Malu?Ayo Maju!

Umumnya satu atap ya satu kepala keluarga bukan? Kalau satu atap dua keluarga, namanya apa? Namanya numpang. Hihii..
Sebagai keluarga yang sedang berstatus “menumpang” di rumah orang tua, sepertinya akan seru dan berkesan suatu saat nanti kalau sekarang saya mengabadikannya lewat tulisan. Mungkin saja di bawah atap lain di sudut sana, ada juga yang mengalami hal yang sama. Menumpang di rumah orang tuanya sendiri, ataupun di rumah mertuanya.

Sebelum menikah, saat kami berposes menuju pernikahan, kami berkomitmen untuk hidup mandiri. Kemandirian yang ingin kami mulai minimal dengan berpisah dari orang tua, memulai merangkai kehidupan baru walaupun masih harus jadi kontraktor a.k.a ngontrak rumah 😀
Alhamdulillah rencana berjalan dengan lancar, karena keputusan kami tersebut didukung oleh aktivitas dan kewajiban kami yang berjarak jauh dari rumah kedua pasang orang tua kami. Waktu itu saya masih kuliah sekaligus mengajar, persis sama di tempat suami mengajar pula. Hihiii..
Alhamdulillah kami bisa lebih mandiri, saya mulai belajar memasak, merapikan rumah, dan pekerjaan lainnya saya lakukan semampunya sambil belajar. Walaupun saat itu kami belum mempunyai modal sendiri untuk menyewa rumah, alhamdulillah orang tua kami mau meminjamkan uang untuk sewa rumah. Lalu setiap bulan kami cicil, alhamdulillah cicilan lunas tepat waktu 😀

Hidup jauh dari orangtua itu sangat terasa perjuangannya, apalagi ketika saya hamil yang juga masih harus mengajar, belum lagi kewajiban tugas akhir kuliah yang belum tertunaikan membuat saya terkadang seperti anak kecil yang mudah menangis tapi mudah tersenyum lagi. Alhamdulillah punya suami yang cukup pengertian, jadi banyak belajar dari kebijaksaan beliau. Alhamdulillahnya lagi, kami tinggal di rumah sendiri, yang ketika saya mau nangis yaaa nangiis aja, atau saya mau marah yaa marah aja, atau saya mau cemberuut ya cemberut aja, atau mau berantakan beberesnya nanti aja ya gak masalah.. Hihii.. Atau kalau suami, kalau belian mau main game ya main game aja, kalau mau manja-manjaan sama istri ya bebas kapan aja dan di pojok sebelah mana aja, atau mau dari awal bangun sampai mau tidur di depan laptop, ya anteng aja. Gak ada batasan apa pun, karena kekuasaannya mutlak di tangan kami berdua.

Hidup mandiri di kampung orang menjadikan kami belajar banyak hal, tentang  urusan rumah tangga dan mendidik anak yang sampai sekarang masih diikhtiarkan. Hingga saat ini ketika saya bertemu dan bergabung dengan ibu-ibu pembelajar, ternyata masih banyak PR yang harus segera ditunaikan.

Saya termasuk orang yang terlambat mandiri, entah apa yang salah tapi saya benar-benar merasakan itu. Maka, ketika harus mandiri ketika setelah menikah, saya sangat bersyukur dapat memulainya kembali untuk bisa mandiri. Namun ternyata proses yang sudah saya jalani selama 2,5 tahun ini belum ada apa-apanya ketika saya harus dipersatukan lagi hidup serumah bersama orang tua. Tidaaaaaak! Sifat manja saya muncul!
Ketika jauh dari orang tua kemudian silaturahim ke rumah orang tua dalam beberapa hari, saya biasanya memanfaatkannya untuk istirahat, mengurangi mengerjakan ini dan itu (kecuali ngurus anak) karena ada mama. Alasan! Padahal waktunya bantu-bantu orang tua, eh malah enak-enakan! Mama juga biasanya gitu, jangan ini jangan itu, sama mamah aja, tuh urus aja anak, gitu. Ya udah, Cocok! 😀

Berbeda dengan sekarang, lha wong statusya numpang gini. Malu dong gitu-gitu terus. Mungkin sebagian orang berpikir enak ya tinggal sama orang tua, ya betul, memang enak. Tapi untuk melatih kemandirian, sangatlah sulit bagi saya. Jiwa “leha-leha” saya terancam beranak pinak, belum lagi perasaan bergantung pada orang lain (ada mama, ada bibi, ada sodara, dll) ini yang dikhawatirkan. Sudah ada alarm tentang hal itu sebelumnya, tapi masih tetap dalam zona nyaman dengan alasan anak. (peluuuk Shidqi..:*)
Dari sekian banyak kasih sayang mamah bapak, ada satu hikmah kasih sayangnya yang selalu membuat saya malu. Mama bapak yang jarang menyuruh bahkan lebih sering melarang ketika (misal satu pekerjaan) saya lakukan, mereka lebih sering berinisiatif  dan memberikan teladan langsung bagi kami. Kan jadi maluuuu T_T
Maka tidak ada cara lain untuk menghilangkan rasa malu ini, benar-benar harus fastabiqul khairat ini mah.

ﻭَﻟِﻜُﻞٍّ ﻭِﺟْﻬَﺔٌ ﻫُﻮَ ﻣُﻮَﻟِّﻴﻬَﺎ ﻓَﺎﺳْﺘَﺒِﻘُﻮﺍْ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ ﺃَﻳْﻦَ ﻣَﺎ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍْ ﻳَﺄْﺕِ ﺑِﻜُﻢُ ﺍﻟﻠّﻪُ ﺟَﻤِﻴﻌﺎً ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻗَﺪِﻳﺮٌ

 Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.( Q.S Al- Baqarah : 148 )

#ODOPfor99days #day3
image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s