Penting Banget untuk Kami, Si Kontraktor

Penganten baru, cie..cie..
Asik dong ya jadi pengantin baru, dunia serasa milikberdua, yang lain ngontrak aja, hihiii..
Udah nikah pengen punya rumah sendiri dong? Iya lah, iya dong 😀
Tapi boro-boro punya uang buat beli rumah, kuliah aja baru beres, eh malah saya nya belum beres :D. Takdirnya menikah dengan pasangan yang belum mapan finansial, yang masih kerja keras cari kerja yang sesuai. It’s Ok!
“Saya siap koq nemenin Kakang menuju kesuksesan itu!”
Cie..cie..
Itu! Saya menikah dengan seorang laki-laki yang berusaha menjaga diri dan agamanya serta siap menggantikan bapak saya untuk bertanggung jawab atas saya sepenuhnya, walaupun ia belum mapan. :’)
Termasuk tempat tinggal, salah kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Saat menikah, posisi saya dan beliau ada di kota rantau dengan status anak kos. Setelah menikah, suami ikut tinggal di tempat kos saya yang alhamdulillah boleh membawa suami. Waktu itu tempat kos saya memang rumah yang hanya saya aja kos di sana, yang punya kos sudah kenal baik dengan saya jadi alhamdlillah beliau mengizinkan suami tinggal bersama saya, yang saat itu masih berstatus mahasiswa PPL.
Takdirnya masih jadi mahasiswa, alhamdulillah kami jadi tidak dihadapkan dengan pilihan tinggal di pondok mertua indah 😀
Waktu berjalan, kami ingin memiliki ruangan yang lebih luas dan lebih privat lagi, Akhirnya kami beranikan diri untuk mencari rumah kontrakan. Ada beberapa prinsip yang jadi acuan kami dalam mencari rumah. Pertama, lingkungan. Ini yang sangat mahal, baik buruknya lingkungan akan berpengaruh kepada kita, apalagi jika sudah memiliki anak. Lingkungan menjadi faktor utama yang kami jadikan prinsip.  Gegerkalong adalah tempat yang sangat ideal yang pernah kami temui. Lingkungan yang kondusif karena ada DT yang tiap harinya ada kajian, pasar dekat, warung nasi banyak dan cukup murah untuk kantong pengantin baru yang masih mahasiswa, hehe.. Sebagai orang yang pernah merasakan iklim di DT, bahkan sampai saat itu pun kami masih berstatus sebagai santri karya alias bekrja di DT, sangat sulit bagi kami untuk move on dari Gegerkalong. Tapi ada alasan lain yang membuat kami tidak memilih Gegerkalong.
Kedua, iklim. Suhu, kelembapan, awan, hujan dan sinar matahari pada suatu daerah di jangka wangtu yang lama (menurut KBBI banget ini :p) menjadi prinsip kami selanjutnya. Selain lingkungan yang akan mempengaruhi kita, iklim pun sangat berpengaruh khususnya bagi kesehatan. Gegerkalong masih memiliki iklim yang cukup baik bagi kami, tapi sayangnya daerah Gegerkalong sudah sangat padat penduduk, sehingga membuat kami berat untuk tetap di sini. Berdasarkan alasan ini, kami mencari di daerah Bandung Utara. Untuk memenuhi prinsip pertama dan kedua ini, akhirnya kami memilih daerah Cigugur Girang Kecamatan Parongpong. Selain udara yang sejuk, masih ada kebun sayuran, di daerah itu juga ada saudaranya Pondok Pesantren DT, yaitu Eco Pesantren. Yess, ada jalan!
Lanjut yang ketiga, yaitu harga. Ada kualitas tentu ada harga dong ya, tapi kalau ada kualitas dan harga bisa lebih hemat lebih baik pastinya. Masih berbicara Gegerkalong yang tetap menjadi pembanding (karena lingkungan yang sudah sangat baik), Karena gegerkalong memang area penyewaan rumah (karena dekat dengan kampus ) maka harga pun cukup bervariatif, tergantung fasilitas. Nah untuk yang sudah berumah tangga tentunya ada hal lain yang harus dipertimbangan. Dan harga kontrakan satu rumah di sini cukup mahal. Harga kamar kos saya sebelumnya saja Rp 600.000 per bulan, belum listrik dan air, keamanan, dll. Mungkin ada juga yang harganya lebih murah, tapi kami harus ekstra dalam mencarinya. Harga satu kamar di sini hampir sama dengan harga satu rumah di tempat lain. Kebayang dong perbedaan satu kamar dan satu rumah? Dan akhirnya ada alasan penguat untuk hijrah dari Gegerkalong T_T
Keempat, dekat dengan Mesjid. Jika lingkungan pesantren seperti di Gegerkalong sulit di dapat, maka minimal rumah yang kita cari adalah rumah yang akses ke mesjid mudah. Dengan begitu, harapannya kita dekat dengan pusat keagamaan di suatu daerah.

Nah, empat hal di atas adalah prinsip utama kami dalam mencari tempat tinggal terutama jika kami sudah mendapatkan rizki untuk membeli rumah. Bagaimana pun tempat tinggal yang baik, akan menjadi salah satu keberkahan dalam berkeluarga. Bukankah salah satu kebahagiaan yang rasul sampaikan adalah rumah yang luas? Nah sebelum memiliki rumah luas (dalam arti sebenarnya), minimal kita memiliki rumah yang nyaman dari segi lingkungan, iklim, dan juga kantong. Semoga dengn begitu, hati kita akan lebih lapang dengan segala episode yang harus kita jalani saat ini.

“Ada empat diantara kebahagiaan: istri yang sholihah (baik), tempat tinggal yang luas, tetangga yang sholih (baik), dan kendaraan yang nyaman. Ada empat kesengsaraan: tetangga yang buruk, istri yang buruk, rumah yang sempit, dan kendaraan yang buruk.”(HR. Ibnu Hibban)

Palasari, 2 April 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s