Perjalanan Shidqi Mengenal Gadget

Ketika menikah, tak banyak gadget canggih yang kami miliki. Saya hanya mempunyai satu tablet yang terpaksa dibeli karena keperluan bimbingan online dengan dosen dengan satu laptop warisan dari suami, sedangkan suami hanya memiliki hanphone klasik yang hanya bisa sms dan telepon serta mac yang didapat dari hasil project ketika ia masih kuliah.
Ketika memulai nyicil membeli perabotan rumah, suami memutuskan untuk tidak mengadakan TV di rumah. Walaupun beberapa kali saya sempat merengek dengan berbagai alasan, tapi alhamdulillah suami saya konsisten dengan keputusannya dan perlahan saya menerima dengan lapang keputusan itu.
Alhamdulillah semenjak kuliah, saya tinggal di asrama yang sama sekali tidak ada TV. Suami pun demikian, karena takdirNya saya dan suami satu program di pesantren jadi saya tahu 😀
Setelah tidak di asrama lagi pun, saya tidak kepikiran untuk mengadakan TV di kamar kost. Tidak seperti teman-teman yang lain yang bahkan TV 29″ yang canggih ada di kamar kost nya. Mungkin karena faktor gakkebeli saya mah. Hihi..
Jadi sejak saat itu kami belajar untuk menjauh dari TV dan alhamdulillah selama kami jadi kontraktor di Bandung, kami terbebas dari TV. Termasuk Shidqi, ia tak pernah kenal dengan acara TV, walaupun di akhir-akhir perjalanan tingal di Bandung (sesi I) anak yang mulai bersosialisasi dan suka main di rumah tetangga akhirnya ia tahu ada makhluk yang bernama TV. Alhamdulillahternyata ia tidak terlalu tertarik, sebentar saya lihat gambar menarik di TV, selanjutnya ia anteng lagi main. Yeeeay! ^_^

Tapi, seiring suami yang sangat butuh akses komunikasi yang cepat maka dengan pertimbangan yang matang akhirnya suami membeli Android yang cukup canggih, walaupun ngilernya ke iphone. Hihiii.. Sejak saat itu kami lebih sering mendokumentasikan aktivitas Shidqi, darimulai foto maupun video. Sebelunya juga ia, pake tablet saya, tapi tidak sejernih kualitas kamera Hp suami. 😀
Ternyata seiring Shidqi tumbuh dan semakin aktif bergerak, ini menjadi tantangan tersendiri saat ia poop san saya harus membersihaknnya.  Guling sana guling sini tak terkendali. Kalau sedang ada ayahnya lebih mudah, karena ayahnya bisa mengalihkan aktivitas  Shidqi. nah kalau sedang tidak ada, repotlah saya. T_T
Suatu saat, saya coba memperlihatkan dokumentasi videonya dan ternyata ia sangat senang. Cukup anteng dengan senyum-senyum simpulnya sekan dia mengerti isi video itu. Nah dari sanalah bermula petaka (Sadiiis amat petaka :D)
Saya selalu melakukan itu ketika ia poop, makin kesini saya gunakan dokumnetasi video Shidqi saat saya harus sholat dan ia cukup rewel, alhamdulillah sangat membantu. Sejauh itu aman, ia belum ketagihan dan belum tahu bagaimana cara meminta. selama itu oun suami tidak terlalu protes karena memang saya hanya sesekali memperlihatkan, terutama saat Shidqi poop, dan suami memalkumi itu.  Semakin kesini, sepertinya ia mulai bosan. Putar video dokumentasi ini salah,yang itu salah, kadang sayanya yang bingung. nah sejak itu saya terpikir untuk mengunduh video lain, lalu unduhlah beberapa video dari Youtube, beberapa Video Syamil, Upin Ipin, atau beberapa sharing video yang saya dapat dari grup WA. Eh ternyata dia tertarik,alhamdulillah aktivitas poop terkendali lagi. Horeee…

Saya yang masih belajar menentukan konsep pembelajaran untuk Shidqi kadang-kadang tertarik dengan metode yang orang lain gunakan.  Saya tertarik cara pengajaran salah satu sahabat saya yang sudah terbukti cocok untuk anaknya. Untuk melatih dan menambah kosakata, beliau yang menggunakan media video. Video yang beliau gunakan biasanya Syamil agar bisa belajar adab juga. Dari sana saya merengek lagi ke suami untuk dibelikan DVD. Dengan pertimbangan supaya tidak menyalakan laptop yang kadang meleber kemana-mana tontonannya, saya mengajukan pembelian itu. Cukup lama suami berpikir, alhamdulillah akhirnya dibelikan. Eh eh eh, ternyata suami yang juga doyan nonton, borong tuh film-film kesukaannya buat ditonton (lagi) -_-”

Semakin besar Shidqi, semakin banyak juga ia belajar, termasuk trik mendapatkan sesuatu dengan tangisan. Ternyata ia mulai ketagihan dengan nonton video, walaupun intensitasnya masih tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi saya mulai waswas dan suami mulai sering protes saat mendapati Shidqi sedang nonton. Maka aktivitas ke luar rumah menjadi solusi dari keinginan nontonnya tersebut. Alhamulillah ketika di Bandung, rumah kami dekat dengan pesantren dan sekolah PAUD yang tempatnya sangat luas jadi kami bisa ikut main dengan leluasa. Alhamdulillah diizinkan. 🙂
Masalah lain yang muncul adalah sakit dan bangun malam, keduanya sangat berhubungan karena jika Shidqisakit pasti ia selalu bangun malam, bahkan sampai berjam-jam rewel minta digendong atau minta main ke luar rumah. Saya yang juga manusia biasa ada capeknya dan ada ngantuknya, kadang tidak bisa mengontrol emosi jika kedua hal itu datang melanda. Maka agar tidak semakin memuncak, pilihan akhir jatuh pada nonton. Karena suami mengerti kondisi, kalau beliau menganggap nonton disaat rewel karena sakit dan tidak bisa diajak bermain apa pun adalah darurat dan itu sah dilakukan dengan syarat tetap membatasi lamanya menonton. Alhamdulillah disela-sela itu saya bisa menyalurkan kantuk saya, walaupun hanya sebentar-sebantar. Hihii..

Ternyata ia semakin tertarik dengan tontonan, bahkan sekarang ia tahu Boboiboy (nonton di tetangga ditambah saya juga unduh), Thomas, Mc Queen, Plane. Sebetulnya itu tontonan ayahnya, kadang kalau ayahnya nonton pas Shidqi bangun, ia jadi suka ikut nimbrung dan sangat antusias dengan karakter-karakter tersebut. Bahkan saat main ke Baby n Kids Shop pun, ia selalu menemukan karakter di atas, dan selalu ingin mengambilnya. Adalah beberapa koleksi Mc Queen mulai mobil-mobilan kecil semacam hotwheels, mobil-mobilan besar yang bisa ia naiki, dan topi.

Episode berlanjut ketika pindah ke rumah orang tua saya di Subang karena hal mendesak, akhirnya kami harus ikhlas meninggalkan Bandung. Insyaallah untuk sementara.

Di rumah orang tua saya bahkan tetangga dekat yang semuanya adalah saudara ada  TV. Maka tantangan saya dan suami lebih besar dengan kondisi ini. Intensitas menonton di rumah mama tidak terlalu membuat saya resah, karena kesibukan penghuninya, Bapak kerja pulang siang lanjt pekerjaan yang lain, arif (adik saya) sekolah yang pulangnya selalu sore lanjut nggame di kamar, mama yang sibuk dengan urusan domestik yang juga kader posyandu, maka TV sangat sering nganggur. Tapi eh tapi, saudara saya sangat sering nonton, karena beliau juga pengasuh (anak tetangga yang usinya 3,5 tahun) maka beliau memberikan tontonan agar anak asuhnya anteng. Pagi-pagi sudah mulai tontonan anak-anak yang beragam sampai jam sembilanan. Shdiqi yang inginya main dengan anak itu, kadang juga terbawa jadi ingin nonton. Siangnya nonton lagi, sorenya juga nonton lagi. Memang masih sekitaran film anak-anak, tapi intensitasnya yang sering membuat saya cukup risih. Ditambah jika malam-malam masih ingin main di rumah sodara yang hanya beberapa langkah itu, tontonannya berubah menjadi acara dangdut atau sinetron yang sangat tidak cocok dengan anak kecil.Hufth… -_-”
Walapupun Shidqi lebih banyak bergerak di sana, hunting cicak atau toke, loncat-loncat di kasur, main kuda-kudaan di guling, manjat jendela, atauyang lainnya tapi tetap saja kadang sesekalimenoleh ke tontonan yang seruangan dengan aktivitasnya. Dan bodohnya, saya kadang juga ikut-ikutan nonton! Huh! Maka saya sering mengajaknya pulang kalau sudah terlalu risih, tapi sayangnya ia selalu menolak kalau memang masih betah. kalau sudah ingin pulang ia selalu memintanya sendiri. Ok, itu tantangan dari lingkungan sekitar. Harus segera diatasi! Solusi sementara, saya ajak shidqi lebih banyak aktivitas di luar, termasuk anak asih Bibi jadi tidak terlalu sering nonton. Kesempatan ingin main malam ke rumah Bibi pun saya alihkan dengan aktivitas lain semampu saya dan keluarga. Kuncinya ada pada pintu, jika ada anggota keluarga yang buka pintu ke luar atau ada sodara yang masuk, sudahlah sesegera mungkin Shidqi bergegas keluar lalu ketik pintu Bibi dan bilang, “Kum.. Kum..” maksudnya Assalamu’alaikum 😁

Ok, lanjut ke tantangan berikutnya.
Karena kebutuhan pekerjaan, suami memutuskan untuk membeli Ipad. Alhamdulillah ada rizkinya. Ternyata itulah yang menjadi tantangan selanjutnya. Suami mulai tertarik mengunduh game, simulator kendaraan, video edukasi, dll. Suatu saat karena sudah tahu di dalam makhluk seperti itu ada apa, Shidqi pun tertarik. Dengan longgarnya ayah mengajak Shidqi ikut menikmati permainannya. Huh! Dengan kelemahan iman dan padatnya pekerjaan yang harus saya kerjakan, membuat saya menghalalkan apa yang suami lakukan. Saya jadi lebih leluasa menyelesaikan pekerjaan tersebut. Tanpa sadar Shidqi semakin tertarik untuk menonton dan menikmati game, bahkan sudah pandai meminta dan mengancam (dengan tangisan).
Tapi memang tidak bisa dipungkiri, hati kecil saya benar-benar menolak perbuatan itu. Jika saya lagi “eling” cepat-cepat saya ajak Shidqi bermain di luar walaupun harus dengan sedikit tangisan. Dan ini menjadi salah satu peer terbesar saya untuk kembali mensterilkan Shidqi dari gadget. Saya sangat yakin latihan ya akan sangat berat, tapi ketakutan saya akan akibat gadget pada anak sangat besar. Semoga dengan kekhawatiran dan rasa takut saya itu menjadi kekuatan saya untuk menjauhkan Shidqi dari gadget dan memberikan variasi kegiatan menarik untuknya.
image

Semangaaatt!!

#ODOPfor99days
#day8

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s