Pak Anis Baswedan Membuat Saya Merenung

Rubik-CubeBaru saja menyimak talkshow tentang pendidikan nasional di acara Trio Lestari Trans TV, dengan perjuangan harus nonton di rumah tetangga sambil momong Shidqi tapi alhamdulillah ada beberapa hal yang membuat saya sejenak merenung. Kenapa sampai berikhtiar nonton di tetangga? Karena dalam acara tersebut ada Bunda Septi yang menjadi salah satu narasumber. Narasumber lainnya adalah Bapak Anis baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Tentang Homeschooling.
Secara spontan suami pernah mengatakan bahwa anak-anak akan belajar dengan saya, tidak harus bersekolah formal. Pada saat itu dengan informasi dan pengetahuan yang masih sedikit tentang homeschooling tentu saya menolak. Namun dari sana, takdir Allah saya membaca artikel tentang keluarga Bunda Septi yang menjalankan homeschooling dengan sukses dan bahagia, saya menjadi cukup tertarik untuk mempelajarinya. Belum lama saya bergabung dengan komunitas para ibu pembelajar (yang sebagianya sudah menjalani homeschooling) dan belum banyak pula pengetahuan yang saya lahap tentang homescholing, tapi betapa hati ini sangat menggebu ingin mempraktikannya. Berbagai pertanyaan muncul ketika saya menyimak pembicaraan Pak Anis pada talkshow tadi yang menyatakan bahwa sebenarnya pendidikan utama merupakan tanggung jawab orang tua. Hanya saja yang perlu digarisbawahi adalah, jangan jadikan anak sebagai kelinci percobaan. Ketika memutuskan (untuk homeschooling atau sekolah formal) maka harus benar-benar dipikirkan matang-matang.Orang tua yang memilih homeschooling biasanya adalah mereka yang sudah komitmen dengan keputusannya (dan mempersiapkan segala kebutuhan selama proses yang dijalankannya-pen). Pernyatan tersebut seakan menampar saya sehingga kini saya terbangun dari mimpi indah yang akan saya lalui ketika berhomeschoolng nanti. beberapa pertanyaan yang kini muncul di benak saya adalah:
1. Sudah seberapa jauh komunikasi saya dengan suami untuk pendidikan anak?
2. Sudah seberapa jelas posisi serta peran saya dan suami dalam menjalankan pendidikan anak?
3. Sudah sekompak apa saya dan suami dalam membangun home team yang kokoh?
4. Sudah sejauh mana saya dan suami memahami hakikat pendidikan (pembelajaran)?
5. Apa niat memilih homechooling?
6. Bekal apa yang sudah dipersiapkan untuk homeschooling?
7. Sudah pahamkah dan siapkah dengan resiko yang akan dihadapi ketika menjalankan homeschooling?

Setidaknya tujuh pertanyaan di atas seketika terlintas dalam pikiran saya yang tertarik homeschooling ini. Pengetahuan saya tentang homeschooling masih nol. Bahkan untuk aktivitas sekarang pun (membersamai Shidqi, 22 mo) masih kewalahan. Banyak daftar PR yang harus segera saya cicil mulai saat ini. Masih ada kesempatan bagi saya dan suami untuk mengkomunikasikan dan memikirkannya lebih matang sehingga ketika waktunya tiba kami akan lebih siap dan yakin untuk mengambil keputusan.  Alternatif sekolah formal pun sedini mungkin kami persiapkan salah satunya mengenai kriteria sekolah yang harus sesuai dengan prinsip kami.

Tentu segala apa yang kami cita-citakan dan sudah kami rancang harus diikhtiarkan maksimal. Tak hanya ikhtiar secara syariat yang harus sungguh-sungguh, ikhtiar langit yang lebih utama harus senantiasa dijaga. Interaksi dengan Sang Pemilik Kehendak harus semakin kuat, seslalu sertakan Allah dalam setiap keputusan, dalam setiap aktivitas kita bersama anak-anak. Mohonlah agar senantiasa dibimbing dan ditolong Allah.

#OneDayOnePostfor99days
#day7

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s