NHW #6 : Ibu Manajer Keluarga Handal

Bismillah

Untuk menjadi manajer, perlu banyak ilmu salah satunya adalah manajemen waktu. Ya, ini sangat penting, penting sekali. Bahkan Allah bersumpah demi waktu bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang tertentu yang disebutkan dalam QS Al-Ashr. Orang-orang yang gimana coba? Yuuuk buka lagi terjemah Al-Quran nya 😀

Ada juga perkataan yang menyebutkan, jika kita tidak sedang melakukan kebaikan maka berarti kita sedang melakukan keburukan, dan sebaliknya jika kita tidak sedang melakukan keburukan berarti kita sedang melakukan kebaikan.
Pertanyaannya, Sekarang sedang melakukan apakah kita? Mudah-mudahan sedang melakukan kebaikan yaa 🙂

Sebagai seorang ibu, untuk belajar mengelola waktu dengan baik ada beberapa langkah pada nice homework #6 ini yang diberikan Bunda Septi, pertama kita tentukan 3 hal penting dan 3 hal tidak penting dalam aktivitas sehari-hari kita.

3 Aktivitas yang paling penting (bagi saya)
1. Beribadah dan Belajar ( untuk pengembangan sesuai peran)
2. Membersamai aktivitas (mendidik) anak dengan baik
3. Menyiapkan makanan yang sehat dan olahraga

3 aktivitas yang paling tidak penting
1. Bersosial media tanpa tujuan
2. Window shopping (online)
3. Ngobrol gak jelas

Dan ternyata selama ini waktu saya habis dengan hp, entah itu cek berbagai sosial media atau iseng-iseng window shopping. Sebetulnya sudah cukup berkurang waktu dengan hp ini, karena ada kesepakatan untuk membersamai Shidqi tanpa gadget. Namun sayang waktu yang dipakai untuk membersamai Shidqi belum saya manfaatkan dengan baik dalam rangka mengingatkan peran saya sebagai pendidik dan fasilitator untuk Shidqi. Materi Ibu Manajer Keluarga Handal ini mengingatkan saya kembali untuk senantiasa meningkatkan berbagai peran yang diemban seorang ibu juga menambah jam terbang untuk mencapai peran dalam misi spesifik saya di bumi ini.

Salah langkah manajemen waktu adalah dengan membuat jadwal harian. Mudah-mudahan dengan jadwal yang dibuat, bisa lebih komitmen dalam memanfaatkan waktu.
03.30 – 04.00   Ibadah sunnah
04.00 – 04.30   Shalat Subuh + Al matsurat
04.30 – 05.00    Tilawah
05.00 – 05.30    Baca Buku I*
05.30 – 06.00    Olahraga
06.00 – 09.00   Tugas domestik (Masak, beres-beres*, nyuci*+jemur, mandiin Shidqi, bersiap)
09.00 – 11.00    Membersamai Shidqi I*
11. 00 – 12.00    Bunda dan Shidqi istirahat tidur siang, shidqi tambah 30 menit sampai 12.30
12.00 – 12.30    Dzuhur, tilawah
12.30 – 13.00    Siapkan makan +makan siang
13.00 – 15.00    Membersamai Shidqi II*
15.00-15.30      Shalat Ashar
15.30 -16.30     Main sama teman-teman Shidqi (tetangga)
16.30 – 17.00   Persiapan ngaji
17.00 – 19.30   Ngajar ngaji di mesjid
19.30-20.00    Persiapan makan + makan
20.00 – 21.00  Ngobrol produktif (bahas aktivitas seharian, evaluasi), Baca cerita
21.00 – 21.30   Pengkondisian tidur Shidqi
21.30 – 22.00   To do list aktivitas besok
22.00                 Istirahat malam

Beberapa yang saya beri tanda
*tugas domestik, untuk beres-beres dan nyuci baju, kadang saya siasati dikerjakan sebelum tidur (itu pun jika masih ada waktu)
*membersamai shidqi, menjadi PR selanjutnya untuk membuat jadwal khusus aktivitas harian Shidqi.

Kembali menarik nafas panjang, berharap Allah memudahkan segala ikhtiar yang saya lakukan. Aamiin

Advertisements

NHW #5 : Belajar Bagaimana Caranya Belajar dan Desain Pembelajaran (Part 2)

Bismillah

Pada bagian 2 ini saya mencoba mengaitkan materi desain pembelajaran yang sudah saya dapatkan dengan materi-materi dan nice homework yang sudah terima dan saya kerjakan.
Berdasarkan materi desain pembelajaran yang saya dapatkan, materi-materi dan nice homework yang diberikan Bunda Septi merupakan implementasi dari desain pembelajaran. Mari kita baca mindmap di atas.

Analisis
yang dilakukan pada tahapan ini adalah menganalisis kebutuhan peserta didik sehingga diketahui hal apa yang akan dipelajari. Begitu pun dalam NHW #1 yang diberikan, pada tahap ini kita diminta untuk menentukan jurusan yang akan dipelajari di universitas kehidupan ini. Bagi saya, yang akan dipelajari adalah hal yang sangat saya butuhkan yaitu pendidikan keluarga dan pengasuhan anak.
Hubungannya dengan NHW #3, di sana kami diminta menjelaskan potensi masing-masing anggota keluarga serta menjelaskan lingkungan tempat tinggal saat ini yang kemudian ditafakuri bagaimana maksud Allah dengan semua yang dihadapkan pada kita. Pada NHW #3 ini saya belum menjelaskan secara detail potensi dari masing-masing anggota keluarga (saya, suami dan anak) tapi setidaknya dari beberapa hal yang saya tulis tentang mereka (dan siri saya), saa mendapatkan gambaran apa yang mereka butuhkan sehingga harus saya pelajari dan harus saya ikhtiarkan.

Desain
Tahapan ini meminta untuk membuat blue-print atau rancangan mengenai tujuan pembelajaran dan strategi yang akan dilakukan, dan ini ada pada NHW #2 dan NHW#4 yang telah dikerjakan. Pada NHW #4 kami diminta untuk menuliskan misi spesifik kami di muka bumi beserta bisang dan peran yang akan kami lakukan. Selain itu kami diminta untuk menentukan ilmu apa saja yang akan kami pelajari serta target waktu pencapaian misi tersebut. Pada NHW# 2 kita diminta membuat indikator-indikator menjadi ibu profesional  (sebagai individu, istri dan ibu). Indikator tersebut merupakan turunan atau penjabaran dari tujuan yang ingin dicapai sehingga indikator tesebut dibuat menggunakan rumus SMART (spesific, measurable, applicable/achievable, realistic, dan time). Tujuan bisa dilihat dari misi spesifik, bidang dan peran pada NHW #4. Adapun strategi yang akan dilakukan, sebetulnya ada sekilas pada NHW #1, namun belum terlalu rinci.

Pengembangan
Ini adalah tahap yang senantiasa dilakukan dari waktu ke waktu, setiap ada pembelajaran baru yang didapatkan. Yang sedang saya lakukan pada tahap ini adalah melakukan perbaikan pada setiap nice homework yang sudah dikerjakan (walaupun belum bisa semuanya), lalu mempersiapkan dan mengadakan kebutuahan dari setiap uraian nice homework yang sudah dikerjakan, misal pengadaan lembar penilaian indikator, menyiapakan buku-buku sebagai sumber ilmu, dll.

Implementasi
Pun dengan tahapan ini, sedang mencoba mengimpelentasikan indikator-indikator yang ada dalam NHW #2 dan terus belajar untuk menuju misi spesifik hidup.

Evaluasi
Evaluasi rencananya akan dilakukan setiap pekan, bulan, dan tiga bulan. Setiap pekan dilakukan untuk melihat ketercapaian indikator yang telah dibuat, jika terlalu sulit dilakukan, dengan lapang dada harus menurunkan standar agar lebih mudah tercapai dan bisa naik tingkat, tentu dalam rangka menjaga kewarasan saya juga sebagai ibu yang sedang hamil tua dengan batita yang sedang sangat aktif 😀

Lalu lalu lalu, pembelajaran seperti apa yang akan saya lakukan?

Selama ini saya lebih mudah belajar jika saya sudah menemui masalah tersebut dalam praktikal sehari-hari. Seperti memahami materi kuliah, ternyata saya lebih paham ketika saya harus mengajarkannya pada murid. Saya belajar berorganisasi, sangat sulit memahami alur kerja yang dijelaskan para senior, namun dengan saya melakukannya, ternyata saya paham bagaimana alurnya. Begitu pun dengan menjadi seorang istri dan ibu dengan sejuta amanah dan sekelumit persoalan di dalamnya, beberapa yang berhasil saya pahami juga seperti itu. Dulu awal menjadi ibu, teori-teori tentang menyusui sudah saya lahap, namun ternyata tidak semuanya paham, barulah ketika sudah praktik menjadi mualai paham apa yang dimaksudkan.

Tentu kesemuanya itu tidak bisa semuanya dilakukan dengan praktik terlebih dulu, ada ilmu yang harus dipersiapkan sebelum dipraktikan agar tidak kaget jika menghadapi kesulitan. Yang saya rasakan, gaya belajar yang lebih mudah saya lakukan untuk mempelajari suatu ilmu didominasi dengan cara melihat (visual) yang dikuatkan dengan mendengar (audio). Jika saya membaca, saya harus segera menuliskannya atau menggambarnya berupa mindmap,  itu akan lebih memudahkan saya dalam belajar. Dengan begitu saya dapat mengulang-ngulang materi tersebut dengan mudah. Namun itu pula yang menjadi kelemahan saya, saya belum rajin untuk menuliskan/menggambarkan setiap materi yang saya dapat. Maka mulai sekarang, saya akan berusaha untuk menyiapkan buku khusus tempat untuk menuangkan materi-materi yang saya dapatkan. Gaya belajar lain yang mendukung proses pembelajaran saya secara visual adalah dengan audio, namun butuh konsentrasi yang kuat untuk gaya belajar yang ini, apalagi hanya berbentuk audio.

Nah, pada akhirnya setelah mempelajari ilmu yang saya butuhkan, saya cukup yakin akan lebih paham jika saya sudah menemukannya di lapangan. Tentu yang dipelajari dengan yang ditemukan tidak selalu sama, nah improvisasi ini yang membuat aha moment setiap orang berbeda.

Termasuk waktu belajar, untuk belajar yang sifatnya teori. Setelah subuh adalah waktu yang paling baik untuk saya belajar, selain hari dan pikiran masih fresh, suasana pun lebih tenang dan sunyi. Kendalanya, ada beberapa target harian dan pekerjaan domestik yang harus saya kerjakan pula setelah subuh. Maka langkah selanjutnya adalah membuat prioritas dan jadwal kegiatan yang lebih efektif untuk belajar dan praktik. (Hmmm.. Peer lagi >_<)

Alhamdulillah.

 

NHW#5: Belajar Bagaimana Caranya Belajar dan Desain pembelajaran (Part 1)

Nice Homework #5

BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR

Materi #5 kali ini mengulas tentang cara belajar. Walaupun usia sudah seperempat abad, tapi saya masih merasa belum enjoy dengan cara belajar yang saya lakukan. Dalam materi ini, kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal yaitu belajar hal berbeda, cara belajar yang berbeda, dan semangat belajar yang berbeda.

Pertama, yang perlu dipelajari adalah apa saya yang
1. Menguatkan iman
2. Menumbuhkan karekter baik
3. Menemukan passionnya (Panggilan hati)
Kedua, cara belajar yang berbeda. Menggunakan gaya-gaya baru yang antimainstream. Jika dulu dilatih terampil menjawab, sekarang dilatih terampil bertanya. Jika dulu diminta menghapal materi, sekarang kembangkan struktur berpikir. Dulu pasif mendengarkan, sekarang aktif mencari. Dan yang paling penting di era tsunami informasi seperti sekarang adalah berpikir skeptik, yaitu senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya, tidak menelan bulat-bulat setiap informasi yang diterima.
Terakhir tentang semangat belajar yang berbeda. Tentu kita akan lebih bersemangat melakukan sesuatu jika tujuan yang ingin kita capai jelas, begitupun dengan belajar, dengan tujuan yang jelas kita akan mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan ilmu yang kita cari.

Adapun strategi belajar yang disampaikan Bunda Septi dalam materi ini adalah “meninggikan gunung, bukan meratakan lembah” artinya mendukung penuh minat dan passion yang anak-anak miliki terhadap suatu bidang, dan menutupi kekurangannya dengan tidak memaksanya mempelajari hal tersebut.

Agar anak menjadi anak yang suka belajar, caranya  mengetahui minat anak, mengetahui tujuan/cita-citanya, dan mengetahui passionnya dengan pengamatan, terlibat di dalamnya dan melihat dan mendengarkan suara anak.

TENTANG DESAIN PEMBELAJARAN

Tidak banyak sumber yang saya bisa cari, apalagi dari buku. Namun ada satu karya ilmiah yang cukup lengkap tentang Desain Sistem Pembelajaran yang ditulis oleh Dr. Sujarwo, M.Pd dari Pendidikan Luar Sekolah UNY. Beliau menyimpulkan bahwa,

desain pembelajaran adalah pengembangan pembelajaran secara sistematis untuk memaksimalkan keefektifan dan efisiensi pembelajaran. Kegiatan mendesain pembelajaran diawali dengan menganalisis kebutuhan peserta didik, menentukan tujuan pembelajaran, mengembangkan bahan dan aktivitas pembelajaran, yang di dalamnya mencakup penentuan sumber belajar, strategi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, media pembelajaran dan penilaian (evaluasi) untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran. Hasil evaluasi tersebut digunakan sebagai acuan untuk mengetahui tingkat efektivitas, efisiensi dan produktivitas proses pembelajaran.

Desain pembelajaran, apa yang didesain? Pembelajarankah?
Jawabannya, yang didesain adalah sistem pembelajarannya, dimana sistem pembelajaran merupakan kesatuan dari beberapa komponen pembelajaran yang meliputi peserta didik, pendidik, kurikulum, bahan ajar, media pembelajaran, sumber belajar, proses pembelajaran, fasilitas, lingkungan dan tujuan.

Beliau menambahkan, ada beberapa komponen utama dalam desain sistem pembelajaran di antaranya:
1) Kemampuan awal peserta didik dan potensi yang dimiliki
2) Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus) adalah penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh peserta didik
3) Analisis materi pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
4) Analisis aktivitas pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang akan dipelajari
5) Pengembangan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, materi pembelajaran dan kemampuan peserta didik
6) Strategi pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu tahun atau mikro dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar.
7) Sumber belajar, adalah sumber-sumber yang dapat diakses untuk memperoleh materi yang akan dipelajari
8) Penilaian belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi yang dikuasai oleh peserta didik.

Dalam penerapannya terdapat banyak model desain pembelajaran yang dikemukakan para ahli, namun pada prinsipnya sama yaitu untuk merancang program pembelajaran yang berkualitas. Dari lima model desain pembelajaran yang disebutkan Dr. Sujarwo, ada satu model desain pembelajaran yang menurut saya lebih mudah diimplementasikan yaitu Model ADDIE.

Model  ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate) muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Salah satu fungsinya ADDIE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri.

Model ini menggunakan lima tahap pengembangan yakni: a) Analysis (analisa), b) Design (disain/perancangan), c) Development (pengembangan), d) Implementation (implementasi/eksekusi), e) Evaluation (evaluasi/umpan balik). Masing-masing langkah dideskripsikan sebagai berikut:

Langkah 1: Analisis
Merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik, yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Oleh karena itu, output yang akan dihasilkan adalah berupa karakteristik atau profil calon peserta didik, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.

Langkah 2: Desain
Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan (blueprint). Pada tahap desain ini diperlukan: pertama merumuskan tujuan pembelajaran yang SMART (spesific, measurable, applicable, realistic, dan Times ). Selanjutnya menyusun tes yang didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan tadi. Kemudian menentukan strategi pembelajaran yang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat dipilih dan tentukan yang paling relevan. Di samping itu, perlu dipertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan lain-lain. Semua itu tertuang dalam suatu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.

Langkah 3: Pengembangan
Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print atau desain yang dibuat menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan, misal diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya dengan lingkungan belajar lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya harus disiapkan dalam tahap ini. Satu langkah penting dalam tahap pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba ini memang merupakan bagian dari salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi. Lebih tepatnya evaluasi formatif, karena hasilnya digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran yang sedang dikembangkan.

Langkah 4: Implementasi
Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang dibuat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan dipersiapkan sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu maka software tersebut harus sudah diinstall. Jika penataan lingkungan harus tertentu, maka lingkungan atau setting tertentu tersebut juga harus ditata. Barulah diimplementasikan sesuai skenario atau desain awal.

Langkah 5: Evaluasi
Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat tahap diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita memerlukan salah satu bentuk evaluasi formatif misalnya review ahli untuk memberikan input terhadap rancangan yang sedang dibuat. Pada tahap pengembangan, mungkin perlu uji coba dari produk yang dikembangkan atau mungkin perlu evaluasi kelompok kecil dan lain-lain.

Itulah rangkuman yang saya dapatkan dari  materi Belajar Bagaimana Caranya Belajar, dan hasil pencarian singkat tentang Desain Pembelajaran yang isinya sangat berkaitan dengan materi juga nice homework sebelumnya. Implementasi dari materi desain pembelajaran dan materi-materi matrikulasi yang sudah saya dapatkan serta nice homewok yang sudah dikerjakan sebelumnya bisa dilihat di sini.

Sumber:

Tim Matrikulasi IIP, Belajar Bagaimana Caranya Belajar, materi matrikulasi, 2016

Sujarwo, Desain Sistem Pembelajaran, http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Dr.%20Sujarwo,%20M.Pd./Desain%20Pembelajaran-pekerti.pdf

 

 

 

Nicehomework #4 Sebuah Perjalanan

NHW #4 Mendidik dengan Kekuatan Ftrah

_Lakukan saja meskipun Anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan Anda lewat laku kehidupan kita_

Kalimat di atas sangat cocok dengan kondisi saya saat ini, masih belum paham dengan materi #4 yang semakin sulit ini. Setidaknya dengan adanya kalimat di atas, tidak lantas membuat saya khususnya merasa putus asa. Kalau melihat beberapa hal, fitrahnya memang selalu begitu. Misal, saat belum memiliki anak, kita tidak paham setiap kali ada anak bayi menangis maunya apa. Begitu pun ketika sudah memiliki anak, mungkin di awal kita masih meraba-raba arti tangisan  sang bayi. Kita lakukan apa saja yang mungkin dia inginkan, sambil sedikit demi sedikit memahami setiap maksud yang ingin disampaikannya. Hingga akhirnya dengan pertolongan Allah, kita paham apa yang bayi inginkan dan butuhkan. Begitu pun dengan materi sekarang, saya yakin akan ada saat nya saya paham, tentu dengan ikhtiar sedikit demi sedikit.

NHW#1

Apakah masih memilih jurusan tersebut? Jawabannya YA. Saya semakin yakin, dengan kekokohan dalam keluarga, akan mengantarkan kami  pada kebermanfaatan. Inside out. Evaluasi secara sekilas yang saya lakukan terhadap kegiatan yang saya lakukan di luar rumah adalah tidak kokohnya “saya” di dalam rumah. Keinginan saya berbuat untuk orang lain terlalu besar, mengalahkan keharusan saya untuk memperbaiki diri sendiri dan menata keluarga terlebih dulu.

NHW #2
Ini yang masih menjadi PR besar, 2 pekan berjalan masih belum konsisten dalam mengisi checklist harian. Ada beberapa checklist harian yang belum dibuat turunanya, ada pula checklist yang belum diatur waktunya, sehingga dari hasil evaluasi ada beberapa yang diubah dan ditambah.

NHW#3

Dalam NHW #3 saya menemukan bahwa Allah menghadirkan saya untuk mengajar. Seperti yang telah diceritakan pada NHW sebelumnya, saya sangat bahagia berada di tengah anak-anak (siswa)  untuk mengajar, berbagi ilmu.
Belajar untuk mengajar, itu yang saya tuliskan di NHW #3. Mengajar/ mendidik diri sendiri, mendidik keluarga, mendidik anak-anak, dan mendidik masyarakat mudah-mudahan kedepannya bisa dilakukan, insyaallah. Kaitannya dengan ilmu yang saya pelajari di universitas kehidupan yaitu tentang pendidikan keluarga termasuk di dalamanya pengasuhan anak, target pertama dan utama adalah diri sendiri dan keluarga.

Misi hidup : Belajar untuk mengajar
Bidang : Pendidikan keluarga dan pengasuhan anak
Peran : pengajar dan fasilitator

Ada pun tahapan ilmu yang harus dikuasai untuk menuju misi tersebut, saya menggunakan kurikulum IIP yang sudah ada.
1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang lain
5. Tumbuh kembang anak dan stimulasi sesuai usia

Milestone

KM 0 – KM 1 ( 2tahun >> Desember 2016 – Desember 2018 ) : Menguasai ilmu seputar bunda sayang dan bunda cekatan, ilmu tentang tumbuh kembang anak dan cara menstimulasinya sesuai usia

KM 1 – KM 2 (2 tahun >> Desember 2018-Desember 2020) Menguasai pendidikan prasekolah dan homeschooling

KM 2 – KM 3 (2 tahun >> Desember 2020 – Desember 2022 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif

KM 3 – KM 4 (2 tahun >> Desember 2022 – 2024) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha

Setelah menyusun ilmu yang dibutuhkan, ternyata checklist yang dibuat perlu disempurnakan dengan menambahkan beberapa poin lagi.

Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan!
Bismillahitawakaltu ‘alallah lahaula wala quwwata illa billah..

Nice Homework#3 Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Bismillah

Semakin kesini materi dan tugas yang diberikandalammatrikulasi ini semakin berat bagi saya, satu pekan rasanya tidak cukup untuk mengerjakannya. Dan terbukti NHW kali ini saya terlambat mengerkajan tugas 😦

Tentang membangun peradaban dari dalam rumah, berawal dari diri sendiri. Bagaimana diri sendiri mendapatkan pendidikan dari orang tua danlingkungan akan berdampak besar untuksaat ini terutama pada pola pengasuhan yang akan dijalankan. Karenanya, berdamai dengan masa lalu adalah hal pertama yang harus dilakukan dan ini sangat sulit. Sampai saat ini saya masih mencoba untuk mengingat1 kembali bagaimana saya dulu diasuh.

Setelah melewati fase pernikahan, kembali mengingat masa awal jatuh cinta pada suami dan alasan memilihnya untuk menggenapkan din menjadi penguat kembali dan bahan tafakur untuk senantiasa mensyukuri segala karunia-Nya. Saat diminta membuat surat cinta untuk suami, dan menuliskan betapa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak saya, membuat saya jadi baper >_<  Gimana gak baper, saya menulis surat dan menyampaikannya pada suami saat ia sedang dalam perjalanan untuk ikut berjuang bersama jutaan orang lainnya untuk ikut #aksibelaquran 4 November lalu. Kamis pagi, sebelum siangnya ia berangkat menuju Bandung, adalah salah satu momen romantis yang menguras air mata. Setelah rapi, ia menarik tangan saya untuk duduk menghadapnya. Digenggamnya tangan saya, lalu ia menatap dan memeluk saya, begitu erat, begitu hangat. Pelukannya kali ini terasa berbeda, ada aliran energi keyakinan yang begitu kuat, ada tumpahan perasaan cinta dan sayang yang saya rasakan. Pelukannya begitu lama, seakan sedang menyampaikan untaian kata yang ia rasakan. Begitu pun dengan saya, selama itu pula saya sampaikan dengan hati perasaan saya padanya, dan saya panjatkan doa-doa terbaik untuknya. Perlahan ia mulai melepas pelukannya, ia mulai merangkai kata-kata yang membuat saya tidak bisa menahan air mata. Ia menyampaiakan kekhawatirannya dalam kegiatan aksi besok,seperti halnya orang lainyangjuga ikut aksi damai, ia berwasiat beberapa hal jika terjadi hal yang tidak diinginkan. 😦

Malamya sekuat tenaga saya lanjutkansurat cinta yang masih belum selesai, jumat pagi baru saya kirimkan. Inginya memberikan langsung, tapi saya tidak tahu takdir pada yang akan terjadi beberapa jam ke depan. Akhirnya saya segera menyampaikannya, khawatir tidak ada waktu lagi. Setelah saya sampaikan saya mengirim email, saya hanya berharap ia bisa pulang dengan selamat.
Alhamdulillah Allah takdirkan kami bisa berkumpul lagi, sabtu pagi ia tiba di rumah, saya berikan waktu ia untuk beristirahat. Ahad pagi, saya baru menanyakan kembali tentang surat.  Tak ada kalimat apa pun yang disampaikannya, justru raut muka yang sedikit bingung harus berkata apa dan mulai mengusut.  Saya yang tidak  ingin menjadikan suasana semakin kusut, segera undur diri dari hadapannya, dan berusaha menampakan wajah biasa aja, tetap senyum, tanpa menampakkan kekecewaan. Padahal mah dalam hati bingung, apa yang harus ditulis di NHW nanti -_-‘.

Saya kembali ke dapur, Tiba-tiba suami menghampiri dan memeluk saya erat, lalu berbisik, “I Love You, Bunda” 🙂 Pelukannya sekan kembali menyampaikan sesuatu, cukup lama walaupun tidak selama saat akan berwasiat kemarin. Saya yang masih terbawa suasana sebelumnya, membalasnya dengan memeluknya lebih erat, senyum-senyum bingung lalu bilang, “I Love You too, Ayah”. Khawatir ada sesuatu, saat suami menuju ruang tengah saya tanya, “Kenapa Yah?”.  Tanpa basa-basi ia punmenjawab, “Gak apa-apa, tadi kan nanyain surat. Ayah gak bisa bilang apa-apa”.
Saya balas dengan senyuman dan ucapan terima kasih.

Shidqi

Buahcinta kami kini menginjak 32 bulan. Shidqi sekarang sudah semakin pintar. Lebih mudah diajak berdiskusi sehingga Setiap memiliki keinginan, walaupun selalu ia pertahankan dengan kuat, kami bisa lebih leluasa menjelaskan baik buruk keinginannya tersebut. Kini iasudah mulai bisa bersosialisasi, tahapan sosialisasi dengan lingkungan atau pun teman-temannya ia sangat terasa sekali perbedaannya. Mudah-mudahan bisa jelaskan lain waktu:)
Sekarang sudah mulai belajar untuk bisa mandiri. Peka terhadap suasana sekitar, misalnya jika ia lihat saya menangis, saya langsung dipeluk dan ditanya, “Kenapa Nda?”.  Sudah mulai menunjukan sayangnya terhadap adik yang masih dalam kandungan, mudah-mudahan sudah lahir makins sayang ya Ka 🙂
Shidqi mulai berkenalan dengan permainan lego blok sekitar 12 bulan, sampai sekarang lego blok termasuk mainan yang sama sekali tidak membosankan baginya. Kemampuan berimajinasi melalui lego sudah cukup baik (menurut saya).

Saya

Lagi-lagi perlu berpikir cukup panjang untuk menjawab pertanyaan tentang potensi diri. Berdasarkan tes yang saya ikuti di temubakat.com, ada empat kelebihan yang saya miliki. Dua di antaranya berkaitan dengan dunia pendidikan, begitu pun dengan peran yang cocok untuk saya tidak jauh dari dunia pendidikan yaitu menjadi seorang guru. Saat pertanyaan ini saya lemparkan ke suami, satu-satunya jawaban pun sama, mengajar anak-anak. Cocok. Memang betul, kecintaan saya pada dunia pendidikan memang sangat besar, namun usaha untuk bisa mempelajarinya lebih dalam belum sesuai. Apalagi ketika sudah memiliki  anak, ada rasa bimbang dalam hati ketika saya harus mengajar (di sekolah formal) dan meninggalkan anak.

Suami berharap saya  bisa benar-benar fokus pada keluarga, terutama anak. Keputusannya meminta saya untuk resign sebagai guru formal menjawab kebimbangan saya sebagai istri yang sudah menjadi seorang ibu. Suami yang meminta saya untuk tidak (dulu) berkegiatan di luar rumah dan (kembali) tetap fokus pada keluarga, menjawab kegalauan saya saya yang belum bisa multitasking, dan memberikan saya waktu lebih banyak untuk belajar. Suami yang berniat tidak memasukan Shidqi di pendidikan prasekolah, membuat saya terus belajar dan kembali belajar mengajar. Belajar untuk mengajar, begitulah hal yang baru bisa saya pahami mengapa saya dihadirkan di tengah keluarga ini.

Tempat Tinggal

Qadarullah, sudah satu tahun kami sekeluarga harus pindah ke Subang, tempat orang tua saya, karena Shidqi yang harus menjalani pengobatan. Berbeda dengan di tempat tinggal sebelumnya, akses ilmu di sini cukup sulit, kegiatan-kegiatan terutama seputar pendidikan keluarga dan anak sangat jarang ditemukan. Begitu pun dengan lingkungan masyarakat, tinggal di sini harus pandai memilih teman bergaul, apalagi setelah menempati rumah sendiri yang lokasinya di tengah kampung dan pinggir jalan, tantangannya makin berat. Depan rumah kami biasa dijadikan tongkrongan oleh remaja-remaja (perempuan seringnya), mereka nongkrong mulai sore bisa sampai jam 10 malam. Bahkan menurut tetangga di sini, kadang dulu pernah sampai tengah malam. Pergaulan dan bahasa anak-remaja di sini membuat kami agak ragu untuk keluar rumah.
Sampai pada hari ketiga kami tinggal di sini (catatan: kami baru pindah 4 November 2016 lalu), akhirnya suami memutuskan untuk mengajak anak-anak mengaji setelah maghrib. Salah satunya sebagai pengganti kegiatan mereka, karena pasti mereka yang nongkrong tidak punya kegiatan. Alhamdulillah respon anak-anak bagus, walaupun kami belum bisa menyentuh salah satu target utama kami yaitu remaja perempuan yang sering nongkrong di depan rumah kami, tapi alhamdulillah beberapa remaja laki-laki dan perempuan sudah mau bergabung.
(Kembali) Mengajar. Berhubungan dengan anak-anak. Berbagi ilmu. Tentu ini perjalanan ini baru langkah awal, kami membutuhkan keistiqomahan untuk tetap berjalan dan membutuhkan kaki-kaki lain untuk sama-sama melangkah agar lebih kuat dan saling mengokohkan. Bismillah.

Alhamdulillah.