Temani Anak!

Kata ayahnya Shidqi, orang zaman dulu buat mainan sendiri supaya mereka gak beli mainan. Sekarang, kami beli mainan yang banyak supaya anak gak main HP 🙂

Karena anak lahir di zaman teknologi, sedikit banyak mereka akan terpengaruh. Gak jauh-jauh anak sendiri padahal masih bayi. Karena kami gak menyediakan tv, kalau dia poop biasanya kami kasih tontonkan video lucu tentang dia sendiri (karena kalau poop shidqi gak bisa diam), akhirnya anteng tuh dan dengan tenang bunda bisa bersihin. Kesini2 dia mulai bosan dengan video2 lucunya, kami carikan lah upin ipin, alhamdulillah anteng. Makin kesini, kalau dia liat hp atau tab, dipeganglah tangan bunda atau ayahnya kemudian dia angkat menuju ke hp. Woooow, awalnya kami senang, berarti ia sudah ngerti dan ngasih tanda dia ingin sesuatu dan minta tolong. Tapi kesini2, dia makin gak sabaran kalau liat hp, inginnya diputerin video terus dan kadang gak ngerti maunya video mana, yang ini salah yang itu salah.
Dari sanalah kami mulai berpikir, ternyata gak ada tv, hp adalah tantangan selanjutnya. Akhirnya ayahnya shidqi memutuskan untuk menambah koleksi mainan shidqi. Tapi ternyata masalahnya belum selesai.
Sebanyak dan sebagus apa pun mainan, yakin deh, anak gak akan betah kalau main sendiri. Solusinya apa? Temani mereka bermain! Hanya itu. Bahkan tanpa mainan sekali pun, anak2 akan lebih anteng kalau ada kita (teman). Tentang mainan, dengan bermain sebetulnya banyak hal yang bisa kita eksplore dari anak. Selain melatih motorik kasar, halus, dan komunikasi, kita juga bisa sedikit demi sedikit memberikan pendidikan akhlak kepada mereka apalagi jika bermain bersama teman-temannya. Misalnya, tentang aturan pinjam meminjam, minta izin, saling membantu, tidak berebut, merapikan lagi mainan, dan masih banyak lagi. Yang harus menjadi komitmen kita adalah aturan. Walaupun putra kami masih kecil dan belum paham aturan, tapi teman mainnya kebanyakan sudah cukup besar dan sudah pasti paham aturan. Dan disanalah sedikit demi sedikit kami menanamkan aturan pada mereka, agar putra kami juga terbiasa. Aturan tidak hanya memberikan pelajaran kepada mereka, tapi juga memudahkan kita dalam menemani mereka bermain misal tentang tidak berebut. Pengalaman kami, terkadang anak-anak cenderung menyukai mainan yang sama, sedangkan mainan itu hanya ada satu, jadilah mereka berkelahi dan berebut mainan. Ritualnya itu yang membuat kami tidak nyaman: teriakan, tangisan kencang hingga pukulan kadang-kadang mewarnai perkelahian tersebut. Setelah berkali kali terjadi, akhirnya kami (saya dan suami)sepakat membuat aturan, jika ada yang berebut, mainannya akan disita atau bahkan tidak boleh bermain sama sekali. Nah setelah melakukan aturan tersebut, perkelahian lebih jarang terjadi. Kalau pun ada pemicunya, kami lebih tenang dan lebih mudah mengamankannya.
Contoh lain tentang merapikan mainan. Ini sangat jelas menguntungkan, kami tak perlu repot-repot merapikan kembali mainan yang sudah mereka keluarkan. Aturan merapikan kembali mainan pun sangat perlu diperhatikan. Pengalaman lagi nih, anak-anak bermain, segala macam mainan dikeluarkan dari mulai yang kecil hingga yang besar. Aturan sejak awal akan bermain sudah disampaikan, dan mereka setuju. Di akhir kegiatan bermain Shidqi mau ASI, saya bawa dulu ke kamar. Terdengar dari ruang tengah, anak-anak akan berhwnti bermain. Saya teriaklah dari kamar, “Kalau sudah, mainannya jangan lupa dirapikan!” Mereka pun mengoyakan dari luar. Ceritanya beres nih ASI, saya pun keluar tanpa mereka di ruang tamu. Daaaan jreeeeng jreeeng…mainannya rapi tanpa aturan T_T
Mainan kecil kecil seuprit bercampur dengan mainan besar, bagian lego karakter ada yang hilang, wah pokoknya harus bongkar ulang dan sweeping ruangan untuk cari bagian yang hilang. Setelah kejadian itu kami jadi lebih detail memberikan pengarahan kepada mereka. Alhasil, mereka mampu lebih rapi dan memilah mainan yang harus disimpan di tempat tertentu.
Nah, di sini pelajaran lagi untuk kita sebagai orang tua. TEMANI ANAK! Karena di sana berlangsungnya proses pendidikan yang kita berikan. Dan dari sana pula kita anak menemukan pola pendidikan yang akan cocok untuk anak-anak kita.

Semangat mendidik Ayah, Bunda ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s