang agenda Bapak hari ini untuk reuni eman-teman SPG sudah ada mungkin sejak satu bulan yang lalu, dan sejak wacana ini ada, masa lalu mulai terusik kembali. Jreng..jreng..jreng…
*rada panas suasananya*

Mamah punya tingkat kekhawatiran tinggi, entah itu pada suaminya, anak-anaknya, keluarga besarnya, bahkan pada tetangganya.Khusus untuk suami, tingkat kekhawatirannya berbanding lurus dengan kecemburuannya, hehee.
Ceritanya gak usah dibahas dimari ya, cukup konsumsi pribadi saja 😀
Yang pasti momen kemarin membuat kami spontan membuat semacam forum keluarga, walaupun tanpa Bapak (karena lagi reuni tea).  Polanya, Mamah cerita ke saya, saya cerita ke suami, dan suami cerita ke mamah, hihii, hingga akhirnya kami dipertemukan dengan sebuah forum.
Ini yang saya suka dari suami, mencoba untuk menyelesaikan masalah dengan komunikasi. Mencoba mempertemukan saya yang sejak pagi berderai air mata karena mendengarkan cerita mamah yang penuh dengan aura negatif. Suami sudah mulai satu frekuansi dengan saya, pasti merasakan ketidaknyamanan saya dengan pikiran-pikiran negatif yang diucapkan. Dan saya tak bisa berkata apa-apa menganggapi cerita dan perkataan mamah, selain khawatir salah berucap yang menimbulkan persepsi berbeda, saya menjaga diri agar tidak ikut-ikutan mengeluarkan aura negatif. Saya memilih menangis untuk mengekspresikan kegundahan hati saya, walaupun saat itu Shidqi jadi ikut sedih  liat saya nangis.

Di forum itu saya berhasil menyampaikan isi hati saya, walaupun saya tidak optimis mamah sepenuhnya menerima apa yang saya sampaikan. Suami juga bisa sedikit-sedikit memberikan masukan ke mamah tentang apa yang mamah rasakan, bisanya kan kalau laki-laki mah lebih tegar dan logikanya kuat. Mamah juga berhasil menumpahkan isi hatinya, walaupun saya tidak yakin masih ada segelintir perasaan yang masih tersimpan. Yang  belum berhasil adalah membujuk mamah untuk membuat foru keluarga lagi dengan menghadirkan Bapak, agar semua sama-sama mengetahui isi hati, pandangan, dan harapannya ke depan. Ini yang masih jadi PR saya. Karena jika ada satu anggota keluarga yang tidak hadir, apalagi itu pemeran utamanya, informasi tidak akan merata, solusi pun tidak akan bisa didapat apalagi dijalankan.

Oia, salah satu yang terpenting dari sebuah komunikasi adalah bersabar. Bersabar untuk mendengarkan lawan bicara hingga ia menyelesaikan semua yang ingin disampaikannya, bahkan jika perlu tanya lagi dengan pertanyaan, “ada lagi?” atau “sudah selesai?”.
Kedua, bersabar menahan diri untuk berbicara hingga lawan bicara selesai bicara. Jika jeda bicaranya sudah mulai agak lama dan tidak ada tanda-tanda beliau akan berbicara lagi, bisa kita tanyakan, “boleh saya bicara?”. Ini mulai saya praktikan dengan suami, dan cukup efektif. Suami dan saya jadi lebih leluasa dan tuntas dalam menyampaikan isi hati.

Komunikasi Produktif #day2 : Istri Saya Lebay! 

4-5 Fébruari 2017

Sekitar jam 17.00 saat saya sedang mampir sebentar di meja makan tiba-tiba suami menghampiri, lalu duduk di hadapan saya dengan wajah yang serius. Dengan tarikan nafas yang tidak terlalu dalam ia pu  memulai pembicaraan,
“Jadi yaa Bunda, kalau ayah kerja 40 jam seminggu, berarti tiap hari ayah harus kerja dari jam sekian sampai jam sekian, artinya Ayah gak punya waktu main banyak sama kakak-adik.”
“Yaa jangan  ngorbanin waktu main Ayah sama anak-anak dong, mereka butuh Ayah.  Etapi malam mah nggak kerja kan? ” Jawab saya sambil tetap mengunyah.
” Nggak” Jawabnya singkat, lalu Kelihatannya agak berpikir sebentar “Nah kalau 40 jam perminggu Penghasilan yang didapat sebulan bisa sekian, kurangi pengeluaran sekian, lumayan yaa Bunda.”
“Nggak segitu kayaknya pengeluaran tuh, gede banget!” Saya yang sok tahu masalah keuangan
“Itu kan sama transfer, sok hitung, Ke A sekian , ke B sekian, ke C sekian , ke D sekian” jawabnya.
“Oia, Bunda gak ada di daftar transferan yaa Yah ” canda saya
“Eh, padahal udah transfer sendiri yaa”
“Yee ini mah bukan buat Bunda, kan kita masih banyak kebutuhan, ada cita-cita beli ini dan itu.  nitip aja di rekening Bunda.” Tegas saya.
“Eh Yah, gimana kalau transfer ke B agak dikurangi? Trus jatah transfer ke si C, kita ambil dari alokasi dana yang ini aja”, saya coba mengajukan pendapat, maksud hati ingin menghemat, huhuuu
Dan ternyata ajuan pendapat saya inilah yang memicu saya benar-benar terlihat lebay di mata suami!

***

Keesokan harinya, setelah aktivitas pagi semua anak-anak selesai, yang sulung ikut neneknya dan yang bayi udah tidur lagi, suami tiba-tiba menghampiri dan mulai melanjutkan obrolan semalam.
“Yang mahal itu bukan beli rumah, bukan kesehatan, bukan kendaraan, bukan! Yang mahal itu keyakinan kita bahwa Allah akan mencukupi kita. Itu yang sedang ayah beli! Nah sekarang, Ayah ngasih ke keluarga, sedekah, itu ikhtiar Ayah untuk membeli keyakinan itu. Ayah mah yakin, dengan kita sedekah tuh Allah gak akan buat kita miskin!”
Tanpa terasa mata saya mulai berkca-kaca dan perlahan menetes ke pipi. 
Sebetulnya saya gak pernah melarang ini itu tentang keuangan, toh beliau yang kerja. Tapi kadang-kadang nominalnya itu yang buat saya agak tercengang, hahaa! *dasar pelit*. Maksud hati ingin “ngajeujeuhkeun” penghasilan suami, mengingatkan kembali untuk mulai menabung dan berinvestasi untuk anak-anak dan kebutuhan lainnya. Ya mungkin kalau nominal ‘transfer’ bisa agak ditekan, pos uang tabungan kan akan lebih besar. Itu logika sederhana saya. Daaaan ternyata dari pernyataan beliau, logika saya jauuuuh sekali dengan keyakinan yang mulai beliau pupuk. *jadi malu*
Sambil mencoba memaknai dan memahami perkataan beliau, saya coba menyampaikan isi hati saya yang kadang “jealous” dengan apa yang beliau lakukan. Saya mencoba menyampaikan maksud hati tentang bagaimana harapan saya. Ini yang bikin saya makin baper,  bentuk air mata ini bukan tetesan lagi, tapi sudah semacam banjir bandang yang tak kunjung berhenti 😀
Dengan sabar beliau mendengarkan, lalu mulai memeluk saya sambil tetap mendengarkan cerocosan saya yang mungkin gak jelas karena ada banjir bandang, wkwkwk. Sesekali saya melihat beliau tersenyum sambil menatap saya dalam. Tenang. Tapi di tengah pelukannya, saya mendngar beliau yang sedikit tertawa, “oh mungkin adik sedang berwajah lucu” pikir saya. (si bayi tidur di dekat kami yang sedang ngobrol).
“Ikhtiar kita memang masih berbeda Bunda, gak apa-apa, gak salah. Kita saling melengkapi. sok atuh mulai sekarang mah siapin lagi, atur lagi keuangannya ya! Pos-posnya sok dibagi-bagi. ” katanya, seakan *ngabebenjokeun* saya.
“Ayah mah lucu liat Bunda teh, seakan-akan Ayah tuh gak nafkahin keluarga, cuma nyisain sedikit buat keluarga, yang besarnya Ayah kasih-kasihin. dan padahal saat ini di rekening kita ada uang, hahaa. Lucu we Ayah mah, dari tadi pengen ketawa. Bunda mah lebay!”
Serasa ditamar teplon! Ternyata suara tawa tadi tuh bukan ngetawain adik, ternyata ngetawain saya! Aduuuuuh malunya! Tapi ah da udah, tahan aja malunya, hihiii.

Nah  dari komunikasi saya hari itu, lagi-lagi saya belum bisa mengatur emosi sehingga perasaan saya jauh lebih dominan sehingga sulit berpikir jernih, dan bikin baper tingkat tinggi. Ini masih jadi penyakit yang sampai saat ini masih coba saya obati, menangis ketika membicarakan perasaan. Sulit sekali menghilangkannya, tapi sedikit demi sedikit saya coba hilangkan. Kedua, suaami tipe orang yang tidak bisa merencanakan dan diberikan rencana untuk membincangkan suatu yang serius, kadang di waktu saya sibuk urusan rumah tangga atau anak, beliau ajak saya ngobrol. Dan penyakitnya, jika tidak didengarkan dan ditanggapi saat itu juga, atau saya minta ditahan dulu ngobrolnya sampai suasana memungkinkan, nanti malah gak jadi ngobrol sama sekali, dan saya sok kekeuh ingin tahu apa yang ingin beliau sampaikan, atuuuuuh suasana kadang jadi menegang da pakekeuh-kekeuh. Jadi solusi saat ini, lebih baik saya meninggalkan dulu pekerjaan daripada meninggalkan momen penting dengan beliau. Emang harusnya gitu ya? *mikir*
Mudah-mudahan ke depannya kami bisa benar-benar merealisasikan jadwal forum keluarga dengan baik dan bijak.