Hari #1 Siapa Aku dan Alasan Membuat Blog: Sebuah Perjalanan Kembali Menulis

Yeaaaay! tanggal 4 akhirnya tiba juga. tamu yang ditunggu-tunggukini ada di depan mata,bahkan sudah masuk pada ruangan kita. Ya, waktunya setor tulisan pertama di grup menantang ini. Saya sangat yakin, akan menemukan bahkan mendapatkan banyak hal di komunitas ini. Bahkan sangat mungkin akan sedikit banyak mengubah kebiasaan saya. Pasti tak hanya saya yang memiliki motivasi ingin kembali aktif menulis setelah sekian lama terlena dengan berbagai kesibukan. Semoga ketika berkumpul dengan orang-orang yang satu tujuan, puzzle motivasi ini terangakai sempurna menjadi susunan indah dalam sebuah kebiasaan.

Melalui serangkaian proses berpikir dan bermusyawarah, alhamdulillah akhirnya saya memutuskan untuk lanjut mengikuti tantangan One Day One Post #99days ini. Sempat runtuh ketika suami tidak mengizinkan, namun alhamdulillah semua itu dapat saya lalui tanpa tangisan. hihii…
Kenapa tangisan? Saya termasuk orang yang mudah menangis ketika sesuatu menyentuh hati saya, tak hanya kesedihan, kepiluan dan teman-temannya, bahkan lihat orang yang sedang menangis pun saya ikut menangis >_< yang pada akhirnya saya tak mampu menyampaikan apa yang sedang saya pikirkan dan saya rasakan. Nah ini adalah salah satu kelemahan saya.

**************************************************************************

Tulisan di atas merupakan tulisan dua bulan lalu  yang belum rampung sampai saat ini. Rencanana ytulisan itu akan dijadikan setoran perdana di tantangan One Day One Post for 99 Days, yang isinya tentang perjalanan dan perjuangan menn. dapatkan izin suami untuk ikut tantangan ini. Tapi karena isinya kemana-mana malah hampir keluar dan topik yang dan pesan yang ingin disampaikan, jadilah saya hentikan tulisan ini dan mulai dengan topik baru yang konsepnya sudah benar-benar matang.
Hari ini, setelah sekian lama tidak blogging pakai laptop, saya menemukan draft tulisan yang belum selesai ini setelah sebelumnya embaca tulisan Mba Rinda Sukma tentang ilmu yang didapatnya saat mengikuti Kursus Online Blogging 101, lengkapnya bisa dilihat di sini.

Nah, dalam rangka melanjutkan tulisan basi ini. Saya akan coba menuliskan tugas hari#1 yaitu Tulis satu pos tentang siapa kita, lalu hubungkan dengan mengapa kita membuat blog.
Yap, mari kita mulai tugas pertama!
Saya Irna Rahayu, seorang istri dari Rahmat awaludin dan ibu dari Shidqi Abdullah Mubarak. Aktivitas saya sekarang adalah seorang ibu rumah tangga dengan berbagai tugasnya yang beragam. Sebelumnya saya adalah seorang guru Bahasa Indonesia yang mengajar di salah satu SMK di Bandung. Sebagai seorang ibu rumah tangga, saya merasa perlu banyak belajar terutama tentang bagaimana menjadi orang tua (ibu) yang baik.
Saya baru sadar sekarang, ternyata saya jauh tertinggal dari perkembangan zaman. Walaupun saya sekolah di sekolah favorit di kota saya, tetapi dalam hal teknologi ternyata saya cukup tertinggal. Waktu SMP, SMA bahkan kuliah, saya hanya menggunakan internet untuk mencari informasi yang standar saja, cari referensi untuk tugas dan media sosial hanya untuk rekreasi di dunia maya. Sudah selesai.
Setelah menikah, saya baru tahu arah mana yang harus saya tuju, komunitas mana yang harus saya ikuti, dan ilmu mana yang harus saya pelajari. Hingga pada akhirnya saya bertemu dengan komunitas menulis yang begitu mengena di hati, One Day One Post for 99 Days, berawal dari silaturahim dengan komunitas Ibu Profesional.

Tentang Menulis
Saya lupa kapan tepatnya saya berminat dengan dunia menulis, mungkin ketika SMA. Saat kelas dua SMA, ada pengalaman yang paling berkesan dari seorang guru Bahasa Indonesia yang tugasnya antimainstream yaitu membuat novel sebagai tugas satu tahun. Tugas yang cukup menantang bagi saya dan teman-teman yang lain. Setelah materi tentang menulis dan karya sastra kami dapatkan, saya mulai mengumpulkan ide untuk novel yang akan saya buat. berbagai ide bermunculan, satu persatu dicoret, sampai akhirnya pada satu ide yang menurut saya paling oke. Dan ternyata tantangan mulai muncul, terutama faktor M, Muaaaales yang ketika datang tak mengenal waktu. Sampai pada akhirnya, waktu kurang lebih sebulan terakhirlah yang paling efektif menyelesaikan tugas novel tersebut. Inilah saya, masih menggunakan the power of kefefet ketika mengerjakan tugas. Selain tugas novel tersebut, di satu komunitas yang saya ikuti yaitu Muslim Friends Subang, ada buletin yang terbit setiap bulan. Penulis buletin yang juga pembina komunitas ini, selalu memotivasi kami untuk belajar menulis dan menghasilkan sebuah tulisan. Beliau sudah merasakan sendiri hasil dari menulis, ketika tulisannya di muat di media, ada sejumlah uang yang akan beliau dapatkan.

Berlanjut ke bangku kuliah, Qadarullah saya masuk di jurusan yang tidak saya sukai, yaitu Pendidikan Bahasa Indonesia. Entah kenapa sejak SMP saya tidak tertarik dengan pelajaran bahasa Indonesia, mungkin efek dari sistem pembelajarannya yang kurang menyenangkan. Bahkan nilai UN Bahasa Indonesia saya pun kecil. Sekarang saya harus mempelajari seluk beluk bahasa Indonesia selama kuliah. Wow, tantangan yang luar biasa! Tapi dari sini saya banyak wawasan tentang kepenulisan, walaupun selama mata kuliah menulis belum ernah saya mendapatkan nilai A 😥
Dosen saya banyak yang jadi penulis, penulis buku maupun penulis lepas. Teman-teman saya pun banyak yang jago menulis, bahkan ada beberapa teman yang tulisannya berkali-kali masuk media cetak. Lalu bagaimana dengan saya? Hehee. Saat itu, baru sekedar niat dan keinginan saja untuk bisa menghasilkan tulisan, tapi belum diiringi dengan ikhtiar nyata dalam merealisaikannya. Saya lebih nyaman di dunia lain saat itu, sehingga kesempatan saya mendapatkan ilmu lebih banyak tentang kepenulisan lewat begitu saja. Sekarang baru menyesal. Walaupun belum ada kesungguhan dari saya untuk mendalami dunia kepenulisan, tapi keinginan jadi penulis ada lho, tertulis di daftar mimpi no 26, 27, 28 yang saya buat di hari ulang tahun saya ke 20. Aneh ya, mau jadi penulis koq gak nulis? Ckckckck…
Sampai pada akhirnya mimpi itu pun belum terwujud hingga sekarang. Wkwkwk

Lalu, kapan mulai kembali tertarik dengan menulis?
Saya kembali tertarik untuk menulis beberapa bulan lalu saat bergabung dengan komunitas Ibu Profesional yang dirintis Ibu Septi Peni Wulandari dengan suaminya. Saat itu saya bergabung dengan IIP Bandung, karena memang sedang berdomisili di sana. HIngga pada akhirnya IIP Bandung yang dimotori teh Shanty membuat grup One Day One Post for 99 Days. Merasa butuh dengan kebiasaan menulis ini, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti tantangan ini. Saya daftar.
Saya lupa, saya daftar tapi saya belum minta izin kepada suami. Bagaimana pun setiap aktivitas yang saya kerjakan harus sepengetahuan dan izin suami walaupun itu kebaikan. Saya yakin suami akan mengizinkan karena itu hal yang positif, tapi ternyata dugaan saya salah. Suami tidak mengizinkan dengan alasan yang cukup logis. Baiklah, saya terima keputusannya tanpa sanggahan. Hati saya kecewa dan sedikit kesal bin marah dengan keputusan beliau karena saya pastikan pikiran saya sedang tidak jernih dan kata-kata yang saya keluarkan pasti tidak akan mengubah keputusannya, justru menambah keruh suasana.
Keputusan saya sudah bulat untuk mengikuti tentngan ini. Saya berpikir dengan tenang dan mencari cara untuk meyakinkan beliau bahwa aktivitas ini tidak akan mengganggu kewajiban saya sebagai ibu rumah tangga.

Alasan beliau tidak mengizinkan saya ikut tantangan ini adalah terganggunya konsentrasi saya di rumah, khususnya saat mengasuh anak. Dengan saya mengikuti tantangan ini, suami sudah membayangkan apa yang akan saya lakukan dengan bertambahnya kewajiban saya untuk setor tulisan setiap hari. Suami khawatir saya semakin lelah dengan menambah daftar aktivitas sehari-hari, yang akhirnya ketika tiba malam hari, rasa kantuk dan lelah tersebut berwujud kekesalan pada anak dan suami. Ini masalahnya, saya  belum pandai mengatur emosi apalagi ketika rasa kantuk menyerang. Saya menyadari kekhawatiran suami, demi meminimalisir mudharat yang mungkin terjadi. Dari sana saya mulai berazam untuk kembali menata emosi saat kantuk dan lelah menyerang. Saya kuatkan tekad untuk bisa mengikuti kelas ODOP for 99 Days tanpa meninggalkan kewajiban urusan rumahtangga, suami dan anak. Akhirnya saya kembali menyampaikan kepada suami dengan sungguh-sungguh tentang ODOP ini dan berjanji akan berusaha mengendalikan emosi saat lelah dan ngantuk. Kalau tiba-tiba di tengah jalan suami menemukan saya melanggar, saya siap untuk ditegur dan berhenti tantangan ODOP tersebut. Alhamdulillah dengan kejernihan hati, kata-kata yang tulus dan kesiapan hati  (saat tetap tidak diizinkan) yang penuh tawakal, suami mengizinkan. Sejak saat itu saya kembali bergairah unuk menulis.

Mengapa Harus Blog?
Blog ini adalah blog ketiga yang sudah saya buat, yang pertama dan kedua sama sekali jarang saya sentuh bahkan saya lupa nama blog, username, dan password yang saaya gunakan. Blog saat ini saya buat satu bulan setelah Shidqi lahir, tujuannya untuk kembali melatih aktivitas saya menulis. Saat itu saya bertekad untuk menulis apa pun, tanpa harus memikirkan hal yang sulit. Menulis seadanya dan semampunya. Tapi sejak blog ini dibuat, tanggal 27 Apil 2015 hanya beberapa tulisan saja yang berhasil saya published. Sampai pada akhirnya bertemu tantangan ODOP for 99 Days, Alhamdulillah blog ini cukup sering saya isi.
Mungkin banyak media yang bisa saya gunakan untuk belajar menulis, tapi saya memilih blog karena koneksi yang mudah dijangkau dari mana pun, selama ada koneksi internet pastinya :D. Selain karena alasan itu, dengan menulis di blog kesempatan kita untuk menyampaikana kebaikan lebih luas dan orang yang mendapatkan kebaikan dan kebermanfaatan dari tulisan kita lebih banyak. Sebagai seorang ibu rumah tangga yang memiliki keterbatasan ruang gerak, biarlah rumah menjadi tempat ternyaman kami untuk sedikit berbagi kebaikan, InsyaAllah.

Perjalanan menuju kebiasan menulis ini tidak mudah, banyak rintangan yang pasti datang. Namun yakinlah, Allah akan meolong bagi siapa yang bersungguh-sungguh.

Selesai
Subang, 18 Maret – 20 Maret 2016

 

Advertisements

6 thoughts on “Hari #1 Siapa Aku dan Alasan Membuat Blog: Sebuah Perjalanan Kembali Menulis

  1. Ini namanya ‘a story with a twist’. Ending-nya tidak disangka-sangka. Boleh, boleh. Segala sesuatu yang tidak biasa menarik perhatian.

    Mestinya banyak yang ingin tahu kenapa suami tadinya melarang.

    Like

  2. Selamat! Menurutku bisa menyelesaikan pos sepanjang ini–meski dicicil–di antara pekerjaan rumah tangga dan momong anak balita dah prestasi. Aku nggak akan sanggup.

    Aku suka sekali Cicilan I pos ini. Alurnya betul-betul nggak bisa kutebak. Nggak kronologis. Sumpah bikin penasaran. Kalau misalnya di Cicilan I tertulis:

    “Saya Irna Rahayu. Seorang ibu rumah tangga. Yang tak berani melakukan–meski kebaikan–tanpa izin suami.”

    Itu aja dah powerful sekali. Meninggalkan kesan yang sangat dalam. Yang bikin orang pingin tahu lebih banyak tentang yang nulis. Kalau ada tambahan:

    “Saya simpan cerita tentang bagaimana izin suami akhirnya turun untuk pos berikutnya.”

    Besoknya aku pasti datang lagi untuk baca pos berikutnya. Saking penasarannya.

    Soal kesasar di Jurusan Bahasa Indonesia bisa digarap jadi satu pos terpisah tu, Mbak Irna. Karena menarik..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s