Shidqi dan Lego

Pertama kali kami membeli lego saat Shidqi berusia satu tahun lebih beberapa minggu. Permainan ini memang belum sesuai dengan usianya, tapi melihat antusiasnya untuk menumpuk beberapa benda akhirnya kami belikan lego. Saat itu di sekitar tempat tiinggal ada banyak anak kecil usia TK dan SD, Shidqi tampak menikmati bermain bersama mereka. Alhamdulillah dengan adanya lego, kami semakin akrab dan sering main bersama. Anak-anak itu cukup terampil membuat beberpa bentuk dari lego, kadang saya buat menjadi kompetisi agar mereka semakin tertantang. Saat itu Shidqi belum paham, lpaling dia hanya pegang.-pegang saja.

Makin ke sini, ia makin paham dan meniru apa yang teman-temannya lakukan. Ayahnya sering pula mengajaknya bermain lego dengan membuatkan pesawat lalu dibuat cerita yang menarik. Mungkin hal itu pula yang menarik minat shidqi untuk mencobanya juga. Proses Shidqi bermain lego ini merupakan proses yang paling unik dari berbagai proses bermain yang ia lakukan. kadang lego-lego itu bikin Shidqi baper, bahkan tantrum.

Awal-awal sering sekali Shidqi tantrum gara-gara belum bisa menyusun lego, saya sebisa mungkin memberinya pengertian, baik tentang menghadapi perasannya atau tentang cara menyusun lego yang benar. Alhamdulillah ikhtiar saya dan suami tidak sia-sia, beberapa bulan kemudian Shidqi bisa menyusun lego nya tanpa bantuan saya. Intensitas baper gara-gara lego nya pun sedikit berkurang. Kalau sulit banget baru dia baper 😀

Hal yang menarik ketika ia sudah mampu berimajinasi dengan lego yang ia buat. Ia bentuk pesawat, mobil, kereta, ada juga menyusun lego dengan bentuk atau warna yang sama.
image

#ODOPfor99days
#day81

Membuat Garasi Mobil ala Shidqi

Jumat, 29 April 2016

🌵🍄🌸🌵🍄🌸🌵🍄🌸

                        Format
   Dokumentasi Pembelajaran

🍄 Grup HSMN: Sabumi 3

🍄 Nama: Shidqi Abdullah M.

🍄Tema: Membuat Garasi Mobil

🍄Tujuan pembelajaran:
*melatih keterampilan tangan
*menyusun kotak sebangun
*melatih ketelitian
*melatih kesabaran
*mengajarkan memanfaatkan barang bekas

🍄Usia anak :
25 Bulan 14 hari

🍄Media : kardus, kotak susu (bekas), gunting, lem, hiasan lain (optional).

🍄Proses :
Bunda
*Gunting kardus besar
*Gunting kotak kecil bekas susu, lalu cuci dan lap kering.
*Mencontohkan menyusun kotak

Shidqi
*Bantu ambilkan lap
*Bantu mengelap kotak susu
*Menyusun kotak sesuai yang sudah saya contohkan
*Memasukkan mobil ke dalam setiap kotak

Hari ini kegiatan crafting nya hanya sampai menyusun kotak, belum dilanjutkan proses lem dan menghias. 
Lem digunakan agar susunannya lebih kuat dan kokoh.

Selamat mencoba
image

image

image

#ODOPfor99days
#day85

Tebak Karya Shidqi

image

Coba tebak,  apakah ini?
Yeeeah, ini adalah es krim.  Warna kuning jadi batangnya.  Warna hijau, biru dan merah adalah es krim buah yang manis dan segar.  Syyrruuup, begitulah kira-kira kalau Shidqi lagi memperagakan menjilat es krim.  Hehee.. 

image

Gambar apakah yang ada dalam foto itu?
Kompor jawabannya, hihiii..  Dengan 4 buah kepingan hadiah dari cho*o*hip ini Shidqi berimajinasi untuk membuat kompor, lalu di atasnya ia simpan wadah kecil, seakan-akan sedang memasak, wkwkwk..  Beginilah efek anak yang sering diajak bertempur di dapur 😆

image

Masih dengan kepingan hadiah sereal, apakah yang dipegang Shidqi?
Pesawaaaat, kendaraan favorit yang belum ada tandingannya. Dengan bentuk yang hampir sama dengan bentuk kompor, tinggal diangkat seolah terbang, maka jadilah pesawat, hihiii..  Kreatif emang kamu, Nak! 😘

#ODOPfor99days
#day84

Berwarna Memang Lebih Indah

image

Mengenal warna, salah satu aktivitas yang sudah bunda persiapkan untuk Shidqi.  Walaupun sampai saat ini  masih belum berhasil mengenal dan membedakan warna, tapi insyaallah bunda akan tetap semangat mengenalkannya. Sudah berbagai aktivitas mengenalkan warna dilakukan, sorting warna mulai hanya dari dua warna saja,  memperlihatkan dan mencari benda berwarna tertentu, menyebutkan setiap warna yang ditemui, mencocokan warna, bikin puding mozaik pakai beberapa warna, dll tetap masih pabaliut kalau ditanya warna apa.  Hijau lagi hijau lagi jawabnya, hehee.. 

Pernah sekali sorting warna, dari berbagai warna yang ada, Shidqi hanya tertarik untuk mengumpulkan  warna putih saja.  Putih saja, tidak yang lain, biarkan warna lain bercampur aduk, saya juga gak tau kenapa hanya putih saja yang ia kumpulkan.  Pernah lagi makan puding susu yang dalamnya saya isi dengan potongan agar-agar bermacam-macam warna, dan dia berhasil mengumpulkan potongan agar-agar berwarna merah lalu dengan lahap dimakan sampai habis. Setelah merah habis, warna biru jadi pilihan selanjutnya. Dan berhasil mengumpulkan semua potongan berwarna biru dalam puding itu. Alhamdulillah. 

Pernah suatu kali saat persiapan buat sorting warna untuk yang kesekian kalinya sudah ok, tapi tetep aja Shidqi gak mau, malah minta plastik/botol, dan di masukanlah ke plastik itu si batu berwarna 😑 saya curhat ke suami, “Ayah atuh kenapa ih Kaka teh gak mau aja misahin sesuai warnanya?”  suami saya cuma bilang, “Gak apa-apa Bunda, mungkin Kaka mah lebih suka menyatu warnanya, kan jadi lebih indah kelihatannya.  Tuh liat, bagus kan? Kaka mah gak suka dibeda-bedain, bersatu pada lebih baik.  Gitu.”  Dengan santainya suami menjawab seperti itu.  Tapi jawaban ceplas-ceplos itu membuat saya lebih lega, bisa menerima dan lebih menyadari bahwa tugas saya hanyalah sebagai fasilitator seorang anak yang juga punya keinginan sendiri.

image

image

image

#ODOPfor99days
#day83

Sahabat Shidqi: Abang Abey

image

Namanya Emil Abinaya, biasa dipanggil Abang Abey.  Anak kedua dari tiga bersaudara ini asik banget kalau udah disediakan mainan, apalagi mainan yang baru ia temui.  Shidqi anteng banget kalau udah main sama Abey, malah cenderung posesif.  Abey gak boleh pulang atau malah harus mainin apa yang shidqi mau 😑 untungnya stok sabar Abang Abey untuk Shidqi cukup melimpah, jadi masih rada aman.  Tapi koq kalau sama adiknya sendiri malah sering berantem ya? Entah kenapa, sampai-sampai tempat main mereka harus dipisah.  Hihiii.. 
Abey ini orangnya asik, udah bisa diajak diskusi dan diarahkan.  Sediakan aja mainan yang banyak, pasti dia anteng karena kalau bosen mainan yang satu bakal langsung pindah ke mainan yang lain. 

Abey dan Crafting
Beberapa kali kami bikin karya, dari barang-barang yang ada di rumah.  Menariknya Abey ini kalau saat itu lagi bikin suatu karya, seharian bisa Ibu-ibu terus yang dibuat.  Malah kadang besoknya dan besoknya lagi masih ia keterusan.  Misal, gambar pelangi, mungkin ada selusin kertas bekas yang ia pakai untuk melukis pelangi.  Perahu kertas dan pesawat kertas, karena ia excited sudah bisa membuat perahu, sebelum kertas habis terus saja ia buat perahu, sampai bosan 😆
Buat topeng juga sama, berkali-kali ia gunting untuk menghasilkan beberapa topeng untuk diperlihatkan ke mamanya.  Terakhir kemarin buat pesawat sari botol dan kardus bekas.  Niat hati ingin membuatkan untuk Shidqi.  Eh ternyata pas proses pengecatan ada Abang Abey.  Karena keukeuh ingin buat sendiri (untuk sendiri)  alhamdulillah proses pembuatan yang kedua juga berhasil, setelah dibantu cat oleh kakaknya, ia bawa hasilnya ke rumah.  Menurut cerita ART nya, hasil karya yang ia buat selalu disimpan di dalam lemarinya.  Gak boleh diganggu oleh siapa pun. 
Abey, Abey… 

Cita-citanya ingin jadi TNI, tetap keukeuh jadi TNI walaupun harus ditembak.  Katanya walaupun ditembak, Abey mah gak akan mati.  Hehehehe..  Efek main game perang-perangan kayaknya, hihiii..
Mudah-mudahan selalu tumbuh menjadi anak yang sholeh dan membanggakan yaa Bang Abey 😘

image

#ODOPfor99days
#day82

Kalau lagi gak mau nulis, emang buntu. Walaupun ide tulisan sudah ada dan waktu luang banyak, tapi kalau mood menulis lagi jalan-jalan entah kemana, sudah buyar semuanya. Waktu yang ditunggu-tunggu untuk menulis, lewat begitu saja.  Seperti sekarang  ini, sebetulnya sudah ada dua draft tulisan yang belum rampung, ditambah beberapa ide yang belum sempat dibuat draft.

Yapyap, dan saya menemukan salah satu penyebabnya, tepat pada saat saya mulai menulis tulisan ini. Banyaknya rencana yang ingin segera saya laksanakan.  Ya, itu dia salah satu penyebabnya.  Beberapa hari ke belakang ada dorongan lagi untuk merealisasikan taman baca yang beberapa bulan lalu sempat direncanakan.  Tepatnya ada permintaan les mata pelajaran untuk anak SD sih, tapi ujung ujungnya sekalian aja buka taman baca tea, hmmm.. 
Tapi memang obrolan itu membuat saya kembali merenungkan “kebermanfaatan”  saya di lingkung masyarakat.  Setelah saya lama tinggal di Bandung lalu bolak balik ke Subang dengan beberapa program kerja karang taruna yang sekarang entah seperti apa kabarnya, saya kembali saat ini dengan statis menikah dan sudah memiliki anak.  Dan ini menjadi tantangan tersendiri ketika harus turun kembali ke masyarakat.  Melihat kondisi pergaulan anak-anak dan remaja saat ini yang sudah mengkhawatirkan, memang sudah sepatutnya kita bergerak, minimal untuk lingkungan kita sendiri. Dan ini menjadi salah satu tanggung jawab saya, sebagai orang yang paham. Ini bukan masalah saya lebih paham dibandingkan mereka, tapi sebagai rasa tanggung jawab terhadap apa yang sudah saya tahu.

Aku Bisa Melepas Celana Sendiri

Palasari, 2 April 2016

Yeyeee… yeyeee…
Alhamdulillah… 

Sebuah pencapaian sudah Shidqi lewati hari ini. Hari ini Shidqi berhasil melepas celana sendiri. Beberapa hari terakhir memang dia sudah memperlihatkan ketertarikannya untuk melepas sendiri baju dan celanan yang dipakainya. Bahkan pekan lalu dia sempat beberapa saat tanpa sehelai pakaian pun, saya sih curiganya karena kepanasan. memang akhir-akhir ini Subang kembali panas, setelah intensitas hujan berkurang, kami mulai serasa dioven kembali, hehee 😀
Alhamdulillah kebiasaan itu tidak berlanjut, hanya dua atau tiga kali saja dia ingin seperti itu. Nah sepertinya itu adalah awal mula timbulnya keinginan bisa membuka baju sendiri, karena saya agak ogah-ogahan kalau dia minta buka baju bukan pada saatnya.

Pencapaian ini ada target waktu gak sih? Kalau yang ini, jujur tidak ada target sama sekali. Karena kami sudah mendapat ilmu tentang melatih kemandirian anak harus dimulai sejak dini, maka yang kami lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mulai dari hal terkecil yang ia bisa. Misalnya, minum sendiri, ambil apa yang dia mau, makan, toilet training , membereskan mainan, naik mobil-mobilan, dan apa pun yang kemungkinan sudah bisa dia lakukan, kami coba memberinya kesempatannya. Nah untuk memakai dan melepas pakaian, karena kami cukup tau kemampuannya, yang kami lakukan adalah memberikan motivasi kalau dia sudah besar, harus bisa pakai dan lepas baju sendiri, lalu kami tawarkan untuk mencobanya. Nah di beberapa hari terakhir ini, ternyata dia mau mencoba, kesempatan ini tidak saya lewatkn begitu saja. Walaupun waktu yang dibutuhkan akan lebih lama, tapi jika ada pembelajaran di dalamnya, saya akan menambah stok sabar yang saya punya. Prosesnya memang tidak selalu mulus, pasti akan ada sedikit atau bahkan banyak tantrum yang muncul akibat kegagalan yang ia hadapi. Kembali menjadi tugas ayah dan bunda untuk memberikan keyakinan bahwa ia bisa melewatinya. Jangan lupa, berikan ia pertolongan dalam proses latihan ini jika sudah terlihat sangat kesulitan. Apresiasi setiap pencapaian yang sudah ia lakukan. Ini dilakukan berulang, sampai dia benar-benar berhasil melakukannya. Ketika sudah berhasil, bukan berarti dia sudah mahir. Walaupun dia sudah bisa, tetap kita harua mendampingi nya sampai ia benar-benar mahir melakukannya. Jika tidak diulang hingga mahir, keberhasilan ini akan kembali mentah jika tidak dilatih.

Tentang target, yang jadi bahan renungan kami justru hal-hal yang kami targetkan sama sakali melenceng dari target yang sudah dibuat. Misalnya, bulan Maret lalu, ada dua target pencapaian yang harus Shidqi lewati, WWL dan Pee n Poop di closet. Pertengahan Maret lalu, Shidqi tepat dua tahun dan artinya dia harus segera disapih ASI. Ternyata target disapih saat dua tahun ini gagal, sampai saat ini dengan nyaman dia masih mimi 😱 Satu lagi pee n poop di closet, walaupun selama ini Shidqi sudah mampu melakukan keduanya di kamar mandi, tapi masih di lantai, belum di closet.
Dan ternyata kesalahannya ada pada FOKUS. Kami salah dalam melihat fokus. Ketika kami sudah memasang target, maka yang jadi fokus kami adalah hasil tersebut. Kami jadi kurang menikmati setiap proses yang harus kami lewati. Ini sangat menguras energi, bahkan kami merasa sangat lama dan terkadang menjadi sangat khawatir jika waktunya hanya tinggal sedikit untuk mencapai target tersebut. Buktinya, malah dua target yang sudah dipasang tidak berhasil satu pun.

Jadi mending gak usah ada target waktu kalau gitu ya? Nggak gitu juga, yang jangan dilakukan itu adalah fokus pada target. Itu. Sangat baik jika kita memiliki target waktu, apalagi disertai dengan detail tahapan proses yang harus dilalui. Jadikan itu hanya sebagai acuan serta evaluasi yang nantinya akan digunakan dalam rentang waktu tertentu. Adapun hasilnya sesuai atau tidak dengan target yang sudah ditentukan, bertawakallah! Usahakan kita fokus pada proses, menikmati setiap perjalanannya, mengambil pelajaran pada setiap fasenya, terus berusaha mengapresiasi setiap pencapaiannya, dan senantiasa berdoa memohon pertolongan Allah agar segera memampukannya. Yang terakhir inilah yang tidak kalah penting untuk ditanamkan dalam diri kita selaku orang tua. Setiap pencapaian yang anak raih bukanlah karena kita sebagai orang tuanya yang berhasil menstimulasinya, tapi semua itu adalah kehendak Allah yang menggenggam jiwa raga anak-anak kita. Sekreatif apa pun kita menstimulasi, jika Allah belum berkehendak, pasti tidak akan terjadi. Maka sangat penting di sini untuk bertawakal. Tentu diimbangi dengan ikhtiar ya, bukankah Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri?*
Maka jangan remehkan salah satunya, doa terbaik, ikhtiar maksimal, dan tawakal di setiap prosesnya adalah sebuah kesatuan kunci yang tidak bisa dipisahkan.

Pada akhirnya hanya rasa syukur yang dapat menambah kenikmatan dan keberkahan, serta rasa sabar yang akan terus menyertai ketiga kunci di atas lah yang akan mpertemukan kita pada kebahagiaan.