Benar, Anak adalah Ujian

Hari ini adalah salah satu hari bernoda yang sudah saya lewati. Saya yakin bekas paku yang telah terlanjur dihujamkan akan tetap berbekas, walaupun sudah sakitnya sudah mereda bahkan sembuh.
Adalah saya, yang hari ini telah kalah oleh rayuan syaitan yang sejak berhari-hari lalu membisiki. Perasaan ini ternyata salah saya tanggapi. Khawatir tentang keberadaan saya yang akan mengganggu kenyamanan orang lain ternyata salah, kekhawatiran saya tentang iru telah membuat syaitan masuk ke dalam pikiran saya. Membisiki, berkata bahwa saya adalah beban dan penyebab kekacauan, lalu berusaha merangkainan kalimat yang membuat saya terlihat mengalah dan bersalah. Ternyata semua itu adalah tipuan!

Tidak hanya saya yang digoda. Orang tua itu pun begitu, anak-anak kami pun begitu. Selalu saja ada hal menggemaskan yang harus diperebutkan oleh kedua anak ini. Selalu saja ada kejahilan yang dilakukan oleh anak yang lebih besar itu! Dan selalu saja ada barang yang diinginkan dari anak kecil ini! Lalu, entah apa yang menyebabkan si orang tua ini tiba-tiba bersikap aneh, menghindari setiap keberadaan kami, menjauhkan kedua anak ini bahkan anak seolah memenjara anak yang lebih besar itu dalam ruangan bernama rumah, bersamanya.
Syaitan memang selalu bersekongkol, ia bersinergi untuk menjatuhkan kami. menggoda kami dari berbagai arah, demi kemenangannya!

Saat puncak pun tiba, saat kondisi saya sangat lemah, dan godaan semakin berat dari kedua anak ini, maka rangkaian kata yang syaitan buatkan kahirnya saya ucapkan,
“Sabar ya, sebentar lagi Shidqi balik lagi ke Bandung koq!” Denga nada yang saya yakin tidak cukup menyamankan orang yang mendengar. Rasa puas saya rasakan, itu tandanya syaitan sedang merayakan kemenangan! Astagfirullah

Penyesalan pun datang saat mengetahui si orang tua menangis sejadi-jadinya, merasa bersalah atas sikapnya. Meminta maaf dan menjelaskan apa yang dirasakannya. Begitu pun saya, rasa bersalah telah mengeluarkan kalimat tadi meliputi saya. Saya jelaskan maksud Dari perkataan saya, bukan karena keberadaanya melainkan karena kekhawatiran yang saya rasakan serta harapan yang sedang kami ikhtiarkan untuk kembali lagi ke perantauan. Akhirnya kami saling merangkul dan saling bermaafan. Tak saya lewatkan pula untuk sedikt menasihati si anak yang lebih besar untuk bersikap lebih baik agar tak merepotkan (orangtua) yang mengasuhnya.

Mengasuh anak bukan hanya tentang menemaninya secara fisik, yang akan mengakibatkan lelah. Tapi seluruh komponen seorang manusia harus dihadirkan dalam mengasuhnya anak. Fisik, jiwa, akal dan hati harus bekerja sama untuk menciptakan suasana yabg nyamana bagi anak, juga kami, pengasuhnya. Jika salah satu komponennya tidak siap,apalagi hati, maka kelelahan hati tidak akan hilang hanya dengan memejamkan mata.

Mengasuh dan mendidik anak adalah proses panjang yang membutuhkan banyak ilmu dan pengalaman. Karena benar, anak adalah salah satu ujian. Maka ilmu untuk lulus dari ujian ini harus segera kita cari sebelum terlambat, agar setiap proses yang kita lalui dalam setiap episodenya bisa kita rasakan dengan nikmat dan penuh kesyukuran serta kesabaran.

Palasari, 30 Maret 2016

Ibu yang masih belajar

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s