Bermimpi itu Baik, tapi Bersyukur Lebih Utama

image

Ngobrol itu memang mengasyikkan, apalagi yang ngajak ngobrol si cinta. Saya suka, saya suka..  😍

Saat menemani Shidqi menuju pulau kapuk, suami yang ada tepat di samping saya memulai pembicaraan
Suami (S), Saya=Istri (i)
S : “Bunda, udah jangan ngajak jalan-jalan terus ya. Ayah mau beresin buku”
I : “Ih ai Ayah, siapa yang ngajak jalan-jalan terus? Dari kemarin juga Ayah yang ngajak kesana kemari mah. Kenapa nyalahin Bunda” jawab saya semangat. Belum sempat suami menanggapi, saya nyorocos lagi,
“Nih ya Bunda mah tadi siang tah, eh sore deng puncak nya mah. Mikirin jadwal ayah sebulan ini yang acak-acakan jadi targetnya gak kecapai. Udah mah keliatannya main game wae deuih. Padahal kan kita punya mimpi, malah Bunda tadi liat-liat D*ts*n yang kaya Ayah bilang. Iya yah itu aja..  Bla…bla..blaa..”
Suami sambil ngurus halus kening ya jawab,
S : “Ayah mah ya kalau Bunda bilang target, mimpi, dll asa jadi beban. Kayaknya ayah teh harus kerja terus-terusan. Main game tuh refreshing, Ayah juga main gamenya kalau udah sejam kerja 15 menit main game. Itu teh efektif buat ayah mah.”
I : “Iya gapapa sok aja, mungkin Bunda liatnya pas ayah maen game aja, hihii”
S : “Terus ya Bunda teh kalau bilang gitu seakan – akan Ayah gak mengerjakan apa-apa. Bunda tuh hanya mikirin target, target, mimpi, mimpi, dan apa yang belum kita capai, tanpa melihat apa yang sudah kita dapat dan kita punya. Harusnya liat dulu apa  sudah kita raih, mulai dari sana, syukuri aja dulu itu, Bunda, baru bicarakan tentang impian. Lagian kan masalah impian, kita juga sedang ikhtiar. Ayah juga sedang menuju pencapaian itu. Kita teh harus pandai bersyukur. Coba liat sekitar kita, banyak yang patut kita syukuri. Itu dulu yang harus kita Tafakuri, kan Lainsyakartum Laazinannakum.  Gitu” jawab suami bijak.
I : “Iya Ayah, Bunda salah. Maafin Bunda. Maafin yaa Ayah!”  Jawab saya singkat. 
Sebetulnya sudah ada alasan dalam pikiran saya untuk menjawab pernyataan suami, tapi alhamdulillah saya bisa mengambil keputusan lebih cepat untuk tidak menyampaikannya yang kemudian saya ganti dengan permintaan maaf. Karena memang saya yang salah.  😦

Dari perbincangan itu saya semakin tahu diri saya yang belum mampu bijak menghadapi persoalan. Saya belum mampu menjadi penyejuk hati suami yang gundah. Saya belum mampu berempati sepenuhnya terhadap perasaan suami ketika ia sedang ingin bercerita. Saya belum mampu memilih kata yang bijak untuk menyampaikan perasaan saya, yang akhirnya cenderung mengganggu bahkan mungkin melukai hati suami,  dan masih banyak hal yang belum mampu saya lakukan untuk menjadi seorang istri yang shalihah.

Dibalik kesedihan saya yang ternyata belum pandai bersyukur, suami yang begitu bijak tak lantas membuat saya semakin bersedih apalagi kecewa karena apa yang telah saya sampaikan. Justru ia membesarkan hati saya dengan kalimat “Pikiran Bunda tentang target dan pencapaian tidak sepenuhnya salah. Justru itu bagus! Tapi ada satu yang kurang, perenungan!  Ya perenungan atas pencapaian yang sudah diraih a.k.a bersyukur. Itu artinya saling melengkapi, Bunda. Bunda melengkapi kekurangan Ayah, dan ayah pun melengkapi kekurangan Bunda ”
Betapa leganya hati saya mendengar penjelasan itu. Perasaan bersalah yang awalnya muncul menggunung, perlahan mulai terkikis hingga akhirnya hilang.  Perasaan syukur saya semakin besar, karena selain syukur atas segala yang telah Allah karuniakan kepada kami, Allah juga menitipkan suami yang bijak dan pandai membuat hati saya lebih nyaman. Betapa kufurnya saya jika melulu memikirkan pencapaian yang Ghaib. Biarlah Allah yang menjawab atas segala impian kami, tugas kami hanya berdoa dan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Semoga Ridho Allah senantiasa mengiringi langkah kami.

Cipanas, 22 Januari 2016

#ODOPfor99days
#day15

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s