Mengenalkan Kesenian Tradisional Sisingaan Khas Subang

Subang, 27 Maret 2016

Hari Ahad ini tak ada agenda kemana-mana, setelah aktivitas pagi selesai seperti biasa saya bermain dengan Shidqi. Pagi itu mama dan bapak pamit untuk pergi ke sawah, melihat padi yang sebentar lagi akan dipanen. Menjelang tengah hari, mama yang baru saja pulang dari sawah mengabari ada sisingaan. Tau kan Sisingaan? Itu lho kesenian khas Subang berupa singa buatan dan diangkat oleh empat orang di setiap sisinya. Informasi lengkap tentang Sisingaan Kesenian Tradisional Subang bisa dilihat di sini.
Saya yang tadinya ogah-ogahan ke luar rumah melihat cuaca yang begitu panas, akhirnya luluh karena ingin mengenalkan Shidqi pada budaya tradisional tempat kelahirannya. Di Kota Subang, tepat di sebrang Wisma Karya ada patung Sisingaan dan Shidqi selalu antusias saat kami melewati patung itu sambil berkata, “Uwow Nda..” Dengan mata yang berbinar dan tatapan yang tak lepas hingga patung Sisingaan itu tak dapat lagi terlihat.  Tanpa pikir panjang saya langsung bersiap berangkat dan Alhamdulillah suami pun mau mengantar kami, supaya tak terlalu lelah akhirnya kami pakai motor plus payung untuk sedikit menghalagi sinar matahari.
Sisingaan ini biasanya didakan dalam rangka tasyakur bi nikmat  atau syukuran putra-putri si empunya hajat, para tetangga yang ingin mengikutkan anaknya pun bisa daftar ke yang punya hajat. Mereka cukup membayar biaya yang dibutuhkan untuk satu paket singa yang akan dinaiki.

Sebetulnya yang punya hajat ada di kampung tetangga, tapi karena supaya jarak pentasnya lebih panjang jadi lokasi awal dari kampung kami,tepatnya di perempatan jalan depan sekolah dasar di kampung kami. Saat kami tiba di sana, semua masih bersiap. Shidqi yang dari tadi terdiam di pangkuan saya mulai sedikit bergairah melihat kerumunan orang dan beberapa sisingaan yang berjejer. Setelah mendapatkan tempat yang cukup nyaman untuk menonton, tak lama kemudian Sisingaan pun dimulai. Suara kendang dan kawan-kawannya serta lantunan tembang yang dinyanyikan sinden membuat suasana semakin hangat.
Suami yang sejak tadi terdiam mulai bersuara, “Bunda Ayah mah asa terharu, jadi pengen nangis”
“kenapa gitu? Ayah inget masa lalu?” Tanya saya
“Bukan. Ini teh budaya kita orang Sunda, dan bapak-bapak yang sudah cukup tua ini yang maih bersedia melestarikannya. Padahal mungkin mereka gak dibayar besar untuk nanggung singa sejauh ini. Kita teh harus berterima kasih ke mereka.” Jelasnya
“Iya Ayah, udah atuh ah Bunda juga jadi ikut sedih”
Saya yang babarian berhasil membuat mendunganair mata, tapi alhamdulillah tdak sampai tumpah 😀
Obrolan tak berlanjut, suami saya langsung pergi dan mengambil beberapa gambar dengan kamera HP nya. Saya yang awalnya pesimis suami mau diajak nonton, karena saya paham dengan beberapa prinsip suami yang cukup kuat, ternyata saya salah besar. Walaupun beliau bukan penikmat seni apalagi pelaku seni, tapi beliau paham bahwa ini adalah salah satu kesenian yang ada di Budaya Sunda dan berterima kasih untuk yang sudah melestarikan. Tapi mungkin akan berbeda jika disuguhkan kesenian Jaipongan, wkwkwk 😛
Saya belum paham betul bagaimana mencari irisan antara budaya dan syariat, yang pasti di antara keduanya syariat harus didahulukan. Harus cari ilmu lagi ini mah ya.

Eh eh, balik lagi ke Shidqi yang lagi dikenalkan tentang kesenian Sisingaan ini, sambil nonton saya jelaskan sebisanya. Ternyata dia ketagihan, yang awalnya hanya ingin melihat di sana saja, saat orang lain berbondong-bondong mengikuti rombongan Sisingaan, Shidqi jadi ingin ikut. Saya pun mengalah, kami ikut rombongan. Baru beberapa meter saja, tiba tiba suara musik pengiring sisingaan berhenti. Kami pikir karena sudah masuk waktu dzuhur, walaupun tidak tahu apa yang terjadi di depan sana. Akhirnya momen ini kami gunakan untuk mengajak Shidqi pulang, walaupun dia masih antusias bukan pilihan yang tepat kalau harus terus mengikuti rombongan Sisingaan sampai selesai. Alhamdulillah dengan sedikit bujukan es krim akhirnya Shidqi luluh juga.

Advertisements

Sahabat Kecil Shidqi (1)

image

Aaaaa liat foto ini jadi kangen Bandung, Kabupaten Bandung Barat tepatnya, hehee..  Kangen Aa Risman, Aa Ian,  sama  Aa Ivan.  Mereka bertiga ini adalah jagoannya Umi Rina dan Abi Usman. Alhamdulillah selama kami tinggal di Cigugur, ada mereka bertiga yang selalu ngajak main Shidqi dan bikin rumah jadi makin rame. Ketiga nya cuma terpaut kurang lebih 2,5 tahun.  Belum kebayang saya punya tiga jagoan yang jarak usianya dekat. 
Aa Risman sekarang sudah kelas 1 SD, sekolah di SD Unggulan Nasywa. Bakat dan minat bisnisnya yang diturunkan dari abi nya sudah terlihat dari sekarang, ia pernah dapat juara pertama saat Market Day di sekolah.  Padahal masih kelas 1, tapi kemampuan marketingnya sudah bagus sampai-sampai dari sekian banyak peserta, Aa Risman yang paling banyak mendapatkan hasil penjualan. Anak kedua yang jadi anak sulung ini (Sebelum Aa Risman ada anak perempuan yang qadarullah dipanggil saat usia 3 bulan), cukup mampu menjadi kakak yang baik.  Bisa menemani adik adiknya bermain, lebih mengutamakan adiknya dengan sering mengalah, dan lebih sabar menghadapi adik adiknya, serta lebih dekat dan paham terhadap umi nya. Aa Risman  paling seneng kalau sudah diajak abi pergi, kadang ambil batang jualan, antar pesanan, survey ini itu, dan lainnya. Sifatnya yang penyayang bikin saya kangen nemenin dia main sama Shidqi.

Putra yang ke 2 yaitu Raihan, biasa dipanggil  Ian. Nah kalau Aa ian, sangat komunikatif. Paling seneng ngajak saya atau pun Shidqi ngobrol. Aa Ian termasuk yang betah banget berlama-lama di rumah saya, alhamdulillah Shidqi jadi ada temennya. Hehee.. 
Aa Ian, sekarang masih sekolah di TK B, sebentar lagi masuk SD.  Saat terakhir sekolah di TK A, Aa Ian sudah mulai tidak tertarik pergi ke sekolah. Padahal sekolahnya tepat di samping rumah, hanya terhalang dinding tinggi jadi harus muter jalannya. Nah setelah komunikasi, ternyata Aa Ian gak mau sekolah di sana lagi, mungkin bosan ya,  akhirnya umi abi nya sepakat memindahkan Aa Ian ke sekolah lain. Alhamdulillah semangat sekolahnya rajin lagi. Aa Ian ini termasuk yang memiliki keinginan yang kuat dan cukup mampu memengaruhi teman-temannya yang lain. Ingat Aa Ian jadi kangen cara bicaranya yang khas.

Yang ke 3, yang paling bule dan mirip umi banget adalah Aa Rivan, biasa dipanggil Ivan. Aa Ivan tahun kemarin sudah mulai masuk PG.  Sebelum masuk PG, tiap pagi saat kakak kakaknya bersiap ke sekolah, Aa Ivan ini dengan malu-malu intip ke depan rumah kami.  Karena rumah kami tepat bersebelahan, kadang Aa Ivan ngintip dari balik pagarnya.  Aa Ivan paling seneng ngajak main hotwheels sama Shidqi. Mungkin karena Shidqi lebih kecil darinya, walaupun ia anak bungsu, tetep aja berhadapan dengan yang lebih kecil mah ia juga jadi suka mengalah, hihiii..  Karena Ivan yang paling sering berinteraksi dengan Shidqi, sampai sekarang pun setelah hampir berpisah 6 bulan, Ivan masih melekat di pikiran Shidqi apalagi dengan baju-baju yang ia berikan.  Kalau sudah ganti baju, bujuk dengan baju Ivan aja, alhamdulillah manjur 😁
Aa Ivan sekolahnya di Kober Eco Pesantren. Kadang-kadang Shidqi juga ikut main ke sana, bahkan tanpa saya saking Ivan maksa Shidqi harus ikut. Saya kangen teriakan girang dia yang kadang gak jelas, hahaa..  Akur banget Shidqi sama Ivan.

Alhamdulillah selama di Bandung, saya punya tetangga yang baik-baik.  Salah satu kebahagiaan dunia itu tetangga yang baik, bukan? Dan ini sangat mahal. Panggilan Bunda, pertama saya dapat dari mereka (tentunya setelah saya minta)  supaya Shidqi juga ikutan panggil saya Bunda, alhamdulillah walaupun belum sempurna memanggil “Bunda” tapi ia sudah bisa panggil saya “Nda”  seperti yang ayahnya bilang.

8 Hari Menuju Kematian: Hal Penting yang Harus Dilakukan

image

Beberapa hari ini Allah memberikan banyak peringatan pada saya, tentang kematian. Pekan lalu tetangga meninggal, padahal sebelumnya terlihat sehat bahkan masih bisa beraktivitas. Kemarin lusa teman satu grup pun meninggal, hanya terpaut beberapa tahun dengan saya. MasyaAllah, kematian itu benar-benar sebuah kepastian yang akan dilalui setiap orang. Rahasia kematian yang hanya tiga itu -waktu, tempat dan cara- tiada seorang yang mengetahui, bahkan kekasih-Nya sekali pun. Pernah beberapa waktu ke belakang saya merasakan ketakutan yang luar biasa untuk menghadapi kematian. Pertama, saat saya masih kuliah. Malam itu, setelah saya sholat tiba-tiba saya merasakan ketakutan yang luar biasa. Saya merasa ada malaikat maut di sekeliling saya yang sedang mengunggu saya untuk pergi. Hanya doa dalam tangisan yang saya lantunkan, sambil sesekali melihat ke sekitar untuk memastikan bahwa tak ada apa-apa. Sungguh, ketakutan itu melebihi ketakutan saya terhadap apa pun. Untuk keduakalinya perasaan takut menghadapi kematian itu datang setelah saya menikah. rasa takut itu persis dengan perasaan yang saya rasakan sebelumnya, saya takut jika saat itu adalah waktu saya harus berpulang. Saat itu yang terpikir adalah dosa yang belum saya taubati dan amal saya yang masih sedikit. Bagaimana ini? Dalam doa, saya sedikit merayu Allah agar memundurkan waktu berpulang saya, saya masih ingin memantaskan diri untuk mendapatkan Rahmat Allah. Kabar dari berbagai ceramah yang saya dapat, bukan amal yang akan memasukan kita ke surga, tapi Rahmat Allah. Dan saya sangat mengharapkan itu. Di kejadian yang kedua kalinya ini saya lebih bersyukur, ada suami yang  menenangkan saya dalam pelukannya. Dengan sabar beliau menasihati dan mengingatkan saya tentang perasaan yang menimpa saya. Alhamdulillah.

Sekali lagi, tak ada seorangpun yang mengetahui kapan ia akan mati. Tapi itu adalah satu-satunya kepastian yang akan datang. Bahkan satu detik ke depan yang masih kita yakini akan kita lalui, belum tentu kita temui. Saya yakin jika kita mengetahui kapan kita akan berpulang, maka tak ada satu pun manusia yang pada saatnya tiba ada dalam kelalaian. Jika saatnya sudah dekat persiapan pun dimulai, ibadah dan amal kebaikan semakin ditingkatkan. Pernah melihat seorang yang sudah memiliki ‘bonus usia’ lebih rajin ibadah dibanding kita yang masih muda? Mereka berpikir, akan mereka dulu yang akan dipanggil. Padahal salah, mungkin saja kita yang jauh lebih muda yang akan lebih dulu berpulang. Sekali lagi, tak ada seorang pun yang mengetahui kapan ia mati.

Jika hanya ada delapan hari yang tersisa untuk mempersiapkan kematian yang panjang ini, apa yang akan saya lakukan?

  1. Taubat
    Tak terhitung berapa banyak bosa yang saya lakukan setelah baligh. Ibadah belum sempurna, maksiat terasa nikmat, penyakit hati yang tak terlihat, dosa kepada suami, orang tua, anak, mertua, keluarga, dan teman-teman. Belum lagi kesyirikan yang tak terasa, pada suami, pada dunia, atau hal apa saja yang membuat kita melupakan Sang Pencipta. Maka satu-satunya jalan adalah bertaubat, saya akan meminta ampun sebenar-benarnya di delapan hari terakhir ini. Semoga taubat saya yang delapan hari akan mengurangi timbangan dosa saya.
  2. Hutang
    Saya akan menulis daftar hutang yang saya punya. Jika tidak sampai waktu untuk saya melunasinya, saya akan meminta pada keluarga untuk menyelelesaikannya. Saya masih memiliki banyak hutang buku yang harus dikembalikan. Saya akan sesegera mungkin mengepak, menghubungi pemilik buku, dan mengirimkannya seraya meminta maaf atas kelalaian saya meminjam bukunya terlalu lama. Pengumuman tentang hutang ini akan saya tulis di akun media sosial untuk segera menghubungi saya, khawatir masih ada hutang kepada seseorang yang terlewat.  Jika pun ada orang yang berhutang pada saya, saya ikhlaskan. Semoga menambah pahala bagi saya.
  3. Ibadah
    Sangat saya akui ibadah saya masih kurang. Bahkan saya tak memiliki amalan unggulan apa pun untuk menolong saya. Astagfirullah 😥
    Di delapan hari terakhir ini saya akan beribadah sebaik-baiknya sambil mempersiapkan kepulangan saya menuju Alam Barzah.
  4. Waris dan Sedekah Jariyah.
    Karena saya tidak bekerja, saya akan meminta kejelasan kepada suami tentang harta yang saya punya, atas nama saya. Agar ketika saya meninggal nanti, sudah jelas harta yang mana yang akan diwariskan. Selain itu dengan mengetahui harta milik saya, saya akan lebih leluasa beramal khususnya beramal jariyah dengan harta yang saya punya tersebut, bukankah amal jariyah menjadi amal yang pahalanya tak akan terputus walaupun kita sudah meninggal? Beberapa barang dan baju yang saya punya pun akan segera saya sedekahkan,untuk mengurangi hisab kelak.
  5. Silaturahim dan Meminta Maaf
    Kesalahan pada manusia tidak cukup dengan memohon ampun pada Sang Pengampun, maka saya akan berkeliling untuk meminta maaf. Tentu yang pertama kali saya mintai maaf adalah suami, karena ridho suami adalah Ridho Allah. Kemudian orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan saya, tak lupa mertua yang telah merelakan anak laki-lakinya, dan saudara dekat serta tetangga yang mungkin saja pernah saya lukai. Saya juga akan menyiapkan status permintaan maaf saya kepada teman-teman yang nun jauh di sana dan yang ada di media sosial, yang mungkin saja pernah merasa sakit hati oleh tulisan maupun perkataan saya.
  6. Menyiapkan Wasiat
    Akan saya tuliskan tentang apa-apa saja tentang yang ingin saya sampaikan kepada suami, anak, orang tua, dan keluarga terdekat. Tentang suami yang mungkin harus menikah lagi ketika saya sudah meninggal, tentang pendidikan anak serta tektekbengek perlengkapan sehari-hari, makanan, kebiasaan, dan lainnya. Kepada orang tua tentang harta yang dimilikinya agar digunakan sebenar-benarnya, juga tentang interaksi mereka dengan Al-Quran dan ibadah lainnya. Kepada keluarga besar yang saya tahu bahwa ada di antara mereka yang sholatnya masih bolong, sungguh saya ingin mengingatkannya. Semoga saya bisa melakukannya sebelum meninggal, minimal memberikan pesan lewat wasiat ini. Hal-hal lain tentang harta yang saya miliki, saya percayakan semua kepada suami yang lebih paham. Selain itu saya akan menyampaikan kepada suami untuk melanjutkan memelihara blog ini, semoga ada yang bisa mengambil manfaat dan menjadi amal jariyah bagi saya.

Itulah hal-hal penting yang akan akan saya lakukan di delapan hari terakhir perjalanan hidup saya. Sesungguhnya delapan hari ini adalah pengandaian, karena sampai kapan pun kita tak akan pernah tau kapan waktunya kita akan mati hingga kematian itu sendiri akan kita temui. Persiapan delapan terakhir ini tak boleh saya tunda, detik ini pun harus segera saya lakukan apa yang bisa saya lakukan. Semoga menjadi pengingat di saat kita terlena kehidupan dunia yang fana ini.

Sampai jumpa di Surga-Nya kelak, InsyaAllah.

Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway

 

 

Perjalanan Pertama Subang-Bogor

Subang, 14 Januari 2016

Beberapa hari yang lalu sudah ada obrolan bahwa suami akan pergi ke Bogor. Seperti biasa perlu diskusi cukup alot supaya saya dan Shidqi bisa ikut, mengingat Shidqi sedang masa pengobatan.
Pagi itu tiba-tiba Suami menelpon Umi di Bogor, karena satu dan lain hal akhirnya saat itu juga suami mengajak kami untuk pergi ke Bogor pagi itu juga. Menunggu saya mempersiapkan perbekalan, suami ternyata mencari alternatif jalan yang dapat kami gunakan untuk pergi ke sana, selain via Bandung.
Setelah semua siap, kami pamit pada keluarga di Subang. Suami memutuskan untuk pergi melalu jalur Purwakarta. Saya percayakan sepenuhnya pada suami, Bismillah, kami berangkat melalu jalan yang belum pernah kami lewati sebelumnya.

Dari Subang, kami melewati Sagalaherang yang masih termasuk Kabupaten Subang menuju Purwakarta, yang merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Subang. Setelah masuk Purwakarta, GPS yang kami pantau dari HP selalu siaga. Saya bertugas untuk mengecek jika sewaktu-waktu harus belok kanan atau kiri. Namun berkali-kali saya salah mengira, karena saya tidak cukup hapal skala yang digunakan GPS dengan jarak asli, akhirnya setelah beberapa meter baru terlihat bahwa kami salah belok.
Setelah melewati kendaraan yang cukup padat merayap di Kota Purwakarta, kami sampai di gerbang Waduk Jatiluhur yang terkenal itu. Ada keinginan untuk mampir sebentar menikmati kekuasaan Allah dalam bentuk waduk alias bendungan raksasa ini, tapi barang bawaan kami cukup menguatkan alasan untuk tetap pada tujuan utama, Bogor.

Kami masuk ke area Waduk Jatiluhur, karena kami hanya akan melewati jalannya saja, Alhamdulillah kami tidak dikenakan biaya masuk. Jalanan yang cukup sejuk karen kiri kanan jalan masih rimbun pepohonan. Kami melewati jalan yang sebelumnya diberitahu bapak penjaga pos, lalu kami cocokan dengan GPS, Alhamdulillah cocok. Kami melewati beberapa bangunan yang sepertinya pabrik, di jalan ini, benteng pertahan alias benteng yang menahan air waduk yang luas itu terbentang sangat tinggi dan panjang di hadapan kami. Rasa haru, takut, dan bahagia bercampur menjadi satu saat melihat bentangan itu. Sampai pada akhirnya kami keluar dari kompleks Waduk Jatiluhur menuju jalan selanjutnya. Jalanan beton yang cukup panjang membentang di hadapan kami, sebelah kiri kami terlihat hamparan air Waduk Jatiluhur yang terbentang luas. Ungkapan syukur tiada hentinya kami ucapkan, rasa terimakasih juga tak lupa saya sampaikan pada suami yang telah mengambil keputusan untuk melewati jalan ini. Kami. Berhenti sejenak untuk melepas lelah, sambil menikmati sejuknya angin danau buatan ini. Shidqi yang sebelumnya tertidur pun terbangun ketika kami berhenti di sini.
Hamparan air danau yang ditemani beberapa gugusan gunung ini membuat kelelahan perjalanan kami menjadi hilang. Sungguh, di sini indah sekali. Menyejukan mata dan hati. Di sebelah kanan jalan yang sedang kami lalui, berdiri kokoh gugusan pegunungan, entah gunung apa namanya. sepertinya kami pun akan melewati dalamnya salahs atu gunung tersebut. ternyata benar, kami melewati hutan bambu yang begitu rimbun, cukup panjang hutan yang harus kami lalui ini. Karena merasa cukup takut, tak banyak suara yang kami ucapkan, tiada henti saya berdzikir. Hingga kami sampai di perkampungan warga.
Jalanan yang bebatuan membuat suami lebih pelan mengendarai motor. Walaupun cukup membuat badan pegal, tapi kami tetap harus menikmatinya.

Entah berapa kali saya bertanya kapan sampai-kapan sampai, padahal saya sendiri yang memegang GPS, tapi kok ini GPS sepertinya tetap saja di titik itu. Udara yang kami lewati sudah berubah, hawa panas yang kini kami rasakan. Setelah melihat plang yang berdiri di jalan, ternyata kami sudah memasuki Karawang. Namun entah kawarang bagian mana, kami tetap berjalan sesuai petunjuk GPS. Walaupun dalam GPS sudah jelas tergambar, tapi tetap saja bertanya adalah pilihan yang sangat tepat. Setelah bertanya untuk sekedar meyakinkan bahwa jalan yang kami tempuh benar, kami semakin percaya diri. Hamparan persawahan yang hijau menyambut kami dengan hembusan anginnya yang sejuk. Beberapa ratus meter dari sana, suami setengah berteriak,
“Bunda, Ayah hafal tempat ini!” Nadanya semangat
“Beneran Yah? Sebentar lagi dong?” Saya tak kalah semangat, saking sudah pegalnya ini berjam-jam di motor.
“Iya, sebentar lagi”
Ternyata benar, tak lama kemudian saya pun mengenal jalan yang kami lalui.
“Yah, Bunda juga hafal tempat ini, Alhamdulillah sampai juga kita Nak!”
Saya kegirangan sambil memberi tahu Shidqi yang terlihat mulai bosan dibalik selimut ^_^

Alhamdulillah, walaupun ini bukan pertama kalinya kami ke Bogor, tapi ada sensasi yang berbeda ketika mengunjunginya melewati jalan lain.

Cariu- Bogor, kami sampai… 😀

Good Habit :: Buku dengan Ilustrasi Gambar Menyentuh Hati

image

Hari ini ada beberapa kali helikopter lewat di lintasan langit tempat tinggal kami. Karena belum puas, Shidqi merengek ingin lihat helikopter lagi. Akhirnya buku tentang pesawat  menjadi senjata ampuh untuk mengalihkan keinginan itu. Berkali-kali lembaran itu dibuka, entah berapa putaran hingga lupa tentang helikopter lewat.
Main lego, main sepeda, kejar-kejaran, dan suara tet tot si memang tukang jualan keliling pun terdengar,
“Da, Mang..  Au..”
Bunda, ada Mamang. Mau. Begitu katanya.
“Boleh, Bunda ambil uang ya..  ”
Saya pikir akan ambil susu, karena biasanya ambil susu uht. Eeeeh ternyata dia ambil permen, ooo tidak.
Karena tidak kasian mamangnya nunggu lama kalau harus bujuk Shidqi, ahirnya daya bayar itu permen dan beli satu susu uht. Waktu minta buka, saya ambil lalu saya simpan di balik baju, Shidqi pun berontak, menangis, lalu segera saya ganti dengan susu uht, alhamdulillah berhasil dan habis dalam sekejap. Ternyata masih ingat permen, minta lagi permen. Saya tunjukkan tidak ada (sudah saya pindahkan ke tempat lain), akhirnya meledak tangisannya. Dengan cepat saya menggendongnya, lalu kami ke kamar mengambil susu lain yang masih tersisa. Saya dudukkan ia di kasur, siapa tau mau tidur karena memang sudah waktunya tidur siang. Susunan ia minum sedikit, lalu saya keluarkan buku barunya tentang McQueen dan Good Habbit.

Buku pertama yang yang ia buka adalah McQueen. Setelah berkali-kali dibuka, akhirnya bosan. Lalu ia pindah lain yang saya sediakan, buku yang judulnya Good Habit. Sebelumnya buku ini sudah dibaca dan Shidqi memperlihatkan ketertarikannya pada buku tentang kebiasaan baik ini. Selain warna yang menarik perhatiannya, cerita yang disampaikan pun dekat dengan kesehariannya.
Hari ini, mungkin Shidqi juga mengalami “baper” yang sekarang-sekarang sedang hits, hehee.. Masih baper gara-gara gak dikasih permen, berujung pada suasana membaca kali ini. Setiap kali melihat ekspresi kesedihan yang ada di dalam buku ini, tida-tiba raut muka Shidqi berubah, seakan-akan merasakan kesedihan yang ada dalam buku itu.
Beberapa ilustrasi gambar kesedihan yang dengan melihatnya, ia langsung menangis, walaupun hanya sebentar.
image

image

image

Mengenal Konsep Terapung dengan Perahu

image

Bermain sambil belajar benar-benar menyenangkan. Tidak ada beban, tapi tetap bermakna. Pelajaran konsep mengapung pada perahu dimulai akhir tahun lalu, 31 Désémber. Saat itu, Shidqi dan Iyo senang sekali belajar menulis di kertas. Setelah banyak kertas yang dihabiskan, saya ada ide untuk membuat perahu dari kertas.  Di buatlah perahu, lalu saya bawakan air dalam baskom.  Anak-anak yang sangat bersahabat dengan air, makin senang diberi mainan air. Beberapa perahu yang sudah di buat, kami apungkan dalam air di baskom. Saat itu saya beri tahu Shidqi kalau itu namanya perahu. Perahu ada di air. Lalu saya ceritakan bahwa ia pernah naik perahu saat kami menyebrang ke tiga gili dari Pulau Lombok. Saya coba gambarkan bagaimana suara perahu, ombak laut, shidqi  yang ketakutan di atas perahu, hingga saya ceritakan ketika saya hampir mabuk laut. Saya dengan semangat menceritakan pengalaman itu ke pada Shidqi walaupun ia terlihat lebih asik main perahu di dalam air, hmmmm…

Sejak pengalaman pertama membuat perahu tersebut, pada aktivitas selanjutnya jika sedang berhadapan dengan kertas, baik dalam bentuk gambar maupun origami,  perahu menjadi salah satu kendaran shidqi selain pesawat.
Yang paling menarik dari aktivitas bermain perahu kertas ini adalah konsep mengapung. Pada akhirnya, setiap benda yang mengapung Shidqi sebut sebagai perahu. Pernah suatu hari, saat saya memandikannya, di kamar mandi ada tempat sabun yang bentuknya kotak. Ia simpan sabun batang di dalamnya, lalu ia biarkan tempat sabun itu terapung dalam air, lalu ia bilang, “Da ahu, Da” awalnya saya tidak mengerti, tapi ketika ia menunjuk benda yang ia maksud, baru saya paham. Oo..perahu. Kreativitasnya membuat saya semyum-senyum kagum dan bersyukur.
Ini bukan satu dua kali, bahkan setiap kali mandi, pasti ada saja barang yang ia apungkan di atas air, entah itu botol shampo, botol sabun, cairan kumur, bahkan alas cat yang sedang antri untuk saya cuci pun ia jadikan perahu. Luar biasa!

Sekali waktu kami silaturahim ke rumah uyut shidqi di Cianjur. Qadarullah  di depan rumah uyut ada kulah (kolam penampungan air mengalir ) yang biasa digunakan keluarga untuk mencuci piring. Melihat saya yang kadang mencuci di sana, Shidqi tertarik. Pagi-pagi setelan jalan-jalan keliling vila, Shidqi minta turun mendekati kulah, saya izinkan ia turun. Lalu meminta saya mengambilakn mangkuk hijau yang berada tak jauh dari tempat kami berada, saya pun mengikuti keinginannya. Tiba-tiba ia masukan mangkuk itu ke dalam kulah, dan terapung. Dengan riang penuh ekspresi keberhasilan ia memberi tahu saya, “Nda.. Ahu Nda Ahu..”
Saya pun ikut merasakan keberhasilan dan kebahgaiaanya, “Waah Iya, perahu. Shidqi hebat. Koq bisa sih? Perahunya bagus yaa!”
Ia tersenyum, dan meminta saya untuk mengambilkan mangkuk lain yang masih ada di sekitar kami, saya turuti.
ia pun sorak lagi, “Nda.. Ahu ladi Nda Ahu ladi ”
Bunda perahu lagi,Bunda perahu lagi, begitu katanya. Lalu saya tawarkan ia untuk membuat perahu dari kertas, karena kemungkinan ia akan meminta mangkuk lagi untuk menambah perahunya.
“Ka, Bunda bikin perahu ya.. ”
“Iya” jawabnya singkat
Satu perahu selesai. Ia meminta lagi.
Perahu kedua selesai. Masih meminta. Begitu setertusnya.

Beberapa anak-anak yang lewat di depan rumah cukup tertarik melihat permainan Shidqi, sesekali saya mengajak ngobrol anak-anak itu. Sambil bermain, saya sampaikan tentang ombak, contohnya seperti apa, gimana cara agar perahu bisa melaju, hingga akhirnya ada perahu kertas yang tenggelam, saya jelskan pada Shidqi. Ketika semua perahu rusak dan tenggelam saya akhiri aktivitas Shidqi bermain perahu, soalnya baju dan celanany sudah basah kuyup, khawatir masuk angin.

Bermain sambil belajar itu asik bukan? Yuk coba Bunda, pasti ketagihan. ^_^

Bijak dalam Mengikuti Grup

HP saya baik-baik saja, nggak nge-hang karena full memori, Alhamdulillah.
Saya juga tidak terganggu dengan bunyi tat, tet, tot, karena memang HP selalu saya silent.
Suami juga tidak protes saya mengikuti grup sebanyak apa pun selama itu baik.
Tapi sepertinya saya yang mulai nge-hang.
Beberapa hari ini saya mulai kewalahan menyimak disuksi setiap grup yang saya ikuti, bahkan sampai 700+ pesan yang belum saya baca. Belum lagi pesan yang hanya dibuka tanpa dibaca, sekedar untuk menghilangkan warna hijau sebagai pemberitahuan ada pesan baru. Byanak banget kan?
Grup yang saya ikuti saya pastikan bukan grup macam-macam yang tidak bermanfaat. Ada grup pengajian, grup alumni, grup hobi, grup parenting, dll.  Kalau dari satu jenis grup yang saya ikuti ada dua, bisa dihitung ada berapa grup yang saya ikuti? itu kalau cuma dua ya, nah kalau tiga bahkan lebih? Kalau grup alumni kan, ada alumni SD, SMP, SMA, Kuliah, UKM, Komunitas, dll. Belum lagi grup kelas yang spesifik, maklum temen sekelas, biar sepaham seperjuangan gitu lho, misal Grup Spensa Kelas 1A, Grup Spensa Kelas 2D, dll.. Makin deh Eikye pusing T_T

Bagi saya emak-emak rempong yang udah punya anak dan berencana nambah lagi #eh >_< sepertinya memang harus lebih bijak dalam bertindak, termasuk ikut-ikut grup. Tapi kan silaturahim? Iyes betul, tapi gimana mau silaturahim, ditengok apalagi dibaca aja nggak. Walaupun sudah pasang mute di itu grup, tapi tetap saja akan mengganggu pandangan dan konsentrasi kita saat membuka WA.
Ada seorang sahabat yang memutuskan untuk meninggalkan semua grup yang dia ikuti, karena cukup lelah dengan tat tet tot notifikasi. “Masih banyak pekerjaan lain yang menunggu saya selesaikan” jawabnya setelah saya tanyakan kenapa. Saya yakin, bukan untuk memutus silaturahim lho ya, tapi memang ada prioritas lain dan alasan kuat kenapa beliau bertindak seperti itu. Walaupun ada satu alasan yang benar-benar tidak kita paksakan, yaitu HP nge-hang gara-gara full memory 😀

Nah begitulah, terkadang kita harus benar-benar bijak menggunakan gadget dan aplikasi yang ada di dalamnya. Jangan-jangan niat kita ikut grup untuk silaturahim atau menimba ilmu malah melalaikan kewajiban kita kepada  Allah,  kepada suami/istri, kepada anak-anak, kepada orang tua, bahkan kepada lingkungan sekitar. Pernah kan, kita asik sekrul-sekrul, eh anak terlantar dibiarin main sendirian dan dicuekin. Ayo ngaku, pernah kan?
Yuk Ah, Bismillah…
Mari kita putuskan untuk meminta izin meninggalkan grup yang tidak terlalu urgent kita ikuti, semoga hidup kita lebih bahagia dengan mengurangi notifikasi yang bakal muncul.

Subang, 18 Maret 2016

#ODOPfor99days
#day55