Nice Homework #2 Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Bismillah.

Sampai di materi ke dua, tentang menjadi ibu profesional.  Materi ini membahas cara menjadi seorang perempuan yang bangga dengan amanahnya sebagai seorang ibu dan senantiasa memantaskan diri dengan mencari ilmu agar dapat mengelola rumah tangga dan mendidik anak dengan baik. Tentu untuk menjadi seorang yang profesional perlu waktu dan perjuangan yang panjang, sehingga dari materi yang telah di sampaikan, kami mendapatkan tugas untuk membuat checklist indikator profesionalisme kami sebagai seorang perempuan yang meliputi amanah sebagai individu, sebagai istri dan sebagai ibu.

Adanya NHW ini bagi saya membuka jalan untuk kembali mengamalkan materi pertama pada tahapan Bunda Sayang, yaitu komunikasi produktif. Untuk mendapatkan indikator sebagai istri yang membuat suaminya bahagia, tentu saya harus menanyakan jawabannya pada suami. Ini membuat saya kembali bernostalgia dengan tugas bahasa Indonesia beberapa tahun silam saat harus membuat janji dengan narasumber untuk malakukan wawancara 😀 Perjalanan pernikahan kami yang menginjak 43 bulan membuat saya mulai memahami karakter suami, maka benar, komunikasi produktif itu bisa dilakukan pada  waktu yang tepat. Saat suami hadir penuh untuk kita dan ini membuat waktu diskusi semakin efektif. Tahapan mengerjakan NHW #2 ini kalau saya rinci, sebagai berikut:

  • Memahami materi yang telah disampaikan
  • Buat rangkuman materi, saya buat dalam bentuk mindmap agar terlihat alur secara keseluruhan
  • Buat janji dengan suami untuk membahas NHW ini
  • Buat coretan atau perkiraan indikator sebagai individu, istri dan ibu versi pribadi
  • Diskusi bersama suami.
  • Obrol ringan dengan Shidqi, walaupun gak yakin dia paham :3
  • menuangkan hasil diskusi ke dalam tulisan

Saat diskusi dengan suami, sebelumnya saya jelaskan secara singkat tentang isi materi, lalu saya tanyakan NHW yang harus saya kerjakan. Setelah yakin tidak ada lagi yang beliau sebutkan, saya perlihatkan coretan indikator yang sudah saya buat. Lalu beliau koreksi kembali mana yang sesuai dan tidak. Sekalian minta koreksi tentang indikator sebagai individu dan sebagai ibu. Ternyata eh ternyata, apa yang saya tulis sebelumnya tidak jauh berbeda dengan apa yang suami sampaikan. Bahkan ekspektasi saya untuk menjadi seorang istri yang “bla..bla..bla..” lebih tinggi dibandingkan dengan ekspektasi suami. Sederhana sekali permintaannya. Sebetulnya permintaannya itu setiap hari beliau sampaikan, tapi tanggapan saya tidak seserius kali ini. Kali ini saya merasa termehek-mehek mendengar beberapa poin tersebut, ternyata itulah membuat suami saya merasa sangat bahagia. T_T . Mudah-mudahan tantangan awal untuk bisa menjadi ibu profesional ini bisa saya laksanakan dengan baik dan istiqomah.

Setelah saya buat dalam bentuk tabel, inilah indikator profesionalisme saya sebagai perempuan dalam menjalankan amanah sebagai invdividu, istri dan ibu. Indikator ini merupakan tahapan awal dan hal terkdekat yang harus saya laksanakan.

Selanjutnya, tabel di bawah berisi lembar penilaian yang harus diisi oleh suami dan anak, karena anak belum mampu mengisinya, jadi saya serahkan pengisian tersebut pada suami.

 Indikator tersebut akan dievaluasi setiap satu pekan selama 3 bulan. Selanjutnya akan ada evaluasi besar, kemungkinan ada penambahan indikator sebagai peningkatan kualitas diri sebagai individu, istri dan ibu.

Semoga Allah senantiasa menolong saya dalam melaksanakan ikhtiar ini dengan baik dan istiqomah, serta menolong saya untuk senantiasa meluruskan niat dalam menjalankannya. Aamiin.

La haula wa la quwaata illa billahil’aliyil adzim.

Catatan: Gambar tabelnya kurang sempurna, insyaallah segera disempurnakan.

Advertisements

Shidqi dan Menyikat Gigi 

21 Oktober 2016

Harus selalu sadar bahwa semuanya adalah proses. PR nya adalah bagaimna menikmati setiap proses itu dengan hati dan jiwa yang bahagia. Dan ini butuh perjuangan. 
Seperti sekarang, saat Shidqi sudah sampai pada waktu sadar untuk menyikat gigi, rasanyaaaa luar biasa sekali. Walaupun terlambat, karena 4 gigi atas sudah rusak (karies) tapi saya tetap bersyukur Shidqi sudah mau sikat gigi dengan kemauannya sendiri. Saat saya dengan leluasa menyikat setiap sudut giginya, atas bawah depan belakang tanpa penolakan dan amukan, saat itu saya benar-benar merasakan pertolongan Allah. Terkadang ada monolog dalam hati, “kenapa gak dari dulu atuh Ka kaya gini teh.” Tapi dengan cepat saya hapus pikiran seperti itu, berarti saya tidak bersyukur dengan yang terjadi saat ini. Alhamdulillah, semoga konsistennyaa Ka 😘 

Kalau napak tilas, sebetulnya saya dan suami sudah cukup awal mengenalkannya dengan sikat gigi, sounding tentang kesehatan gigi, beli buku tentang pentingnya sikat gigi, dan cara-cara yang lain. Awalnya mau, tapi mulai usia setahunan lebih, sudah mulai menolak bahkan ngamuk kalau sudah waktunya sikat gigi. Saya yang tidak biasa memaksa ( alasannya khawatir trauma dan memang sulit melakukannya) jadi seakan pasrah dengan keinginan Shidqi. Saya ikhtiar lagi dengan membersihkan giginya setiap ia tidur, tetapi ternyata cukup sulit (selalu saja ia terganggu, guling sana guling sini 😂). Belum lagi raga yang lelah dan terlena dengan aktivitas “ngelonin” Shidqi, akhirnya komitmen membersihkan gigi setelah ia tidur pun gagal. Baru sejak beberapa bulan ini saya baru bisa menemukan waktu tidur (saat kapan) saya bisa cukup leluasa membersihkannya, itu pun tidak konsisten. Hufth.. 

Perjalanan belajar menyikat gigi ini belum selesai. Masih ada kekhawatiran dalam diri saya kalau-kalau kesadarannya menyikat gigi hilang kembali, huhuuu.. Bismillah, Lahaula Walaa quwata illa billah.  

Matrikulasi IIP Batch #2: Nice Homework #1 Adab Menuntut Ilmu

Bismillah.

Kembali menulis, menulis kembali. Setelah sekian waktu tak menulis hingga project #ODOPfor99days tak bisa saya selesaikan, Alhamdulillah Matrikulasi IIP Batch #2 ini mengembalikan gairah menulis saya yang sempet hilang. Hehee. Mudah-mudahan istiqomah 😀

Tidak ada yang kebetulan, semua berjalan atas takdir-Nya. Saya, yang semenjak mendapat amanah sebagai seorang ibu, menjadi lebih sering membaca seputar tumbuh kembang anak, parenting, dkk. Hingga satu hari qadarullah saya membaca artikel tentang seorang ibu hebat yang berhasil mengantarkan putra-putrinya menjadi orang sukses yang bermanfaat dengan mendidiknya di rumah (homeschooling), Ibu Septi Peni Wulandani. Sejak saat itu saya lebih mencari tau tentang beliau dan komunitas yang beliau miliki. Dengan bergabung di Grup FB IIP Bandung, saya berkesempatan bergabung dengan grup WA sehingga kami bisa lebih interaktif dan pada akhirnya saya bisa mengkuti Matrikulasi IIP Batch #2 ini.

Pada Nice Homework #1 mengenai Adab Menurut Ilmu ini, tangan saya kembali mencari kertas kosong dengan pulpen hitam yang akhir-akhir ini hanya saya pakai untuk menggambar pesawat kesukaan Shidqi 😂  Tapi kali ini bukan untuk menggambar pesawat, kali ini saya harus membuat peta tentang jurusan ilmu apa yang akan saya tekuni di universitas kehidupan ini. Saya tipe orang visual yang harus menuangkan pikiran dalam bentuk sebuah tulisan atau pun peta (walaupun sampai saat ini belum mahir membuat mind mapping). Setelah corat-coret dan sempat berbincang dengan suami, ternyata memang saya sangat mencintai dunia pendidikan. Saya suka mengajar, saya senang bertemu dengan para siswa. Qadarullah  saya sudah diamanahi menjadi seorang guru di sekolah formal saat masih kuliah semester lima. Sejak saat itu saya semakin giat dan semakin paham bidang ilmu yang sedang saya pelajari. Kenapa begitu? karena saat itu saya kuliah di jurusan yang kurang saya minati, sehingga saya kurang sungguh-sungguh (T_T). Baru ketika saya mengajar dan harus menjelaskan materi pada para siswa, saya ngeh kalau saya butuh ilmu itu dan harus benar-benar paham.

Setelah Shidqi lahir, saya hanya bertahan dua bulan mengajar. Atas permintaan suami dan pertimbangan saya pula, akhirnya saya memutuskan untuk resign. Semenjak saat itu saya menjadi seorang istri dan ibu yang mengabdi di rumah. Sempat beberapa kali mengabdikan diri di masyarakat dengan menjadi guru dan yang terakhir pembimbing rumah baca, tapi tidak bertahan lama. Saya senang melakukannya, tak ada beban apa pun saat harus menggendong Shidqi sepanjang jalan karena jarang angkutan umum, tapi ternyata ilmu yang saya miliki tentang Bunda Sayang dan Bunda Cekatan yang ada dalam kurikulum Ibu Profesional belum lulus. Masih ada protes dari suami dan Shidqi saat saya mengerjakan hal lain di luar rumah, sehingga dengan berat hati saya mengundurkan diri sebagai guru di Rumah Qur’an dan menutup Rumah Baca yang baru berjalan satu bulan.

Sejak kembali memutuskan untuk tidak (dulu) berkegiatan di luar rumah, saya memilih untuk berbenah diri sebagai istri dan ibu dengan mempelajari dunia pendidikan keluarga (termasuk di dalamnya parenting). Mengapa? Saya sangat sadar, ketidakmampuan saya dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak akan berdampak besar, tidak hanya bagi akhirat yang sudah tentu akan dimintai pertanggungjawabannya dan ini sangat berat, di dunia pun saya akan kesulitan untuk bisa berkarya menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat sebelum saya menyelasaikan tugas saya sebagai istri dan ibu yang baik. Saya masih memiliki mimpi untuk bisa berdiri di depan para siswa (entah itu anak-anak, remaja maupun dewasa) untuk bisa beramal jariyah. Dan ilmu terpenting yang harus saya miliki karena harus saya amalkan adalah ilmu tentang pendidikan keluarga. Semoga dengan mempelajari ini dan mampu mengamalkannya, saya mampu mempelajari ilmu lain yang juga saya butuhkan.

Untuk bisa mempelajari Ilmu tentang pendidikan keluarga, strategi yang akan saya lakukan : 1) Rajin membaca. Membaca buku dan artikel yang berkaitan dengan pendidikan keluarga, serta pandai membaca alam. Saya akan mulai menjadwal dan meluangkan waktu untuk membaca buku (biasanya di waktu luang aja, hihi ) 2) Bergabung dengan komunitas yang mendukung, seperti IIP, komunitas HS, dll. Dengan begini, saya serasa berada di lingkungan ibu-ibu sholehah yang semangat belajar. Tentunya saya pun akan mendapatkan ilmu. 3) Lebih sering berdiskusi dan membangun komunikasi produktif bersama suami, ini sangat penting untuk membangun kesamaan persepsi, 4) Menulis. Selain menjadi istri dan ibu yang baik, hal lain yang suami minta dari saya adalah menulis, tentu dengan tidak menganggu stabilitas kerumahtanggan 🙂 Semoga dengan mempelajari ilmu pendidikan keluarga dan menuliskannya kembali semampu saya, menjadi pengingat bagi saya dan manjadi awal kebermanfaatan saya bagi yang membutuhkan. 4) Mengikuti seminar, pengajian dan kegiatan-kegiatan serupa, untuk yang satu ini saya masih kesulitan jarak. Di kota tempat saya tinggal sekarang, sangat sulit mendapati acara-acara berbau pendidikan keluarga. Kalau pergi ke kota lain, harus berpikir dua kali untuk membawa atau meninggalkan Shidqi. Mudah-mudahan secepatnya bisa kembali ke kota tempat kami bisa belajar lebih banyak dan diberi rezeki untuk beli kendaraan yang nyaman, Aamiin 🙂

Setelah mendapatkan materi tentang Adab Mencari Ilmu, saya sangat khawatir dengan adab pada diri sendiri poin pertama. Jika ada ilmu yang selama ini sulit saya pahami dan amalkan, jangan-jangan itu karena hati saya yang belum bersih. Itu menjadi PR terbesar bagi saya, senantiasa membersihkan hati agar ilmu yang dipelajari mudah dipahami dan diamalkan. Begitu pun dengan adab-adab yang lain, setelah mengetahuinya, saya serasa menjadi murid yang tak beradab. Astagfirullah. Kembali mengosongkan gelas ketika akan mendapatkan ilmu juga harus saya latih. Begitu pun ketika akan menuliskannya kembali, harus benar-benar meminta izin dari penyampai ilmu.

 Alhamdulillah.