Satu Bulan Dua Tanggal: Ulang Tahun dalam Islam

image

Di bulan ini ada dua tanggal spesial bagi saya, yaitu hari ini tanggal 8 Maret, dan sepekan  kemudian hari ini tanggal 15 Maret. Spesial karena hari ini adalah tanggal lahir suami saya. Seperti biasa, tak ada ritual khusus untuk merayakan momen ini karena suami termasuk orang yang meyakini tak ada kebiasaan apa pun dalam islam untuk memperingati hari lahir. Ada pun doa yang disampaikan teman-teman, ya diaamiinkan saja.
Tapi ada yang mengganjal di hati saya, yang termasuk orang pertengahan. Hehee..  Saya belum seajeg suami masalah prinsip ini, dan saya bersyukur memiliki suami yang sangat konsisten dalam urusan perayaan ulang tahun ini, demi wara’ terhadap agama.
Tadi pagi saya tanya ke suami, “Ayah, hari ini tanggal 8 Maret. Ayah mau diucapin gak sama Bunda?”
“Nggak ah, ngapain..  ” jawab suami singkat.
” oke! “saya balas dengan tenang.
Beberapa jam kemudian,
” Ayah, mau dibikinin sesuatu gak? Kan hari ini ayah ulang tahun”
“Nggak Bunda! ”
Lalu beliau kembali terlarut dalam rangkaian kalimat yang sedang diketiknya.
Saat saya akan pergi ke pasar untuk beberapa keperluan, saya tanya lagi suami saya,
” Ayah, mau dibeliin sesuatu gak? Kue ultah gitu, atau apa?”
“Nggak usah, kalau mau mah beli aja bukan hari ulang tahun juga. Nggak ah! Beliin yang asin-asin aja.”
“Oke.. ” jawab saya singkat

Itulah rangkaian pertanyaan yang saya ajukan ke suami, sebagai bentuk penguatan atas pilihannya. Apa itu artinya saya masih belum percaya? Bukan, bukan tidak percaya. Bahkan saya sempat merasakan sendiri aroma ketidasukaan suami ketika ada teman yang merayakan ulang tahun saya dengan ritual meniup lilin dan potong kue. Hanya dalam hati saya masih ada harapan bahwa suami mengiyakan salah satu tawaran saya atau mungkin semuanya. Mengiyakan untuk diberi ucapan, walaupun sebetulnya tanpa diminta pun, doa selalu terpanjat, ungkapan sayang pun selalu kami sahutkan setiap hari. Mengiyakan untuk dibuatkan atau dibelikan kue ulang tahun, karena saya masih mengharapkan di ulang tahun Shidqi yang ke dua nanti, juga demikian. Ada kue yang bisa kami bagikan ke sodara atau pun tetangga walaupun tanpa perayaan tiup lilin. Itu saja sebetulnya. Sederhana memang, dan tidak terlihat hura-hura bahkan dengan alasan berbagi dan bersyukur.

image

Taman Bunga Nusantara, Fébruari 2016

Nah,  lalu bagaimana sih pandangan Islam sendiri tentang ulang tahun ini. Mengutip artikel dalam situs almanhaj.or.id ketika Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya tentang perayaan ulang tahun anak apakah termasuk tasyabbuh (tindakan menyerupai) dengan budaya orang barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarganya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjawab bahwa perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal ; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ، وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

“Dan semua perkara yang baru adalah bid’ah dan seluruh bid’ah adalah kesesatan dan seluruh kesesatan di neraka” (HR An-Nasaai no 1578)

Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.

Pertama.
Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (‘Ied). Tindakan ini berarti suatu kelalancangan terhadap Allah dan RasulNya, dimana kita menetapkannya sebagai ‘Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.

Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda.

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر

“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”. (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Kedua.
Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud no. 4031. Syaikh al-Albani berkata dalam Shahih Sunan Abu Daud 2/504: “Hasan Shahih”)

Lalu, masih ingat kalau dalam ucapan selamat ulang tahun ada saja yang mendoakan agar panjang umur? Ternyata panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya.

Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ﴿١٨٢﴾وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana amat teguh”. [Al-A’raf : 182-183]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah labih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan”. [Ali-Imran/3 : 178]

Tuh kan, tipis banget bedanya. Walaupun atas nama syukuran, pasti ada setitik niat atau lintasan hati bahwa perayaan tersebut memang dalam rangka merayakan hari lahir. Memang berat melakukan ini, apalagi jika harus berurusan dengan keluarga besar atau tetangga atau teman sepermainan  hehe..  Tapi jika dimulai dari keluarga kecil, mudah-mudahan menjadi cara kami juga berdakwah kepada orang terdekat.

Bismillah..  Mudah-mudahan istiqomah 🙏

Yaa Allah, jadikanlah kami dan anak keturunan kami muslim yang kafaah. Lindungi kami dari segala perbuatan yang akan merusak aqidah kami. Teguhkan hati dan jiwa raga kami dan anak keturunan kami untuk senantiasa menggenggam erat syariatMu.

Sumber

Hukum Merayakan Ulang Tahun Anak

#ODOPfor99days
#day52

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s