Serba Serbi Tangisan

Atah sibuk maen game, Bunda sibuk sekrul2, kakak sibuk sama mini drone nya.
Bunda simpan hp.
Bunda : “Yah, ngobrol yuk!”
Ayah : “ngobrol apa Bunda?”
Bunda : “Ya apa we gitu…”
Ayah : “Ayah butuh waktu untuk diam Bunda, kan tadi sepanjang jalan udah ngobrol”
Bunda : 😕 (mikiiiiiir)
Ayah : “Seperti perempuan yang butuh waktu untuk menangis, lelaki juga sama Bunda, butuh waktu untuk diam”
Bunda: 😁 (ketawa masih sambil mikir)
Ayah :” Bunda asa udah lama gak nangis, sok atuh bisi mau nangis dulu”
Bunda : “Ih Ayah mah bisa aja!”  (sambil ngakak juga)

Sebuah percakapan spontan yang bikin saya malu-malu depan suami. Kenapa malu? Karena ketika suami mempersiapkan saya menangis, pikiran saya langsung melayang pada kejadian-kejadian masa lampau (tuaaa banget kayaknya, wkwkwk) tentang sebab-sebab tangisan dan kemarahan saya kepada suami. Kalau dipikir-pikir, hal gitu aja marah bahkan ditangisi, ka  bisa begini dan begitu ya kagak usah nangis, hihiii…
Bener ya, menyesal tuh diakhir, gak ada yang didepan. “Penyesalan  memang tidak akan pernah datang lebih dulu, tapi kejernihan hati dan pikiran akan membuatnya tak pernah ada, sekalipun di belakang” Cie.. Cie.. Sok bijak 😆

Bersambung ya, publish dulu nanti insyaallah diedit 😆

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s