Oleh-oleh Shidqi Sakit

image

Berhari-hari tanpa HP jadi gak kerasa kalau anak lagi sakit, dan betul betul butuh perhatian ekstra. Mungkin ini hikmahnya HP tak bisa bisa dengan mudah di charge, kejadian HP kelelep kolam renang membuat saya bisa lebih sabar dan qanaah saat beberapa waktu harus tanpa HP 😆 Ini pula yang membuat saya tak bisa setoran ODOP selama satu pekan, selain karena Shidqi sakit, desktop juga sakit, akhirnya saya rela untuk tidak menulis selama sepekan kemarin. Walaupun suami sudah menyiapkan alat tulis, tapi apalah daya, banyak alasan 😑

Jadi ceritanya begini, hari selasa ketika berobat ke dsa, tiba tiba tanpa obrolan panjang dsa langsung memvonis Shidqi harus dirawat inap, tanpa pikir panjang saya dan mamah langsung masuk IGD rumah sakit terdekat. Tak banyak yang saya pikirkan saat itu, yang penting saya ikhtiar terbaik buat Shidqi yang kata dokter sudah dehidrasi. Tanpa saya cek sendiri berdasarkan sedikit ilmu yang sudah saya dapat ttg gejala dehidrasi, saya langsung ketakutan dengan pernyataan dokter tersebut. Mungkin ini efek kabar sehari sebelumnya tentang meninggalnya anak teman saya yang baru berusia 12 hari akibat kurang oksigen. Sudah aneh aja pikiran ini, dan pada saat seperti itulah saya benar-benar takut kehilangan Shidqi. Memang khawatir, sejak demam dan méncrét dari hari sabtu, Shidqi tak mau makan. Hanya sedikit air minum dan makanan yang masuk, alhamdulillah ASI masih mau. Padahal beberapa hari sebelumnya, makannya lahap, bahkan ada drama ngajak ke dapur buat ambil makan. Wallahu’alam penyebabnya apa, memang banyak kemungkinan, selain Shidqi masih dalam masa pengobatan flek paru-paru yang baru masuk bulan ke tiga, saya dan suami nekat bawa dia ke rumah nenek kakeknya dan uyutnya pake motor.  Perjalanan cukup jauh dan pergantian cuaca dari panas ke dingin mungkin juga salah satu jalannya. Selain itu, hari sebelumnya (jumat), pagi sampai siang dia asik main air di depan rumah, sampai celananya basah. Sorenya main di luar tanpa jaket padahal udara cukup dingin. Belum lagi mandi plus kuramas tiap hari. Yang terakhir, gigi taring dan geraham bawah kiri kanan sudah mau muncul, ini yang saya yakini jadi penyebab demam dua hari sampai 38,7 dcl. Nah kalau méncrét nya kemungkinan karena masuk angin, pengalaman saya kalau masuk angin akut suka méncrét kagak nahan 😑
Nah selama dua hari itulah Shidqi gak mau makan, minumnya juga sedikit padahal kalau minum ngaleklek pisan. Kebayang, méncrét terus dengan volume cukup banyak tanpa ada cairan dan makanan masuk, lemesnya pasti pake bangeeet. Nah yang paling khawatir dan aneh adalah air seninya warna kuning keruh, awalnya bening, tapi diakhiri warna kuning keruh. Setelah saya coba gugling, katanya bisa jadi infeksi saluran Kemis, dehidrasi, dan lainnya saya lupa lagi. Ternyata yang saya baca sesuai dengan yang dokter bilang, ya sudah cocoook, makin khawatir. Sebetulnya lebih khawatir kalau terjadi sesuatu dengan ginjalnya, berhubung doeloe banyak banget cerita tentang bayi gagal ginjal, dan sebagainya. Ya kekhawatiran ini juga memang berdasar sih, suami dan saya khususnya tidak sungguh-sungguh membatasi makanan dan minuman yang boleh Shidqi konsumsi.

Dan setelah kejadian ini, ada beberapa hal yang saya jadikan catatan penting.
1. Tidak membawa Shidqi pergi jauh pakai motor, termasuk ke rumah nenek kakek dan uyutnya.
2. Lebih Berhati-hati dengan permainan air, jangan sampai basah-basahan yang basah kuyup
3. Batasi penggunaan kipas angin
4. Tiadakan minuman tinggi gula apalagi yang gelasan atau botolan
5. Perhatikan betul asupan makanannya
6. Berdoa terus sama Allah agar Shidqi diberikan rasa nikmat dalam mengkonsumsi makanan sehat khususnya sayur dan buah. Juga n berdoa terus agar Allah menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan Shidqi.

Aamiin.. 

#ODOPfor99days
#day21

Advertisements

Bermimpi itu Baik, tapi Bersyukur Lebih Utama

image

Ngobrol itu memang mengasyikkan, apalagi yang ngajak ngobrol si cinta. Saya suka, saya suka..  😍

Saat menemani Shidqi menuju pulau kapuk, suami yang ada tepat di samping saya memulai pembicaraan
Suami (S), Saya=Istri (i)
S : “Bunda, udah jangan ngajak jalan-jalan terus ya. Ayah mau beresin buku”
I : “Ih ai Ayah, siapa yang ngajak jalan-jalan terus? Dari kemarin juga Ayah yang ngajak kesana kemari mah. Kenapa nyalahin Bunda” jawab saya semangat. Belum sempat suami menanggapi, saya nyorocos lagi,
“Nih ya Bunda mah tadi siang tah, eh sore deng puncak nya mah. Mikirin jadwal ayah sebulan ini yang acak-acakan jadi targetnya gak kecapai. Udah mah keliatannya main game wae deuih. Padahal kan kita punya mimpi, malah Bunda tadi liat-liat D*ts*n yang kaya Ayah bilang. Iya yah itu aja..  Bla…bla..blaa..”
Suami sambil ngurus halus kening ya jawab,
S : “Ayah mah ya kalau Bunda bilang target, mimpi, dll asa jadi beban. Kayaknya ayah teh harus kerja terus-terusan. Main game tuh refreshing, Ayah juga main gamenya kalau udah sejam kerja 15 menit main game. Itu teh efektif buat ayah mah.”
I : “Iya gapapa sok aja, mungkin Bunda liatnya pas ayah maen game aja, hihii”
S : “Terus ya Bunda teh kalau bilang gitu seakan – akan Ayah gak mengerjakan apa-apa. Bunda tuh hanya mikirin target, target, mimpi, mimpi, dan apa yang belum kita capai, tanpa melihat apa yang sudah kita dapat dan kita punya. Harusnya liat dulu apa  sudah kita raih, mulai dari sana, syukuri aja dulu itu, Bunda, baru bicarakan tentang impian. Lagian kan masalah impian, kita juga sedang ikhtiar. Ayah juga sedang menuju pencapaian itu. Kita teh harus pandai bersyukur. Coba liat sekitar kita, banyak yang patut kita syukuri. Itu dulu yang harus kita Tafakuri, kan Lainsyakartum Laazinannakum.  Gitu” jawab suami bijak.
I : “Iya Ayah, Bunda salah. Maafin Bunda. Maafin yaa Ayah!”  Jawab saya singkat. 
Sebetulnya sudah ada alasan dalam pikiran saya untuk menjawab pernyataan suami, tapi alhamdulillah saya bisa mengambil keputusan lebih cepat untuk tidak menyampaikannya yang kemudian saya ganti dengan permintaan maaf. Karena memang saya yang salah.  😦

Dari perbincangan itu saya semakin tahu diri saya yang belum mampu bijak menghadapi persoalan. Saya belum mampu menjadi penyejuk hati suami yang gundah. Saya belum mampu berempati sepenuhnya terhadap perasaan suami ketika ia sedang ingin bercerita. Saya belum mampu memilih kata yang bijak untuk menyampaikan perasaan saya, yang akhirnya cenderung mengganggu bahkan mungkin melukai hati suami,  dan masih banyak hal yang belum mampu saya lakukan untuk menjadi seorang istri yang shalihah.

Dibalik kesedihan saya yang ternyata belum pandai bersyukur, suami yang begitu bijak tak lantas membuat saya semakin bersedih apalagi kecewa karena apa yang telah saya sampaikan. Justru ia membesarkan hati saya dengan kalimat “Pikiran Bunda tentang target dan pencapaian tidak sepenuhnya salah. Justru itu bagus! Tapi ada satu yang kurang, perenungan!  Ya perenungan atas pencapaian yang sudah diraih a.k.a bersyukur. Itu artinya saling melengkapi, Bunda. Bunda melengkapi kekurangan Ayah, dan ayah pun melengkapi kekurangan Bunda ”
Betapa leganya hati saya mendengar penjelasan itu. Perasaan bersalah yang awalnya muncul menggunung, perlahan mulai terkikis hingga akhirnya hilang.  Perasaan syukur saya semakin besar, karena selain syukur atas segala yang telah Allah karuniakan kepada kami, Allah juga menitipkan suami yang bijak dan pandai membuat hati saya lebih nyaman. Betapa kufurnya saya jika melulu memikirkan pencapaian yang Ghaib. Biarlah Allah yang menjawab atas segala impian kami, tugas kami hanya berdoa dan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Semoga Ridho Allah senantiasa mengiringi langkah kami.

Cipanas, 22 Januari 2016

#ODOPfor99days
#day15

Evaluasi One Day One Post Irna

Masuk pekan ketiga a.k.a hari ke 11 ikut tantangan ODOP mendadak semangat saya sedikit menurun. Mungkin salah satunya karena efek sedang berkunjung ke rumah orang tua yang inginnya ngobrol sama saudara yang lain sambil sharing ilmu dan pengalaman.  Ya apa pun alasannya, seharusnya tidak menjadi alasan untuk tetap produktif menulis dan mengikuti agenda grup. Tapi apalah, apalah..  🙈

Ada hal yang sedikit mengganggu pikirkan saya selama One Day One Post ini. Ada kalanya saya hanya berpikir bagaimana caranya saya bisa setor tulisan hari ini, tanpa memikirkan kualitas tulisannya. Dan hal ini menurut saya buruk! Apalagi jika tidak dibarengi dengan teori ilmiah, sepertinya kurang kuat. Walaupun memang juga harus dilihat, apa tujuan menulis tersebut,  jika hanya sekedar menuliskan aktivitas harian atau pun pengalaman, ya disesuaikan saja.  Tapi pertanyaan untuk saya pribadi, mau gitu-gitu aja? Harus ada target dong! Nah ini maksud saya, jika tulisan sekarang hanya untuk konsumsi pribadi yang didokumentasikan, ayo pasang target selanjutnya, buat tulisan yang mampu bermanfaat bagi banyak orang.

Itu lho, itu lho maksudnya..

#ODOPfor99days
#day11

image

Belajar Online

Makin kesini teknologi makin canggih. Dengan hanya diam di rumah, segala kebutuhan dan kewajiban insyaallah akan terpenuhi (kecuali bagi laki-laki harus shalat di mesjid, hihi)
Termasuk mencari ilmu, zaman sekarang sangat bisa dilakukan di rumah. Kewajiban belajar sebagai seorang insan harus benar-benar dipahami, karena sejatinya semakin menuanya usia, bertambahnya amanah, kompleksnya permasalahan yang dihadapi maka seharusnya kita harus semakin  rajin mencari ilmu untuk menutupi dan meminimalisisr permasalahan yang mungkin muncul. Adalah sebuah kepastian bahwa sebuah permasalahan harus diselesaikan dengan ilmu. Maka benar jika ilmu yang manfaat akan membuat kita semakin bijak menghadapi berbagai permasalahan hidup. Mm Apalagi bagi seorang ibu, sebagai madrasatul ‘ula yang amanahnya sangat mulia namun cukup berat harus cerdas dalam belajar hal apa pun.

Untuk menunjang proses pembelajaran seorang ibu, akhir-akhir ini sedang marak grup grup yang dibuat sesuai kebutuhannya.  Ada banyak sosial media yang bisa dimanfaatkan untuk itu, mulai dari Facebook, WhatsApp, Line, dll.  Saperti saya ini, selain mengikuti grup Ibu-ibu sesuai kebutuhan, ada juga grup temen SMA, teman pesantren, teman sehobi, dll. Yang pada akhir, notifikasi numpuk 😑
Terbantu kah dengan grup tersebut? YA, sangat terbantu. Walaupun kadang masih jadi silent reader tapi alhamdulillah sangat banyak ilmu yang didapat. Sedikitnya jadi bisa menerawang pola keluarga lain dalam melakukan sesuatu. Sangat banyak inspirasi yang bisa dipraktikan.

Terkadang merasa sedih dan tidak berhak ada di grup ketika tetap menjadi silent reader, dengan alasan domestik yang bejibun, penyabotasean HP kalau ketauan buka-buka HP pas lagi bareng anak, anak Inginnya main diluar, dan alasan-alasan lainnya yang semakin memperjelas kesalahan. Pengennya nimbrung ikut diskusi, tapi udah kelewat beberapa jam lalu. Jadwal Kulwap yang ketinggalan, dll.

Saya termasuk orang yang masih sulit ikut diskusi online sambil melakukan pekerjaan yang lain, apalagi sambil ngasuh. Makanya kadang kalau ada Kulwap yang jadwalnya kira-kira gak bentrok dengan pekerjaan suami, saya biasanya minta suami jagain Shidqi lalu saya fokus ikut Kulwap,  hihiii..  Kalau nggak, ya kebagian manjat aja 😅

Masih banyak grup yang saya ikuti, karo memang butuh. Butuh belajar dari pengalaman orang lain, agak kita tak juga mengalaminya (jika itu salah).  Butuh ilmu dari pemateri kompeten yang biasanya dihadirkan dalam Grup grup tersebut. Dari sebagian harapan tentang proses belajar itu, masih ada peer yang sangat berat bagi saya. Saya belum bisa membayangkan gimana para ibu kece itu membagi waktu untuk bisa tetap aktif di grup tapi urusan domestik dan ngasuh anak tidak terlewatkan. Bagi saya yang belum mampu, ini merupakan peer yang harus segera saya selesaikan agar proses pembelajaran berjalan lebih tertib teratur. 

#ODOPfor99days
#day13

image

Biarkan Kami Taat

Bukan dengan menyesal, lalu berandai-andai atau menyalahkannya dengan mengingat masa lalu.
Itu sama saja tak mau belajar.
Belajar menerima rengekan yang sebenarnya akan reda dengan kehadiran dan penerimaan.
Itu  sama saja dengan menghindar.
Menghindari masalah yang sebenarnya harus dihadapi dan dikomunikasikan.
Ikhtiar terbaik selama kita mampu, lakukan!
Jangan biarkan hati ini bersuudzon bahwa engkau tak ingin repot dengan rengekan kami.
Walaupun istighfar senantiasa mengiringinya,
lalu berkhusnudzon bahwa engkau menyayangi kami dan tak ingin melihat kami tak nyaman.
Biarkan kami belajar taat sebagaimana engkau melakukannya.

Bogor, 15 Januari 2016

#ODOPfor99days
#day10

image

Perjalanan Shidqi Mengenal Gadget

Ketika menikah, tak banyak gadget canggih yang kami miliki. Saya hanya mempunyai satu tablet yang terpaksa dibeli karena keperluan bimbingan online dengan dosen dengan satu laptop warisan dari suami, sedangkan suami hanya memiliki hanphone klasik yang hanya bisa sms dan telepon serta mac yang didapat dari hasil project ketika ia masih kuliah.
Ketika memulai nyicil membeli perabotan rumah, suami memutuskan untuk tidak mengadakan TV di rumah. Walaupun beberapa kali saya sempat merengek dengan berbagai alasan, tapi alhamdulillah suami saya konsisten dengan keputusannya dan perlahan saya menerima dengan lapang keputusan itu.
Alhamdulillah semenjak kuliah, saya tinggal di asrama yang sama sekali tidak ada TV. Suami pun demikian, karena takdirNya saya dan suami satu program di pesantren jadi saya tahu 😀
Setelah tidak di asrama lagi pun, saya tidak kepikiran untuk mengadakan TV di kamar kost. Tidak seperti teman-teman yang lain yang bahkan TV 29″ yang canggih ada di kamar kost nya. Mungkin karena faktor gakkebeli saya mah. Hihi..
Jadi sejak saat itu kami belajar untuk menjauh dari TV dan alhamdulillah selama kami jadi kontraktor di Bandung, kami terbebas dari TV. Termasuk Shidqi, ia tak pernah kenal dengan acara TV, walaupun di akhir-akhir perjalanan tingal di Bandung (sesi I) anak yang mulai bersosialisasi dan suka main di rumah tetangga akhirnya ia tahu ada makhluk yang bernama TV. Alhamdulillahternyata ia tidak terlalu tertarik, sebentar saya lihat gambar menarik di TV, selanjutnya ia anteng lagi main. Yeeeay! ^_^

Tapi, seiring suami yang sangat butuh akses komunikasi yang cepat maka dengan pertimbangan yang matang akhirnya suami membeli Android yang cukup canggih, walaupun ngilernya ke iphone. Hihiii.. Sejak saat itu kami lebih sering mendokumentasikan aktivitas Shidqi, darimulai foto maupun video. Sebelunya juga ia, pake tablet saya, tapi tidak sejernih kualitas kamera Hp suami. 😀
Ternyata seiring Shidqi tumbuh dan semakin aktif bergerak, ini menjadi tantangan tersendiri saat ia poop san saya harus membersihaknnya.  Guling sana guling sini tak terkendali. Kalau sedang ada ayahnya lebih mudah, karena ayahnya bisa mengalihkan aktivitas  Shidqi. nah kalau sedang tidak ada, repotlah saya. T_T
Suatu saat, saya coba memperlihatkan dokumentasi videonya dan ternyata ia sangat senang. Cukup anteng dengan senyum-senyum simpulnya sekan dia mengerti isi video itu. Nah dari sanalah bermula petaka (Sadiiis amat petaka :D)
Saya selalu melakukan itu ketika ia poop, makin kesini saya gunakan dokumnetasi video Shidqi saat saya harus sholat dan ia cukup rewel, alhamdulillah sangat membantu. Sejauh itu aman, ia belum ketagihan dan belum tahu bagaimana cara meminta. selama itu oun suami tidak terlalu protes karena memang saya hanya sesekali memperlihatkan, terutama saat Shidqi poop, dan suami memalkumi itu.  Semakin kesini, sepertinya ia mulai bosan. Putar video dokumentasi ini salah,yang itu salah, kadang sayanya yang bingung. nah sejak itu saya terpikir untuk mengunduh video lain, lalu unduhlah beberapa video dari Youtube, beberapa Video Syamil, Upin Ipin, atau beberapa sharing video yang saya dapat dari grup WA. Eh ternyata dia tertarik,alhamdulillah aktivitas poop terkendali lagi. Horeee…

Saya yang masih belajar menentukan konsep pembelajaran untuk Shidqi kadang-kadang tertarik dengan metode yang orang lain gunakan.  Saya tertarik cara pengajaran salah satu sahabat saya yang sudah terbukti cocok untuk anaknya. Untuk melatih dan menambah kosakata, beliau yang menggunakan media video. Video yang beliau gunakan biasanya Syamil agar bisa belajar adab juga. Dari sana saya merengek lagi ke suami untuk dibelikan DVD. Dengan pertimbangan supaya tidak menyalakan laptop yang kadang meleber kemana-mana tontonannya, saya mengajukan pembelian itu. Cukup lama suami berpikir, alhamdulillah akhirnya dibelikan. Eh eh eh, ternyata suami yang juga doyan nonton, borong tuh film-film kesukaannya buat ditonton (lagi) -_-”

Semakin besar Shidqi, semakin banyak juga ia belajar, termasuk trik mendapatkan sesuatu dengan tangisan. Ternyata ia mulai ketagihan dengan nonton video, walaupun intensitasnya masih tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi saya mulai waswas dan suami mulai sering protes saat mendapati Shidqi sedang nonton. Maka aktivitas ke luar rumah menjadi solusi dari keinginan nontonnya tersebut. Alhamulillah ketika di Bandung, rumah kami dekat dengan pesantren dan sekolah PAUD yang tempatnya sangat luas jadi kami bisa ikut main dengan leluasa. Alhamdulillah diizinkan. 🙂
Masalah lain yang muncul adalah sakit dan bangun malam, keduanya sangat berhubungan karena jika Shidqisakit pasti ia selalu bangun malam, bahkan sampai berjam-jam rewel minta digendong atau minta main ke luar rumah. Saya yang juga manusia biasa ada capeknya dan ada ngantuknya, kadang tidak bisa mengontrol emosi jika kedua hal itu datang melanda. Maka agar tidak semakin memuncak, pilihan akhir jatuh pada nonton. Karena suami mengerti kondisi, kalau beliau menganggap nonton disaat rewel karena sakit dan tidak bisa diajak bermain apa pun adalah darurat dan itu sah dilakukan dengan syarat tetap membatasi lamanya menonton. Alhamdulillah disela-sela itu saya bisa menyalurkan kantuk saya, walaupun hanya sebentar-sebantar. Hihii..

Ternyata ia semakin tertarik dengan tontonan, bahkan sekarang ia tahu Boboiboy (nonton di tetangga ditambah saya juga unduh), Thomas, Mc Queen, Plane. Sebetulnya itu tontonan ayahnya, kadang kalau ayahnya nonton pas Shidqi bangun, ia jadi suka ikut nimbrung dan sangat antusias dengan karakter-karakter tersebut. Bahkan saat main ke Baby n Kids Shop pun, ia selalu menemukan karakter di atas, dan selalu ingin mengambilnya. Adalah beberapa koleksi Mc Queen mulai mobil-mobilan kecil semacam hotwheels, mobil-mobilan besar yang bisa ia naiki, dan topi.

Episode berlanjut ketika pindah ke rumah orang tua saya di Subang karena hal mendesak, akhirnya kami harus ikhlas meninggalkan Bandung. Insyaallah untuk sementara.

Di rumah orang tua saya bahkan tetangga dekat yang semuanya adalah saudara ada  TV. Maka tantangan saya dan suami lebih besar dengan kondisi ini. Intensitas menonton di rumah mama tidak terlalu membuat saya resah, karena kesibukan penghuninya, Bapak kerja pulang siang lanjt pekerjaan yang lain, arif (adik saya) sekolah yang pulangnya selalu sore lanjut nggame di kamar, mama yang sibuk dengan urusan domestik yang juga kader posyandu, maka TV sangat sering nganggur. Tapi eh tapi, saudara saya sangat sering nonton, karena beliau juga pengasuh (anak tetangga yang usinya 3,5 tahun) maka beliau memberikan tontonan agar anak asuhnya anteng. Pagi-pagi sudah mulai tontonan anak-anak yang beragam sampai jam sembilanan. Shdiqi yang inginya main dengan anak itu, kadang juga terbawa jadi ingin nonton. Siangnya nonton lagi, sorenya juga nonton lagi. Memang masih sekitaran film anak-anak, tapi intensitasnya yang sering membuat saya cukup risih. Ditambah jika malam-malam masih ingin main di rumah sodara yang hanya beberapa langkah itu, tontonannya berubah menjadi acara dangdut atau sinetron yang sangat tidak cocok dengan anak kecil.Hufth… -_-”
Walapupun Shidqi lebih banyak bergerak di sana, hunting cicak atau toke, loncat-loncat di kasur, main kuda-kudaan di guling, manjat jendela, atauyang lainnya tapi tetap saja kadang sesekalimenoleh ke tontonan yang seruangan dengan aktivitasnya. Dan bodohnya, saya kadang juga ikut-ikutan nonton! Huh! Maka saya sering mengajaknya pulang kalau sudah terlalu risih, tapi sayangnya ia selalu menolak kalau memang masih betah. kalau sudah ingin pulang ia selalu memintanya sendiri. Ok, itu tantangan dari lingkungan sekitar. Harus segera diatasi! Solusi sementara, saya ajak shidqi lebih banyak aktivitas di luar, termasuk anak asih Bibi jadi tidak terlalu sering nonton. Kesempatan ingin main malam ke rumah Bibi pun saya alihkan dengan aktivitas lain semampu saya dan keluarga. Kuncinya ada pada pintu, jika ada anggota keluarga yang buka pintu ke luar atau ada sodara yang masuk, sudahlah sesegera mungkin Shidqi bergegas keluar lalu ketik pintu Bibi dan bilang, “Kum.. Kum..” maksudnya Assalamu’alaikum 😁

Ok, lanjut ke tantangan berikutnya.
Karena kebutuhan pekerjaan, suami memutuskan untuk membeli Ipad. Alhamdulillah ada rizkinya. Ternyata itulah yang menjadi tantangan selanjutnya. Suami mulai tertarik mengunduh game, simulator kendaraan, video edukasi, dll. Suatu saat karena sudah tahu di dalam makhluk seperti itu ada apa, Shidqi pun tertarik. Dengan longgarnya ayah mengajak Shidqi ikut menikmati permainannya. Huh! Dengan kelemahan iman dan padatnya pekerjaan yang harus saya kerjakan, membuat saya menghalalkan apa yang suami lakukan. Saya jadi lebih leluasa menyelesaikan pekerjaan tersebut. Tanpa sadar Shidqi semakin tertarik untuk menonton dan menikmati game, bahkan sudah pandai meminta dan mengancam (dengan tangisan).
Tapi memang tidak bisa dipungkiri, hati kecil saya benar-benar menolak perbuatan itu. Jika saya lagi “eling” cepat-cepat saya ajak Shidqi bermain di luar walaupun harus dengan sedikit tangisan. Dan ini menjadi salah satu peer terbesar saya untuk kembali mensterilkan Shidqi dari gadget. Saya sangat yakin latihan ya akan sangat berat, tapi ketakutan saya akan akibat gadget pada anak sangat besar. Semoga dengan kekhawatiran dan rasa takut saya itu menjadi kekuatan saya untuk menjauhkan Shidqi dari gadget dan memberikan variasi kegiatan menarik untuknya.
image

Semangaaatt!!

#ODOPfor99days
#day8

Pak Anis Baswedan Membuat Saya Merenung

Rubik-CubeBaru saja menyimak talkshow tentang pendidikan nasional di acara Trio Lestari Trans TV, dengan perjuangan harus nonton di rumah tetangga sambil momong Shidqi tapi alhamdulillah ada beberapa hal yang membuat saya sejenak merenung. Kenapa sampai berikhtiar nonton di tetangga? Karena dalam acara tersebut ada Bunda Septi yang menjadi salah satu narasumber. Narasumber lainnya adalah Bapak Anis baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Tentang Homeschooling.
Secara spontan suami pernah mengatakan bahwa anak-anak akan belajar dengan saya, tidak harus bersekolah formal. Pada saat itu dengan informasi dan pengetahuan yang masih sedikit tentang homeschooling tentu saya menolak. Namun dari sana, takdir Allah saya membaca artikel tentang keluarga Bunda Septi yang menjalankan homeschooling dengan sukses dan bahagia, saya menjadi cukup tertarik untuk mempelajarinya. Belum lama saya bergabung dengan komunitas para ibu pembelajar (yang sebagianya sudah menjalani homeschooling) dan belum banyak pula pengetahuan yang saya lahap tentang homescholing, tapi betapa hati ini sangat menggebu ingin mempraktikannya. Berbagai pertanyaan muncul ketika saya menyimak pembicaraan Pak Anis pada talkshow tadi yang menyatakan bahwa sebenarnya pendidikan utama merupakan tanggung jawab orang tua. Hanya saja yang perlu digarisbawahi adalah, jangan jadikan anak sebagai kelinci percobaan. Ketika memutuskan (untuk homeschooling atau sekolah formal) maka harus benar-benar dipikirkan matang-matang.Orang tua yang memilih homeschooling biasanya adalah mereka yang sudah komitmen dengan keputusannya (dan mempersiapkan segala kebutuhan selama proses yang dijalankannya-pen). Pernyatan tersebut seakan menampar saya sehingga kini saya terbangun dari mimpi indah yang akan saya lalui ketika berhomeschoolng nanti. beberapa pertanyaan yang kini muncul di benak saya adalah:
1. Sudah seberapa jauh komunikasi saya dengan suami untuk pendidikan anak?
2. Sudah seberapa jelas posisi serta peran saya dan suami dalam menjalankan pendidikan anak?
3. Sudah sekompak apa saya dan suami dalam membangun home team yang kokoh?
4. Sudah sejauh mana saya dan suami memahami hakikat pendidikan (pembelajaran)?
5. Apa niat memilih homechooling?
6. Bekal apa yang sudah dipersiapkan untuk homeschooling?
7. Sudah pahamkah dan siapkah dengan resiko yang akan dihadapi ketika menjalankan homeschooling?

Setidaknya tujuh pertanyaan di atas seketika terlintas dalam pikiran saya yang tertarik homeschooling ini. Pengetahuan saya tentang homeschooling masih nol. Bahkan untuk aktivitas sekarang pun (membersamai Shidqi, 22 mo) masih kewalahan. Banyak daftar PR yang harus segera saya cicil mulai saat ini. Masih ada kesempatan bagi saya dan suami untuk mengkomunikasikan dan memikirkannya lebih matang sehingga ketika waktunya tiba kami akan lebih siap dan yakin untuk mengambil keputusan.  Alternatif sekolah formal pun sedini mungkin kami persiapkan salah satunya mengenai kriteria sekolah yang harus sesuai dengan prinsip kami.

Tentu segala apa yang kami cita-citakan dan sudah kami rancang harus diikhtiarkan maksimal. Tak hanya ikhtiar secara syariat yang harus sungguh-sungguh, ikhtiar langit yang lebih utama harus senantiasa dijaga. Interaksi dengan Sang Pemilik Kehendak harus semakin kuat, seslalu sertakan Allah dalam setiap keputusan, dalam setiap aktivitas kita bersama anak-anak. Mohonlah agar senantiasa dibimbing dan ditolong Allah.

#OneDayOnePostfor99days
#day7