Nice Homework#3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Bismillah

Semakin kesini materi dan tugas yang diberikandalammatrikulasi ini semakin berat bagi saya, satu pekan rasanya tidak cukup untuk mengerjakannya. Dan terbukti NHW kali ini saya terlambat mengerkajan tugas 😦

Tentang membangun peradaban dari dalam rumah, berawal dari diri sendiri. Bagaimana diri sendiri mendapatkan pendidikan dari orang tua danlingkungan akan berdampak besar untuksaat ini terutama pada pola pengasuhan yang akan dijalankan. Karenanya, berdamai dengan masa lalu adalah hal pertama yang harus dilakukan dan ini sangat sulit. Sampai saat ini saya masih mencoba untuk mengingat1 kembali bagaimana saya dulu diasuh.

Setelah melewati fase pernikahan, kembali mengingat masa awal jatuh cinta pada suami dan alasan memilihnya untuk menggenapkan din menjadi penguat kembali dan bahan tafakur untuk senantiasa mensyukuri segala karunia-Nya. Saat diminta membuat surat cinta untuk suami, dan menuliskan betapa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak saya, membuat saya jadi baper >_<  Gimana gak baper, saya menulis surat dan menyampaikannya pada suami saat ia sedang dalam perjalanan untuk ikut berjuang bersama jutaan orang lainnya untuk ikut #aksibelaquran 4 November lalu. Kamis pagi, sebelum siangnya ia berangkat menuju Bandung, adalah salah satu momen romantis yang menguras air mata. Setelah rapi, ia menarik tangan saya untuk duduk menghadapnya. Digenggamnya tangan saya, lalu ia menatap dan memeluk saya, begitu erat, begitu hangat. Pelukannya kali ini terasa berbeda, ada aliran energi keyakinan yang begitu kuat, ada tumpahan perasaan cinta dan sayang yang saya rasakan. Pelukannya begitu lama, seakan sedang menyampaikan untaian kata yang ia rasakan. Begitu pun dengan saya, selama itu pula saya sampaikan dengan hati perasaan saya padanya, dan saya panjatkan doa-doa terbaik untuknya. Perlahan ia mulai melepas pelukannya, ia mulai merangkai kata-kata yang membuat saya tidak bisa menahan air mata. Ia menyampaiakan kekhawatirannya dalam kegiatan aksi besok,seperti halnya orang lainyangjuga ikut aksi damai, ia berwasiat beberapa hal jika terjadi hal yang tidak diinginkan. 😦

Malamya sekuat tenaga saya lanjutkansurat cinta yang masih belum selesai, jumat pagi baru saya kirimkan. Inginya memberikan langsung, tapi saya tidak tahu takdir pada yang akan terjadi beberapa jam ke depan. Akhirnya saya segera menyampaikannya, khawatir tidak ada waktu lagi. Setelah saya sampaikan saya mengirim email, saya hanya berharap ia bisa pulang dengan selamat.
Alhamdulillah Allah takdirkan kami bisa berkumpul lagi, sabtu pagi ia tiba di rumah, saya berikan waktu ia untuk beristirahat. Ahad pagi, saya baru menanyakan kembali tentang surat.  Tak ada kalimat apa pun yang disampaikannya, justru raut muka yang sedikit bingung harus berkata apa dan mulai mengusut.  Saya yang tidak  ingin menjadikan suasana semakin kusut, segera undur diri dari hadapannya, dan berusaha menampakan wajah biasa aja, tetap senyum, tanpa menampakkan kekecewaan. Padahal mah dalam hati bingung, apa yang harus ditulis di NHW nanti -_-‘.

Saya kembali ke dapur, Tiba-tiba suami menghampiri dan memeluk saya erat, lalu berbisik, “I Love You, Bunda” 🙂 Pelukannya sekan kembali menyampaikan sesuatu, cukup lama walaupun tidak selama saat akan berwasiat kemarin. Saya yang masih terbawa suasana sebelumnya, membalasnya dengan memeluknya lebih erat, senyum-senyum bingung lalu bilang, “I Love You too, Ayah”. Khawatir ada sesuatu, saat suami menuju ruang tengah saya tanya, “Kenapa Yah?”.  Tanpa basa-basi ia punmenjawab, “Gak apa-apa, tadi kan nanyain surat. Ayah gak bisa bilang apa-apa”.
Saya balas dengan senyuman dan ucapan terima kasih.

Shidqi

Buahcinta kami kini menginjak 32 bulan. Shidqi sekarang sudah semakin pintar. Lebih mudah diajak berdiskusi sehingga Setiap memiliki keinginan, walaupun selalu ia pertahankan dengan kuat, kami bisa lebih leluasa menjelaskan baik buruk keinginannya tersebut. Kini iasudah mulai bisa bersosialisasi, tahapan sosialisasi dengan lingkungan atau pun teman-temannya ia sangat terasa sekali perbedaannya. Mudah-mudahan bisa jelaskan lain waktu:)
Sekarang sudah mulai belajar untuk bisa mandiri. Peka terhadap suasana sekitar, misalnya jika ia lihat saya menangis, saya langsung dipeluk dan ditanya, “Kenapa Nda?”.  Sudah mulai menunjukan sayangnya terhadap adik yang masih dalam kandungan, mudah-mudahan sudah lahir makins sayang ya Ka 🙂
Shidqi mulai berkenalan dengan permainan lego blok sekitar 12 bulan, sampai sekarang lego blok termasuk mainan yang sama sekali tidak membosankan baginya. Kemampuan berimajinasi melalui lego sudah cukup baik (menurut saya).

Saya

Lagi-lagi perlu berpikir cukup panjang untuk menjawab pertanyaan tentang potensi diri. Berdasarkan tes yang saya ikuti di temubakat.com, ada empat kelebihan yang saya miliki. Dua di antaranya berkaitan dengan dunia pendidikan, begitu pun dengan peran yang cocok untuk saya tidak jauh dari dunia pendidikan yaitu menjadi seorang guru. Saat pertanyaan ini saya lemparkan ke suami, satu-satunya jawaban pun sama, mengajar anak-anak. Cocok. Memang betul, kecintaan saya pada dunia pendidikan memang sangat besar, namun usaha untuk bisa mempelajarinya lebih dalam belum sesuai. Apalagi ketika sudah memiliki  anak, ada rasa bimbang dalam hati ketika saya harus mengajar (di sekolah formal) dan meninggalkan anak.

Suami berharap saya  bisa benar-benar fokus pada keluarga, terutama anak. Keputusannya meminta saya untuk resign sebagai guru formal menjawab kebimbangan saya sebagai istri yang sudah menjadi seorang ibu. Suami yang meminta saya untuk tidak (dulu) berkegiatan di luar rumah dan (kembali) tetap fokus pada keluarga, menjawab kegalauan saya saya yang belum bisa multitasking, dan memberikan saya waktu lebih banyak untuk belajar. Suami yang berniat tidak memasukan Shidqi di pendidikan prasekolah, membuat saya terus belajar dan kembali belajar mengajar. Belajar untuk mengajar, begitulah hal yang baru bisa saya pahami mengapa saya dihadirkan di tengah keluarga ini.

Tempat Tinggal

Qadarullah, sudah satu tahun kami sekeluarga harus pindah ke Subang, tempat orang tua saya, karena Shidqi yang harus menjalani pengobatan. Berbeda dengan di tempat tinggal sebelumnya, akses ilmu di sini cukup sulit, kegiatan-kegiatan terutama seputar pendidikan keluarga dan anak sangat jarang ditemukan. Begitu pun dengan lingkungan masyarakat, tinggal di sini harus pandai memilih teman bergaul, apalagi setelah menempati rumah sendiri yang lokasinya di tengah kampung dan pinggir jalan, tantangannya makin berat. Depan rumah kami biasa dijadikan tongkrongan oleh remaja-remaja (perempuan seringnya), mereka nongkrong mulai sore bisa sampai jam 10 malam. Bahkan menurut tetangga di sini, kadang dulu pernah sampai tengah malam. Pergaulan dan bahasa anak-remaja di sini membuat kami agak ragu untuk keluar rumah.
Sampai pada hari ketiga kami tinggal di sini (catatan: kami baru pindah 4 November 2016 lalu), akhirnya suami memutuskan untuk mengajak anak-anak mengaji setelah maghrib. Salah satunya sebagai pengganti kegiatan mereka, karena pasti mereka yang nongkrong tidak punya kegiatan. Alhamdulillah respon anak-anak bagus, walaupun kami belum bisa menyentuh salah satu target utama kami yaitu remaja perempuan yang sering nongkrong di depan rumah kami, tapi alhamdulillah beberapa remaja laki-laki dan perempuan sudah mau bergabung.
(Kembali) Mengajar. Berhubungan dengan anak-anak. Berbagi ilmu. Tentu ini perjalanan ini baru langkah awal, kami membutuhkan keistiqomahan untuk tetap berjalan dan membutuhkan kaki-kaki lain untuk sama-sama melangkah agar lebih kuat dan saling mengokohkan. Bismillah.

Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s