Sekilas Dua Garis Merah

Bulan Maret adalah bulan yang ditunggu-tunggu setelah garis dua warna merah muda terlihat jelas pada tespack. Masih terasa hangat dalam ingatan, 32 bulan lalu, tepat pada Bulan Ramadhan yang baru menginjak pekan ke dua. Saya yang sudah telat menstruasi tujuh hari, mengikuti saran teman yang baru saja mengabari kalau dirinya positif hamil, untuk tes kehamilan mandiri. Betapa hati ini ingin segera bertemu dengan dini hari (waktu sahur) untuk segera tespack -tespack akan lebih akurat dengan urin pertama pada hari itu-, tapi saat waktunya tiba hampir saja momen itu terlewat saking sibuknya menyiapkan makan sahur. Ketika mulai makan, barulah ingat, dan tak yunggu makan selesai, langsung saya ke kamar mandi dan tespack. Keluar dari kamar mandi, saya senyum-senyum sambil terus memerhatikan perubahan warna pada garis tersebut. Setelah beberapa menit, hasilnyanterlihat garis dua warna merah muda. Sungguh membuncahnya hati ini melihat hasil tespack tersebut, begitu pun dengan suami. Perasaan campur aduk jadi satu kami bawa sampai ke sekolah. Lalu saya kabari teman yang sebelumnya mengabari kalau dirinya hamil, dan beliau merekomendasikan untukntes ulanh dengan tespack yang lebih bagus dan lebih akurat. Alhamdulillah pada tes selanjutnya pun, dua garis merah tersebut hadir melengkapi kebahagiaan kami o (∩ ω ∩) o

Pantas saja kalaunsaya hamil, ternyata tanda-tandanya memang sudah terlihat pada bulan sebelumnya. Akhir bulan juni itu, kami sedang libur semester, setelah ada tawaran menjadi fasilitator pada acara Sanlat Liburan di DT akhirnya selama 3-4 hari kami mendampingi adik-adik SD camping di Hutan Cikole Lembang. Belum ada tanda apa pun di sana. Selesai acara, kami pulang ke Subang, di Subang rasa kantuk pada jam jam pagi sering melanda. Saya pikir efek kelelahan setelah kegiatan sanlat saja, tak mengira apa pun. Beberapa hari kemudian, saya ditawari kembali menjadi fasilitator sanlat di Singaparna. Karena memang tak ada kegiatan sekolah, dan suami pun mengizinkan, akhirnya saya terima tawaran itu walau harus kehilangan momen menyiapkan sahur untuk suami pada hari pertama Shaum Ramadhan pernikahan kami.

Di Singaparna, di SD IT (lupa namanya), saat kami datang, kami dijamu dengan macam-macam makanan. Tapi ad satu jamuan yang membuat saya benar-benar menginginkannya lagi. Tahu pedas. Tahunya biasa aja, rasanya juga tak terlalu mewah, tapi koq perasaan sukanya beda seperti biasanya. Sampai-sampai keesokan harinya saya selalu nagih tahu itu. Teman-teman fasilitator sampai bilang, “Ah Teh Irna mah kayaknya ngidam ya Teh?” Saya balas cukup dengan senyuman. Lagi-lagi tak menyangka saya sedang hamil.
Pada saat yang sama, Sahabat saya sejak Kuliah, yang lahirnya sama-sama bulan juni 1991, jurusan kuliah sama-sama bahasa Indonesia, sampai nikah pun sama-sama bulan april 2013 dengan tanggal yang hanya berbeda satu pekan, menghubungi saya dan mengabarkan kalau beliau positif hamil. Bahagia bercampur rasa iri ingin hamil juga jadi satu.
Selain itu, kantuk luar biasa menyerang setiap aktivitas saya saat sanlat. Sampai-sampai saat satu materi sedang disampaikan Trainer, kami sebagai fasilitator duduk mengawasi peserta sanlat sambil ikut menyimak, eh tiba-tiba kantuk yang begitu hebat itu menjelma menjadi “lenggutan”  kepala serta mata yang tidak tertahankan, qadarullah ada satu dua anak dari kelompok bimbingan saya yang sedang nengok ke belakang, jadilah saya agak sedikit diledek sama adik-adik,  “Kak Irna ngantuuuk yaaaa??” sambil senyum-senyum puas.
Belum lagi saat pulang ke Bandung, jalan yang berliku dan supir yang terlalu kasar mengendarai mobil, membuat hampir semua penumpang merasa sangat mual. Bahkan satu dari kami akhirnya muntah, padahal dia laki-laki,  hehee.. Termasuk saya, sepanjang jalan perut berasa tak nyaman. 

Padahal dari sekian kejadian itu merupakan tanda-tanda kehamilan, hanya saja saya tidak menyadarinya.
Mendapat kabar bahwa telah ada makhluk Allah yang sedang berkembang dalam rahim ini, membuat saya dan suami sangat bersyukur.  Allah pun memberikan jeda dua bulan dari pernikahan kami untuk mengamanahkan anak, pun kami lalui dengan penuh tafakur. Bahwa inilah perasaan mereka yang ingin segera dikaruniai anak, tapi belum juga. Coba bayangkan mereka yang sudah bertahun-tahun dalam penantian ini? Betapa luasnya kesabaran dan keyakinan mereka terhadap takdir Allah. Dan yakin, ini tidak akan diberikan pada setiap manusia di luar kemampuannya. Allah menyimpan hikmah di setiap kejadian, dan kitalah yang harus berusaha menemukannya agar senantiasa bersyukur atas segala ketentuan – Nya.

Dan amanah ini, akan menjadi saksi di akhirat kelak, telah seperti apa kami menjaganya.

Rabbi Habli Mina Shalihin.. 

Kilas balik Ramadhan/Juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s