Ikatlah Ilmu dengan Tulisan

image

Ikatlah ilmu dengan tulisan.
Begitulah Sayidina Ali berkata betapa pentingnya menulis. Yang selama ini saya pahami dari keterangan di atas hanya sebatas menuliskan ilmu berupa kajian atau ceramah para pembicara  atau ilmu dari dosen yang tak ada di buku, tapi malam ini saya menemukan hal yang baru tentang ikat-mengikat ini, tak hanya ilmu berupa yang saya sebutkan di atas saja yang perlu diikat, pengalaman hidup perlu diikat, proses kehidupan perlu diikat, bahkan ilustrasi terhadap sebuah gambar atau momen pun perlu diikat. Memang sangat sulit jika harus mengikat segala tektekbengeknya dengan tulisan, tapi jika mau berusaha saya yakin bisa!

Kalau boleh menyesal, hihii, ini menjadi salah satu hal yang saya sesalkan. Terutama proses saya hamil hingga melahirkan sampai Shidqi sebesar ini tak ada catatannya.  Padahal ini akan menjadi ilmu yang sangat berharga bagi saya khususnya. Qadarullah pernah membaca diskusi para ibu tentang jurnal anaknya, serasa jadi ibu yang gak perhatian banget sama anak 😥
Tapi setidaknya saya punya file-file foto yang mudah-mudahan bisa jadi referensi perjalanan tumbuh kembang Shidqi si anak pertama yang memiliki Bunda penuh kekurangan. (Peluuuuk kamu, Nak…)
InsyaAllah mulai hari ini Bunda akan rajin membuat jurnal kamu ya, Nak. Bunda akan coba menuliskan segala aktivitasmu setiap hari, dengan begitu semoga aktivitasmu tiap harinya lebih beragam.

Saya yakin, bukan hanya saya yang bersyukur dan kegirangan melihat kemampuan putra/putrinya bertambah. Bahkan saking bahagianya, pengennya saya loncat-loncat sambil teriak,  “Akhirnya kamu bisa, Nak!! Yeeeee Alhamdulillah”
tapi khawatir anak jadi kaget dan aneh Bundanya kenapa, nggak jadi deh 😆
Melihat mainan yang kita belikan, asalnya didiemin, dilirik doang, dipegang aja, mulai dimainkan tapi belum bisa, mulai tertarik memainkan lagi gak bisa lalu ngamuk kesel karena gak bisa, sampai pada akhirnya bisa sendiri, itu perjalanan yang luar biasa. Buat saya terkagum-kagum betapa Allah begitu indah menciptakan makhluk-Nya dengan berbagai proses yang harus dilaluinya. Coba kalau pas lahir langsung bisa semua, tak akan  ada proses untuk bisa merenungi makna setiap tahapannya. Maka inilah yang harus diikat agar menjadi ilmu.
Wallahu’alam

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s