Persamaan bentuk : Bermain Hanger

image

Masih di hari yang sama, jumat berkah. Ternyata memang anak-anak itu cepat bosan, walaupun kebosanan tersebut beberapa jam atau beberapa hari lagi akan ia ulang kembali. Maka sudah sangat wajib bagi orang tua untuk menyiapkan beberapa macam aktivitas menyenangkan dan bermakna bagi anak agar tidak timbul gejala yang tidak menyenangkan dari sang anak.

Bagi sebagian ibu, seperti saya khususnya, menyiapkan aktivitas bukanlah hal yang mudah (mungkin karena faktor belum biasa). Apalagi kalau harus menyiapkan media tertentu yang harus diusahakan dulu (baca:dibeli). Mending kalau bisa diikhtiarkan di tempat yang dekat, kalau jauh, ya sudah dadah babay, gak jadi beraktivitas. Wkwkwk..
Tapi memang tuntutan untuk seorang ibu itu harus kreatif. Sebetulnya anak sih yang lebih kreatif, karena biasanya mereka yang lebih dulu berinisiatif sendiri untuk memainkan apa pun yang ada di hadapannya, selanjutnya tinggal kami orangtuanya yang mengarahkan agar permainannya lebih bermakna.

Seperti dalam foto ini, ini adalah lanjutan aktivitas menjemur saya, yang sebelumnya terjadi drama memperebutkan hanger 😝
Sisa hanger ini selalu Shidqi mainkan dengan menggantungkannya di tempat strategis seperti rak tv, sepeda, gagang pintu atau treadmill. Nah kali ini karena yang ada di hadapannya adalah treadmill nganggur, maka itulah yang jadi sasaran. Target pertama adalah hanger kawat polos, berjalan menuju treadmill, nanjak dikit di treadmill, sampai, pasang (gantungkan hanger), ulangi pada hanger selanjutnya dan selanjutnya. Saya tak banyak berkomentar atau berintruksi, hanya sesekali mengapresiasi dengan memujinya dan memintanya untuk berhati-hati ketika berjalan di treadmill karena cukup licin. Dan selesai sampai hanger terakhir.

Yang jadi perhatian saya adalah susunan hanger yang Shidqi gantungkan. Ternyata rapi berjajar mulai hanger yang sejenis dan serupa, lalu dilanjutkan dengan hanger lain yang berbeda warna dan model. Hebat! Belajar lagi memisahkan barang yang memiliki persamaan. Motorik kasarnya juga terlatih dengan naik turun di lintasan miring dan cukup licin (treadmill). Kebayang dong harus ada strategi khusus supaya tetap seimbang di lintasan seperti itu. Motorik halusnya pun terlatih ketika ia memasang hanger ke tiang treadmill. Selain itu, emosi yang masih naik ketika kesulitan mengerjakan sesuatu juga ada di kegiatan ini. Hanger yang kalau berdekatan tiba-tiba menyatu lalu berbelit rumit membuat Shidqi tak sabaran. Maka di sini saya harus siap untuk meredakan emosinya.

Saya yakin, munculnya ide-ide ini bukan tanpa sebab, dan membaca adalah salah satu penyebabnya.
Keep learning with reading!!

Jumat, 12 Fébruari 2016

#Shidqi #JurnalShidqi #edugame

#ODOPfor99days
#day30

Advertisements

Mulai Olahraga (lagi)

Hari ini, rabu adalah hari ke enam saya mulai kembali berolahraga. Setelah badan mulai terasa tak nyaman, saya yakin olahraga adalah salah satu cara penyembuhannya.
Tak perlu berpikir keras untuk memilih olahraga apa yang akan dilakukan, dengan kita pemanasan yang benar sebetulnya sudah cukup. Tapi sayang kan kalau cuma penasaran saja? Hehee..  Ada beberapa opsi yang saat ini saya pilih untuk berolahraga.
1. Pemanasan statis dinamis lalu workout di seven app
2. Pemanasan statis dinamis, workout, lalu Zumba.  Yang ini kalau punya waktu cukup luang. Lumayan bisa berkeringat lebih banyak ☺ insyaallah lebih sehat 😍
3. Pemanasan, workout lalu bersepeda. Bersepeda bisa sekalian nyambi ngasuh Shidqi, gak ada drama kejar-kejaran gak boleh olahraga sama Shidqi. Alhamdulillah.

Nah hari ini adalah hari pertama saya bersepeda sambil bonceng Shidqi. Setelah sekian lama ngidam ingin bonceng Shidqi pake sepeda, alhamdulillah kesampain juga. Deg-degan dong pastinya, secara sepeda yang saya gunakan cukup tinggi untuk ukuran saya. Walaupun joknya sudah mentok paling bawah, kaki tetep saja gak bisa nempel tanah dua-duanya.
Ngomong-ngomong soal sepeda, ternyata olahraga menyenangkan satu ini sangat banyak manfaatnya. Selain untuk kesehatan tubuh seperti melatih daya tahan tubuh, melatih pernapasan, mengencangkan otot, menyehatkan jantung, dan masih banyak yang lainnya, bersepeda juga memiliki manfaat dalam aspek sosial. Kenapa begitu? Pernah liat ada rombongan spedaan? Nah, dengan begitu kita akan lebih banyak memiliki teman dengan hobi yang sama (bersepeda).  Selain itu yang saya rasakan sendiri selama hari ini bersepeda, bersepeda ini membuat kita banyak bersilaturahim. Coba bayangkan, hari ini saya bersepeda dua kali pagi dan sore. Di pagi hari, saya bertemu dengan kawan SD dulu. Karena pagi tadi cuaca kurang mendukung tetiba gerimis jadilah kami langsung pulang. Sorenya, saat orang – orang sudah lebih santai lalu nongkrong di depan rumah, kami yang bersepeda jadi malu untuk sekedar lewat maka termotivasilah kami untuk menyapa atau sekedar tersenyum dan mengangguk hormat.

Allah yang memberi kesehatan, tapi ikhtiar terbaik harus tetap kita lakukan.
Semangat Hidup Sehat!

#ODOPfor99days
#day33

Finger Painting

image

Hari kamis ini Shidqi tiba-tiba ingin cat warna yang sebelumnya pernah ia mainkan. Lupa menyimpan alas cat, akhirnya saya gunakan tutup misting agar permukaannya rata.
Awalnya ia coba untuk membuat coretan menggunakan kuas, lama kelamaan jadi tertarik untuk menggunakan jarinya sendiri. Tring, langsung saya punya ide untuk praktik fingers painting yang udah terkena itu. Saya coba contohkan, tapi ternyata Shidqi hanya mau satu jadi saja, yoooweeeis saya gak maksa. Akhirnya, colek cat gambar ke kertas, colek lagi gambar lagi, begitu sampai ia bosan.
Kegiatan ini masih harus diulang sampai ia mau menggambar kelima jarinya, hehee  (obsesi emak ini mah)  😅
Kegiatan ini setidaknya memiliki beberapa manfaat yang bisa diambil, diantaranya :
1. Sensory play
2. Mengenal warna
3. Koordinasi tangan dan mata
4. Mengenal kotor dan bersih

#ODOPfor99days
#day31

Sekilas Dua Garis Merah

Bulan Maret adalah bulan yang ditunggu-tunggu setelah garis dua warna merah muda terlihat jelas pada tespack. Masih terasa hangat dalam ingatan, 32 bulan lalu, tepat pada Bulan Ramadhan yang baru menginjak pekan ke dua. Saya yang sudah telat menstruasi tujuh hari, mengikuti saran teman yang baru saja mengabari kalau dirinya positif hamil, untuk tes kehamilan mandiri. Betapa hati ini ingin segera bertemu dengan dini hari (waktu sahur) untuk segera tespack -tespack akan lebih akurat dengan urin pertama pada hari itu-, tapi saat waktunya tiba hampir saja momen itu terlewat saking sibuknya menyiapkan makan sahur. Ketika mulai makan, barulah ingat, dan tak yunggu makan selesai, langsung saya ke kamar mandi dan tespack. Keluar dari kamar mandi, saya senyum-senyum sambil terus memerhatikan perubahan warna pada garis tersebut. Setelah beberapa menit, hasilnyanterlihat garis dua warna merah muda. Sungguh membuncahnya hati ini melihat hasil tespack tersebut, begitu pun dengan suami. Perasaan campur aduk jadi satu kami bawa sampai ke sekolah. Lalu saya kabari teman yang sebelumnya mengabari kalau dirinya hamil, dan beliau merekomendasikan untukntes ulanh dengan tespack yang lebih bagus dan lebih akurat. Alhamdulillah pada tes selanjutnya pun, dua garis merah tersebut hadir melengkapi kebahagiaan kami o (∩ ω ∩) o

Pantas saja kalaunsaya hamil, ternyata tanda-tandanya memang sudah terlihat pada bulan sebelumnya. Akhir bulan juni itu, kami sedang libur semester, setelah ada tawaran menjadi fasilitator pada acara Sanlat Liburan di DT akhirnya selama 3-4 hari kami mendampingi adik-adik SD camping di Hutan Cikole Lembang. Belum ada tanda apa pun di sana. Selesai acara, kami pulang ke Subang, di Subang rasa kantuk pada jam jam pagi sering melanda. Saya pikir efek kelelahan setelah kegiatan sanlat saja, tak mengira apa pun. Beberapa hari kemudian, saya ditawari kembali menjadi fasilitator sanlat di Singaparna. Karena memang tak ada kegiatan sekolah, dan suami pun mengizinkan, akhirnya saya terima tawaran itu walau harus kehilangan momen menyiapkan sahur untuk suami pada hari pertama Shaum Ramadhan pernikahan kami.

Di Singaparna, di SD IT (lupa namanya), saat kami datang, kami dijamu dengan macam-macam makanan. Tapi ad satu jamuan yang membuat saya benar-benar menginginkannya lagi. Tahu pedas. Tahunya biasa aja, rasanya juga tak terlalu mewah, tapi koq perasaan sukanya beda seperti biasanya. Sampai-sampai keesokan harinya saya selalu nagih tahu itu. Teman-teman fasilitator sampai bilang, “Ah Teh Irna mah kayaknya ngidam ya Teh?” Saya balas cukup dengan senyuman. Lagi-lagi tak menyangka saya sedang hamil.
Pada saat yang sama, Sahabat saya sejak Kuliah, yang lahirnya sama-sama bulan juni 1991, jurusan kuliah sama-sama bahasa Indonesia, sampai nikah pun sama-sama bulan april 2013 dengan tanggal yang hanya berbeda satu pekan, menghubungi saya dan mengabarkan kalau beliau positif hamil. Bahagia bercampur rasa iri ingin hamil juga jadi satu.
Selain itu, kantuk luar biasa menyerang setiap aktivitas saya saat sanlat. Sampai-sampai saat satu materi sedang disampaikan Trainer, kami sebagai fasilitator duduk mengawasi peserta sanlat sambil ikut menyimak, eh tiba-tiba kantuk yang begitu hebat itu menjelma menjadi “lenggutan”  kepala serta mata yang tidak tertahankan, qadarullah ada satu dua anak dari kelompok bimbingan saya yang sedang nengok ke belakang, jadilah saya agak sedikit diledek sama adik-adik,  “Kak Irna ngantuuuk yaaaa??” sambil senyum-senyum puas.
Belum lagi saat pulang ke Bandung, jalan yang berliku dan supir yang terlalu kasar mengendarai mobil, membuat hampir semua penumpang merasa sangat mual. Bahkan satu dari kami akhirnya muntah, padahal dia laki-laki,  hehee.. Termasuk saya, sepanjang jalan perut berasa tak nyaman. 

Padahal dari sekian kejadian itu merupakan tanda-tanda kehamilan, hanya saja saya tidak menyadarinya.
Mendapat kabar bahwa telah ada makhluk Allah yang sedang berkembang dalam rahim ini, membuat saya dan suami sangat bersyukur.  Allah pun memberikan jeda dua bulan dari pernikahan kami untuk mengamanahkan anak, pun kami lalui dengan penuh tafakur. Bahwa inilah perasaan mereka yang ingin segera dikaruniai anak, tapi belum juga. Coba bayangkan mereka yang sudah bertahun-tahun dalam penantian ini? Betapa luasnya kesabaran dan keyakinan mereka terhadap takdir Allah. Dan yakin, ini tidak akan diberikan pada setiap manusia di luar kemampuannya. Allah menyimpan hikmah di setiap kejadian, dan kitalah yang harus berusaha menemukannya agar senantiasa bersyukur atas segala ketentuan – Nya.

Dan amanah ini, akan menjadi saksi di akhirat kelak, telah seperti apa kami menjaganya.

Rabbi Habli Mina Shalihin.. 

Kilas balik Ramadhan/Juli 2013

Ikatlah Ilmu dengan Tulisan

image

Ikatlah ilmu dengan tulisan.
Begitulah Sayidina Ali berkata betapa pentingnya menulis. Yang selama ini saya pahami dari keterangan di atas hanya sebatas menuliskan ilmu berupa kajian atau ceramah para pembicara  atau ilmu dari dosen yang tak ada di buku, tapi malam ini saya menemukan hal yang baru tentang ikat-mengikat ini, tak hanya ilmu berupa yang saya sebutkan di atas saja yang perlu diikat, pengalaman hidup perlu diikat, proses kehidupan perlu diikat, bahkan ilustrasi terhadap sebuah gambar atau momen pun perlu diikat. Memang sangat sulit jika harus mengikat segala tektekbengeknya dengan tulisan, tapi jika mau berusaha saya yakin bisa!

Kalau boleh menyesal, hihii, ini menjadi salah satu hal yang saya sesalkan. Terutama proses saya hamil hingga melahirkan sampai Shidqi sebesar ini tak ada catatannya.  Padahal ini akan menjadi ilmu yang sangat berharga bagi saya khususnya. Qadarullah pernah membaca diskusi para ibu tentang jurnal anaknya, serasa jadi ibu yang gak perhatian banget sama anak 😥
Tapi setidaknya saya punya file-file foto yang mudah-mudahan bisa jadi referensi perjalanan tumbuh kembang Shidqi si anak pertama yang memiliki Bunda penuh kekurangan. (Peluuuuk kamu, Nak…)
InsyaAllah mulai hari ini Bunda akan rajin membuat jurnal kamu ya, Nak. Bunda akan coba menuliskan segala aktivitasmu setiap hari, dengan begitu semoga aktivitasmu tiap harinya lebih beragam.

Saya yakin, bukan hanya saya yang bersyukur dan kegirangan melihat kemampuan putra/putrinya bertambah. Bahkan saking bahagianya, pengennya saya loncat-loncat sambil teriak,  “Akhirnya kamu bisa, Nak!! Yeeeee Alhamdulillah”
tapi khawatir anak jadi kaget dan aneh Bundanya kenapa, nggak jadi deh 😆
Melihat mainan yang kita belikan, asalnya didiemin, dilirik doang, dipegang aja, mulai dimainkan tapi belum bisa, mulai tertarik memainkan lagi gak bisa lalu ngamuk kesel karena gak bisa, sampai pada akhirnya bisa sendiri, itu perjalanan yang luar biasa. Buat saya terkagum-kagum betapa Allah begitu indah menciptakan makhluk-Nya dengan berbagai proses yang harus dilaluinya. Coba kalau pas lahir langsung bisa semua, tak akan  ada proses untuk bisa merenungi makna setiap tahapannya. Maka inilah yang harus diikat agar menjadi ilmu.
Wallahu’alam

 

Si Selfie yang Bikin Nambah Peer

Ternyata Shidqi kami mulai suka selfi alias narsis foto sendiri, eh Momselfie deng kayaknya foto bareng emaknya, hihii atau sonselfie gitu ya, emaknya yang ngajak bareng foto sama anak laki-lakinya..  Apalah itu, ternyata banyak juga jenis selfi, tapi gak akan dibahas sekarang ya..  Hehee.. Sekarang mau bahas Shidqi yang udah mau diajak selfi, yeeeaaayyy!! 🙆
Dulu semenjak ngerti HP bisa buat ambil gambar, boro-boro mau selfi, mau kami ambil fotonya aja susahnya minta ampun karena maunya pegang sendiri sambil berpose orang mau moto. Nah nah, sekarang mulai anteng dia kalau diajak selfi. 
Saya juga emang termasuk orang yang gak terlalu tertarik buat foti-fotoan, apalagi motret diri sendiri sambil senyum manis, meremin mata, apalagi monyong-monyongin bibir, hihiii.. Mungkin karena faktor kualitas camera yang kurang canggih kali ya, jadinya gak tertarik buat motret. Apalagi kalau selfi pake kamera tablet yang segede buku itu, pan repot. Pokoknya ribet aja mikirnya. 😤

Nah nah oktober lalu, ceritanya doi beliin hp baru nih. Ukurannya pas, kualitasnya lebih oke daripada tablet yang udah ada, termasuk kualitas kameranya. Nah darisanalah hasrat untuk selfi tumbuh, apalagi beberapa hari kemudian kami pergi ke Lombok yang pantainya sudah sangat terkenal indah itu, pas banget kan. Dan dari sini pula lah Shidqi sudah mulai saya ajak selfi, Hihii.. 

image

Shidqi kegerahan di Gazebo Villa Mataano, Lombok

Ada lagi,

image

Istirahat di mesjid waktu jalan-jalan berdua

Ini juga

image

Nunggu Ayah di Kamar

Masih banyak lagi foto sejenis yang berhasil diambil saat kami hanya berdua, sedangkan suami lagi ngasih pelatihan. Eh eh gak lama, masih di serangkaian kerja sambil liburan di Lombok itu HP saya kecemplung kolam renang yang ada di villa. Innalillahi..  Karena ketidaktahuan dan ketidaksabaran saya, akhirnya HP yang umurnya baru semingguan itu harus saya ikhlaskan harus isi baterai tanpa kabel, alias baterainya dicopot lalu dipasang ke alat pengisian baterai yang nantinya dihubungkan ke listrik. Mungkin gara-gara kebanyakan selfi, bisik saya dalam hati. Mulai dari sana, aktivitas selfi di lombok dikurangi, hehee.. 
Etapinya, Shidqi ternyata tidak melupakan aktivitas itu, memorinya sudah lebih otomatis merespon jika saya mengarahkan camera pada kami berdua, hihii..
Saya ngaku sih, suka ngasih instruksi ekspresi wajahnya saat mau selfi. Dengan saya memperlihatkan ekspresi tertentu sambil bilang “Kak, gini Kak!” kadang dia ngerti dan ngikutin. Yess!
Tapi, dari sekian banyak ekspresi yang saya cobtohkan, kenapa ekspresi melet yang paling nempel di memorinya. Bahkan sampai sekarang, tiap mau selfi atau groufi, melet selalu jadi pose andalannya dan masih sulit untuk mengubahnya. Jadi agak nyesel, ekspresi spontan saya yang tidak baik yang malah  nempel di memorinya. 😥
Coba lihat ini,  awalnya ini nih

image

Terus ini,

image

Lagi,

image

Saat kami nyengir, Shidqi tetap melet

Ini, 

image

Karena gayanya melet terus, kami jadi ikut2an dia

Ada lagi

image

Taman Bunga Nusantara, Cianjur

Lagi, 

image

Ayah malah ikutan melet

Dan terakhir ini,

image

Groufie sama Bunda dan Mamah

Hmmm…  Peer sekali bukan?
Emang gak semua foto posenya gitu sih, tapi pose ini sangat mengganggu. Ini murni kesalahan saya, dan salah menjadi salah satu peer besar buat saya untuk memberikan pengertian kepadanya. Ini serius, sangat serius. Saya sangat kaget sekaget kagetnya ketika melihat postingan tentang ekspresi atau gaya menjulurkan lidah (atau melet,  begitu saya menyebutnya) itu ekspresi siapa. Penasaran? Silakan digugling aja, saya gak berani bilangnya. 😑

Dari sini saya teringat kembali bahwa anak (apalagi seusia Shidqi)  adalah masanya menjadi peniru ulung. Jika tak berhati-hati dalam mengucapkan dan melakukan setiap tindakan, karena anak sedang proses menyimpan memori. Ia belum tahu dan paham baik atau buruk, sehingga setiap yang ia lihat, dengar dan rasakan akan disimpannya, kemudian dikeluarkan jika dalam bentuk respon jika ada yang menstimulasinya. Maka kita sebagai orangtualah yang bertugas agar memorinya dipenuhi dengan sikap, perkataan dan perasaan yang baik agar ia tumbuh menjadi pribadi yang berakhlakul karimah.

Subang, 040216

Astagfirullah al’adzim

image

Astagfirullah al’adzim.. 
Astagfirullah al’adzim.. 
Astagfirullah al’adzim.. 

Ketika setiap perbuatan kita yakini dilihat Allah, apa yang membuatnya seakan-akan hanya kita yang tau?
Ketika kita tahu bahwa niat buruk hanya akan tercatat ketika mulai melakukannya, mengapa masih sulit untuk tidak melanjutkannya.
Ketika kesempatan buruk tiba-tiba datang menghampiri, mengapa masih tertarik mengambilnya?
Otak dan hati seakan tak mampu lagi menjadi pusat kontrol, keduanya seakan tak bertenaga untuk bergerak cepat menolak bisikan itu.
Astagfirullah al’adzim.. 
Mata, apa yang sudah dilihatnya seharian ini? Al-Quran kah? Buku kah? Atau hal tak pantaskah?
Telinga, apa yang sudah ia dengar seharian ini? Murotal kah? Ilmu kah? atau kabar terbaru tetangga sekampung?
Mulut, pembicaraan apa yang keluar darinya seharian ini? Lantunan ayat kah? Nasihat kah? atau ghibahan, cacian dan bentakan?
Tangan, sudah melakukan apakah seharian ini?
Kaki, sudah kemana sajakah seharian ini?
Hati, sudah benarkah engkau bersikap hari ini? Nutrisi apa yang sudah majikanmu berikan  hari ini? Nasihat apa yang sudah engkau terima hari ini? Dan hikmah apa yang telah engkau dapatkan hari ini?

Astagfirullah al’adzim.. 

Betul, betapa ruginya kita jika melewati setiap waktu tanpa makna dan pahala. Bukankah ada keterangan, jika seseorang tidak sedang berbuat baik maka pasti ia dipastikan sedang berbuat buruk, dan sebaliknya. Sangat tepat, karena hanya ada dua hal yaitu baik dan buruk. Tidak ada yang abu-abu. Maka seharusnya alarm hati kita selalu terpasang untuk sesegera mungkin mendeteksi ketidakberesan yang sedang terjadi dalam diri kita.

Astagfirullah al’adzim…

Subang, 020216

#ODOPfor99days
#day22