Jangan Marah!

نْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ 
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri]

Sahabat yang meminta wasiat dalam hadits di atas bernama Jariyah bin Qudamah Radhiyallahu ‘anhu. Ia meminta wasiat kepada Nabi dengan sebuah wasiat yang singkat dan padat yang mengumpulkan berbagai perkara kebaikan, agar ia dapat menghafalnya dan mengamalkannya. Maka Nabi berwasiat kepadanya agar ia tidak marah. Kemudian ia mengulangi permintaannya itu berulang-ulang, sedang Nabi tetap memberikan jawaban yang sama. Ini menunjukkan bahwa marah adalah pokok berbagai kejahatan, dan menahan diri darinya adalah pokok segala kebaikan.

Betapa sayangnya Allah pada saya, ketika hari ini mentok mau nulis apa, saya teringat hadits tentang marah di atas, yg membuat saya hari ini harus belajar mengamalkannya 😂
Bagaimana tidak, bambu yang biasa dipaké penghalang jendela di rumah bibi, kurang lebih ukuran 20cm x 5 cm, harus mendarat di bibir bagian kanan saya.  Sampai serasa tebel ini bibir. 😂 Tapi alhamdulillah gak kena Shidqi, padahal ia tepat di depan saya.
Siapa pelakunya? Biasa, bocah yang lagi tantrum.  Lha kenapa saya yang kena? Mungkin banyak dosa. Sebetulnya bukan saya sasarannya, tapi karena saya sedang berdekatan dengan sasaran ya kena juga deh.

Balik lagi ke hadits di atas, pertama kali saya dengar hadits tersebut dari suami yang mereview lagi isi ceramah di mesjid dekat kantor (orang). Ternyata memang benar, pangkal segala keburukan dan kejahatan adalah marah. Kalau kita liat berita-berita kriminal di tv, rata-rata penyebabnya adalah kemarahan. Tidak hanya menimpa orang dewasa, anak kecil yang sedang ditimpa kemarahan pun akan sangat mampu melampiaskan kemarahan ya dengan berbagai macam cara.  Contohnya saja kejadian yang menimpa saya tadi. Karena pada dasarnya, ketika kita marah dan menuruti kemarahan tersebut, artinya kita sedang diperbudak hawa nafsu (kemarahan).

Ketika kita marah, yang ingin kita lakukan adalah membuat orang lain (yang membuat kita marah) sakit hati, sehingga kalau kita bicara atau berbuat, maka yang keluar adalah umpatan, perkataan negatif dan perilaku buruk.  Misal kejadian tadi, setelah bambu itu mendarat di bibir saya dan langsung terasa perih, saya spontan mengambil bambu itu lalu bertanya dengan  cukup tegas pada bocah itu (lupa, matanya biasa aja apa agak keluar dikit 😜) tapi seketika saya diam, istighfar dan taawudz lalu pergi karena Shidqi minta mimik.
Atau kejadian  lain misal, saya sedang marah ke suami. Dulu Inginnya ngomel-ngomel sambil mengingat keburukannya dan membandingkan kelakuannya (kejaaam banget ya saya🙈) karena nafsu ingin beliau (suami)  jadi sakit hati, lalu mengakui, lalu menyesal atas perbuatannya. Kan akhirnya beliau yang minta maaf, menang deh saya..  Hihiii (emang lomba 😁)

Nah ada baiknya kita terus mempelajari karakter kita, juga ilmu-ilmu tentang menahan marah ini. Karena dengan ilmu, kita akan menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Nah ada pun tips sederhana agar kita mampu menahan marah, pertama diam. Diam dari segala pembicaraan apa pun, walaupun banyak ya gak ingin kita sampaikan, tahan sampai marah mereda, jika sudah reda segera sampaikan. Kedua, banyak Taawudz Yang artinya memohon perlindungan dari godaan syetan yang terkutuk. Ketiga, ubah posisi. Jika kita marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika marah dalam keadaan duduk, maka berbaringlah. Keempat, Berwudhu. Sesungguhnya api kalah oleh air, harapannya kemarahan yang ada dalam diri kita mereda dan hilang ketika wudhu dengan senantiasa berdzikir dan meresapi setiap gerakan wudhu. Kelima, senantiasa mengingat keutamaan menahan marah dan pahala yang akan diperoleh. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan orang yang dapat menahan amarahnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ. 
“Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah k akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai” [HR Ahmad (III/440), Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), dan Ibnu Majah (no. 4286)]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang sahabatnya, 

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ. 
“Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga” [HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath (no. 2374)]

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari segala nafsu amarah yang senantiasa mengintai. Karena “Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah”  [HR Al Bukhori dan Muslim]

#ODOPfor99days

image

Kisah hikmah.com

#day5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s