Perjalanan Pertama Subang-Bogor

Subang, 14 Januari 2016

Beberapa hari yang lalu sudah ada obrolan bahwa suami akan pergi ke Bogor. Seperti biasa perlu diskusi cukup alot supaya saya dan Shidqi bisa ikut, mengingat Shidqi sedang masa pengobatan.
Pagi itu tiba-tiba Suami menelpon Umi di Bogor, karena satu dan lain hal akhirnya saat itu juga suami mengajak kami untuk pergi ke Bogor pagi itu juga. Menunggu saya mempersiapkan perbekalan, suami ternyata mencari alternatif jalan yang dapat kami gunakan untuk pergi ke sana, selain via Bandung.
Setelah semua siap, kami pamit pada keluarga di Subang. Suami memutuskan untuk pergi melalu jalur Purwakarta. Saya percayakan sepenuhnya pada suami, Bismillah, kami berangkat melalu jalan yang belum pernah kami lewati sebelumnya.

Dari Subang, kami melewati Sagalaherang yang masih termasuk Kabupaten Subang menuju Purwakarta, yang merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Subang. Setelah masuk Purwakarta, GPS yang kami pantau dari HP selalu siaga. Saya bertugas untuk mengecek jika sewaktu-waktu harus belok kanan atau kiri. Namun berkali-kali saya salah mengira, karena saya tidak cukup hapal skala yang digunakan GPS dengan jarak asli, akhirnya setelah beberapa meter baru terlihat bahwa kami salah belok.
Setelah melewati kendaraan yang cukup padat merayap di Kota Purwakarta, kami sampai di gerbang Waduk Jatiluhur yang terkenal itu. Ada keinginan untuk mampir sebentar menikmati kekuasaan Allah dalam bentuk waduk alias bendungan raksasa ini, tapi barang bawaan kami cukup menguatkan alasan untuk tetap pada tujuan utama, Bogor.

Kami masuk ke area Waduk Jatiluhur, karena kami hanya akan melewati jalannya saja, Alhamdulillah kami tidak dikenakan biaya masuk. Jalanan yang cukup sejuk karen kiri kanan jalan masih rimbun pepohonan. Kami melewati jalan yang sebelumnya diberitahu bapak penjaga pos, lalu kami cocokan dengan GPS, Alhamdulillah cocok. Kami melewati beberapa bangunan yang sepertinya pabrik, di jalan ini, benteng pertahan alias benteng yang menahan air waduk yang luas itu terbentang sangat tinggi dan panjang di hadapan kami. Rasa haru, takut, dan bahagia bercampur menjadi satu saat melihat bentangan itu. Sampai pada akhirnya kami keluar dari kompleks Waduk Jatiluhur menuju jalan selanjutnya. Jalanan beton yang cukup panjang membentang di hadapan kami, sebelah kiri kami terlihat hamparan air Waduk Jatiluhur yang terbentang luas. Ungkapan syukur tiada hentinya kami ucapkan, rasa terimakasih juga tak lupa saya sampaikan pada suami yang telah mengambil keputusan untuk melewati jalan ini. Kami. Berhenti sejenak untuk melepas lelah, sambil menikmati sejuknya angin danau buatan ini. Shidqi yang sebelumnya tertidur pun terbangun ketika kami berhenti di sini.
Hamparan air danau yang ditemani beberapa gugusan gunung ini membuat kelelahan perjalanan kami menjadi hilang. Sungguh, di sini indah sekali. Menyejukan mata dan hati. Di sebelah kanan jalan yang sedang kami lalui, berdiri kokoh gugusan pegunungan, entah gunung apa namanya. sepertinya kami pun akan melewati dalamnya salahs atu gunung tersebut. ternyata benar, kami melewati hutan bambu yang begitu rimbun, cukup panjang hutan yang harus kami lalui ini. Karena merasa cukup takut, tak banyak suara yang kami ucapkan, tiada henti saya berdzikir. Hingga kami sampai di perkampungan warga.
Jalanan yang bebatuan membuat suami lebih pelan mengendarai motor. Walaupun cukup membuat badan pegal, tapi kami tetap harus menikmatinya.

Entah berapa kali saya bertanya kapan sampai-kapan sampai, padahal saya sendiri yang memegang GPS, tapi kok ini GPS sepertinya tetap saja di titik itu. Udara yang kami lewati sudah berubah, hawa panas yang kini kami rasakan. Setelah melihat plang yang berdiri di jalan, ternyata kami sudah memasuki Karawang. Namun entah kawarang bagian mana, kami tetap berjalan sesuai petunjuk GPS. Walaupun dalam GPS sudah jelas tergambar, tapi tetap saja bertanya adalah pilihan yang sangat tepat. Setelah bertanya untuk sekedar meyakinkan bahwa jalan yang kami tempuh benar, kami semakin percaya diri. Hamparan persawahan yang hijau menyambut kami dengan hembusan anginnya yang sejuk. Beberapa ratus meter dari sana, suami setengah berteriak,
“Bunda, Ayah hafal tempat ini!” Nadanya semangat
“Beneran Yah? Sebentar lagi dong?” Saya tak kalah semangat, saking sudah pegalnya ini berjam-jam di motor.
“Iya, sebentar lagi”
Ternyata benar, tak lama kemudian saya pun mengenal jalan yang kami lalui.
“Yah, Bunda juga hafal tempat ini, Alhamdulillah sampai juga kita Nak!”
Saya kegirangan sambil memberi tahu Shidqi yang terlihat mulai bosan dibalik selimut ^_^

Alhamdulillah, walaupun ini bukan pertama kalinya kami ke Bogor, tapi ada sensasi yang berbeda ketika mengunjunginya melewati jalan lain.

Cariu- Bogor, kami sampai… 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s