8 Hari Menuju Kematian: Hal Penting yang Harus Dilakukan

image

Beberapa hari ini Allah memberikan banyak peringatan pada saya, tentang kematian. Pekan lalu tetangga meninggal, padahal sebelumnya terlihat sehat bahkan masih bisa beraktivitas. Kemarin lusa teman satu grup pun meninggal, hanya terpaut beberapa tahun dengan saya. MasyaAllah, kematian itu benar-benar sebuah kepastian yang akan dilalui setiap orang. Rahasia kematian yang hanya tiga itu -waktu, tempat dan cara- tiada seorang yang mengetahui, bahkan kekasih-Nya sekali pun. Pernah beberapa waktu ke belakang saya merasakan ketakutan yang luar biasa untuk menghadapi kematian. Pertama, saat saya masih kuliah. Malam itu, setelah saya sholat tiba-tiba saya merasakan ketakutan yang luar biasa. Saya merasa ada malaikat maut di sekeliling saya yang sedang mengunggu saya untuk pergi. Hanya doa dalam tangisan yang saya lantunkan, sambil sesekali melihat ke sekitar untuk memastikan bahwa tak ada apa-apa. Sungguh, ketakutan itu melebihi ketakutan saya terhadap apa pun. Untuk keduakalinya perasaan takut menghadapi kematian itu datang setelah saya menikah. rasa takut itu persis dengan perasaan yang saya rasakan sebelumnya, saya takut jika saat itu adalah waktu saya harus berpulang. Saat itu yang terpikir adalah dosa yang belum saya taubati dan amal saya yang masih sedikit. Bagaimana ini? Dalam doa, saya sedikit merayu Allah agar memundurkan waktu berpulang saya, saya masih ingin memantaskan diri untuk mendapatkan Rahmat Allah. Kabar dari berbagai ceramah yang saya dapat, bukan amal yang akan memasukan kita ke surga, tapi Rahmat Allah. Dan saya sangat mengharapkan itu. Di kejadian yang kedua kalinya ini saya lebih bersyukur, ada suami yang  menenangkan saya dalam pelukannya. Dengan sabar beliau menasihati dan mengingatkan saya tentang perasaan yang menimpa saya. Alhamdulillah.

Sekali lagi, tak ada seorangpun yang mengetahui kapan ia akan mati. Tapi itu adalah satu-satunya kepastian yang akan datang. Bahkan satu detik ke depan yang masih kita yakini akan kita lalui, belum tentu kita temui. Saya yakin jika kita mengetahui kapan kita akan berpulang, maka tak ada satu pun manusia yang pada saatnya tiba ada dalam kelalaian. Jika saatnya sudah dekat persiapan pun dimulai, ibadah dan amal kebaikan semakin ditingkatkan. Pernah melihat seorang yang sudah memiliki ‘bonus usia’ lebih rajin ibadah dibanding kita yang masih muda? Mereka berpikir, akan mereka dulu yang akan dipanggil. Padahal salah, mungkin saja kita yang jauh lebih muda yang akan lebih dulu berpulang. Sekali lagi, tak ada seorang pun yang mengetahui kapan ia mati.

Jika hanya ada delapan hari yang tersisa untuk mempersiapkan kematian yang panjang ini, apa yang akan saya lakukan?

  1. Taubat
    Tak terhitung berapa banyak bosa yang saya lakukan setelah baligh. Ibadah belum sempurna, maksiat terasa nikmat, penyakit hati yang tak terlihat, dosa kepada suami, orang tua, anak, mertua, keluarga, dan teman-teman. Belum lagi kesyirikan yang tak terasa, pada suami, pada dunia, atau hal apa saja yang membuat kita melupakan Sang Pencipta. Maka satu-satunya jalan adalah bertaubat, saya akan meminta ampun sebenar-benarnya di delapan hari terakhir ini. Semoga taubat saya yang delapan hari akan mengurangi timbangan dosa saya.
  2. Hutang
    Saya akan menulis daftar hutang yang saya punya. Jika tidak sampai waktu untuk saya melunasinya, saya akan meminta pada keluarga untuk menyelelesaikannya. Saya masih memiliki banyak hutang buku yang harus dikembalikan. Saya akan sesegera mungkin mengepak, menghubungi pemilik buku, dan mengirimkannya seraya meminta maaf atas kelalaian saya meminjam bukunya terlalu lama. Pengumuman tentang hutang ini akan saya tulis di akun media sosial untuk segera menghubungi saya, khawatir masih ada hutang kepada seseorang yang terlewat.  Jika pun ada orang yang berhutang pada saya, saya ikhlaskan. Semoga menambah pahala bagi saya.
  3. Ibadah
    Sangat saya akui ibadah saya masih kurang. Bahkan saya tak memiliki amalan unggulan apa pun untuk menolong saya. Astagfirullah 😥
    Di delapan hari terakhir ini saya akan beribadah sebaik-baiknya sambil mempersiapkan kepulangan saya menuju Alam Barzah.
  4. Waris dan Sedekah Jariyah.
    Karena saya tidak bekerja, saya akan meminta kejelasan kepada suami tentang harta yang saya punya, atas nama saya. Agar ketika saya meninggal nanti, sudah jelas harta yang mana yang akan diwariskan. Selain itu dengan mengetahui harta milik saya, saya akan lebih leluasa beramal khususnya beramal jariyah dengan harta yang saya punya tersebut, bukankah amal jariyah menjadi amal yang pahalanya tak akan terputus walaupun kita sudah meninggal? Beberapa barang dan baju yang saya punya pun akan segera saya sedekahkan,untuk mengurangi hisab kelak.
  5. Silaturahim dan Meminta Maaf
    Kesalahan pada manusia tidak cukup dengan memohon ampun pada Sang Pengampun, maka saya akan berkeliling untuk meminta maaf. Tentu yang pertama kali saya mintai maaf adalah suami, karena ridho suami adalah Ridho Allah. Kemudian orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan saya, tak lupa mertua yang telah merelakan anak laki-lakinya, dan saudara dekat serta tetangga yang mungkin saja pernah saya lukai. Saya juga akan menyiapkan status permintaan maaf saya kepada teman-teman yang nun jauh di sana dan yang ada di media sosial, yang mungkin saja pernah merasa sakit hati oleh tulisan maupun perkataan saya.
  6. Menyiapkan Wasiat
    Akan saya tuliskan tentang apa-apa saja tentang yang ingin saya sampaikan kepada suami, anak, orang tua, dan keluarga terdekat. Tentang suami yang mungkin harus menikah lagi ketika saya sudah meninggal, tentang pendidikan anak serta tektekbengek perlengkapan sehari-hari, makanan, kebiasaan, dan lainnya. Kepada orang tua tentang harta yang dimilikinya agar digunakan sebenar-benarnya, juga tentang interaksi mereka dengan Al-Quran dan ibadah lainnya. Kepada keluarga besar yang saya tahu bahwa ada di antara mereka yang sholatnya masih bolong, sungguh saya ingin mengingatkannya. Semoga saya bisa melakukannya sebelum meninggal, minimal memberikan pesan lewat wasiat ini. Hal-hal lain tentang harta yang saya miliki, saya percayakan semua kepada suami yang lebih paham. Selain itu saya akan menyampaikan kepada suami untuk melanjutkan memelihara blog ini, semoga ada yang bisa mengambil manfaat dan menjadi amal jariyah bagi saya.

Itulah hal-hal penting yang akan akan saya lakukan di delapan hari terakhir perjalanan hidup saya. Sesungguhnya delapan hari ini adalah pengandaian, karena sampai kapan pun kita tak akan pernah tau kapan waktunya kita akan mati hingga kematian itu sendiri akan kita temui. Persiapan delapan terakhir ini tak boleh saya tunda, detik ini pun harus segera saya lakukan apa yang bisa saya lakukan. Semoga menjadi pengingat di saat kita terlena kehidupan dunia yang fana ini.

Sampai jumpa di Surga-Nya kelak, InsyaAllah.

Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway

 

 

Advertisements

7 thoughts on “8 Hari Menuju Kematian: Hal Penting yang Harus Dilakukan

    • Iyap betul sekali Mba, saya sama sekali belum punya ilmu untuk masalah ini.
      Padahal agama kita benar-benar memperhatikan tentang waris ini.
      Salam kenal juga Mba Rohma 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s