Sabar Berbatas

Apakah sabar ada batasnya?
Dulu jawabannya kadang berbeda, yang jadinya bikin bingung. Sebagian jawab ada, sebagian lain jawab tidak.
Nah sekarang saya tau jawabannya, dan yakin kebenarannya.
Jawabannya, ADA.
Sabar itu ada batasnya.
Apa batasnya?
Batasnya adalah kematian yang pasti datang waktunya.
Kematian pada apa yang kita sabarkan, atau kematian pada diri kita sendiri.
Kita diuji dengan sakit, kita sabar, maka batasnya kesabarannya adalah penyakitnya mati atau kitanya yang mati.
Kita diuji dengan kesempitan, kita sabar, maka batasnya adalah kesempitan itu mati dan berganti dengan kelapangan atau kitanya yang mati.
Begitulah seterusnya.
Maka menghadapi, menghayati dan menikmati adalah solusinya, dengan tetap berikhtiar, berdoa, serta memperbaiki diri agar semakin bertakwa dan layak ditolong Allah.

Advertisements

Serba Serbi Tangisan

Atah sibuk maen game, Bunda sibuk sekrul2, kakak sibuk sama mini drone nya.
Bunda simpan hp.
Bunda : “Yah, ngobrol yuk!”
Ayah : “ngobrol apa Bunda?”
Bunda : “Ya apa we gitu…”
Ayah : “Ayah butuh waktu untuk diam Bunda, kan tadi sepanjang jalan udah ngobrol”
Bunda : 😕 (mikiiiiiir)
Ayah : “Seperti perempuan yang butuh waktu untuk menangis, lelaki juga sama Bunda, butuh waktu untuk diam”
Bunda: 😁 (ketawa masih sambil mikir)
Ayah :” Bunda asa udah lama gak nangis, sok atuh bisi mau nangis dulu”
Bunda : “Ih Ayah mah bisa aja!”  (sambil ngakak juga)

Sebuah percakapan spontan yang bikin saya malu-malu depan suami. Kenapa malu? Karena ketika suami mempersiapkan saya menangis, pikiran saya langsung melayang pada kejadian-kejadian masa lampau (tuaaa banget kayaknya, wkwkwk) tentang sebab-sebab tangisan dan kemarahan saya kepada suami. Kalau dipikir-pikir, hal gitu aja marah bahkan ditangisi, ka  bisa begini dan begitu ya kagak usah nangis, hihiii…
Bener ya, menyesal tuh diakhir, gak ada yang didepan. “Penyesalan  memang tidak akan pernah datang lebih dulu, tapi kejernihan hati dan pikiran akan membuatnya tak pernah ada, sekalipun di belakang” Cie.. Cie.. Sok bijak 😆

Bersambung ya, publish dulu nanti insyaallah diedit 😆

#Komunikasi Produktif part 1

Saya Irna, ibu dari Shidqi (21m). Beberapa hari ini saya sedang mencoba mengamalkan ilmu dari buku Bunda sayang yang bagian 1 #Komunikasi Produktif.

Sudah dua pekan saya pindah ke rumah orang tua di Subang, sebagai ikhtiar penyembuhan Shidqi yang kena flek paru-paru. Alhamdulillah di Subang rumah berdekatan dengan saudara, lebih luas leluasa untuk bermain dan eksplorasi. Di Subang, Shidqi biasa main dengan putra tetangga yang dititip (diasuh) Bibi saya, usianya 3,5 tahun, anak bungsu dari 3 bersaudara. Namanya Ernes Ardilio, anak yang aktif, periang dan pintar.  Kadang bibi saya pun kebingungan menjawab pertanyaan-pertanyaan “aneh”  darinya. Layaknya anak seusianya, tak akan pernah berhenti bertanya jika ia memang belum paham. 

Dengan  adanya Io, panggilan Ernes, hari Shidqi makin berwarna. Setidaknya Shidqi punya teman bermain yang tak terlalu jauh usianya. Di sinilah tantangannya, karakter anak-anak pada keduanya (ia dan shidqi)  muncul dan terlihat. Bagi saya ini adalah ladang pembelajaran, kecerdasan sosial Shidqi harus sudah mulai dibangun dengan memberinya ruang untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya ketika berhadapan dengan orang lain dan orang banyak. Dan pada saat itu pula saya sebagai orang tua dapat memberikan pemahaman tentang apa yang harus dan tidak seharusnya ia lakukan.  Walaupun mungkin ia belum paham betul dengan apa yang kita sampaikan, tapi setidaknya kami sedang membiasakan untuk membangun komunikasi produktif dengannya. Saya dan suami selalu kerjasama untuk memberikan pengertian terhadap suatu hal Kepada Shidqi (Alhamdulillah suami 24 jam bersama kami – saya dan shidqi –  jadi selalu bisa mengontrol semua aktivitasnya). Jika pun tidak sedang bersamaan (saya dan suami), saya selalu sampaikan apa yang baru saja shidqi lakukan, agar ayahnya segera memberikan pengertian atau sekedar bertanya aktivitasnya.

Ujian dari pelajaran #Komunikasi Produktif ini adalah “Berebut Mainan”. Sudah menjadi kebiasaan saya dan suami (mudah-mudahan ini tepat) membeli tambahan mainan (sejenis), misal ketika kami butuh mainan mobil – mobilan hotwheels untuk aktivitas bermainnya, kami beli lebih dari satu. Alasannya agar anak tetangga juga ikut main, jadi tidak berebut. Pengalaman  selama ini aman-aman saja, tak pernah sampai ada acara rebutan mainan yang dramatis, mungkin karena dulu shidqi masih kecil jadi belum memiliki kecenderungan terhadap mainan tertentu dan teman-teman sekitarnya pun sudah cukup besar sehingga mampu diberi penjelasan.  Berbeda dengan sekarang, Kecenderungan nya terhadap suatu barang sudah tinggi, egonya mulai terlihat, dan pendiriannya kuat. Sedangkan kawan mainnya sekarang usianya cukup dekat jadi karakternya pun memang tak berbeda jauh dengan shidqi, kecenderungan ya tinggi, egonya kuat, dan suka merebut. Kejadian berebut mainan ini sudah beberapa kali, dan baru hari ini saya ngeh, melek, sedikit mengambil pelajaran dan sangat niat untuk menuliskan ya di sini,  hihi.. 
Ceritanya, berebut karakter Thomas n Friends (untuk kesekian kalinya). Suami sengaja membelika  2 karakter,  Thomas dan  Toby, tujuannya sama supaya bisa main bareng. Ternyata Oh ternyata, tidak hanya shidqi yang suka Thomas, Io pun suka Thomas, ketika suami ngasih Toby Io tetap tak mau malah merebut Thomas yang sudah shidqi pegang tanpa minta izin, ya Menangis lah Shidqi.  Kejadiannya terulang tadi siang yang akhirnya Bibi (pengasuh Io)  bilang,  “Sudah, nanti mah umpetin aja Thomasnya. Jangan diliatin”. Saya hanya bisa diam sembari menenangkan Shidqi, suami berkali-kali bertanya ke Io
“Punya siapa itu?” tidak ia jawab,  akhirnya menjawab, “De iki”.
“Kalau mau pinjam bilang apa?”  suami bertanya kembali.
“De Iki pinjem”  jawab Io.
“Nah gitu ya, kalau gak dikasih gimana?”
Belum Io jawab, Shidqi langsung mengangguk dan lirik bilang “Iya”
Selesainya tangisannya, dan saya segera menguatkan Shidqi untuk berbagi mainan dengan Io. Dan akhirnya mereka kembali tertawa dan main bersama, walaupun sebentar2 bentrok lagi. Wkwkwk

Besok, akankah saya sembunyikan mainan mainan pengundang konflik? Jawabannya TIDAK!
Ketika saya menghindarkan terjadinya konflik, maka saya tidak punya kesempatan untuk mengulang kembali pelajaran #Komunikasi Produktif kepada Shidqi dan Iyo, setiap kejadian yang mereka alami dan harus kami luruskan dengan sebuah pengertian dan pemahaman, merupakan kesempatan bagi kami dan anak-anak untuk belajar, kami belajar tentang strategi komunikasi yang tepat ataupun strategi pengalihan aktivitas, tentang ketenangan dalam menyampaikan pengertian tanpa teriakan  dan emosi, tentang pujian terhadap apa yang sudah anak lakukan sebelumnya , tentang solusi yang harus anak lakukan kedepannya, tentang pemilihan kata yang tepat, dan kami belajar tentang bagaimana mentrasfer energi positif serta selalu menghadirkan hati ketika membersamai anak.

Yang lebih penting pada proses ini adalah pembelajaran dan perkembangan kecerdasan sosial pada anak.  Mereka jadi belajar banyak hal, Mereka akan belajar tentang kepemilikan, cara meminjam, tidak memaksa, dan berbagi dengan  orang lain.