Komunikasi Produktif : #5 Tentang Polipolian 

Jum’at,  12 Méi 2017

 “Jangankan wanita lain, 

Ketika Shidqi lebih memilih neneknya daripada Bunda, ketika Shidqi lebih nyaman bersama orang lain daripada berama Bunda sekalipun itu Ayah, 

Ketika Ayah lebih mementingkan adik-adik Ayah daripada Bunda dan anak-anak, ketika Ayah terlihat akrab dengan saudara-saudara Ayah, ketika rasa sayang Ayah pada ummi begitu nampak dalam eratnya pelukan, padahal Bunda tahu itu adalah ibu kandung Ayah, 

Cemburu itu ada, dan terasa. 

Apalagi wanita lain, yang bukan siapa-siapa, yang akan mengambil sebagian waktu Ayah dari Bunda dan anak-anak.

Coba, kabayang gak Ayah? Moal dibayangkeun ku Bunda mah, terlalu sakiiiit ”

Closing statement dari bahasan ringan kami pagi ini, tentang poligami. Hahaa. 

Bahasan yang cukup menuai konflik sebetulnya, tapi topik ini cukup menjadi bahan obrolan yang harus benar-benar mengamalkan prinsip komunikasi produktif ditambah keyakinan terhadap ketetapan Allah. 

Saya sangat merasakan perbedaan pola penerimaan dan reaksi saya ketika mendapati bahasan tentang topik ini. Dulu mah kalau ada ustadz, suami atau siapa pun yang bahas topik ini, bawaannya males, emosian, negatif aja bawaannya. Bahkan kalau suami yang bahas langsung saya nangis bombay gak berenti, langsung nanya-nanya kenapa, langsung murung, langsung mikir yang aneh-aneh, gak enak hati aja pokoknya. Kemudian meningkat, menjadi lebih bisa menyimak, walaupun masih tetap tidak suka, dengan muka sedih dan tetap cireumbay.  Makin kesini, mungkin kuping saya sudah resisten dengan topik ini ditambah diperkuatnya keyakinan: jangan risau dengan yang belum terjadi. Dan berdoa, semoga hal itu tidak tertulis di lauhul mahfuzh untuk keluarga saya :-). Dengan begitu saya bisa mikir lebih jernih, dan menanggapi serta mengekspresikan perasaan saya dengan tenang dan lugas. Hihii